Naya seorang menantu yang baik dan penurut di sayang oler ibu dan bapak mertuanya dan ternyata membuat para iparnya iri hati dan cemburu, segala macam cara di lakukan oleh iparnya agar Naya tidak betah tinggal serumah dengan mereka.
View MoreSuamiku berasal dari sebuah keluarga besar. Ia lelaki satu-satunya. Enam lainnya perempuan. Dua orang dari mereka sudah menikah, Rara dan Naura namanya. Rara memiliki enam anak lelaki, satu perempuan.
Empat Iparku yang lain belum menikah. Usia mereka delapan hingga duabelas tahun diatasku. Ada juga yang sebaya denganku, Rossy, adik suamiku. Sedangkan Nandean, suamiku, anak ke enam.
Dari keenam iparku, dua orang membenciku. Sebabnya? aku tidak tahu. Mereka menunjukkan ketidaksukaannya sejak pertama bertemu. Terutama Marry, dia terang-terangan menunjukkan kebenciannya dengan cara yang vulgar.
Sedangkan Lily, lebih pada munafik. Di depanku ia baik, di belakangku ia mempengaruhi Marry agar bersikap jahat padaku.
Nandean selalu meminta kesabaranku dalam menghadapi saudara-saudaranya. Itu sebabnya aku tetap bersikap baik, meski tak selalu dibalas baik.
Tetap menyapa dengan sopan, meski sapaanku seperti angin yang tak diperhitungkan.
Berbeda dengan iparku, kedua mertuaku sangat baik. Mungkin itu juga penyebab mereka benci padaku, karena iri. Semakin baik mertua memperlakukan aku, mereka semakin benci dan jahat padaku.Mertuaku tak punya asisten rumah tangga. Segala sesuatu dikerjakan sendiri oleh Mama. Memasak, beres-beres, bersih-bersih. Iparku hanya membantu saat mereka libur. Itu pun tidak dilakukan secara rutin.
Dengan alasan libur adalah waktu istirahat, maka hari libur mereka gunakan untuk bermalas-malasan atau jalan-jalan seharian. Praktis aku lah yang sering membantu Mama mengurus rumah. Aku kasihan dan tak sampai hati melihatnya kerepotan sendiri.
Subuh-subuh aku sudah bangun, menyiapkan teh dan sarapan untuk mertuaku. Sehingga Mama bisa agak santai sholat subuh dan memperpanjang dzikir. Aku membereskan piring kotor bekas mereka makan malam, membersihkan dapur dan menyapu halaman.
Suara sapu lidi bersentuhan dengan tanah dan kerikil menjadi alasan bagi Marry untuk memakiku. Kepalanya muncul di jendela kamar dan berujar: "Iblis, pagi-pagi ganggu orang tidur.." matanya membelalak.
Aku pura-pura tidak melihat dan mendengar. Aku membereskan sampah-sampah daun mangga dan nangka yang berguguran.Saat aku kembali ke belakang, dia sudah ada di ruang makan. Berdiri di samping meja. Melihatku masuk dari pintu samping, dia langsung berucap:
"setan, cari muka... " lalu dia membanting sendok teh yang tadi kuletakkan di sisi gelas teh Bapak.Aku diam saja."Apa sih, nak..? pagi-pagi kok sudah ngomong gak karuan.." Mama keluar dari kamar, selesai dzikir."Mama minum teh yang sudah didukunin sama setan itu, makanya nurut.." kata Marry.Aku terkejut."Astaghfirullahal'adziem... jaga mulutmu, Marry.. tak baik bicara seperti itu.." kata Mama.Tapi Marry sudah melengos, masuk kamar sambil membanting pintu."Sabar ya, Naya.." bisik mama kepadaku.Aku cuma tersenyum. Sedih rasanya setiap pagi mengalami hal seperti ini. Selalu saja ada alasan Marry untuk memakiku.Tak lama Bapak mertuaku pulang jalan pagi, ia membawa bungkusan makanan.
"Untuk Naya.." katanya kepada Mama. Sambil tersenyum mama memberikannya padaku."Terimakasih ya, pak.." sambutku.Kubuka bungkusan itu, ada bubur kacang hijau dan kue lupis. Kuhidangkan di meja sarapan, bersamaan dengan nasi goreng yang sudah kusiapkan."Makanlah berdua mamamu, aku makan nasi goreng saja.." kata Bapak."Mana si Nandean..?" Tanyanya lagi.
Aku memanggil suamiku. Kami sarapan bersama. Iparku, Lily, keluar kamar."Banyak amat sarapan ini..? Boros mama ini.." gerutunya."Bapakmu yang beli.." mama berkata pelan dan halus."Kenapa kau pusing..? Uangku yang kupakai.." kata bapak."Untuk siapa bapak beli bubur itu..?" Tiba-tiba Marry sudah berdiri di samping Lily."Terserah aku untuk siapa.." jawab Bapak."Anak orang bapak beliin, anak sendiri gak bapak pikirin.." gerutu Marry.Nandean berdiri. "Kau mau bubur ini..? Nih, ambil.." katanya pada Marry."Haram aku makan makanan yang sudah diberikan pada setan.." Jawab Marry sambil melangkah pergi."Astaghfirullahal'adziem... " Mama istighfar."Yah.. apa boleh buat.. begitulah iparmu, Naya.. banyak-banyaklah kau bersabar.." kata bapak.Aku diam saja. Menurut Nandean, tingkat kecerdasan marry dibawah normal. Itu sebabnya kami semua harus memaklumi.Begitulah drama yang kulalui setiap pagi.Hingga aku melahirkan Leang, putraku. Kami masih tinggal disana. Alasan klise, suamiku anak lelaki satu-satunya.
Kebahagiaan Mama dan Bapak bertambah dengan hadirnya Leang, sementara kebencian Lily dan Marry semakin tebal. Mereka kian sering menyebarkan fitnah ke kakak adik mereka yang lain, Rara, Naura, Anggun, dan Rossy. Seringkali tanpa sebab yang jelas mereka memusuhiku.
Suatu kali Mama pergi mengunjungi rumah kerabatnya di Medan. Maka tugas-tugas harian mama beralih semua kepadaku. Tak satu pun dari iparku yang mau membantu. Padahal aku juga repot dengan urusan bayiku.
"Begitulah ibu rumah tangga.." ujar Lily, tiap kali dia melihat aku menjemur cucian atau memasak sambil menggendong Leang.Anggun memilih pura-pura tak melihat. Rossy yang agak baik hati, kadang mbamtu menyapu dan mengepel lantai. Kadang ia pun kena sasaran kemarahan marry dan Lily karena membantu meringankan pekerjaanku.Rara, iparku yang sulung, datang ke rumah. Mengeluhkan dirinya yang sudah hampir dua bulan tidak berangkat kerja karena ketiadaan pembantu rumah tangga. Ia kerepotan mengurus ke tujuh anaknya.
Lily dan Marry menyarankan Rara untuk menitipkan anaknya ke rumah ini. Mereka pun mencari orang yang ditugaskan untuk menjaga Dzaki, anak bungsunya yang seumur Leang. Keesokan harinya rumah mertuaku ramai. Enam orang anak kecil yang besarnya hampir rata dan seorang bayi, dititipkan di rumah ini.
Anehnya, pembantu yang ditugaskan menjaga Dzaki, hanya boleh menjaga Dzaki, tidak boleh melakukan pekerjaan lain. Sehingga tugas-tugas lain, membereskan rumah, mainan, menyiapkan makanan, seolah menjadi tugasku.
Hari pertama dan kedua, aku memaklumi. Hari ketiga dan keempat aku bersabar hati. Hari kelima dan keenam aku menahan diri. Hari ke tujuh, aku mulai emosi.
Apalagi Leang sampai terjatuh dari ayunan bayi saat aku sibuk membersihkan ikan di dapur, menyiapkan makan siang untuk anak-anak itu.
Esoknya saat Nandean dan Bapak pergi bekerja, aku pun pergi ke luar rumah. Tanpa tujuan. Aku menggendong Leang, berkeliling kota naik angkot. Dari satu terminal ke terminal lain. Dari satu pasar ke pasar lain. Seharian.
Aku pulang menjelang Maghrib. Lily dan Marry duduk di teras rumah, aku pura-pura tak melihat. Di dapur, Rara sedang memasak sambil membanting-banting perkakas.
Aku masuk ke kamar. Nandean sudah pulang.
"Darimana.." tanyanya."Dari pasar.." jawabku."Seharian..?" Tanyanya lagi.Aku diam."Sudah makan..?" Aku menggeleng.Nandean menyorongkan sepiring buah pepaya.Mungkin diambilnya dari pohon di samping rumah.
Aku memakannya, sambil menyusui Leang."Bukan cuma kau yang lapar, bayimu juga lapar.." kata Nandean.Aku mulai menangis. Aku memang lelah sekali."Kenapa kau pergi..?" Tanyanya.Aku tak menjawab."Kau tak mau mengurus anak-anak itu kan..?" Tuduh Nandean."Kau pergi seharian, mereka kelaparan.." katanya.Aku merasa disalahkan."Mereka lapar, itu bukan tanggungjawabku.. itu urusan orangtuanya.." jawabku.Plak! Satu tamparan mendarat di pipiku."Kau tinggal disini.. jadi siapa pun yang ada disini, itu menjadi tanggungjawab kita.." katanya.Aku menatapnya tak berkedip.Ia tak ada beda dengan saudara-saudaranya. Ini pasti racun yang dijejalkan Lily dan Marry kepada Nandean saat aku tak ada.
Aku kembali menggendong Leang. Mengemas pakaian bayi, keluar kamar.
"Mau kemana..?" Tanya Nandean keras.Aku tak menjawab. Melesat keluar dari kamar."Jangan pulang lagi..!!!" seru Nandean.Sebulan berlalu tanpa ada berita apa-apa tentang para iparku. Sesekali Mama menelpon menanyakan Leang, tapi tak pernah menyinggung tentang anak-anaknya. Hanya ada satu cerita dari beliau, kini Marry sudah rajin beribadah. Aku mengucapkan syukur.Hingga di suatu sore, Rara menelpon."Bapak Leang, si Lily sudah beli rumah!" serunya."Alhamdulillah..." jawab Nandean."Harganya limaratus juta," lanjut Rara "Syukurlah," sahut Nandean."Lebih mahal dari rumah kalian," kata Rara lagi."Ya, rumah kami memang tidak semahal itu," jawab Nandean datar."Kau mau menyumbang apa?" tanya Rara."Maksudnya?" Nandean balik bertanya."Perabotan Lily belum ada, jadi dia minta sumbangan dari kita," jawab Rara."Katakan pada Lily, beli otak dulu baru beli rumah!" ujar Nandean ketus dan langsung memutuskan sambungan telepon."Apalah maksudnya, pamer beli rumah limaratus juta, rumahnya lebih mahal dari rumah kita, tapi minta sumbangan beli perabot! Sakit Jiwa orang itu," gerutu Nandean.Aku tertawa kecil
Sebulan sudah Lily dan Antar berada di rumah Bapak. Nandean sering bercerita bahwa Bapak sering mempertanyakan mengapa Antar bisa meninggalkan pekerjaannya lebih dari sepuluh hari, padahal cuti maksimal yang bisa didapatkan seorang karyawan maksimal cuma 10 hari."Mungkin dia berniat mencari pekerjaan lain, pak," jawab Nandean."Sudah sebulan ini dua orang itu makan-tidur, makan-tidur di rumah saya," gerutu Bapak."Tak ada basa-basinya menambah uang belanja Mamamu atau membantu pekerjaannya di rumah. Saya lihat Mamamu kerepotan sendiri di rumah," kata Bapak lagi."Bapak bilanglah kalau bapak keberatan," saran Nandean."Sudah pernah saya tanya, alasannya tunggu proses mutasi si Lily," jawab Bapak."Tunggu proses kan tidak harus disini, bisa tunggu di kampungnya sana," ujar Nandean."Seminggu yang lalu si Marry lihat si Antar membuka-buka laci buffet di ruang depan katanya. Waktu ditanya, dia bilang sedang cari gunting. Si Lily ada di kamarnya, Mamamu sedang di belakang." Bapak bercerit
"Aku mau pakai mobil," katanya."Terus?""Bawa sini mobil Bapak!""Mau aku pakai!""Kau kan punya mobil sendiri,""Itu mobil mertuaku, mau dipakai anaknya!""Biasanya Naya tidak bawa mobil,""Sekarang disuruh ayahnya bawa mobil, karena setiap pagi dia mengantarkan Leang ke rumah mertuaku,""Kau sajalah yang mengantarkan mereka!""Naya berangkat lebih pagi dari aku,""Rempong amat sih!""Kau yang rempong! Tak punya mobil tapi ingin pakai mobil! Naik motor saja kalau belum punya mobil,""Sok kaya kau!""Jangan lupa, motor yang kau pakai itu juga punyaku! Baca nama di STNK nya baik-baik!"Klik! Panggilan diputus.Nandean tertawa."Kapan lagi aku bisa mengerjai mereka, kalau tidak sekarang." Dia bicara sendiri."Nanti kau berubah jadi seperti mereka, Pak," sahutku."Ya, tidaklah! Aku kan hanya mengantisipasi berbagai kemungkinan, sekaligus memberi pelajaran pada Lily sedikit demi sedikit.
Sebulan kemudian Lily dan Antar kembali ke rumah Bapak."Aku tak mau pindah kamar, Pak!" Marry protes kepada Bapak."Lalu kakakmu tidur dimana nanti?" tanya Bapak."Di kamar belakang lah! Kan kosong!" Marry berkeras."Memangnya aku pembantu?" ujar Lily emosi."Dulu kau yang bilang, kalau sudah menikah tidak boleh menempati kamar yang ada di depan, harus di belakang," jawab Marry."Kapan aku bilang?" debat Lily."Waktu Nandean dan Naya tinggal disini!" jawab Marry keras."Ooo... Jadi kau anggap aku dan istriku pembantu waktu tinggal disini ya?" tanya Nandean sambil tertawa."Aku tidak bilang begitu," gumam Lily."Tadi kau bilang, 'memangnya aku pembantu?' seolah yang ada dalam pikiranmu hanya pembantu yang pantas tidur di kamar belakang," cecar Nandean."Konsisten dong, Ly, konsisten. Apa yang pernah kau ucapkan, kau ajarkan pada adik-adikmu, harus kau laksanakan." Nandean bicara sambil menahan tawa."Kau dengar
"Tapi jangan main-main dengan saya, kalau ada yang berniat jahat pada keluarga saya, akan saya balas lebih jahat!" lanjutnya sambil tertawa.Lily menangis terisak-isak. Antar hanya diam.Setelah semua siap, kami pun berangkat. Kembali menyusuri jalan-jalan kampung yang lengang, melewati pasar-pasar desa, dan memasuki jalan lintas provinsi.Tiba-tiba Bapak tertawa, "saya rasa cocok si Lily bertemu mertua seperti Mamak si Antar ini. Sama-sama beringas dan bermulut pedas," ujarnya.Mama ikut tertawa."Semoga ke depannya jadi baik semua, Pak," ujar Nandean."Yang masih mengganggu pikiran saya, apa motif si Antar waktu berniat kabur kemarin itu ya?" tanya Bapak."Sebab orangtuanya orang baik-baik saya lihat," lanjut Bapak."Cuma si Antar lah yang tahu alasannya. Apa kita kembali lagi kesana, menanyakan langsung pada si Antar, pak?" tawar Nandean sambil tertawa.Bapak dan Mama tertawa kecil.Pikiranku melayang pada Lily. Membayan
"Tidak jauh kan kebunnya, Mak?" tanyaku."Dekat, lima menit pun jalan kita sampai," jawabnya."Ayoklah! Kuambil dulu karung di belakang," lanjutnya."Aku ikutlah!" ujar Nandean."Mama juga ingin ikut," ucap Mama."Ayoklah! Kita ke kebun, tak jauh! Sambil jalan pagi-pagi," ajak Pak Busthami.Akhirnya kami berangkat ke kebun. Sepanjang jalan Pak Busthami bercerita tentang kebun-kebun yang kami lalui."Milik kami tinggal tiga per empat hektar inilah, yang lain sudah habis dijual untuk biaya sekolah si Farida dan Antar."Kami hanya tersenyum menanggapi ceritanya."Si Farida agak lumayan hidupnya. Suaminya rajin berkebun dan menjual hasilnya langsung ke pedagang di pasar-pasar. Banyak langganannya. Kami pun kalau panen menitipkan hasil panen pada si Arifin untuk dijualkan." Kata Bu Busthami."Kalau si Antar tak mau dia ke kebun. Sudah terbiasa di kota, malas dia mau ke kebun," lanjutnya.Kami pun memetik jeruk den
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments