Share

6

Author: Kuldesak
last update publish date: 2024-11-16 14:29:04

"Lo ngapa Ranti?" tanya Heru.

Aku dan ke empat temanku tiba di dapur ketika mendengar teriakkan Ranti. Wanita berkacamata itu menutup kedua mata dan telinga seperti ketakutan.

"Itu loh, ada kecoa ngesot di dalam kloset," ucap Ranti.

"Yeee ...!" kami semua berseru mendengar jawaban Ranti, berpikir jika wanita itu melihat sesuatu atau mungkin ia terpeleset.

"Gue kira lo lihat ular kayang apa gimana. Kecoa doang lo teriak kayak lihat setan!" celetuk Andi.

"Iya nih, lo balikin aja tubuhnya. Paling tuh kecoa joget-joget kayak Sadbor," ujar Mira menimpali sambil menirukan tarian yang sedang viral.

"Udah, udah, gue mau buang air. Apa lo pada mau nungguin gue berak, hah?!" Ranti berkata.

"Najis!" seru Heru.

Aku hanya memperhatikan interaksi teman-temanku itu sambil tersenyum kecil merasakan kehangatan dari gurauan mereka.

Tetapi perasaanku tak luput dari kata tenang, aku masih merasa jika beberapa mata sedang memperhatikan kami dari segala sudut.

Aku pun berusaha mengabaikan semua perasaan was-was yang kini bersarang dalam diriku.

___

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Setelah berbenah dan memilih kamar tidur masing-masing, akhirnya aku bisa mempunyai kamar sendiri.

Meski sudah jam 11 malam, rumah yang baru kita tempati masih terdengar ramai. Apalagi, Andi dan Heru mengundang beberapa teman kampus mereka bermain Playstation di ruang tengah di mana aku tertidur dan bermimpi.

Membuat rumah yang tadinya seperti rumah yang menyeramkan, kini terasa lebih hidup dibandingkan awal aku datang.

"Berisik banget sih tuh cowok-cowok. Nggak enak sama tetangga. Mana pada teriak. Orang kalau baru masuk rumah baru itu ngaji. Bukannya ngajak taruhan." celetuk Ranti yang kini sedang rebahan di kasurku sambil memainkan ponselnya.

Aku yang sedang bertelepon dengan pacarku di lain daerah dekat jendela yang terbuka pun menyela. "Emang kita punya tetangga? Kiri kanan noh, kosong!" ujarku. "Besok malam aja, kita ngajiin nih rumah. Biar auranya nggak pekat-pekat banget." aku menambahkan.

"Nah, itu yang gue heran. Napa juga capek-capek buat rumah gedongan tapi nggak di tinggalin? Kan goblok ya!" kali ini, Mira yang berbicara.

Aku mengangguk...

Padahal membuat rumah, biayanya nggak sedikit. Tapi bagi sebagian orang malah meninggalkan rumah mereka hingga tak terurus dan dibiarkan begitu saja.

Di luar, angin malam berhembus kencang, membuat ranting pohon rambutan di balik tembok tinggi bergerak-gerak mengeluarkan suara yang aneh.

[Kinara, lo masih di sana, kan?] aku terkesiap dari lamunan saat mendengar suara kekasihku di seberang telepon.

[Iya, gue masih di sini. Sorry ya Dhika, gue masih bareng teman-teman gue. Nanti gue telepon lagi,] ucapku.

Tanpa cup muach-muach, aku langsung memutuskan sambungan teleponnya.

"Ra, si Dhika emang nggak marah ya, kita ngeganggu?" tanya Mira yang kini telah duduk.

Aku melangkah ke arah tempat tidur dan duduk bergabung dengan mereka berdua. "Nggaklah, si Dhika mah orangnya Slay."

Ranti bangkit dari tidurnya, meletakkan benda pipih yang ia pegang di samping tubuhnya. "Nah, cari cowok tuh yang model begini. Nggak nekan-nekan dan nggak ngelarang ini itu," ujar Ranti.

Aku menatap dua orang wanita itu secara bergantian. Padahal jam sudah cukup larut tapi dua orang ini belum juga kembali ke kamar mereka.

Suara di ruang tengah juga masih ramai oleh Andi dan Heru yang taruhan main bola di Playstation. Padahal aku sudah sangat lelah dan mengantuk, besok ada jam mata kuliah pagi.

"Ngomong-ngomong, kalian berdua belom ngantuk? Betah banget di kamar gue." akhirnya aku bertanya.

"Lo ngusir kita ya?" ujar Mira.

"Gue cuma nanya. Sewot banget!" celetukku.

Ku lihat Ranti terdiam, ia seperti ingin menyampaikan sesuatu. "Hmm ... Nara, sebenarnya tuh gue mau balik ke kamar. Tapi, gue kok parno sama nih rumah ya?" ucap Ranti.

"Nah, gue juga mikir gitu. Pas baru nyampe juga aura pekat kegelapan udah nyambut gue. Mana kata Nara tadi dia dengar ada orang ngobrol kayak di pasar. Kan gue jadi gimana gitu." Mira menimpali.

Ranti seperti kaget, ia menatapku lekat. "Serius? Padahal kak di sini rumah kosong semua. Ada juga yang punya toko itu di depan. Mana ada pasar coba? Lo ngelantur kali, Ra."

Aku tahu kepanikan teman-temanku. Apalagi mereka tahu jika aku tidak percaya hal semacam itu.

Jadi aku hanya tersenyum. "Iya kali. Gue kecapean terus ngelantur," jawabku sekenanya agar tak panjang kali lebar.

Mereka pun terdiam dan mulai melanjutkan aktivitas mereka nge-scroll media sosial mereka.

Sementara aku, mengalihkan pandanganku ke arah jendela yang masih terbuka.

'Ngelantur? Tapi mimpi, kain putih kumal sama bapak-bapak botak itu kok kebetulan ya?' pikirku membatin.

Saat kami semua telah larut dalam aktivitas, hidungku mengendus sesuatu yang tak bisa.

'Bau busuk?' aku beranjak dari ranjang.

Melihat aku berdiri, Ranti dan Mira menatapku. "Lo mau kemana?" tanya Mira.

"Nggak kemana-mana. Gue juga mau nutup jendala," jawabku.

Aku kembali membuang langkah ke jendela. Pikiranku berputar-putar. Lebih tepatnya aku menerka bau yang baru saja kucium.

"Ini binatang mati dari mana sih?"

Aku menoleh menatap Ranti dan Mira yang kini menutup hidung mencari sumber bau.

Ku urungkan niatku menutup jendela. "Nara, kalau tengah malam bau busuk, itu artinya ada pocong." aku bergidik, bulu-bulu halus di tubuhku seketika meremang mengingat perkataan ibuku.

"Nara, lo nyium nggak sih?" ujar Mira.

Aku tersentak. "Lo berdua juga nyium?"

"Ya iyalah, masa bau nyengat kayak gini gue nggak nyium," jawab Mira, jijik.

Memang baunya busuk sekali. Bau busuk ini seperti saat kurban, kulit hewan dibiarkan hingga busuk lalu di bakar. Mirip seperti itu.

"Ada tikus yang mati mungkin," aku berkilah, berharap dua temanku itu tak ketakutan.

Ranti mendelik ke arahku, masih menutup hidungnya. "Ngotak, kalo ada bangkai, baunya pasti dari tadi. Kenapa baru sekarang?"

Mira mengangguk setuju dengan omongan Rantai. "Ho'oh... Benar apa kata Ranti. Buruan tutup jendelanya!"

Tak menjawab aku langsung berbalik.

Tetapi ...

"Ya ... Itu Hantu ... Nara ... Itu di sana... Ada yang berdiri ..." ujar Mira, telunjuknya menunjuk ke arah jendela dengan suara gemetar terbata.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penghuni    24

    Suasana dapur seketika membeku. Kata-kata "simpanan" yang diucapkan oleh suara Pak Burhan itu terus berputar di kepalaku, terasa lebih tajam daripada udara panas yang baru saja menerpa wajah kami.Aku menatap pintu yang terbuka itu dengan ngeri, menunggu sosok pria itu muncul, tapi yang ada hanyalah kegosongan yang sunyi.“Nara, geser!” Heru menarik pundakku dengan kasar, membuatku tersentak dari lamunan.Heru melangkah maju, memegang linggisnya seperti sebuah senjata, lalu menendang pintu dapur hingga terbuka lebar. “Nggak ada siapa-siapa di luar, Ndi. Itu cuma gertakan!”“Gertakan gimana, Ru? Suaranya jelas banget di telinga gue!” Andi berteriak, ponselnya masih mengarah ke lubang ubin dengan tangan yang gemetar hebat. “Dia bilang ‘simpanan’! Lo liat kan tangan tulangnya tadi gerak?”Aku menelan ludah, mencoba mengatur napas yang terasa pendek-pendek. “Heru bener, Ndi. Pak Burhan... dia kayaknya pakai semacam kiriman suara. Pak Slamet tadi bilang dia lagi ritual ‘memberi makan’. Mun

  • Penghuni    23

    Jantungku seolah ingin melompat keluar dari dada saat kakiku beradu dengan aspal gang yang kasar. Di belakangku, Heru berlari kencang, napasnya memburu sama sepertiku.Pesan dari Andi di grup Wawa tadi benar-benar meruntuhkan sisa keberanianku. "Cepetan, Ra! Jangan berhenti!" teriak Heru dari belakang.Begitu sampai di depan pintu kontrakan, aku tidak menunggu Heru. Aku langsung mendobrak pintu kayu yang sudah rapuh itu. Bau busuk yang tadi kucium di dekat rumah Pak Burhan ternyata sudah merayap masuk ke sini, namun kali ini bercampur dengan aroma amis darah yang segar dan pekat.“Andi! Mira! Kalian di mana?!” teriakku sambil berlari menuju dapur.Langkahku terhenti di ambang pintu dapur. Pemandangannya jauh lebih mengerikan dari yang kubayangkan. Di sudut dapur, dekat sumur kerek tua, Andi berdiri dengan linggis di tangan, tubuhnya gemetar hebat. Di lantai, salah satu ubin yang tadinya berwarna kusam sudah hancur berkeping-keping."Ra! Akhirnya lo balik!" seru Andi. Wajahnya pucat p

  • Penghuni    22

    Cahaya matahari yang menyerobot masuk lewat ventilasi ruang tengah terasa menyakitkan di mataku.Aku terbangun dengan leher kaku karena tidur bersandar pada dinding tempat rajah pelindung itu bersembunyi di balik cat. Bau amis sisa tangisan semalam masih tertinggal di ujung hidungku, membuat perutku mual seketika.“Ra? Bangun, Ra. Kopi nih,” suara Heru memecah keheningan. Ia menyodorkan mug plastik berisi cairan hitam pekat kepadaku. Aku menerimanya dengan tangan gemetar. “Makasih, Ru. Jam berapa?”“Hampir jam delapan. Anak-anak udah pada kumpul di dapur. Andi nemu sesuatu,” jawab Heru pendek. Wajahnya tegang, ada kantung mata hitam yang menghiasi wajahnya.Aku segera beranjak, mengabaikan rasa pening di kepala, dan melangkah ke dapur. Di sana, Andi sudah berjongkok di dekat sumur kerek tua yang berlumut, sementara Mira dan Ranti berdiri mengelilinginya dengan wajah pucat.“Ndi, lo serius?” tanyaku sambil mendekat.Andi mengetuk-ngetuk salah satu ubin yang warnanya sedikit lebih kus

  • Penghuni    21

    Malam turun membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Kontrakan kami sudah jauh lebih rapi setelah seharian dibersihkan, tapi udara di dalamnya terasa berat, seolah dinding-dinding ini tahu bahwa pertempuran akan segera pecah.Kami berkumpul lagi di ruang tengah, duduk bersila di atas karpet. Hanya lampu bercahaya kuning di sudut ruangan yang menyala, memberikan nuansa temaram. Kotak kayu berisi surat-surat ancaman Pak Burhan tergeletak di tengah kami bak artefak berharga."Gimana, Ndi? Pak Ustaz bisa?" tanyaku memecah keheningan.Andi mengangguk pelan, meletakkan ponselnya di atas karpet. "Bisa. Beliau bilang bakal datang besok siang sehabis zuhur. Katanya kita disuruh nyiapin air putih yang banyak, daun bidara, sama garam krosok. Untung tadi sore gue udah beli semua di pasar.""Bagus," pangkas Heru. Ia mencondongkan badannya ke depan, menatap kami satu per satu dengan raut wajah serius. "Sekarang dengerin gue baik-baik. Kita harus satu suara. Malam besok itu bukan ruqyah biasa. Musuh

  • Penghuni    20

    Pagi sudah tiba, dan udara terasa dingin, tapi bukan dingin yang mencekam seperti semalam. Ini dingin khas pagi hari di kota yang membawa sisa-sisa kelelahan kami.Kami berlima duduk melingkar di ruang tengah, menatap sebuah lemari jati tua di pojok dekat tangga. Lemari itu sudah ada di sana sejak hari pertama kami pindah, terkunci rapat dan tak pernah kami pedulikan. Sampai semalam, saat Pak Darmo memberikan kuncinya padaku."Buka sekarang, Ra?" tanya Andi, memecah keheningan. Ia menguap lebar, matanya merah karena kurang tidur.Aku mengangguk, menggenggam kunci kuningan berkarat di tanganku. "Iya. Kita harus tau apa yang disembunyikan Pak Darmo di sini."Aku bangkit, berjalan mendekati lemari jati itu. Ada bau kapur barus tua dan debu yang menyengat saat aku memasukkan kunci ke lubangnya. Krek! Pintu lemari terbuka. "Uhuk! Gila, debunya," keluh Ranti sambil mengipas-ngibaskan tangan di depan hidung."Ada apa aja di dalem?" Heru ikut berdiri, melongok dari belakang bahuku."Cuma

  • Penghuni    19

    Ruangan depan rumah Pak Darmo terasa lebih terang setelah kami menyalakan lampu. Tapi terang itu tidak menghapus ketegangan yang masih menggantung di udara. Bu Lastri sudah sadar, duduk bersandar di sofa dengan selimut menutupi tubuhnya yang masih gemetar. Wajahnya pucat, matanya masih menyimpan sisa-sisa ketakutan.Mira menuangkan air putih ke gelas, lalu memberikannya pada Bu Lastri. "Minum dulu, Bu. Pelan-pelan."Bu Lastri menerima dengan tangan bergetar. Ia meneguknya sedikit, lalu menghela napas panjang. "Matur nuwun, Nduk. (Terima kasih, Nak.)"Aku duduk di lantai, tepat di depan Bu Lastri. Heru berdiri menyandar di dinding, Andi di sampingnya. Ranti duduk di ujung sofa, memijat-mijat kakinya sendiri—kebiasaannya kalau sedang cemas."Bu," aku memulai, hati-hati. "Ibu... lihat apa tadi? Sebelum pingsan?"Bu Lastri menatapku. Sorot matanya berubah. Bukan lagi ketakutan. Tapi sesuatu yang sudah lama disimpan. "Aku... aku lagi nyiapke wedang nang pawon. (Aku... aku lagi menyiapkan

  • Penghuni    18

    Ruang kamar itu pengap. Bau obat dan sesuatu yang anyir. Jelas seperti tanah basah bercampur darah kering mengendap di udara. Cahaya dari satu lampu bohlam redup di sudut membuat bayangan-bayangan aneh menari di dinding.Pak Darmo terbaring lemah. Tubuhnya yang kurus tenggelam di antara selimut bat

  • Penghuni    16

    "Oke. Kita berangkat sekarang."Kalimat itu terlontar dari mulutku sendiri, tapi rasanya seperti diucapkan oleh orang lain. Seseorang yang lebih berani dariku. Seseorang yang tidak sedang gemetar di dalam.Heru mengangguk tanpa banyak bicara. Ia langsung berdiri, mengambil jaketnya yang tergantung

  • Penghuni    15

    Krieeet…Suara pintu di seberang lorong yang terbuka perlahan itu seribu kali lebih menakutkan daripada teriakan mana pun. Itu adalah suara yang disengaja. Pelan, penuh kendali, sebuah ejekan yang tak terucap. Senter ponsel di tangan kami bertiga bergetar hebat, membuat tiga lingkaran cahaya yang

  • Penghuni    14

    Uhuk... uhuk... uhuk...!Kami berlima membeku di atas tikar. Suara riuh rendah obrolan kami yang gugup seketika mati, ditelan oleh tiga kali suara batuk yang terdengar begitu nyata. Itu bukan suara batuk biasa. Itu suara batuk orang sakit. Lemah, penuh dahak, dan sarat akan penderitaan. Dan yang p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status