Share

Bab 2

Penulis: Miss Sunny
Sudut Pandang Irene.

Aku tidak menerobos masuk ke ruangan itu. Aku juga tidak berteriak. Aku tidak akan memberi mereka kepuasan melihatku hancur.

Sebaliknya, aku berbalik dan berjalan pergi, langkah sepatuku nyaris senyap di atas alas karet di lorong arena.

Setiap langkah terasa seperti menempuh satu kilometer dan setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan es. Tawa di balik pintu logam berat itu, suara yang kejam dan harmonis itu, bergema di kepalaku, mengejek setiap kata cinta yang pernah dibisikkan Leon ke telingaku.

Aku bahkan tidak ingat kapan sampai di tempat parkir. Aku juga tidak ingat kapan menyalakan mesin.

Hal berikutnya yang kutahu, aku mencengkeram setir mobilku begitu erat hingga buku-buku jariku memutih, bangunan besar arena Toreto tampak menjulang di kaca spion. Tempat yang dulu kusebut sebagai rumah kedua, kini tidak lebih dari monumen kebohongan selama setahun.

Ponselku bergetar di kursi penumpang. Sebuah pesan dari Sofia.

Sofia: [Semoga sukses dengan wawancaranya, Sayang! Beri tahu kami kalau kau sudah dapat Kartu Kewarganegaraan. Leon sangat khawatir kau nggak bisa tinggal di negara ini!]

Kemunafikan itu sungguh menyakitkan. Aku ingin berteriak sampai paru-paruku hancur. Leon tidak khawatir tentang visaku, dia khawatir kehilangan pengasuh anak gratis. Dia tidak melindungiku dari "penggemar gila", dia sedang melindungi pernikahannya yang sebenarnya.

Aku adalah Si Paling Pintar. Ahli bedah terbaik di liga. Aku tahu cara mengidentifikasi jaringan yang sudah mati. Aku tahu kapan anggota tubuh sudah terlalu parah untuk diselamatkan.

Dan Leon Suta seperti kanker.

‘Jika mereka ingin bermain-main ....’ pikirku sambil menatap bayanganku sendiri di cermin. ‘Aku akan ikut. Tapi mereka lupa bahwa tanpa dokter, tim akan mati di meja operasi.’

Namun, takdir memutuskan untuk mempermainkanku dengan lelucon kejamnya sendiri.

Lantai kamar mandi terasa dingin.

Aku duduk di ubin kamar mandi utama kami, menatap tongkat plastik kecil di tanganku.

Keheningan di rumah itu memekakkan telinga, dipenuhi bayangan pernikahan yang sebenarnya tak pernah ada. Rumah ini dibeli dengan tabunganku, tetapi terdaftar atas nama Leon untuk keperluan pajak. Satu kebohongan lain. Semuanya adalah kebohongan.

Lima menit. Kotak itu tertulis untuk menunggu lima menit.

Aku membeli alat tes itu karena mual yang kurasakan di mobil tadi bukan hanya karena kesedihan. Sebagai seorang dokter, aku mengenal tubuhku sendiri. Aku paham terhadap pembengkakan samar di payudaraku dan kelelahan yang selama ini kusalahkan pada pertandingan pasca musiman.

Leon telah berbulan-bulan mengatakan kepadaku bahwa aku sudah tidak bisa hamil.

"Nggak apa-apa, Irene," katanya. Suaranya penuh dengan simpati palsu setelah setiap kali hasil tes negatif. "Spermaku itu setara level Olimpiade. Masalahnya pasti stresmu. Tubuhmu terlalu tegang untuk mengandung bayiku."

Dia membuatku merasa seperti wanita cacat. Dia telah memanipulasiku agar meragukan tubuhku sendiri, dan itu semua demi membuka jalan bagi anak dari selingkuhannya.

Aku menatap alat tes itu.

Dua garis merah muda. Jelas. Tak terbantahkan. Aku hamil.

Tawa histeris menggelembung dari tenggorokanku, mencekikku hingga berubah menjadi isak tangis yang tersengal-sengal. Aku menutup mulutku, air mata membakar pipiku. Aku tidak mandul. Aku tidak “rusak”.

Situasi yang kejam ini terasa sungguh mutlak. Dia mungkin tahu aku bisa hamil. Dia hanya tidak menginginkan anakku.

"Bajingan," bisikku ke ruangan kosong yang mewah itu. "Benar-benar bajingan."

Tanganku bergerak ke perutku. Sebuah kehidupan. Bagian dari diriku. Tapi juga bagian dari monster yang telah menghancurkanku.

Ponsel di atas keset kamar mandi bergetar lagi, dan tidak berhenti selama dua puluh menit. Tujuh panggilan tak terjawab dari Leon. Tiga dari Sofia.

Dan sekarang, nama baru muncul di layar.

Mario Kunis.

Pemilik Tim Toreto. Pria yang memegang karir dan masa depanku di tangannya.

Getaran itu terasa seperti hitungan mundur. Aku menutup mataku sejenak, membiarkan gadis yang patah hati itu mati dan semangat sang ahli bedah mengambil alih. Sudah waktunya untuk membuang bagian yang busuk.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 30

    Sudut Pandang Irene.Satu Tahun Kemudian.Matahari terbenam di atas tebing kompleks perkebunan Justin, mewarnai samudra dengan nuansa emas dan ungu.Sebuah lorong sutra putih membentang di atas halaman hijau zamrud, menuju altar yang terbuat dari kayu apung dan mawar putih. Itu adalah upacara pernikahan yang ditunggu-tunggu dunia, "Pernikahan Terbaik Abad Ini" menurut tabloid berita. Tapi bagiku, itu hanyalah sebuah janji yang dibuat di depan orang-orang yang penting.Aku berdiri di lobi rumah besar itu, memandang diriku sendiri di cermin besar.Gaunku adalah mahakarya dari renda dan sutra terbaik, dirancang untuk bisa menangkap cahaya dengan setiap gerakan. Gaun itu anggun, elegan, dan sangat indah. Di leherku ada liontin safir sederhana, hadiah pernikahan dari Justin.Suara gemericik lembut terdengar dari buaian di dekat jendela. Levi yang kini berusia satu tahun dan tegap mengenakan setelan jas kecil, sibuk mencoba memakan dasi kupu-kupunya sendiri."Kau tampak menakjubkan, Dokter I

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 29

    Sudut Pandang Irene."Utangnya sudah lunas," kataku dengan suara tenang. "Sang penyelamat dan sang bintang ... kita sudah selesai."Aku membelakangi kuburan dan berjalan menuruni bukit.Dengan setiap langkah, aku merasakan beban semu selama sepuluh tahun ini akhirnya menghilang. Aku bukan lagi dokter “Master Hoki”. Aku bukan lagi istri rahasianya. Aku hanya Irene.Justin sedang menunggu di dekat pintu mobil. Ketika melihatku, dia tidak bertanya bagaimana perasaanku. Dia hanya membuka pintu, membaringkanku di kursi kulit yang hangat, dan mencium keningku."Sudah siap?" tanyanya."Siap," jawabku.Kami pun pergi, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak melihat ke belakang di kaca spion....Tiga bulan kemudian, Sonar Barica menuju babak pasca musiman. Aku kembali bekerja, gelar Kepala Dokter Tim sekarang menjadi simbol departemen medis paling sukses di liga."Protokol Leon" milikku telah diubah namanya menjadi "Metode Irene". Dan, telah dilisensikan oleh tim-tim di seluruh nege

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 28

    Sudut Pandang Irene.Saat kami berjalan keluar dari gudang, sinar matahari pagi mulai menyinari Dermaga Barica. Udara terasa dingin, tetapi beban yang telah menghancurkan dadaku selama berbulan-bulan akhirnya menghilang.Tiba-tiba, aku merasakan denyutan kecil yang menantang di perut bawahku.Tendangan. Tendangan pertama bayi itu.Aku berhenti berjalan dan melihat ke bawah, lalu menatap Justin. Dia melihat ekspresi wajahku dan meletakkan tangannya di atas tanganku, matanya menelusuri wajahku dengan cemas."Dia baik-baik saja," bisikku. "Kita akan baik-baik saja.""Ayo pulang, Irene," kata Justin. Dia menarikku ke dalam kehangatan mobilnya. "Masa lalu telah berakhir. Hari ini adalah hari pertama dari sisa hidup kita."Debu dari ledakan gudang telah mereda, tetapi gelombang kejut hukum dan emosional baru saja mulai membentuk kembali kota ini.Dua minggu telah berlalu sejak malam saat Leon menukar hidupnya dengan hidupku.Pers yang pernah menikmati pemberitaan tentang dugaan menghilangnya

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 27

    Sudut Pandang Irene.Gudang itu dipenuhi perlengkapan taktis dan lampu darurat, tetapi bagi kami bertiga, dunia telah menyusut menjadi lingkaran kecil di atas beton yang berlumuran darah.Para petugas medis bergegas ke arah kami dengan tandu, langkah kaki mereka bergema di atas kayu, tetapi aku tahu mereka sudah terlambat.Aku bisa merasakan kehidupan perlahan meninggalkan Leon di bawah ujung jariku, kehangatan tubuhnya memudar menjadi hawa dingin lembap pagi itu.Justin berlutut di sampingku, tangannya bertumpu erat di bahuku. Biasanya, sentuhan Justin adalah sebuah klaim, pengingat posesif bahwa aku miliknya.Tetapi sekarang, genggamannya seperti sebuah dukungan. Tidak ada lagi rasa cemburu dalam dirinya, hanya rasa hormat yang berat dan muram kepada pria yang baru saja berjuang untuk keluarganya.Tangan Leon gemetar dan berat karena beban saat-saat terakhirnya, terangkat ke arahku.Dia ingin menyentuh pipiku yang telah dia abaikan selama pernikahan kami, yang telah dia ejek di depan

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 26

    Sudut Pandang Irene.Dalam sepersekian detik Sofia menerjang, otakku memproses semuanya dengan kejelasan yang menyakitkan.Aku melihat kilatan bilah baja tahan karat di tangannya, kegilaan di sorot matanya yang lebar dan tak berkedip, dan gerakan panik Justin yang putus asa saat dia menerobos pembatas dalam, tangannya terulur ke arahku, namun jaraknya masih sepuluh kaki, terlalu jauh untuk menghentikan arah serangan itu.Aku pun memejamkan mata, naluri primitif langsung mengambil alih. Aku membungkukkan tubuh ke depan sejauh yang memungkinkan oleh ikatan kabel, upaya terakhir untuk melindungi kehidupan kecil di dalam diriku dengan tulang rusukku sendiri.Aku menunggu gigitan dingin dan tajam dari pisau itu. Aku menunggu akhir dari mimpi yang baru saja mulai kupercayai.Namun, benturan yang kurasakan tidak tajam. Melainkan berat.Aku pun mendengar erangan serak penuh tenaga, diikuti oleh bunyi hantaman yang mengerikan, suara tubuh yang bertabrakan dengan tubuh.Terdengar suara napas ter

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 25

    Sudut Pandang Irene.Gudang itu adalah pusat industri yang sudah terbengkalai, bertengger dengan tidak stabil di tepi Dermaga Barica.Udara dipenuhi aroma air laut yang menggenang, besi berkarat, dan bau tembaga tajam dari keputusasaan Mario.Aku duduk terikat di kursi kayu berat, pergelangan tanganku lecet karena ikatan plastik yang menusuk kulitku.Setiap kali aku bergerak, plastik itu akan semakin menusuk, tetapi aku tetap memposisikan tanganku sebaik mungkin di atas perut.Kehamilanku bukan lagi sekadar rahasia, itu adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap waras dalam mimpi buruk ini.Aku seorang dokter, aku tahu statistik trauma selama trimester kedua, dan angka-angka itu berteriak di kepalaku.Di sebelah kiriku, Leon hanyalah bayangan hancur dari pria yang pernah kupuja. Dia terikat di kursi yang serupa. Setelan jasnya yang dulu merupakan baju Master Hoki, kini menjadi kain compang-camping yang berlumuran darah.Wajahnya penuh memar, kesombongannya digantikan oleh kesadaran y

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status