Share

5

Author: Kuldesak
last update publish date: 2024-11-04 13:23:20

"Duar! Kaget kan lo?!"

Aku seketika memejamkan mata, detak jantungku seakan berhenti sejenak. Ingin ku lontarkan tujuh sumpah serapah kepada temanku, Amira.

Ternyata, itu adalah teman laknat yang berada di dalam bilik sebelah. Dengan sebuah ponsel yang mengeluarkan suara tangisan kuntilanak.

"Hahaha... Wajah lo kenapa, Nara? Lo habis lihat demit? Sumpah! Wajah lo Lucu banget tau nggak?" ledek Amira.

Aku membuka mata perlahan dan menatap Amira dengan tatapan yang pasti tampak lebih seram dari suara kuntilanak yang dia putar di ponselnya.

"Amira! Lo pikir ini lucu, hah? Gue hampir aja pingsan! Mau mati lo?!" Aku mendekatinya dengan niat ingin memberi satu pukulan untuk membalaskan dendam.

"Hahaha!"

Amira malah tertawa terbahak-bahak sambil mundur, menutup pintu kamar mandi di belakangnya dengan santai. "Ih, lo parno banget, sih! Nara yang pemberani ternyata bisa takut juga," ucapnya sambil memamerkan cengiran lebar.

Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Gue beneran udah siap ngecek bilik sebelah, tau gak lo. Sumpah, lo berlebihan!"

Mira menyeringai puas, “Berarti prank-nya berhasil, dong?”

Aku hanya menggeleng sambil nyengir kesal. "Oke, Mira Liat aja nanti! Gue bakal balas!" ancamku dengan senyum licik.

"Yaudah sih. Dari tadi gue manggilin. Tapi nggak ada yang nyautin. Pas dengar ada yang mandi ya, ide gue langsung muncul buat ngerjain lo!" ujar Mira.

Aku memijat pangkal hidungku. Kepalaku masih pening oleh kejadian-kejadian aneh yang menimpaku. Sampai-sampai, kehadiran Mira pun tak aku rasakan.

"Nara, lo nggak apa-apa? Wajah lo pucet banget. Maafin gue ya, dah buat lo jantungan. Beneran gue nggak ada niat buat lo takut," ujar Mira.

"Ah... Gue nggak apa-apa. Mungkin karena gue kecapean jadi kurang fokus. Ya udah, lo milih kamar gih! Anak-anak yang lain belum pada datang ya?"

Mira mengangguk sambil menatapku sedikit khawatir, "Belum. Tapi katanya mereka bakal nyusul abis magrib."

Aku melirik ke arah luar, langit sudah mulai menggelap. Di luar suasananya sunyi sekali, hanya terdengar derik serangga malam. Sebenarnya aku belum sepenuhnya tenang setelah prank Mira, dan pikiranku masih berkecamuk dengan suasana rumah kontrakan yang sedikit mencekam ini.

"Gue beneran nggak nyangka rumahnya begini sepi dan... agak serem, ya?" Mira bersandar di dinding dengan wajah sedikit ragu. "Herannya, kenapa pemilik kontrakan nggak renovasi ya?" ujar Mira.

“Serem? Emang iya, sih,” aku mengiyakan ucapan Mira, masih sedikit gagal fokus. “Tapi, lo tau nggak, tadi pas gue mandi, gue denger suara kayak pasar gitu dari balik tembok kamar mandi.”

Mira mengerutkan keningnya. “Pasar? Maksud lo?”

“Iya, kayak suara orang jualan, tawar-menawar, ramai gitu. Bahasa Jawa, jelas banget. Gue kira halusinasi, tapi… beneran kedengeran.” Aku masih merinding mengingat suara itu.

Bayangan suara tawar-menawar harga cabai dan teriakan penjual masih bergema di telingaku.

Mira menatapku dengan mata membulat. “Serius? Di sini ada pasar? Gue nggak denger apa-apa.” temanku itu tampak ragu, ekspresinya bercampur antara tak percaya dan sedikit takut.

Melihat reaksi Mira yang tampak ketakutan, aku memutuskan untuk tidak menceritakan kejadian aneh yang menimpaku. Takut membuatnya kabur dan tak jadi mengontrak sama-sama lagi.

"Udah, nggak usah dipikirin. Gue mau ambil baju sekalian mau beli alat mandi. Ke depan yuk!" ajakku mengalihkan pembicaraan.

Mira mengangguk dan kami pun berjalan ke arah ruang tengah. Saat melangkah, aku memperhatikan Mira. Sorot mata Mira kelihatan memperhatikan nuansa yang ada di dalam rumah.

"Nara, emang nih rumah nggak di cat atau di renovasi gitu? Kesannya kok kotor banget sih. Kita kan udah bayar!" celutuk Mira.

"Gue mikir juga gitu sih awal nyampe. Tapi kalo dipikir-pikir, harga segini dapat dua tingkat ya sydah untung tahu!"

"Iya juga sih. Tapi setidaknya harus ada perawatan sedikit lah. Ini kesan pertamanya kayak rumah angker," Mira menjawab sambil mengedarkan pandangan, seolah-olah mencari sesuatu yang tidak terlihat.

Aku hanya mengangguk sambil menyusuri dinding yang dipenuhi dengan gambar-gambar acak.

Drrt, drrt, drrt!

Aku dan Mira terkesiap. Saking parnonya, dering ponsel yang berbunyi membuat kami terloncat. Mira segera meraih ponselnya dari saku.

"Ini dari ibu kontrakan!" seru Mira.

"Yaudah angkat."

Gegas, Mira menggeser tombol hijau. "Halo...," sapa Mira.

Aku buru-buru ke ruang tengah. Membiarkan Mira berbicara dengan pemilik kontrakan.

Tapi...

Di pembatas tembok antara ruang makan dan tengah, netraku sekilas menangkap sekelabat sosok hitam. Sosok itu sangat cepat. Melesat tembus ke dinding kamar belakang yang ada di ruang makan.

"Astagfirullah," gumamku, menggeleng dan segera menuju ke arah ranselku.

Aku dengan cepat mengeluarkan baju dan uang yang sengaja aku simpan di dalam amplop, ku sisipkan di sela-sela pakaian.

Tap, tap, tap!

Dari arah luar rumah, aku mendengar suara riuh disertai langkah kaki.

"Welcome to rumah baru! Akhirnya, uang jajan gue bisa nambah berkat dapat rumah murah."

"Heru, Andi! Lo berdua jangan dulu masuk. Tungguin mobil pickup yang nganterin barang-barang kita dulu!"

"Bentar. Gue taroh dulu ransel gue. Lagian gue belum makan. Tuh, depan samping rel ada warung mie ayam. Entar gue sama Heru nungguin di warung aja."

Aku segera berdiri. Itu pasti teman-teman lain yang baru tiba. Suara mereka sedikit melegakan suasana. Dengan langkah cepat, aku menuju ke ruang depan untuk menemui mereka.

Heru dan Andi sudah berdiri di ambang pintu, masing-masing membawa ransel besar di pundak mereka. Wajah mereka terlihat bersemangat, seakan tempat ini bukanlah rumah dengan aura menakutkan yang aku rasakan sejak tadi pagi.

“Nah, akhirnya kita lengkap juga!” seruku, mencoba menyambut mereka dengan senyum.

Andi menatap ke arah ruang tengah dengan heran. “Nara, kenapa rumahnya kayak gini? Temboknya kotor banget, sih. Kayak belum pernah diurus,” ucap Andi sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Mira bergabung dengan kami, menutup teleponnya. “Baru aja gue dapet kabar dari ibu kontrakan. Katanya, suaminya sakit masuk rumah sakit pas nyari tukang buat bersihin rumah ini. Jadi, mereka belum sempat urus apa-apa. Dia janji bakal ada yang datang minggu depan buat bantu bersih-bersih, tapi kita sementara harus tahan dulu sama kondisinya.”

Heru cengengesan, "Ah, kecil itu mah. Gue sama Andi nanti bisa bantu ngepel dan ngelap-ngelap. Betul kan, Andi?"

Andi mengangguk, walaupun jelas wajahnya menunjukkan rasa ragu. "Ya, asal nggak ketemu tikus, gue oke-oke aja."

Ranti buru-buru merangsek masuk. "Misi-misi, gue pengen kencing!" ujar gadis berkacamata yang langsung berlari kecil ke arah dapur.

Aku dan Mira hanya saling tatap lalu tersenyum kecil melihat kelakuan Ranti yang selalu ceroboh dan terburu-buru. Tapi, tak lama kemudian, suara Ranti terdengar dari arah dapur.

"Eh, ini kamar mandinya sebelah mana, ya? Kok nggak nemu-nemu?" Ranti berteriak sambil celingukan, suaranya sedikit menggema di rumah yang masih cukup kosong.

“Di sebelah kanan, Ran, di deket pintu kecil dekat dapur!” teriakku.

“Oh, oke!” Suara langkah Ranti terdengar buru-buru.

Baru beberapa detik setelah aku menjawab, tiba-tiba suara teriakan melengking pecah dari sana.

"AAAAHH!!" teriak Ranti melengking, membuat kami semua yang di ruang tengah terkejut dan langsung menoleh.

“Ranti!” seru kami semua.

Tanpa pikir panjang, kami semua berlari ke arah dapur untuk melihat apa yang terjadi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penghuni    24

    Suasana dapur seketika membeku. Kata-kata "simpanan" yang diucapkan oleh suara Pak Burhan itu terus berputar di kepalaku, terasa lebih tajam daripada udara panas yang baru saja menerpa wajah kami.Aku menatap pintu yang terbuka itu dengan ngeri, menunggu sosok pria itu muncul, tapi yang ada hanyalah kegosongan yang sunyi.“Nara, geser!” Heru menarik pundakku dengan kasar, membuatku tersentak dari lamunan.Heru melangkah maju, memegang linggisnya seperti sebuah senjata, lalu menendang pintu dapur hingga terbuka lebar. “Nggak ada siapa-siapa di luar, Ndi. Itu cuma gertakan!”“Gertakan gimana, Ru? Suaranya jelas banget di telinga gue!” Andi berteriak, ponselnya masih mengarah ke lubang ubin dengan tangan yang gemetar hebat. “Dia bilang ‘simpanan’! Lo liat kan tangan tulangnya tadi gerak?”Aku menelan ludah, mencoba mengatur napas yang terasa pendek-pendek. “Heru bener, Ndi. Pak Burhan... dia kayaknya pakai semacam kiriman suara. Pak Slamet tadi bilang dia lagi ritual ‘memberi makan’. Mun

  • Penghuni    23

    Jantungku seolah ingin melompat keluar dari dada saat kakiku beradu dengan aspal gang yang kasar. Di belakangku, Heru berlari kencang, napasnya memburu sama sepertiku.Pesan dari Andi di grup Wawa tadi benar-benar meruntuhkan sisa keberanianku. "Cepetan, Ra! Jangan berhenti!" teriak Heru dari belakang.Begitu sampai di depan pintu kontrakan, aku tidak menunggu Heru. Aku langsung mendobrak pintu kayu yang sudah rapuh itu. Bau busuk yang tadi kucium di dekat rumah Pak Burhan ternyata sudah merayap masuk ke sini, namun kali ini bercampur dengan aroma amis darah yang segar dan pekat.“Andi! Mira! Kalian di mana?!” teriakku sambil berlari menuju dapur.Langkahku terhenti di ambang pintu dapur. Pemandangannya jauh lebih mengerikan dari yang kubayangkan. Di sudut dapur, dekat sumur kerek tua, Andi berdiri dengan linggis di tangan, tubuhnya gemetar hebat. Di lantai, salah satu ubin yang tadinya berwarna kusam sudah hancur berkeping-keping."Ra! Akhirnya lo balik!" seru Andi. Wajahnya pucat p

  • Penghuni    22

    Cahaya matahari yang menyerobot masuk lewat ventilasi ruang tengah terasa menyakitkan di mataku.Aku terbangun dengan leher kaku karena tidur bersandar pada dinding tempat rajah pelindung itu bersembunyi di balik cat. Bau amis sisa tangisan semalam masih tertinggal di ujung hidungku, membuat perutku mual seketika.“Ra? Bangun, Ra. Kopi nih,” suara Heru memecah keheningan. Ia menyodorkan mug plastik berisi cairan hitam pekat kepadaku. Aku menerimanya dengan tangan gemetar. “Makasih, Ru. Jam berapa?”“Hampir jam delapan. Anak-anak udah pada kumpul di dapur. Andi nemu sesuatu,” jawab Heru pendek. Wajahnya tegang, ada kantung mata hitam yang menghiasi wajahnya.Aku segera beranjak, mengabaikan rasa pening di kepala, dan melangkah ke dapur. Di sana, Andi sudah berjongkok di dekat sumur kerek tua yang berlumut, sementara Mira dan Ranti berdiri mengelilinginya dengan wajah pucat.“Ndi, lo serius?” tanyaku sambil mendekat.Andi mengetuk-ngetuk salah satu ubin yang warnanya sedikit lebih kus

  • Penghuni    21

    Malam turun membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Kontrakan kami sudah jauh lebih rapi setelah seharian dibersihkan, tapi udara di dalamnya terasa berat, seolah dinding-dinding ini tahu bahwa pertempuran akan segera pecah.Kami berkumpul lagi di ruang tengah, duduk bersila di atas karpet. Hanya lampu bercahaya kuning di sudut ruangan yang menyala, memberikan nuansa temaram. Kotak kayu berisi surat-surat ancaman Pak Burhan tergeletak di tengah kami bak artefak berharga."Gimana, Ndi? Pak Ustaz bisa?" tanyaku memecah keheningan.Andi mengangguk pelan, meletakkan ponselnya di atas karpet. "Bisa. Beliau bilang bakal datang besok siang sehabis zuhur. Katanya kita disuruh nyiapin air putih yang banyak, daun bidara, sama garam krosok. Untung tadi sore gue udah beli semua di pasar.""Bagus," pangkas Heru. Ia mencondongkan badannya ke depan, menatap kami satu per satu dengan raut wajah serius. "Sekarang dengerin gue baik-baik. Kita harus satu suara. Malam besok itu bukan ruqyah biasa. Musuh

  • Penghuni    20

    Pagi sudah tiba, dan udara terasa dingin, tapi bukan dingin yang mencekam seperti semalam. Ini dingin khas pagi hari di kota yang membawa sisa-sisa kelelahan kami.Kami berlima duduk melingkar di ruang tengah, menatap sebuah lemari jati tua di pojok dekat tangga. Lemari itu sudah ada di sana sejak hari pertama kami pindah, terkunci rapat dan tak pernah kami pedulikan. Sampai semalam, saat Pak Darmo memberikan kuncinya padaku."Buka sekarang, Ra?" tanya Andi, memecah keheningan. Ia menguap lebar, matanya merah karena kurang tidur.Aku mengangguk, menggenggam kunci kuningan berkarat di tanganku. "Iya. Kita harus tau apa yang disembunyikan Pak Darmo di sini."Aku bangkit, berjalan mendekati lemari jati itu. Ada bau kapur barus tua dan debu yang menyengat saat aku memasukkan kunci ke lubangnya. Krek! Pintu lemari terbuka. "Uhuk! Gila, debunya," keluh Ranti sambil mengipas-ngibaskan tangan di depan hidung."Ada apa aja di dalem?" Heru ikut berdiri, melongok dari belakang bahuku."Cuma

  • Penghuni    19

    Ruangan depan rumah Pak Darmo terasa lebih terang setelah kami menyalakan lampu. Tapi terang itu tidak menghapus ketegangan yang masih menggantung di udara. Bu Lastri sudah sadar, duduk bersandar di sofa dengan selimut menutupi tubuhnya yang masih gemetar. Wajahnya pucat, matanya masih menyimpan sisa-sisa ketakutan.Mira menuangkan air putih ke gelas, lalu memberikannya pada Bu Lastri. "Minum dulu, Bu. Pelan-pelan."Bu Lastri menerima dengan tangan bergetar. Ia meneguknya sedikit, lalu menghela napas panjang. "Matur nuwun, Nduk. (Terima kasih, Nak.)"Aku duduk di lantai, tepat di depan Bu Lastri. Heru berdiri menyandar di dinding, Andi di sampingnya. Ranti duduk di ujung sofa, memijat-mijat kakinya sendiri—kebiasaannya kalau sedang cemas."Bu," aku memulai, hati-hati. "Ibu... lihat apa tadi? Sebelum pingsan?"Bu Lastri menatapku. Sorot matanya berubah. Bukan lagi ketakutan. Tapi sesuatu yang sudah lama disimpan. "Aku... aku lagi nyiapke wedang nang pawon. (Aku... aku lagi menyiapkan

  • Penghuni    12

    “Nara, kita nggak usah lewat jalan ini, deh,” kata Mira tiba-tiba, memecah keheningan.Aku menoleh. “Kenapa?”Mira menatap lurus ke depan, wajahnya agak pucat. “Tuh... liat deh pohon beringin gede itu. Gue... ngerasa nggak enak. Tadi pas gue ke toko kue aja, kayak ada yang berdiri di situ.”Aku ik

  • Penghuni    Bab 11

    Kupacu sepeda motor maticku dengan kecepatan sedang setelah berteleponan dengan Mira. Meski pikiranku carut-marut, aku berusaha tetap fokus. "Tadi Mira di Warnet apa ya?" aku bergumam. Nggak, pokoknya nggak mau aku kembali ke kontrakan itu sendirian. Sungguh mati, disambar petir bareng-bareng juga a

  • Penghuni    10

    Aku menelan ludah, mencoba menenangkan diriku. Dengan tangan gemetar, aku menggeser ikon hijau di layar ponselku dan menjawab panggilan itu."H—halo? Mira?" suaraku bergetar, nyaris tak keluar.Hening. Hanya ada suara statis di ujung telepon. Kemudian, sebuah suara terdengar—bukan suara Mira yang bias

  • Penghuni    9

    "Mungkin yang lo temuin itu santet tanah kuburan." Aku yang sudah berada di dalam ruang perkuliahan masih terngiang-ngiang ucapan Heru. Semalam, setelah menenangkan Mira, aku menjelaskan bagaimana aku mendapatkan bungkusan tanah di atas ventilasi. 'Santet? Buat apa coba? Jaman gini masih ada hal beg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status