LOGIN"Heh, Mir, nyebut-nyebut. Lo liatin apaan sih?!" aku mencengkram kedua pundak Mira, wanita itu tegang.
Ranti panik ketakutan melihat Mira yang seperti melihat sesuatu yang membuat Mira shack-shock. "Mir, lo jangan nakuti gue. Hantu apaan?" ujar Ranti. "Lo ... Nggak pada ngeliat? Itu di tembok bawah pohon rambutan...," ucap Mira terbata-bata, menunjuk. Aku berbalik, ku alihkan pandanganku ke arah yang ditunjuk Mira, tak ada apapun di sana. Hanya gelap dan bayangan ranting pohon rambutan yang menari tertiup angin malam. "Nggak ada apa-apa. Apa sih yang lo liat?" aku kembali mengalihkan pandanganku kepada Mira. Aku begitu penasaran dengan apa yang Mira lihat hingga membuat wanita itu ketakutan hingga berkeringat dingin. Pocong, 'kah? Ranti pun sama, ia clengak-clenguk melihat ke arah pohon rambutan. "Iya, nggak ada apa-apa —" "Noh, dia mendekat!" teriak Mira, tubuhnya gemetar. Bruk! Tubuh Mira lunglai jatuh dalam pelukan Ranti. "Mir, woilah, jangan becanda!" teriak Ranti, mencoba menahan bobot tubuh Mira agar tidak jatuh sepenuhnya ke lantai. Aku segera berlari, membantu Ranti. "Angkat, Ran. Dia liatin apa sih, sampe kayak gini?" ujarku. "Mana gue tau?!" seru Ranti. Aku dan Ranti segera mengangkat tubuh Mira yang tiba-tiba pingsan itu di atas kasur yang hanya terletak asal di atas lantai kamarku. Tok, tok, tok! Terdengar ketukan pintu kamar. "Nara, lo bertiga berisik banget sih, kayak pasar malam. Lo bertiga napa teriak-teriak?!" Suara Heru terdengar di depan pintu kamarku. Aku membuang pandangan ke arah pintu. "Lo berdua masuk aja. Pintu nggak gue konci. Nih, Mira kayaknya kesambet!" teriakku. Kreik! Pintu kamarku terbuka, di sana berdiri Andi dar Heru. Mereka berdua dengan cepat masuk ke dalam kamarku dengan buru-buru, wajah mereka berdua panik. "Mira kenapa?" Tanya Andi. "Kita juga nggak tau. Katanya ada orang di bawah pohon rambutan di balik tembok itu. Tapi orangnya tuh berdiri di tembok," ujar Ranti menjelaskan. Aku mengangguk. "Iya, pas dia bilang tuh orang mau mendekat, dia langsung pingsan!" tambahku menjelaskan. Ranti meremas jemarinya yang dingin, sesekali melirik Mira yang terkulai tak sadarkan diri di atas kasur tipis. Napasnya tersengal, sesak oleh ketegangan yang menggantung di udara. Aku mencoba menenangkan diri, meski suara jantungku berdetak cepat, berpacu dengan suara rintik hujan yang mulai turun di luar. Heru berdiri di depan jendela yang terbuka, mengamati kegelapan di luar. Ia tak mengalihkan pandangannya sedikit pun, seperti mencari sesuatu di sela-sela bayangan pohon rambutan. Ranting-ranting itu bergerak liar, seperti tangan-tangan tak kasat mata yang tengah menari di bawah sorot lampu jalan yang redup. "Andi, tutup jendela itu," perintah Heru tiba-tiba. Andi menatap Heru bingung, lalu menoleh ke arahku. "Kenapa mesti ditutup? Angin doang, kali," ujar Andi, berusaha terdengar santai, meski tangannya sudah menggenggam gagang jendela dengan gemetar. "Pamali," ulang Heru, suaranya nyaris berbisik, namun cukup untuk membuat Andi merinding. Ia segera menutup jendela dengan gerakan cepat, hampir seperti takut sesuatu akan menerobos masuk sebelum jendela itu benar-benar terkunci rapat. Aku mengerutkan dahi, menahan tawa kecil yang terpaksa kukubur karena suasana mencekam. "Pamali? Lo serius, Ru? Kita udah gede, manalah ada yang kayak gitu. Jaman udah modern masih aja berpikir jadul! Paling Mira cuma... capek aja." sangahku. Meski aku sudah merasakan keanehan dari pertama datang ke rumah ini, tapi tak bisa dipungkiri kalau aku masih tidak percaya dengan hal begituan. Ya, meski aku takut. Tapi? Masa gue yang derajatnya lebih tinggi harus kalah sama dedemit? Malu dong! Heru berbalik menghadapku, wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. "Lo nggak paham, Ra. Tadi gue ngeliat bayangan di bawah pohon rambutan." Aku menelan ludah, mencoba mencerna kata-kata Heru yang terlempar seperti petir di tengah malam yang gelap. Bayangan? Pohon rambutan? Ini pasti hanya akal-akalan otaknya yang terlalu terpengaruh cerita horor yang sering kami dengar. Tapi... tatapan mata Heru saat ini berbeda. Tidak ada tanda candaan. Bahkan bibir Heru sedikit bergetar saat mengucapkan kalimat itu. "Bayangan gimana maksud lo?" tanyaku, mencoba terdengar skeptis meski rasa penasaran mulai merayap. Heru tidak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangannya ke Ranti, yang sejak tadi hanya diam sambil memeluk lutut di dekat Mira. Wajah Ranti tampak kaku, seolah menunggu jawaban yang tak ingin ia dengar. "Kayak... orang," ucap Heru, suara pemuda itu nyaris tak terdengar. "Tapi nggak sepenuhnya. Gue cuma ngeliat sekilas, Ra, tapi ... itu nggak berdiri di tanah. Bayangan itu di atas tembok, seperti... nempel." Hawa di ruangan seketika menjadi lebih dingin. Andi melirik ke arah jendela yang tadi ia tutup, matanya penuh waspada. "Nempel di tembok? Maksud lo kayak Spiderman?" Andi tertawa kecil, meski jelas suara itu terdengar dipaksakan. Heru tidak tertawa. Ia justru melangkah mendekat ke kasur, menunduk memperhatikan Mira yang mulai bergerak gelisah. Tangan Mira mencengkeram kain kasur, kukunya menekan begitu dalam hingga hampir merobek kain itu. Dari sela-sela bibirnya, terdengar gumaman samar, seperti merapal sesuatu yang tidak kami mengerti. "Ggrrrr... Ggrrrr...." Mira mengeram. "Gue bilang tutup jendela karena gue tau," lanjut Heru, tatapannya tak lepas dari Mira. "Kalo lo buka jendela malam-malam, apalagi deket pohon yang rimbun ... Lo sama aja kasih undangan buat 'mereka' masuk." Aku mengangkat alis, mencoba melawan rasa takut yang mulai membuncah. "Mereka siapa, Ru? Lo serius percaya sama cerita nenek moyang soal pamali itu?" Heru mendengus pelan, lalu mendekatkan wajahnya ke Mira. "Lo mau percaya atau nggak, itu terserah. Tapi coba lo jelasin kenapa Mira bisa kayak gini? Kenapa dia liat sesuatu yang kita nggak liat?" Aku tidak punya jawaban. Tenggorokanku tercekat saat Mira tiba-tiba membuka matanya. Bukan seperti membuka mata biasa. Kedua bola matanya melotot, putih seluruhnya. Tidak ada iris, tidak ada pupil. Hanya putih yang memantulkan cahaya lampu temaram kamarku. Ranti memekik, melompat mundur hingga punggungnya menabrak tembok. "Astaghfirullah ... Ya Allah! Nara, Nara, liat matanya Mira!" teriak Ranti. Aku tercekat, terperangah melihat Mira yang kini terduduk, tubuh Mira menegang dengan posisi kaku. Bibirnya bergerak pelan, dan suara rendah keluar dari tenggorokannya. "Dia... masih di sana. Dia... menunggu." Heru langsung mundur beberapa langkah, gesturnya seperti orang yang baru saja tersengat listrik. "Apa tadi? Mira... itu lo?" tanya Heru, meski ia jelas tahu jawabannya. Mira tidak menjawab. Matanya yang kosong perlahan beralih ke arah jendela. Lalu, dia tersenyum. Senyum lebar yang tampak tidak wajar, seperti wajahnya ditarik paksa oleh sesuatu yang tidak kasat mata. Aku bergidik, mengambil langkah mundur tanpa sadar. Jantungku berdegup kencang saat Mira berbicara lagi, kali ini lebih pelan, hampir seperti bisikan. "Dia ... datang dan dia masuk ...."Enam bulan telah berlalu sejak perjalanan kami ke desa Pak Darmo untuk mengantarkan kepergian Mbak Dyah. Namun, kembali ke kehidupan normal ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Trauma tidak hilang hanya dalam semalam.Pada bulan pertama setelah kami pindah, sisa-sisa ketakutan itu masih sering menghampiri. Aku masih sering terbangun tengah malam dengan napas tersengal, secara refleks menatap ke arah plafon kamar kos baruku, takut melihat wajah hancur itu merangkak di sana. Andi sempat mengalami paranoia ringan; ia akan melompat kaget hanya karena mendengar suara ranting pohon bergesekan dengan jendela. Sementara Mira, ia butuh pendampingan psikologis dan spiritual yang cukup intens karena tubuh dan pikirannya pernah diambil alih secara paksa.Namun, waktu dan persahabatan terbukti menjadi obat yang paling ampuh. Kami berlima saling menguatkan. Jika salah satu dari kami merasa cemas, kamar kos kami selalu terbuka untuk dijadikan tempat berkumpul dadakan. Perlahan ta
Sebulan berlalu sejak kami menutup pintu rumah kontrakan itu untuk yang terakhir kalinya. Kehidupan kami sebagai mahasiswa kembali berjalan normal. Ujian semester yang sempat terbengkalai akhirnya bisa kami kejar, dan mimpi-mimpi buruk yang dulu selalu menghantui tidurku perlahan memudar, digantikan oleh malam-malam yang tenang.Hingga suatu sore, saat aku sedang mengerjakan tugas di kamar kos, ponselku bergetar. Sebuah pesan Wawa masuk dari nomor yang tidak asing. Pak Darmo."Assalamualaikum, Mbak Nara. Alhamdulillah, urusan dari kepolisian dan rumah sakit sudah selesai. Jenazah adik saya, Dyah, sore ini sudah bisa kami bawa pulang dan akan dimakamkan di desa. Kalau Mbak Nara dan teman-teman ada waktu, kami sangat berharap kalian bisa hadir."Aku terdiam menatap layar ponsel. Rasa hangat seketika menjalar di dadaku. Tanpa membuang waktu, aku langsung meneruskan pesan itu ke grup obrolan kami berlima.Hanya butuh waktu kurang dari lima menit sampai Heru membalas, "Gue rental mobil se
Satu minggu telah berlalu sejak kepindahan kami dari rumah kontrakan neraka itu. Kehidupan perlahan kembali menemukan ritme normalnya. Kami tidak lagi menyewa satu rumah utuh. Uang sewa yang dikembalikan oleh Pak Slamet dan tambahan dari warga kami gunakan untuk menyewa kamar kos yang lebih aman dan dekat dengan kampus.Aku, Ranti, dan Mira menyewa kamar bersebelahan di sebuah kos putri yang terang, ramai, dan memiliki penjaga kos 24 jam. Sementara Heru dan Andi menyewa kos putra yang jaraknya hanya beda satu blok dari tempat kami.Sinar matahari sore menembus jendela kamarku dengan leluasa. Tidak ada lagi bayangan gelap di sudut ruangan. Tidak ada bau kemenyan, apalagi bau anyir bangkai. Yang ada hanya aroma pewangi pakaian dan harum masakan ibu kos dari lantai bawah."Ra, lo mau ikut ke kantin kampus nggak?" Ranti menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamarku. Wajahnya terlihat jauh lebih segar, kantung matanya yang dulu hitam kini sudah menghilang. "Heru nge-chat nih, katanya d
Proses pemeriksaan di kantor polisi memakan waktu hampir seharian penuh. Kami berlima dimintai keterangan secara terpisah di ruangan yang berbeda. Aku menceritakan semuanya dari awal—mulai dari bau busuk, penemuan bungkusan tanah kuburan, rambut di ubin, hingga akhirnya kami menemukan kerangka itu. Tentu saja, aku menceritakannya dari sudut pandang logika dan apa yang kami temukan secara fisik, tanpa perlu mendebat polisi soal urusan gaib.Menjelang magrib, kami akhirnya diizinkan berkumpul di ruang tunggu. Bau kopi instan dan suara ketikan keyboard mendominasi ruangan. Andi tertidur di kursi panjang dengan mulut setengah terbuka, sementara Heru sibuk memijat pelipisnya.Tak lama kemudian, pintu kaca ruang tunggu terbuka. Pak Yanto, detektif yang memeriksa kami, masuk bersama seorang pria paruh baya yang wajahnya tampak sangat lelah dan familier."Pak Darmo?" panggilku pelan, langsung berdiri dari kursi.Pria itu menoleh. Matanya merah dan berkaca-kaca. Pak Yanto mempersilakan Pak
Suara sirine mobil pemadam kebakaran dan polisi memecah kerumunan warga. Dua mobil patroli dan satu truk damkar berhenti tepat di depan pagar rumah Pak Burhan. Warga yang tadinya berkerumun langsung mundur, memberi jalan."Minggir, minggir! Biar petugas masuk!" teriak salah satu polisi.Karena pagar besi terkunci dari dalam, beberapa petugas damkar terpaksa menjebol gemboknya dengan alat pemotong baja. Brak! Pagar terbuka. Mereka merangsek masuk, menyemprotkan air ke arah jendela lantai dua. Anehnya, begitu semburan air itu menyentuh asap pekat, asapnya langsung menguap tanpa menyisakan bara api atau tembok yang hangus. Hanya bau anyir seperti daging terbakar yang tersisa di udara.Brak!Polisi mendobrak pintu utama. Beberapa menit kemudian, dua petugas keluar sambil menyeret tubuh seseorang.Itu Pak Burhan.Aku hampir tidak mengenali sosoknya. Pria tua yang biasanya tampil congkak itu kini tampak sangat mengenaskan. Baju jubahnya compang-camping. Kulit wajahnya penuh luka cakar
Suara bariton yang menggelegar dari depan rumah itu seakan merobek udara pekat di dalam dapur. Sosok wanita berwajah hancur di depanku mendadak kaku. Kepalanya berputar patah-patah menoleh ke arah ruang tengah, diiringi bunyi gemertak tulang yang membuat perutku mual.Langkah kaki yang tergesa terdengar mendekat. Dari balik sisa-sisa pintu dapur yang hancur, muncul Pak Ustaz dengan peci putih dan serban yang melingkar di leher.Di belakangnya, Pak Slamet mengekor dengan wajah pucat pasi sambil memegang jeriken air."Mundur semua!" teriak Pak Ustaz.Tanpa membuang sedetik pun, beliau merogoh saku gamisnya, mengeluarkan segenggam garam krosok yang sudah didoakan, dan melemparkannya tepat ke wajah sosok mengerikan itu.Cessss!Sosok itu menjerit melengking. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan perpaduan antara lolongan binatang dan gesekan besi berkarat. Kulit wajahnya yang hancur tampak melepuh dan mengeluarkan asap kelabu. Ia terhuyung mundur, menjauhi kami."Nara! Bakar buh
"Loh, ini kayak kain ya?" pikirku ketika tanganku menyentuh sesuatu. Karena panik dan terburu-buru, benda yang terselip di sela ventilasi itu pun terjatuh ke lantai karena gesekan oleh tanganku sendiri. Deg! Aku menyipitkan mata menatap benda yang jatuh itu. Sebuah kain putih, tampak kumal berw
Aku merasakan ada sesuatu yang jatuh dari atas langit-langit plafon di mana aku sedang terbaring. Rasanya tidak nyaman ketika sesuatu itu menimpa wajahku. "Apaan sih? Kok rasanya geli?" gumamku, meski mataku terasa amat berat, aku memaksakan kelopak mataku agar terbuka lebih lebar. Deg! Jan
"Aduh, Pak! Kalau mau nyiram itu lihat-lihat, dong!" teriakku, refleks. Aku kesal dan bahkan sangat kesal. Bagaimana nggak kesal? Seorang bapak-bapak yang usianya kisaran 50 tahun itu sengaja menyiramiku dengan air bekas cucian piring yang mungkin, sudah disimpan selama berhari-hari. Bau dari
"Mugi-mugi iso lama ngontraknya." Kalimat ibu penjual mie ayam terus menggema di dalam benakku. Aku hendak memanggil dan bertanya. Akan tetapi, ibu-ibu yang belum aku tahu namanya itu sudah tampak sibuk melayani pembeli yang lain. Ya ... Terpaksa aku urungkan niatku. Memendam rasa penasaran dala







