Share

Bab 2

Author: Makjos
Mungkin karena demam tinggi, begitu memejamkan mata, aku langsung tertidur dengan sangat nyenyak.

Saat terbangun, hari sudah benar-benar gelap.

Tenggorokanku terasa seperti terbakar. Aku beranjak dengan langkah terhuyung-huyung untuk mengambil air dan baru menyadari bahwa aku sendirian di rumah sebesar ini.

Begitu membuka ponsel, tidak ada satu pun pesan maupun panggilan masuk. Namun, muncul notifikasi Ella baru saja mengunggah kiriman baru di media sosialnya.

[Makan malam keluarga setelah sekian lama! Hehe, Ayah dan Ibu masih ingat kalau aku paling suka makan kepiting raja!]

Di dalam foto itu, wajah mereka bertiga tampak sangat dekat satu sama lain.

Begitu aku menggulir lebih jauh ke bawah linimasa akun Ella, hampir setiap beberapa waktu, selalu ada foto keluarga.

Sementara aku, di kehidupan sebelumnya hingga saat mengembuskan napas terakhir, tidak pernah punya satu saja foto bersama orang tuaku.

Mungkin karena rasa kecewa itu sudah tertanam terlalu lama, meski melihat unggahan bahagianya sekalipun, tidak lagi memicu rasa iri di hatiku.

Tepat setelah aku menekan tombol suka, ponselku tiba-tiba berdering.

Yang meneleponku adalah Ayah.

"Vera, Ayah lupa kasih tahu, kami sedang makan di luar. Kamu ke sini saja naik taksi sekarang!"

Aku menatap foto meja yang penuh makanan laut mahal yang dipamerkan Ella di unggahannya, lalu tertawa kecil.

Makan hidangan laut saat sedang demam tinggi? Aku tidak merasa hidupku sudah terlalu nyaman sampai ingin mencari penyakit seperti itu.

"Nggak usah, Ayah. Aku cari makan sendiri saja."

Setelah menutup telepon, aku meminum obat penurun panas, lalu mengirim pesan kepada dosen pembimbingku.

[Halo Pak, aku bisa berangkat tiga hari lagi.]

Dosenku membalas dengan sebuah pesan suara.

"Baguslah. Jangan lupa tanda tangani surat perjanjiannya, ya."

"Untung saja kamu berubah pikiran. Waktu kamu bilang mau membatalkannya kemarin, aku benar-benar merasa sangat sayang kalau kesempatan ini dilewatkan."

"Proyek kali ini diikuti oleh banyak senior di atasmu. Biarkan mereka membimbingmu dengan baik, karena nantinya, kalianlah yang akan meneruskan warisan ilmuku."

Aku tersenyum pahit.

Di kehidupan sebelumnya, aku menyia-nyiakan niat baik dosenku. Dengan bodohnya, aku melepaskan proyek ini dan mengubur mimpi untuk menjadi peneliti.

Semua itu hanya karena orang tuaku memintaku untuk tidak pergi terlalu jauh dari rumah. Mereka berjanji akan mengatur pekerjaan untuk masa depanku dan aku memercayainya.

Saat itu aku berpikir, bagaimanapun, mereka adalah orang tua kandungku.

Meski aku tertukar saat bayi dan dibiarkan tinggal di panti asuhan selama 20 tahun, ikatan darah di antara kami tidak akan pernah putus. Kupikir mereka tidak mungkin mencelakaiku.

Namun, setelah menunggu sekian lama, yang kudapatkan hanyalah suatu kalimat.

"Jadi asisten Ella saja. Lagian, pendidikanmu nggak tinggi. Kamu belum dapat pekerjaan setelah lulus. Ella mau mempekerjakanmu, itu sudah keberuntungan buatmu."

Tidak ada yang peduli jika sebelumnya aku masuk peringkat sepuluh besar nasional saat ujian masuk perguruan tinggi dan lulus dari Universitas Sains dan Teknologi Nasional dengan IPK sempurna. Bahkan, dosen pembimbingku adalah sosok yang namanya sangat terkenal.

Begitulah cara Ella menindasku seumur hidup dan aku dibiarkan dipandang rendah oleh semua orang sepanjang hidupku.

Sekarang, aku tidak akan lagi sebodoh itu.

Sambil duduk tegak di depan meja belajar, aku menuliskan namaku dengan serius, menuliskan awal yang baru bagiku.

Saat hendak turun ke bawah untuk mengambil segelas air, Ayah, Ibu dan Ella pulang.

Tanpa sadar, aku bersembunyi di balik tangga karena tidak ingin terlalu banyak berinteraksi dengan mereka.

Suara Ella terdengar riang. "Ayah, Ibu, foto keluarga yang kita ambil hari ini bagus banget, 'kan?"

"Nanti kalau fotonya sudah dicetak, kita pajang di rumah, ya?"

Ibu tersenyum penuh kasih sayang.

"Tentu saja, Sayang. Kita pajang di ruang tamu. Jadi, kalau ada tamu datang, mereka bisa langsung melihatnya!"

"Oh iya, waktu itu kamu bilang ingin melihat matahari terbit di laut saat ulang tahunmu nanti. Ayah dan Ibu sudah siapkan kapal pesiar. Pesta ulang tahunmu akan diadakan di atas kapal itu, lalu kita sekeluarga akan lanjut berlibur ke luar negeri. Gimana menurutmu?"

Suara Ella terdengar sangat antusias.

"Terima kasih, Ayah, Ibu. Aku sayang banget sama kalian!"

"Kamu ini, pakai acara sungkan segala sama Ayah dan Ibu!"

Suasana yang santai dan penuh kebahagiaan seperti ini belum pernah kurasakan sebelumnya.

Sudah tak terhitung berapa kali aku mendengar Ibu dan Ayah mengeluh, mengatakan bahwa sikapku selalu dingin dan tidak dekat dengan mereka.

Padahal aku sudah pernah mencobanya. Saat mereka pulang berbelanja dan memberikan banyak hadiah untuk Ella, aku mengumpulkan seluruh keberanianku untuk memeluk lengan Ibu dan bermanja-manja, persis seperti yang dilakukan Ella.

"Bu, apa ada hadiah untukku?"

Rasa canggung yang muncul di wajah Ibu saat itu masih kuingat jelas hingga sekarang.

"Lain kali aja ya, Vera. Ibu lupa belikan untukmu."

Aku merasa sedikit kecewa, tetapi tidak sampai merasa sedih.

Sampai akhirnya aku melewati pintu ruang kerja yang terbuka sedikit dan mendengar Ibu mengeluh kepada Ayah, "Vera itu pikirannya terlalu picik, aku belikan sesuatu buat Ella aja, dia mau merebutnya."

"Menurutmu, apa dia jadi punya kebiasaan buruk karena tumbuh besar di luar sana?"

Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi mencoba bermanja-manja. Namun, seakan aku sudah menjadi gila. Aku mulai berebut dengan Ella untuk mendapatkan setiap hal yang dia terima dari orang tua kami.

Lalu, hal itu justru membuat mereka makin memandangku dengan benci.

"Kenapa sih kamu nggak tahu diri banget? Kalau tahu begini, kami nggak akan pernah menjemputmu pulang."

Suara Ella membuyarkan lamunanku akan masa lalu.

"Kak, ngapain berdiri di sana?"

"Cepat turun dan lihat foto keluarga kami, bagus 'kan!"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 9

    Setelah hari itu, orang tuaku tidak pernah lagi melakukan kunjungan mendadak seperti itu, juga tidak pernah lagi bertanya kapan aku punya waktu luang untuk pulang.Hubungan di antara kami menjadi begitu hambar, hingga jika mereka tidak menghubungiku, aku juga tidak akan ingat pada mereka.Namun, sesekali Ibu mengirimkan pesan singkat. Jika aku sedang senggang, aku akan membukanya untuk sekadar melihatnya.Ibu mengatakan kepadaku bahwa setelah pulang hari itu, mereka sudah banyak berpikir.Mereka mengakui bahwa mereka terlalu serakah. Mereka tidak bisa melepaskan putri angkat yang sudah mereka sayangi selama lebih dari 20 tahun, tetapi mereka juga tidak rela melepaskanku, putri kandung yang sudah terlalu banyak mereka kecewakan ini, pergi begitu saja. Pada akhirnya, semua itu justru membuat mereka makin merasa bersalah kepadaku.Ibu berkata, Ayah sudah lama menyesali kata-kata kasar yang dulu pernah dia ucapkan. Di rumah, Ayah berkali-kali mengatakan bahwa seharusnya dia tidak bersikap

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 8

    Sudah satu setengah tahun berlalu sejak aku memutuskan untuk merantau ke selatan.Saat pulang kerja dan melihat mereka berdiri di depan gerbang kantor, aku nyaris berbalik dan langsung pergi.Ibu pun buru-buru meneriakiku."Vera, jangan pergi!"Baru setelah itu, aku pun berbalik dengan enggan.Seingatku, di kehidupan sebelumnya, bisa dihitung dengan jari berapa kali mereka mencariku dan itu pun hampir selalu demi melampiaskan amarah Ella.Sekarang, saat mereka tiba-tiba muncul tanpa diundang, aku hanya merasa kesal."Kenapa kalian tiba-tiba datang ke sini?"Mendengar nada bicaraku yang tidak sabar, ekspresi Ibu sempat membeku untuk sesaat, sebelum akhirnya dia menjawab sambil tersenyum, "Sudah lama nggak ketemu kamu. Kami cuma mengkhawatirkan keadaanmu.""Vera, apa kamu nggak makan dengan benar selama kerja? Kamu kurusan. Kenapa pakaianmu juga kumal begini? Ibu antar beli baju baru ya?"Ibu mengulurkan tangan, seolah ingin menggandeng lenganku.Akan tetapi, aku secara refleks menghinda

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 7

    Telepon itu berakhir dengan Ayah yang merasa marah dan malu, lalu bertanya padaku, "Kenapa kamu harus selalu membanding-bandingkan dirimu dengan adikmu?"Aku menjawab bahwa aku sedang sibuk, lalu menutup teleponnya.Aku tidak bohong. Aku memang sedang bersiap-siap untuk pindah tugas.Di kehidupan sebelumnya, aku selalu menghabiskan waktu untuk menjadi asisten Ella. Setelah menikah pun, aku tetap terperangkap di kota ini oleh suami dan anakku.Terkadang aku berpikir, sosok Vera kecil yang dahulu sangat iri melihat kebahagiaan keluarga orang lain, pasti tidak akan pernah menyangka saat dewasa nanti, keluarga yang begitu dia dambakan justru akan menjadi penjara yang mengurungnya.Lalu sekarang, burung di dalam sangkar itu akhirnya memiliki sayap untuk terbang jauh.Panggilan telepon yang kuterima tadi benar-benar menyadarkanku sepenuhnya.Aku memang masih secara tidak sadar membandingkan diriku dengan Ella.Rasa sakit yang menemaniku sepanjang hidupku di kehidupan sebelumnya, rupanya meng

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 6

    "Vera!"Mendengar keraguan dalam suaraku, Ibu pun memanggil namaku dengan sedikit kesal.Akan tetapi, Ibu menarik napas dalam-dalam dan berusaha menahan amarahnya."Vera, kita ini keluarga. Kalau kamu berpikir begitu, Ibu benar-benar sedih!""Soal kejadian sebelumnya, Ibu dan Ayah sudah memikirkannya. Kami sadar, kalau kami kurang perhatian padamu.""Kami sudah buatkan kartu ATM untukmu. Uang saku juga sudah ditransfer di situ. Pinnya adalah tanggal lahirmu. Peganglah ini dan jaga dirimu baik-baik."Hatiku yang sudah lama mati rasa, mendadak tergetar oleh kalimat sederhana itu.Mungkin karena seorang anak tidak akan pernah bisa benar-benar berhenti mencintai orang tuanya, atau mungkin karena di lubuk hati yang paling dalam, aku masih mendambakan sedikit cinta dari mereka.Nada bicaraku pun menjadi lebih lembut."Terima kasih, Bu."Ibu pun merasa lega."Ibu pikir, kamu akan terus memusuhi keluarga seumur hidupmu. Oh ya Vera, kapan proyekmu ini selesai?"Aku tidak tahu mengapa mereka men

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 5

    Aku langsung naik ke mobil berwarna hitam yang menjemputku itu, meninggalkan pertengkaran mereka jauh di belakang.Mobil itu mengantarku sampai di pangkalan.Beberapa kakak tingkatku sudah menungguku di depan pintu. Begitu melihatku turun dari mobil, mereka segera membantuku membawakan barang bawaan."Kamu Vera Raditya, adik tingkat kami, 'kan? Kami semua sudah dengar dari Pak Zamri. Katanya, kamu itu bibit terbaik yang pernah dia temui selama bertahun-tahun ini!""Benar sekali. Tadinya kami kira si orang tua itu cuma membual. Tapi, setelah melihatmu hari ini, kami baru tahu kalau adik tingkat kami ini ternyata sangat cerdas dan cantik."Wajahku memerah karena dipuji seperti itu.Di rumah, hal yang paling sering kudengar hanyalah hinaan dan ejekan.Ibu akan berkata, "Anak yang tumbuh besar di panti asuhan memang kurang didikan."Ayah juga akan menghela napas. "Hah, picik banget. Benar-benar nggak kayak putri Keluarga Raditya."Aku yang rendah diri dan pendiam, selamanya tidak akan pern

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 4

    Aku merasa sedikit ingin tertawa.“Karena kalian nggak pernah tanya.”Nilai-nilaiku masih tertempel di dinding panti asuhan itu dan di koperku masih tersimpan trofi-trofi yang kuraih selama bertahun-tahun ini.Bukannya aku tidak cukup hebat, mereka saja yang selama ini menutup mata terhadap keberhasilanku.Setelah hari itu, Ayah dan Ibu sepertinya mulai menyadari hal tersebut. Mereka mulai berusaha ingin tahu lebih dalam tentang kehidupanku di masa lalu.Saat makan, mereka selalu bertanya bagaimana kehidupanku di panti asuhan, apakah belajarnya melelahkan, atau apakah hidupku sulit di sana.Aku menjawab dengan acuh tak acuh. Sementara di sisi lain, Ella selalu menemukan kesempatan untuk mengalihkan kembali topik pembicaraan ke dirinya sendiri.Dia memang tidak pernah suka jika perhatian Ayah dan Ibu tertuju padaku.Aku juga merasa senang melihatnya bertingkah manja dan merengek, sehingga aku tidak perlu berurusan dengan orang tuaku.Tak lama kemudian, tibalah hari keberangkatanku.Ayah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status