Mag-log inTakut yang bersangkutan berubah pikiran, James langsung saja membuat surat perjanjian hitam di atas putih dan meminta Lintang menandatanganinya.Sejenak Lintang membaca surat perjanjian itu dengan teliti.“Jadi selama saya memegang status sebagai cucu pengganti, maka saya bisa melakukan apapun?” tanya Lintang memastikan.“Tentu saja. Bukankah lucu kalau seorang cucu yang merupakan pewaris sah Kenangga Group tapi tidak bisa mengambil keputusan sendiri? Selama menjabat sebagai cucu pengganti kamu bisa bertindak seenaknya, tapi satu hal yang pasti dalam urusan memecat karyawan, harus persetujuanku. Paham?”“Bagaimana kalau sampai ketahuan? Bukankah mereka akan meminta test untuk membuktikan kalau aku asli atau bukan?” tanya Lintang penasaran.“Kau tenang saja, serahkan semuanya padaku. Aku akan memuluskan semua jalan untukmu. Oh Ya … ingat satu hal, kamu sama sekali tidak bisa memerintahku, tapi aku bisa memerintahmu. Paham?”“Paham, Tuan,” jawab Lintang dan langsung menandatangi surat p
“Siapa kamu sampai berani berdebat dengan manager HR Kenangga Group?” tanya sang bos setelah menyuruh bawahannya keluar ruangan. Kini tinggal dirinya dan Lintang yang berada di sana.“Maaf, Tuan. Saya tadi terbawa emosi. Saya tidak terima ketika mereka meremehkan orang penyakitan sepertiku,” jawab Lintang menundukkan kepalanya.“Kenalkan saya James Lee, putra ke tiga almarhum Stiven Lee,” kata lelaki itu sambil mengulurkan tangannya.“Saya Lintang Wang,” Lintang menyambut uluran tangan pria itu dengan kikuk.“Kenapa sampai manager HR murka padamu?” tanya James menatap Lintang tanpa berkedip.Lintang menjelaskan secara singkat, padat, dan jelas tentang kejadian di ruangan interview.“Apa pengakuan kamu benar? Soal penyakit di masa lalumu, juga pengobatan rutin yang kamu jalani?” tanya James.“Iya.”“Di mana kamu melakukan transplantasi hati?”“Di rumah sakit Chu Yan.”James langsung meraih gagang telepon dan menelepon. Cukup lama mereka berbincang melalui telepon sampai akhirnya James
***Di Kenangga Group.Lintang berdiri diantara ratusan peserta yang akan ikut interview. Dari ratusan pelamar itu, hanya lima orang yang akan diterima, di sesuai bidang yang dibutuhkan.Satu persatu nama peserta dipanggil, satu persatu juga harus keluar dengan wajah lesu.Tanpa bertanya pun bisa ditebak kalau yang bersangkutan gagal seleksi.Lintang memasuki ruang interview ketika namanya dipanggil. Dia dapat bernafas lega, ketika melihat wanita yang menabraknya merupakan salah satu yang memimpin interview hari itu.Namun, dia tercengang ketika pertanyaan yang dilontarkan padanya justru bukan mengenai pekerjaan, tapi menjurus pada hal-hal pribadi.Seperti: Apakah dia anak kandung atau adopsi? Apa dia memilik penyakit turunan? dan masih banyak lagi.Meskipun demikian Lintang tetap menjawab, “Nama saya Lintang Wang. Saya bisa berada sampai sekarang, semua karena donor hati yang saya terima disaat-saat terakhirku. Saya juga merupakan anak yang dibuang karena kesalahpahaman. Tapi maaf, s
***Sesuai rencana, Lintang akan ke Jakarta untuk melamar kerja di Kenangga Group. Meskipun tahu sangat sulit untuk masuk tanpa jalur koneksi, tapi dia memiliki cara agar bisa diterima kerja.Namun sebelum meninggalkan kota itu, dia ingin berpamitan secara baik-baik kepada keluarga Chan, terutama Aurelia.Namun.Lintang yang baru turun dari mobil terkejut, ketika Li Xiu tiba-tiba mencengkram krah kemejanya dan berteriak penuh amarah, “Di mana kamu sembunyikan anakku, Brengsek?”Belum selesai keterkejutan Lintang, tiba-tiba …PLAKKK!!!Auw …Lintang menjerit pelan ketika telapak tangan Longwei mendarat tepat di pipi kirinya.“Apa ini caramu membalas dendam pada kami, ha? Kenapa kamu mengatakan soal perjanjian kita?!” Longwei menatap Lintang penuh amarah.“Perjanjian?” Lintang semakin bingung.“Jangan pura-pura bodoh! Kenapa kamu melanggar janji? Kenapa Aurelia tahu soal surat perjanjian lima belas hari yang kamu tanda tangani?” teriak Li Xiu murka.“Pembelaan diri dalam bentuk apapun,
“Ayah, ibu, maafkan semua kesalahan Brayen. Maaf karena Brayen menggunakan cara yang salah untuk mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kalian,” kata Brayen lemas.Melia yang terkejut memegang erat pergelangan tangan sang suami.“Lintang, maaf. Cemburu membuatku buta, bahkan nekat menjebakmu. Tapi kalau mau memenjarakan kamu, aku tidak sampai hati. Itulah kenapa aku meminta ayah dan ibu melepaskan kamu juga Andre. Dalam hal ini Andre sama sekali tidak bersalah, dia melakukan itu semua demi keselamatan anaknya. Jadi lepaskan dia, biarkan aku yang dipenjara,” kata Brayen menunduk dalam-dalam.Lintang menatap Brayen yang masih berlutut di lantai.Ternyata pengacara kakek tidak salah memilih orang. Brayen memang benar-benar sosok yang tepat untuk menjadi pewaris pengganti. Disaat terdesak seperti ini saja, dia mampu membalikkan keadaan. Hanya dalam hitungan detik, aku yakin Shan Yue dan Melia akan memeluknya dan justru menyalahkan diri sendiri.Dugaan Lintang tidak meleset.Shan Yue lang
Tiga hari kemudian.“Kenapa kalian memborgol tanganku? Apa salahku? Lepaskan, Brengsek! Apa kalian tidak tahu siapa aku?” teriak Brayen emosi.“Anda tidak punya hak memborgol anakku, brengsek!” bentak Shan Yue emosi.“Kami tidak punya hak, jika putra Anda tidak bersalah tapi dalam kasus ini sangat berbeda. Dalam video jelas sekali putra bapak merencanakan kejahatan dan merugikan orang lain,” kata seorang polisi menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.“Maksudnya?”“Untuk informasi selengkapnya sebaiknya kita ke kantor polisi. Di sana akan menjawab semuanya secara detail,” kata seorang polisi dengan kesal.“Ok! Ok! Aku akan ikut kalian ke kantor polisi, tapi lepaskan borgol ini. Kalian cukup mendampingiku saja, aku tidak akan melarikan diri,” kata Brayen kesal. Kedua polisi itu saling berpandangan, akhirnya mereka memilih melepaskan borgol dari pergelangan tangan Lintang dan membawanya secara baik-baik.Sementara itu Shan Yue dan Melia memilih mengikuti mobil polisi dari belakang d







