MasukSekarang, Bradford akan segera bertemu dengan keluarga kakeknya. Sosok Raja Naga yang sekali mengentakkan kaki saja bisa mengguncang seluruh Negara Serica ini, untuk pertama kalinya justru merasakan sedikit kegentaran di hati.Sebelum datang ke sini, Bradford sudah memikirkannya matang-matang. Jika Bernard benar-benar memutuskan hubungan dengan ibunya, mungkin dia hanya akan melihat sekilas lalu pergi. Namun, kenyataannya jelas tidak demikian. Setidaknya Bernard dan Liana bukanlah orang seperti itu.Dari kondisi Bernard saat ditemuinya siang hari tadi, Bradford sudah bisa menilai bahwa kakeknya ini jelas tipe orang yang bermulut tajam tetapi berhati lembut.Penyakit Alzheimer adalah penyakit yang sangat khas. Dari ingatan yang masih mampu diingat Bernard, setidaknya sebagian besar berhubungan dengan putrinya, Bella. Ini membuktikan bahwa orang yang paling dia khawatirkan di dalam hatinya adalah putri kesayangannya dan sama sekali tidak mungkin dia benar-benar ingin memutuskan hubungan.
'Sama-sama laki-laki, kenapa perbedaannya bisa sejauh ini?' Divya yang samar-samar melihat wajah Bradford tak kuasa berpikir demikian.Meskipun Divya dan Bradford baru saling mengenal dalam waktu yang sangat singkat, kepekaan alami seorang perempuan membuatnya bisa merasakan dengan jelas bahwa Bradford tulus membantunya, tanpa niat buruk apa pun.Selain itu, Hasna juga sangat dekat dengan Bradford yang baru ditemuinya beberapa kali. Siapa pun yang melihatnya pasti akan merasa bahwa Bradford jauh lebih pantas disebut sebagai ayah kandung Hasna dibandingkan Yahya.Mungkin banyak orang mengira pikiran anak-anak itu polos dan mudah ditipu, tetapi justru karena itulah mereka bisa merasakan dengan jelas niat orang-orang di sekeliling mereka.'Andai saja aku nikah beberapa tahun lebih lambat atau menemukan pria yang seperti Bradford, bahkan sepertiga mirip pun sudah cukup ... betapa bagusnya itu .... Hais, apa yang kupikirkan?' Tanpa sadar, Divya menempatkan Bradford ke dalam khayalannya.Seb
Nareen hanya mendengus pelan dan tidak menanggapi perkataan Bradford. Saat ini, dia tidak ingin melakukan apa pun, hanya ingin secepatnya pergi ke rumah sakit untuk memeriksa apakah yang dikatakan Bradford itu benar atau tidak.Bradford juga tidak berniat terus menahan mereka. Dia membuka pintu rumah, pergi ke sudut halaman, membangunkan dua anak buah Nareen, lalu memerintahkan mereka berdua untuk menopang dan membawa pergi Nareen yang tubuh bagian bawahnya lumpuh serta Yahya yang sekujur tubuhnya berlumuran darah.Selama proses itu, Divya menutup rapat mata Hasna dengan kedua tangannya. Dia sendiri berdiri di bawah pohon kurma dengan membelakangi mereka, tidak berani melihat lebih lama.Setelah mereka semua pergi, Bradford kembali ke dalam rumah, mengambil sapu pel, dan segera membersihkan seluruh noda darah di dalam rumah, termasuk pot bunga dan kaca yang pecah.Divya menunggu di luar cukup lama. Baru setelah Bradford selesai membersihkan semuanya, dia tersadar, lalu masuk sambil ter
Bradford mengayunkan tangannya, menembakkan seutas energi spiritual ke dalam tubuh Yahya.Bagian dalam tubuh Yahya seketika dipenuhi oleh energi dahsyat. Energi itu mengamuk liar di dalam tubuhnya, membuat darah dan sel-selnya bergolak, seolah-olah sepanci air mendidih yang terus berguncang.Yahya menjerit kesakitan. Tubuhnya ambruk dengan lemas ke lantai. Di permukaan kulitnya mulai muncul satu per satu benjolan transparan, menonjol seperti gelembung air.Benjolan-benjolan itu membuat Yahya merasa gatal dan nyeri luar biasa. Setiap inci kulitnya memancarkan rasa sakit yang ekstrem.Tiba-tiba, di pipi kirinya muncul sebuah lepuhan besar. Dia benar-benar tak sanggup menahannya, lalu menggaruknya dengan tangan. Akibatnya, lepuhan itu pecah. Sepotong besar kulit langsung terkelupas dan darah muncrat ke mana-mana.Namun yang aneh, pada detik itu juga Yahya justru merasakan sensasi segar yang tak terlukiskan.Seiring waktu, semakin banyak lepuhan bermunculan di tubuh Yahya. Dia menggaruk da
Namun, masih ada putrinya di sini. Apa dia harus membiarkan Hasna mengalami semua ini?Memikirkan hal itu, Divya meneteskan air mata. Dia merasa sangat terhina.Pada saat yang sama, Nareen sudah melangkah mendekati Divya tanpa rasa sungkan. Dengan tubuh yang hanya mengenakan celana pendek berukuran besar, dia menoleh ke Yahya dan berkata, "Bawa anakmu pergi. Jangan sampai dia mengganggu urusanku dengan Bu Guru Divya.""Tenang saja, Pak Nareen. Aku langsung bawa anak itu pergi." Yahya segera meraih Hasna."Jangan sentuh aku! Aku mau Mama!" Hasna menangis keras, memeluk erat kaki Divya.Sementara itu, Nareen sudah berdiri di depan Divya, mengulurkan kedua tangannya dan meraih tubuhnya."Pergi!" Divya menendang selangkangan Nareen dengan marah.Buk! Satu suara benturan tumpul terdengar. Kaki Divya mengenai selangkangan Nareen dengan keras!"Ugh!" Bola mata Nareen berputar. Tubuhnya langsung meringkuk. Dia nyaris pingsan karena kesakitan."Kuat juga ... aku suka!" Setelah menahan sebentar,
Tepat saat dua pengawal Nareen hendak menutup pintu, sebuah tangan menahan pintu dari luar.Salah satu pengawal itu sedikit mengernyit. Dia membuka pintu, lalu bertanya, "Cari siapa?"Orang di luar tidak menjawab. Dia langsung mencengkeram leher pengawal itu, sementara tangan satunya mencekik leher rekannya. Kemudian, dia membenturkan kepala mereka berdua dengan keras.Buk! Suara benturan tumpul terdengar. Keduanya memutar bola mata, tak sempat bersuara, dan langsung pingsan.Bradford mencengkeram leher kedua orang itu dan menyeret mereka masuk ke halaman. Dia melempar mereka begitu saja ke sudut tembok, lalu mengunci pintu gerbang dan menoleh ke arah rumah.Saat itu, Yahya dan Nareen sudah masuk ke rumah dan menutup pintu dari dalam.Divya mendongak melihat mereka, lalu berteriak ketakutan, "Yahya, kamu mau apa? Turunkan Hasna!"Yahya menatapnya sambil mencibir. "Divya, ini Pak Nareen. Dia suka perempuan seusiamu, jadi aku bawa dia ke sini biar kenalan sama kamu."Melihat ekspresi mes







