Compartir

Bab 3

Autor: Makjos
Kebahagiaan di wajah Ella terasa sedikit menyakitkan untuk diihat.

Aku tahu, Ella sengaja melakukannya untuk memanas-manasiku.

Sama seperti yang terjadi berkali-kali di kehidupan sebelumnya, Ella menggunakan nada bicara yang paling polos untuk membuatku hancur dan membuatku gila.

Lalu, dengan raut bingung, Ella akan berkata, "Kak, Kakak ngambek ya?"

Menyakitiku secara halus, tetapi fatal seperti ini ... sudah terlalu sering kualami di kehidupan sebelumnya.

Semua orang merasa aku berlebihan, menganggapku terlalu mempermasalahkan hal-hal yang tidak penting.

Hanya aku sendiri yang tahu, bahwa sejak awal, aku hanya menginginkan keadilan.

Namun, sekarang, semua itu tidak penting lagi.

Dengan tenang, aku menerima foto keluarga yang tidak ada sosokku di dalamnya itu, lalu tersenyum tulus.

"Memang bagus kok."

Senyum Ella langsung membeku.

Ibu juga tampak agak terkejut dengan reaksiku.

Ibu mengira aku akan marah. Bahkan, dia sudah menyiapkan kata-kata untuk memarahiku karena dianggap tidak dewasa.

Kini, karena kata-kata itu tertahan di ujung lidahnya, Ibu pun hanya bisa tersenyum canggung.

"Lain kali … lain kali kami akan mengajakmu ikut foto."

Aku mengangguk pelan. Akan tetapi, dalam hati aku berpikir ….

'Tidak akan ada lain kali.'

Ibu sama sekali tidak tahu apa yang ada di pikiranku.

Melihatku benar-benar tenang dan tidak membuat keributan, Ibu justru merasa gelisah tanpa alasan.

"Vera, kali ini cuma lagi nggak beruntung aja."

"Beberapa hari lagi adikmu ulang tahun. Kita semua akan pergi berlibur ke luar negeri."

Ella ikut menimpali, "Iya Kak, dulu kondisi hidup Kakak nggak baik. Harusnya, Kakak belum pernah jalan-jalan ke luar negeri, 'kan?"

"Kali ini, kami sekeluarga akan membawa Kakak jalan-jalan."

Aku tetap bergeming. "Nggak usah repot-repot, aku nggak ikut."

Rasa bersalah yang sempat muncul sedikit di hati Ibu, langsung hilang. Ibu pun mengerutkan kening. "Jangan aneh-aneh! Ini ulang tahun adikmu, mana boleh kamu nggak ikut?"

Menghadapi cecarannya, nada bicaraku tetap tenang.

"Pertama, aku nggak punya paspor. Jadi, aku nggak bisa ke luar negeri."

"Kedua, aku punya urusan lain yang harus dikerjakan pada saat itu."

Ibu tertegun untuk sesaat.

"Kamu nggak punya paspor? Mana mungkin kamu nggak punya paspor, bukankah tiap tahun kita selalu …."

Kata-kata Ibu langsung terhenti.

Paspor mereka bertiga, sebagai satu keluarga, memang selalu diperbarui setiap tahun.

Namun, aku baru saja kembali ke rumah tahun ini.

Tak ada satu pun dari mereka yang ingat bahwa aku tidak punya paspor, apalagi membawaku untuk mengurusnya.

Di kehidupan sebelumnya, bahkan sampai aku menikah dan punya anak, aku tidak pernah sekalipun ikut pergi ke luar negeri bersama keluarga ini.

Di kehidupan kali ini, aku pun tidak lagi mengharapkannya.

"Sudah cukup!"

Ayah yang sejak tadi duduk di sofa tanpa suara, akhirnya angkat bicara.

"Cari orang untuk mengurusnya lewat jalur kilat, masih ada waktu."

"Lalu soal urusan yang kamu katakan itu, memangnya ada urusan yang lebih penting dari ulang tahun anggota keluarga sendiri? Batalkan saja!"

Ayah langsung memutuskan, seakan itu adalah masalah yang tidak penting.

Pendapatku memang tidak pernah dianggap penting.

Aku pun tersenyum sinis.

Untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan ini, aku angkat bicara demi menentang ayahku yang berwibawa ini.

"Ayah, aku nggak akan pergi."

"Proyekku nggak mengizinkanku ke luar negeri. Kalau Ayah merasa urusanku nggak penting, silakan Ayah sendiri yang bicara dengan dosen pembimbingku."

Ayah mengerutkan keningnya rapat-rapat. Dia terlihat kesal. "Siapa dosen pembimbingmu? Biar Ayah yang bicara dengannya!"

"Pak Zamri dari Universitas Sains dan Teknologi Nasional."

Ayah terdiam sejenak untuk mencerna informasi itu. Lalu, matanya membelalak kaget. "Maksudmu, Pak Zamri yang dijuluki Bapak Roket itu?"

"Bagaimana mungkin dia jadi dosen pembimbingmu?"

"Kamu mahasiswi Universitas Sains dan Teknologi Nasional? Kenapa nggak pernah cerita?"
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 9

    Setelah hari itu, orang tuaku tidak pernah lagi melakukan kunjungan mendadak seperti itu, juga tidak pernah lagi bertanya kapan aku punya waktu luang untuk pulang.Hubungan di antara kami menjadi begitu hambar, hingga jika mereka tidak menghubungiku, aku juga tidak akan ingat pada mereka.Namun, sesekali Ibu mengirimkan pesan singkat. Jika aku sedang senggang, aku akan membukanya untuk sekadar melihatnya.Ibu mengatakan kepadaku bahwa setelah pulang hari itu, mereka sudah banyak berpikir.Mereka mengakui bahwa mereka terlalu serakah. Mereka tidak bisa melepaskan putri angkat yang sudah mereka sayangi selama lebih dari 20 tahun, tetapi mereka juga tidak rela melepaskanku, putri kandung yang sudah terlalu banyak mereka kecewakan ini, pergi begitu saja. Pada akhirnya, semua itu justru membuat mereka makin merasa bersalah kepadaku.Ibu berkata, Ayah sudah lama menyesali kata-kata kasar yang dulu pernah dia ucapkan. Di rumah, Ayah berkali-kali mengatakan bahwa seharusnya dia tidak bersikap

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 8

    Sudah satu setengah tahun berlalu sejak aku memutuskan untuk merantau ke selatan.Saat pulang kerja dan melihat mereka berdiri di depan gerbang kantor, aku nyaris berbalik dan langsung pergi.Ibu pun buru-buru meneriakiku."Vera, jangan pergi!"Baru setelah itu, aku pun berbalik dengan enggan.Seingatku, di kehidupan sebelumnya, bisa dihitung dengan jari berapa kali mereka mencariku dan itu pun hampir selalu demi melampiaskan amarah Ella.Sekarang, saat mereka tiba-tiba muncul tanpa diundang, aku hanya merasa kesal."Kenapa kalian tiba-tiba datang ke sini?"Mendengar nada bicaraku yang tidak sabar, ekspresi Ibu sempat membeku untuk sesaat, sebelum akhirnya dia menjawab sambil tersenyum, "Sudah lama nggak ketemu kamu. Kami cuma mengkhawatirkan keadaanmu.""Vera, apa kamu nggak makan dengan benar selama kerja? Kamu kurusan. Kenapa pakaianmu juga kumal begini? Ibu antar beli baju baru ya?"Ibu mengulurkan tangan, seolah ingin menggandeng lenganku.Akan tetapi, aku secara refleks menghinda

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 7

    Telepon itu berakhir dengan Ayah yang merasa marah dan malu, lalu bertanya padaku, "Kenapa kamu harus selalu membanding-bandingkan dirimu dengan adikmu?"Aku menjawab bahwa aku sedang sibuk, lalu menutup teleponnya.Aku tidak bohong. Aku memang sedang bersiap-siap untuk pindah tugas.Di kehidupan sebelumnya, aku selalu menghabiskan waktu untuk menjadi asisten Ella. Setelah menikah pun, aku tetap terperangkap di kota ini oleh suami dan anakku.Terkadang aku berpikir, sosok Vera kecil yang dahulu sangat iri melihat kebahagiaan keluarga orang lain, pasti tidak akan pernah menyangka saat dewasa nanti, keluarga yang begitu dia dambakan justru akan menjadi penjara yang mengurungnya.Lalu sekarang, burung di dalam sangkar itu akhirnya memiliki sayap untuk terbang jauh.Panggilan telepon yang kuterima tadi benar-benar menyadarkanku sepenuhnya.Aku memang masih secara tidak sadar membandingkan diriku dengan Ella.Rasa sakit yang menemaniku sepanjang hidupku di kehidupan sebelumnya, rupanya meng

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 6

    "Vera!"Mendengar keraguan dalam suaraku, Ibu pun memanggil namaku dengan sedikit kesal.Akan tetapi, Ibu menarik napas dalam-dalam dan berusaha menahan amarahnya."Vera, kita ini keluarga. Kalau kamu berpikir begitu, Ibu benar-benar sedih!""Soal kejadian sebelumnya, Ibu dan Ayah sudah memikirkannya. Kami sadar, kalau kami kurang perhatian padamu.""Kami sudah buatkan kartu ATM untukmu. Uang saku juga sudah ditransfer di situ. Pinnya adalah tanggal lahirmu. Peganglah ini dan jaga dirimu baik-baik."Hatiku yang sudah lama mati rasa, mendadak tergetar oleh kalimat sederhana itu.Mungkin karena seorang anak tidak akan pernah bisa benar-benar berhenti mencintai orang tuanya, atau mungkin karena di lubuk hati yang paling dalam, aku masih mendambakan sedikit cinta dari mereka.Nada bicaraku pun menjadi lebih lembut."Terima kasih, Bu."Ibu pun merasa lega."Ibu pikir, kamu akan terus memusuhi keluarga seumur hidupmu. Oh ya Vera, kapan proyekmu ini selesai?"Aku tidak tahu mengapa mereka men

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 5

    Aku langsung naik ke mobil berwarna hitam yang menjemputku itu, meninggalkan pertengkaran mereka jauh di belakang.Mobil itu mengantarku sampai di pangkalan.Beberapa kakak tingkatku sudah menungguku di depan pintu. Begitu melihatku turun dari mobil, mereka segera membantuku membawakan barang bawaan."Kamu Vera Raditya, adik tingkat kami, 'kan? Kami semua sudah dengar dari Pak Zamri. Katanya, kamu itu bibit terbaik yang pernah dia temui selama bertahun-tahun ini!""Benar sekali. Tadinya kami kira si orang tua itu cuma membual. Tapi, setelah melihatmu hari ini, kami baru tahu kalau adik tingkat kami ini ternyata sangat cerdas dan cantik."Wajahku memerah karena dipuji seperti itu.Di rumah, hal yang paling sering kudengar hanyalah hinaan dan ejekan.Ibu akan berkata, "Anak yang tumbuh besar di panti asuhan memang kurang didikan."Ayah juga akan menghela napas. "Hah, picik banget. Benar-benar nggak kayak putri Keluarga Raditya."Aku yang rendah diri dan pendiam, selamanya tidak akan pern

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 4

    Aku merasa sedikit ingin tertawa.“Karena kalian nggak pernah tanya.”Nilai-nilaiku masih tertempel di dinding panti asuhan itu dan di koperku masih tersimpan trofi-trofi yang kuraih selama bertahun-tahun ini.Bukannya aku tidak cukup hebat, mereka saja yang selama ini menutup mata terhadap keberhasilanku.Setelah hari itu, Ayah dan Ibu sepertinya mulai menyadari hal tersebut. Mereka mulai berusaha ingin tahu lebih dalam tentang kehidupanku di masa lalu.Saat makan, mereka selalu bertanya bagaimana kehidupanku di panti asuhan, apakah belajarnya melelahkan, atau apakah hidupku sulit di sana.Aku menjawab dengan acuh tak acuh. Sementara di sisi lain, Ella selalu menemukan kesempatan untuk mengalihkan kembali topik pembicaraan ke dirinya sendiri.Dia memang tidak pernah suka jika perhatian Ayah dan Ibu tertuju padaku.Aku juga merasa senang melihatnya bertingkah manja dan merengek, sehingga aku tidak perlu berurusan dengan orang tuaku.Tak lama kemudian, tibalah hari keberangkatanku.Ayah

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status