Compartilhar

Pengkhianatan di Arena Es Hoki
Pengkhianatan di Arena Es Hoki
Autor: Miss Sunny

Bab 1

Autor: Miss Sunny
Sudut Pandang Irene.

"Akta pernikahan Anda itu hanya suvenir seharga delapan ratus ribu, Bu Irene."

Kata-kata itu menghantamku lebih keras daripada lemparan hoki nyasar yang pernah kuhindari di atas es. Aku hanya bisa menatap Pak Martin yang duduk di seberang meja, wajahnya terllihat tenang dan dingin seperti kantor pemerintahan yang aku datangi ini.

"Hah?" Akhirnya aku berhasil bicara, suaraku terdengar seolah berasal dari bawah air. "Tapi itu akta nikah yang sah. Aku bahkan sudah memasangnya dalam bingkai di meja samping tempat tidurku selama setahun."

"Nomor registrasinya nggak valid. Capnya juga palsu." Pak Martin mengoreksi, nadanya merendah, tanpa sedikit pun empati.

Dia mengetuk kertas berhias embos emas itu dengan jarinya dengan keras. "Ini jenis barang yang bisa Anda beli di toko suvenir agar orang bisa berpura-pura menikah selama akhir pekan. Di mata pemerintah Amarilas, Anda masih lajang."

Ruangan itu terasa mulai berputar. Dengungan rendah dan menjengkelkan dari lampu neon di atas tiba-tiba terasa seperti bor yang menembus tengkorakku. Tanganku refleks menyentuh cincin berlian di jariku yang tampak sederhana dan elegan, namun kini tiba-tiba terasa seperti cap panas yang membakar dan memalukan.

"Ini pertandingan pasca musiman, Irene." Suara Leon bergema di kepalaku, terdengar selembut beludru, suara yang sama yang telah memikat jutaan penggemar dan meyakinkanku untuk menikah dengannya dalam upacara rahasia tengah malam. "Pelatih bisa membunuhku kalau aku sampai absen latihan. Kau urus saja dokumennya. Kau kan yang paling pintar."

Aku memang yang paling pintar.

Aku adalah kepala dokter untuk tim Hoki Toreto Arpaz.

Sepanjang karirku, aku telah menjahit luka robek yang menganga dan mengembalikan posisi bahu yang terkilir ataupun terlepas dari sendinya. Sementara, dua puluh ribu penggemar berteriak meminta kemenangan. Aku dilatih untuk menangani situasi bertekanan tinggi, situasi hidup dan mati dengan ketepatan seperti operasi bedah.

Namun, ternyata aku telah hidup dalam kebohongan selama tiga ratus enam puluh lima hari terakhir.

"Pasti ada kesalahan." Aku tergagap, jantungku berdebar kencang seperti burung yang terperangkap. "Suamiku, Leon Suta ... dia penyerang terkenal untuk Tim Toreto. Tim manajemen yang mengurus pendaftarannya. Pengacaranya ...."

"Pengacara Pak Leon nggak pernah mengajukan apa pun untuk Anda, Bu Irene." Pak Martin menyela, bersandar dan melepas kacamatanya. "Dan walaupun mereka mencoba, itu nggak akan ada bedanya. Leon Suta nggak mungkin secara hukum menikahi Anda bulan Juni lalu. Atau kapan pun."

"Mengapa?" bisikku. Kata itu terasa seperti pecahan kaca yang tersangkut di tenggorokanku.

"Suami Anda, maksud saya Pak Leon, dia sudah menikah dengan orang lain." Pak Martin memutar layar monitor komputernya ke arahku.

Cahaya biru layar membutakanku sesaat. Ketika penglihatanku kembali jernih, aku melihat catatan basis data. Itu nama Leon. Dan tepat di sebelah namanya ... di bawah kolom pasangan, bukan namaku yang tertulis.

Itu nama yang bahkan sangat kukenal.

Sofia Kristanto, manajernya.

"Secara hukum ...." kata Pak Martin. Kata-katanya terdengar seperti pisau tajam. "Pak Leon sudah menikah selama tiga tahun."

Sofia.

Nama itu seperti pukulan telak ke ulu hatiku, membuatku sesak napas hingga hampir jatuh dari kursi plastik.

Wanita yang mengatur jadwal Leon, kontrak sponsor, dan citra publiknya.

Wanita yang duduk di seberangku saat makan malam tim, memanggilku dengan sebutan "sayang" sambil menyesap anggur mahal.

Wanita yang bahkan sudah membantuku memilih gaun pengantin untuk upacara pernikahan kami yang sangat rahasia.

"Oh, Irene, kau terlihat seperti malaikat. Leon pasti akan pingsan saat melihatmu."

Dia bukan membantuku memilih gaun pengantin. Dia sedang memilih kostum untuk orang bodoh yang berperan sebagai istri rahasia.

"Mereka memiliki kredit bersama untuk properti di Hamiton," lanjut Pak Martin. Sorot matanya akhirnya menunjukkan sesuatu, mungkin rasa iba.

"Mereka mengajukan laporan pajak gabungan tahun lalu. Mereka adalah suami istri yang diakui hukum. Anda, Bu Irene, hanyalah tamu di negara ini yang waktunya hampir habis."

"Komitmen profesional ...." ucapku terbata-bata, tawa histeris muncul di dadaku. "Dia bilang dia nggak bisa datang ke sini karena komitmen profesional."

"Yah, dia memang berkomitmen," kata Pak Martin sambil mendorong kembali akta nikah suvenirku ke seberang meja.

"Saya sarankan Anda segera menyelesaikan masalah ini dengan Pak Leon. Visa kerja Anda terkait dengan status Anda sebagai pasangannya, status yang sebenarnya nggak Anda miliki. Anda punya waktu tiga puluh hari untuk memperbaikinya, kalau tidak Anda akan dideportasi."

Tiga puluh hari.

Aku berdiri, kakiku terasa seperti jeli. Aku bahkan tidak ingat kapan aku mengambil mapku. Aku juga tidak ingat kapan berjalan keluar dari kantor. Aku hanya ingat udara sore hari yang dingin dan menusuk di Arpaz menerpa wajahku, membuatku kembali ke kenyataan.

Aku bukan seorang istri. Aku hanyalah kedok. Sebuah alat peraga yang digunakan untuk melindungi "sang Master Hoki", sementara dia menjalani kehidupan ganda dengan istri aslinya.

Aku masuk ke mobil dan mulai mengemudi, tanganku gemetar hebat hingga hampir tak bisa menggenggam setir. Aku tidak pulang. Aku pergi ke satu tempat di mana aku tahu akan menemukannya. Arena.

Sebagai dokter tim, aku memiliki kartu akses untuk pintu masuk staf pribadi. Aku berjalan melalui lorong beton stadion seperti hantu, tumitku berderak seperti lagu kematian di atas alas karet. Aku pun sampai di ruang ganti, pikiranku dipenuhi badai amarah dan pengkhianatan. Namun saat tanganku hendak membuka pintu ruang medis, aku mendengar suara yang membuatku membeku.

Suara tawa kecil.

"Leon berhenti ... yang lain sudah mau kembali dari lapangan es sebentar lagi."

Itu Sofia. Suaranya terengah-engah, tinggi, dan intim.

"Biarkan saja mereka lihat." Suara Leon menyusul, serak dan dalam. "Aku sudah lelah menyembunyikanmu, Sofia. Begitu kita berhasil membuat Irene menandatangani surat adopsi untuk bayi itu, kita akhirnya bisa menjadi keluarga sungguhan di depan umum."

"Apa dia akan percaya cerita anak yatim piatu korban perang itu?"

"Dia itu sangat menginginkan sebuah keluarga, Sofia. Lagian dia si yang paling pintar itu, ingat? Dia terlalu sibuk mengobati orang lain, sampai nggak pernah memperhatikan apa yang ada tepat di depannya. Dia akan membesarkan anak kita dan berterima kasih padaku atas kesempatan itu."

Mereka pun tertawa bersama, tawa yang kejam dan harmonis, suara yang menghancurkan sisa-sisa terakhir hatiku.

Aku berdiri di lorong, menatap pintu logam yang berat itu.
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 30

    Sudut Pandang Irene.Satu Tahun Kemudian.Matahari terbenam di atas tebing kompleks perkebunan Justin, mewarnai samudra dengan nuansa emas dan ungu.Sebuah lorong sutra putih membentang di atas halaman hijau zamrud, menuju altar yang terbuat dari kayu apung dan mawar putih. Itu adalah upacara pernikahan yang ditunggu-tunggu dunia, "Pernikahan Terbaik Abad Ini" menurut tabloid berita. Tapi bagiku, itu hanyalah sebuah janji yang dibuat di depan orang-orang yang penting.Aku berdiri di lobi rumah besar itu, memandang diriku sendiri di cermin besar.Gaunku adalah mahakarya dari renda dan sutra terbaik, dirancang untuk bisa menangkap cahaya dengan setiap gerakan. Gaun itu anggun, elegan, dan sangat indah. Di leherku ada liontin safir sederhana, hadiah pernikahan dari Justin.Suara gemericik lembut terdengar dari buaian di dekat jendela. Levi yang kini berusia satu tahun dan tegap mengenakan setelan jas kecil, sibuk mencoba memakan dasi kupu-kupunya sendiri."Kau tampak menakjubkan, Dokter I

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 29

    Sudut Pandang Irene."Utangnya sudah lunas," kataku dengan suara tenang. "Sang penyelamat dan sang bintang ... kita sudah selesai."Aku membelakangi kuburan dan berjalan menuruni bukit.Dengan setiap langkah, aku merasakan beban semu selama sepuluh tahun ini akhirnya menghilang. Aku bukan lagi dokter “Master Hoki”. Aku bukan lagi istri rahasianya. Aku hanya Irene.Justin sedang menunggu di dekat pintu mobil. Ketika melihatku, dia tidak bertanya bagaimana perasaanku. Dia hanya membuka pintu, membaringkanku di kursi kulit yang hangat, dan mencium keningku."Sudah siap?" tanyanya."Siap," jawabku.Kami pun pergi, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak melihat ke belakang di kaca spion....Tiga bulan kemudian, Sonar Barica menuju babak pasca musiman. Aku kembali bekerja, gelar Kepala Dokter Tim sekarang menjadi simbol departemen medis paling sukses di liga."Protokol Leon" milikku telah diubah namanya menjadi "Metode Irene". Dan, telah dilisensikan oleh tim-tim di seluruh nege

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 28

    Sudut Pandang Irene.Saat kami berjalan keluar dari gudang, sinar matahari pagi mulai menyinari Dermaga Barica. Udara terasa dingin, tetapi beban yang telah menghancurkan dadaku selama berbulan-bulan akhirnya menghilang.Tiba-tiba, aku merasakan denyutan kecil yang menantang di perut bawahku.Tendangan. Tendangan pertama bayi itu.Aku berhenti berjalan dan melihat ke bawah, lalu menatap Justin. Dia melihat ekspresi wajahku dan meletakkan tangannya di atas tanganku, matanya menelusuri wajahku dengan cemas."Dia baik-baik saja," bisikku. "Kita akan baik-baik saja.""Ayo pulang, Irene," kata Justin. Dia menarikku ke dalam kehangatan mobilnya. "Masa lalu telah berakhir. Hari ini adalah hari pertama dari sisa hidup kita."Debu dari ledakan gudang telah mereda, tetapi gelombang kejut hukum dan emosional baru saja mulai membentuk kembali kota ini.Dua minggu telah berlalu sejak malam saat Leon menukar hidupnya dengan hidupku.Pers yang pernah menikmati pemberitaan tentang dugaan menghilangnya

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 27

    Sudut Pandang Irene.Gudang itu dipenuhi perlengkapan taktis dan lampu darurat, tetapi bagi kami bertiga, dunia telah menyusut menjadi lingkaran kecil di atas beton yang berlumuran darah.Para petugas medis bergegas ke arah kami dengan tandu, langkah kaki mereka bergema di atas kayu, tetapi aku tahu mereka sudah terlambat.Aku bisa merasakan kehidupan perlahan meninggalkan Leon di bawah ujung jariku, kehangatan tubuhnya memudar menjadi hawa dingin lembap pagi itu.Justin berlutut di sampingku, tangannya bertumpu erat di bahuku. Biasanya, sentuhan Justin adalah sebuah klaim, pengingat posesif bahwa aku miliknya.Tetapi sekarang, genggamannya seperti sebuah dukungan. Tidak ada lagi rasa cemburu dalam dirinya, hanya rasa hormat yang berat dan muram kepada pria yang baru saja berjuang untuk keluarganya.Tangan Leon gemetar dan berat karena beban saat-saat terakhirnya, terangkat ke arahku.Dia ingin menyentuh pipiku yang telah dia abaikan selama pernikahan kami, yang telah dia ejek di depan

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 26

    Sudut Pandang Irene.Dalam sepersekian detik Sofia menerjang, otakku memproses semuanya dengan kejelasan yang menyakitkan.Aku melihat kilatan bilah baja tahan karat di tangannya, kegilaan di sorot matanya yang lebar dan tak berkedip, dan gerakan panik Justin yang putus asa saat dia menerobos pembatas dalam, tangannya terulur ke arahku, namun jaraknya masih sepuluh kaki, terlalu jauh untuk menghentikan arah serangan itu.Aku pun memejamkan mata, naluri primitif langsung mengambil alih. Aku membungkukkan tubuh ke depan sejauh yang memungkinkan oleh ikatan kabel, upaya terakhir untuk melindungi kehidupan kecil di dalam diriku dengan tulang rusukku sendiri.Aku menunggu gigitan dingin dan tajam dari pisau itu. Aku menunggu akhir dari mimpi yang baru saja mulai kupercayai.Namun, benturan yang kurasakan tidak tajam. Melainkan berat.Aku pun mendengar erangan serak penuh tenaga, diikuti oleh bunyi hantaman yang mengerikan, suara tubuh yang bertabrakan dengan tubuh.Terdengar suara napas ter

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 25

    Sudut Pandang Irene.Gudang itu adalah pusat industri yang sudah terbengkalai, bertengger dengan tidak stabil di tepi Dermaga Barica.Udara dipenuhi aroma air laut yang menggenang, besi berkarat, dan bau tembaga tajam dari keputusasaan Mario.Aku duduk terikat di kursi kayu berat, pergelangan tanganku lecet karena ikatan plastik yang menusuk kulitku.Setiap kali aku bergerak, plastik itu akan semakin menusuk, tetapi aku tetap memposisikan tanganku sebaik mungkin di atas perut.Kehamilanku bukan lagi sekadar rahasia, itu adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap waras dalam mimpi buruk ini.Aku seorang dokter, aku tahu statistik trauma selama trimester kedua, dan angka-angka itu berteriak di kepalaku.Di sebelah kiriku, Leon hanyalah bayangan hancur dari pria yang pernah kupuja. Dia terikat di kursi yang serupa. Setelan jasnya yang dulu merupakan baju Master Hoki, kini menjadi kain compang-camping yang berlumuran darah.Wajahnya penuh memar, kesombongannya digantikan oleh kesadaran y

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status