Share

Bab 4

Author: Makjos
Aku merasa sedikit ingin tertawa.

“Karena kalian nggak pernah tanya.”

Nilai-nilaiku masih tertempel di dinding panti asuhan itu dan di koperku masih tersimpan trofi-trofi yang kuraih selama bertahun-tahun ini.

Bukannya aku tidak cukup hebat, mereka saja yang selama ini menutup mata terhadap keberhasilanku.

Setelah hari itu, Ayah dan Ibu sepertinya mulai menyadari hal tersebut. Mereka mulai berusaha ingin tahu lebih dalam tentang kehidupanku di masa lalu.

Saat makan, mereka selalu bertanya bagaimana kehidupanku di panti asuhan, apakah belajarnya melelahkan, atau apakah hidupku sulit di sana.

Aku menjawab dengan acuh tak acuh. Sementara di sisi lain, Ella selalu menemukan kesempatan untuk mengalihkan kembali topik pembicaraan ke dirinya sendiri.

Dia memang tidak pernah suka jika perhatian Ayah dan Ibu tertuju padaku.

Aku juga merasa senang melihatnya bertingkah manja dan merengek, sehingga aku tidak perlu berurusan dengan orang tuaku.

Tak lama kemudian, tibalah hari keberangkatanku.

Ayah dan Ibu secara khusus meluangkan waktu untukku. Mereka bahkan meminta koki di rumah menyiapkan hidangan berlimpah di meja makan untuk melepas keberangkatanku.

"Vera, kamu akan pergi sendiri ke tempat asing. Kalau butuh apa-apa, harus bilang ke Ayah dan Ibu, ya."

"Benar, Nak. Jangan biarkan dirimu menderita. Ada Ayah dan Ibu yang selalu mendukungmu."

Ini pertama kalinya mereka bicara seperti itu kepadaku, membuat nada bicara mereka terdengar agak kaku.

Lalu, kebisuanku membuat suasana menjadi makin canggung.

Ibu mendorong seporsi kecil hidangan penutup ke hadapanku, mencoba memecah kecanggungan itu.

"Vera, cobalah ini. Ibu sendiri yang bikin."

Aku menatap gumpalan saus mangga di atas hidangan itu, lalu berkata dengan dingin, "Nggak, makasih. Aku alergi mangga."

Ibu tampak agak terkejut. "Masa sih? Seingat Ibu, kamu sangat suka makan …."

Kata-kata yang belum selesai diucapkan Ibu itu pun, ditelannya kembali.

Mungkin, Ibu akhirnya teringat bahwa yang sangat suka makan mangga adalah Ella, bukan aku.

Ayah pun berdeham pelan. "Kalau gitu, makanlah lauknya, ayo dimakan! Bukankah sebelumnya kamu tinggal di Kota Solya? Kami sengaja suruh koki memasak semua ini."

Melihat meja yang penuh dengan hidangan Kota Solya, yang berwarna merah menyala itu, aku pun tidak bisa menahan tawa.

"Sejak kecil aku punya penyakit lambung. Jadi, nggak bisa makan pedas."

Suasana pun langsung menjadi makin kaku.

Ella mengatupkan bibirnya. "Kak, Ayah dan Ibu itu berniat baik. Nggak seharusnya Kakak bicara begitu."

"Paling nggak, makanlah satu atau dua suap. Nggak bakal terjadi apa-apa juga, 'kan?"

Sikap Ella yang seakan "bijaksana" itu langsung membuat Ayah dan Ibu menatapnya dengan kagum, sekaligus membuatku terlihat makin dingin.

Ibu pun mengerutkan kening dan mulai mengeluh.

"Vera, lihatlah betapa pengertiannya Ella. Kenapa sih kamu sulit banget disenengin?"

Aku tidak membantah. "Benar, aku memang cukup sulit disenengin. Aku nggak akan ikut makan. Mobil yang menjemputku sudah sampai."

Melihat sikapku yang seperti ini, Ayah mencoba menahan diri, tetapi akhirnya amarahnya meledak juga.

"Vera, kami baik-baik menyiapkan semeja makanan ini untukmu. Sekarang, kamu benar-benar merasa sudah punya dukungan, jadi bisa bersikap sombong? Percaya atau nggak, aku bisa hentikan uang sakumu?"

Aku tidak menghentikan langkah. Saat sampai tiba di pintu, barulah aku menoleh dan tersenyum sinis padanya.

"Hentikan saja, Ayah. Lagian, aku memang nggak pernah terima uang saku sepeser pun."

Pintu vila itu pun tertutup dengan keras. Namun, aku masih bisa mendengar suara Ayah di dalam yang bertanya kepada Ibu dengan penuh kebingungan.

"Uang sakunya bukannya kamu yang kasih?"

"Aku nggak tahu, kupikir kamu yang bertanggung jawab soal itu!"

"Bisa-bisanya kamu nggak peduli pada anak kandungmu sendiri?"

"Heh, Tony! Berani-beraninya kamu menyalahkanku, kamu sendiri juga nggak ingat, 'kan?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 9

    Setelah hari itu, orang tuaku tidak pernah lagi melakukan kunjungan mendadak seperti itu, juga tidak pernah lagi bertanya kapan aku punya waktu luang untuk pulang.Hubungan di antara kami menjadi begitu hambar, hingga jika mereka tidak menghubungiku, aku juga tidak akan ingat pada mereka.Namun, sesekali Ibu mengirimkan pesan singkat. Jika aku sedang senggang, aku akan membukanya untuk sekadar melihatnya.Ibu mengatakan kepadaku bahwa setelah pulang hari itu, mereka sudah banyak berpikir.Mereka mengakui bahwa mereka terlalu serakah. Mereka tidak bisa melepaskan putri angkat yang sudah mereka sayangi selama lebih dari 20 tahun, tetapi mereka juga tidak rela melepaskanku, putri kandung yang sudah terlalu banyak mereka kecewakan ini, pergi begitu saja. Pada akhirnya, semua itu justru membuat mereka makin merasa bersalah kepadaku.Ibu berkata, Ayah sudah lama menyesali kata-kata kasar yang dulu pernah dia ucapkan. Di rumah, Ayah berkali-kali mengatakan bahwa seharusnya dia tidak bersikap

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 8

    Sudah satu setengah tahun berlalu sejak aku memutuskan untuk merantau ke selatan.Saat pulang kerja dan melihat mereka berdiri di depan gerbang kantor, aku nyaris berbalik dan langsung pergi.Ibu pun buru-buru meneriakiku."Vera, jangan pergi!"Baru setelah itu, aku pun berbalik dengan enggan.Seingatku, di kehidupan sebelumnya, bisa dihitung dengan jari berapa kali mereka mencariku dan itu pun hampir selalu demi melampiaskan amarah Ella.Sekarang, saat mereka tiba-tiba muncul tanpa diundang, aku hanya merasa kesal."Kenapa kalian tiba-tiba datang ke sini?"Mendengar nada bicaraku yang tidak sabar, ekspresi Ibu sempat membeku untuk sesaat, sebelum akhirnya dia menjawab sambil tersenyum, "Sudah lama nggak ketemu kamu. Kami cuma mengkhawatirkan keadaanmu.""Vera, apa kamu nggak makan dengan benar selama kerja? Kamu kurusan. Kenapa pakaianmu juga kumal begini? Ibu antar beli baju baru ya?"Ibu mengulurkan tangan, seolah ingin menggandeng lenganku.Akan tetapi, aku secara refleks menghinda

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 7

    Telepon itu berakhir dengan Ayah yang merasa marah dan malu, lalu bertanya padaku, "Kenapa kamu harus selalu membanding-bandingkan dirimu dengan adikmu?"Aku menjawab bahwa aku sedang sibuk, lalu menutup teleponnya.Aku tidak bohong. Aku memang sedang bersiap-siap untuk pindah tugas.Di kehidupan sebelumnya, aku selalu menghabiskan waktu untuk menjadi asisten Ella. Setelah menikah pun, aku tetap terperangkap di kota ini oleh suami dan anakku.Terkadang aku berpikir, sosok Vera kecil yang dahulu sangat iri melihat kebahagiaan keluarga orang lain, pasti tidak akan pernah menyangka saat dewasa nanti, keluarga yang begitu dia dambakan justru akan menjadi penjara yang mengurungnya.Lalu sekarang, burung di dalam sangkar itu akhirnya memiliki sayap untuk terbang jauh.Panggilan telepon yang kuterima tadi benar-benar menyadarkanku sepenuhnya.Aku memang masih secara tidak sadar membandingkan diriku dengan Ella.Rasa sakit yang menemaniku sepanjang hidupku di kehidupan sebelumnya, rupanya meng

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 6

    "Vera!"Mendengar keraguan dalam suaraku, Ibu pun memanggil namaku dengan sedikit kesal.Akan tetapi, Ibu menarik napas dalam-dalam dan berusaha menahan amarahnya."Vera, kita ini keluarga. Kalau kamu berpikir begitu, Ibu benar-benar sedih!""Soal kejadian sebelumnya, Ibu dan Ayah sudah memikirkannya. Kami sadar, kalau kami kurang perhatian padamu.""Kami sudah buatkan kartu ATM untukmu. Uang saku juga sudah ditransfer di situ. Pinnya adalah tanggal lahirmu. Peganglah ini dan jaga dirimu baik-baik."Hatiku yang sudah lama mati rasa, mendadak tergetar oleh kalimat sederhana itu.Mungkin karena seorang anak tidak akan pernah bisa benar-benar berhenti mencintai orang tuanya, atau mungkin karena di lubuk hati yang paling dalam, aku masih mendambakan sedikit cinta dari mereka.Nada bicaraku pun menjadi lebih lembut."Terima kasih, Bu."Ibu pun merasa lega."Ibu pikir, kamu akan terus memusuhi keluarga seumur hidupmu. Oh ya Vera, kapan proyekmu ini selesai?"Aku tidak tahu mengapa mereka men

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 5

    Aku langsung naik ke mobil berwarna hitam yang menjemputku itu, meninggalkan pertengkaran mereka jauh di belakang.Mobil itu mengantarku sampai di pangkalan.Beberapa kakak tingkatku sudah menungguku di depan pintu. Begitu melihatku turun dari mobil, mereka segera membantuku membawakan barang bawaan."Kamu Vera Raditya, adik tingkat kami, 'kan? Kami semua sudah dengar dari Pak Zamri. Katanya, kamu itu bibit terbaik yang pernah dia temui selama bertahun-tahun ini!""Benar sekali. Tadinya kami kira si orang tua itu cuma membual. Tapi, setelah melihatmu hari ini, kami baru tahu kalau adik tingkat kami ini ternyata sangat cerdas dan cantik."Wajahku memerah karena dipuji seperti itu.Di rumah, hal yang paling sering kudengar hanyalah hinaan dan ejekan.Ibu akan berkata, "Anak yang tumbuh besar di panti asuhan memang kurang didikan."Ayah juga akan menghela napas. "Hah, picik banget. Benar-benar nggak kayak putri Keluarga Raditya."Aku yang rendah diri dan pendiam, selamanya tidak akan pern

  • Penyesalan Ayah dan Ibu, Saat Kupergi   Bab 4

    Aku merasa sedikit ingin tertawa.“Karena kalian nggak pernah tanya.”Nilai-nilaiku masih tertempel di dinding panti asuhan itu dan di koperku masih tersimpan trofi-trofi yang kuraih selama bertahun-tahun ini.Bukannya aku tidak cukup hebat, mereka saja yang selama ini menutup mata terhadap keberhasilanku.Setelah hari itu, Ayah dan Ibu sepertinya mulai menyadari hal tersebut. Mereka mulai berusaha ingin tahu lebih dalam tentang kehidupanku di masa lalu.Saat makan, mereka selalu bertanya bagaimana kehidupanku di panti asuhan, apakah belajarnya melelahkan, atau apakah hidupku sulit di sana.Aku menjawab dengan acuh tak acuh. Sementara di sisi lain, Ella selalu menemukan kesempatan untuk mengalihkan kembali topik pembicaraan ke dirinya sendiri.Dia memang tidak pernah suka jika perhatian Ayah dan Ibu tertuju padaku.Aku juga merasa senang melihatnya bertingkah manja dan merengek, sehingga aku tidak perlu berurusan dengan orang tuaku.Tak lama kemudian, tibalah hari keberangkatanku.Ayah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status