Share

Bab 2 [Membuat Masalah]

Langkah kecil Feli yang menuruni tangga sempat terhenti kala sebuah papan nama terlempar ke arahnya. Ia lalu melihat dari ujung tangga, ada beberapa orang yang sedang beradu pukulan di sana. Feli mengigit bibir bawahnya saat menyaksikan ke brutalan seorang pria yang terus melayangkan pukulan tanpa ampun. 

"Sialan kau Ray!!" 

Suara bentakan itu membuat Feli tersentak kaget, debaran jantungnya memacu dua kali lebih cepat melihat bagaimana dengan mudahnya pria dengan mata hitam kemerahan itu membenturkan kepala lawannya ke dinding tanpa ragu. Rasa takut membuat Feli beku di tempat, ia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun atau bahkan bergerak pergi dari tempat itu. Rasanya kakinya sedang ditahan sesuatu yang sangat berat.

Nafas Feli jadi tak beraturan, ia merasa aneh dengan dirinya saat ini. Ada perasaan familiar dan ingatan yang samar-samar di rasakan oleh Feli. Matanya terpejam saat tak mampu lagi melihat kebrutalan pria pemilik mata hitam kemerahan itu. Beberapa saat setelahnya tak ada lagi suara yang terdengar.

"Hei, kau berikan benda itu!" Suara berat yang terasa mendominasi membuat Feli membuka matanya untuk melihat pemilik dari suara tersebut.

Pria itu mengulurkan tangannya untuk meminta papan nama di tangan Feli. "Apa kau tuli? Berikan benda itu padaku!!"

Lamunan Feli seketika buyar, ia melihat secara bergantian papan nama yang bertuliskan Varrell Raykenzi dan pria di ujung tangga di sana. Netra hitam kemerahan itu menyoroti Feli dengan begitu tajam sambil menaiki anak tangga menuju Feli. Belum sempat pria pemilik mata hitam kemerahan itu sampai pada Feli, seorang tiba-tiba datang dan menggerutu melihat keadaan tempat itu.

"Apa yang terjadi di sini?" Ujar seorang gadis dengan sebuah pin lambang anggota OSIS di seragam sekolahnya.

Pria tadi kemudian menoleh ke arah pintu di mana sang anggota OSIS menatapnya dengan wajah tidak suka saat melihat beberapa siswa lain meringis ke sakitan di atas lantai.

"Kalian berdua! Ikut aku ke ruang bimbingan!" Ujar anggota OSIS itu seraya menunjuk  Ray dan Feli.

"Tunggu! Kenapa aku juga harus ikut? Aku bahkan tidak terlibat," Ujar Feli.

"Kami perlu seseorang yang bisa menjadi saksi mata. Jadi ikutlah denganku," Ujar anggota OSIS tersebut.

Mau tidak mau, Feli terpaksa mengikuti langkah sang anggota OSIS tersebut. Beberapa anggota OSIS lainnya bertugas membawa sejumlah siswa yang menjadi lawan Ray menuju unit kesehatan sekolah yang saat ini dalam keadaan tidak sadarkan diri. Melewati koridor sekolah cukup menarik perhatian beberapa siswa, terutama Ray yang nyatanya memiliki paras tampan itu.

Sesampainya di salah satu ruangan, seorang pria paruh baya berkumis tipis itu memijat pelipis kepalanya melihat kedatangan Feli dan Ray. Di dalam ruangan itu ternyata sudah ada dua siswa pria lainnya yang sedang duduk di kursi.

"Hah, sekarang masalah apa lagi kali ini, Yuna?" Ujar sang pria paruh baya itu.

"Mereka melanggar aturan sekolah dengan berkelahi di tangga pak," Jawab anggota OSIS bernama Yuna.

Ucapan Yuna terdengar aneh menurut Feli, rasanya Yuna sedang melaporkan bahwa ia juga ikut dalam perkelahian tersebut. Yuna sedikit menoleh ke arah Feli yang saat ini memasang wajah kebingungan, seutas senyum miring terukir di wajah Yuna hingga ia lalu melanjutkan laporannya pada pak Bambang.

"Kalo begitu, saya pamit dulu pak. Saya masih harus mengecek di tempat lain," Ujar Yuna seraya tersenyum licik melihat ke arah Feli.

Merasa setiap ucapan yang keluar dari bibir Yuna yang sengaja menyangkutkan dirinya dengan masalah pelanggan aturan sekolah  membuat Feli lantas menahan tangan Yuna sebelum pergi dari sana. Yuna langsung menepis tangan Feli seraya memasang wajah jijik. "Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu!"

"Hei, kau! Kenapa masih berdiri di situ? Ambil surat pemotongan poinmu," Ujar pak Bambang.

"Tunggu pak, saya tidak melakukan kesalahan apapun." Mendengar ucapan Feli, pak Bambang tampak kesal.

"Bisa-bisanya kau berbohong dengan bukti yang sudah jelas ini? Mungkin otak cerdasmu berhasil membawamu ke sekolah ini tapi ingatlah sikapmu yang seperti ini bisa jadi ancaman kamu di keluarkan dari sekolah ini!" Ujar pak Bambang.

"Saya tidak berbohong pak, sungguh." Bela Feli.

"Jangan membuang waktuku dengan kebohonganmu. Ambil surat ini dan pergilah," Ujar pak Bambang sambil menyodorkan selembar kertas pada Feli.

***

Disinilah Feli sekarang, mendapatkan hukuman atas sesuatu yang sama sekali tidak ia lakukannya. Satu hari yang sial, ia habiskan dengan susah payah di sekolah ini. Bel pulang sekolah telah lama berbunyi, gadis itu sedang membersihkan rumput dan daun kering di taman belakang sekolah. Feli menyekat keringat di keningnya dan menghela nafas melihat tumpukan daun kering itu.

"Hufftt.. Akhirnya selesai juga. Tinggal di masukkan ke dalam tong sampah," Ujar Feli.

Baru saja Feli akan memasukkan daun-daun kering itu ke tong sampah, seseorang tiba-tiba melompat dari atas sana menuju tumpukan daun kering itu hingga semua jadi berantakan kembali. Rasanya kaki Feli jadi lemas melihat jeri payahnya jadi sia-sia. Pria yang baru saja melompat di atas tumpukan daun kering itu menoleh ke arah Feli yang memasang wajah kesal. Tanpa rasa bersalahnya pria itu kemudian berdiri dan berniat pergi begitu saja.

"Hei! Apa yang telah kau perbuat? Kau mau kabur kemana? Kau harus bertanggung jawab! Daun keringnya jadi berhamburan kembali! Karena kau," Ujar Feli seraya menatap tajam punggung pria yang tidak tahu malu itu.

Pria itu kemudian melemparkannya sejumlah uang yang mana hal itu malah membuat Feli semakin jengkel. Feli memungut uang tersebut dan melemparkannya tepat di kepala pria itu.

"Kau pikir uang bisa menyelesaikan semuanya?" Ujar Feli seraya memasang wajah garang.

"Berani sekali kau melemparkan benda itu padaku!! Kau minta di hajar, hah?" Pria itu membentak Feli.

Mendengar bentakan tersebut sama sekali tak membuat Feli takut, rasa lelahnya membuat akal sehatnya untuk tidak berurusan dengan siapapun di sekolah ini seolah hilang. Keduanya sama-sama keras kepala, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Feli melangkah menuju pria itu yang sedang memasukkan tangannya di kantong celananya.

"Mau apa kau?" Ujar pria itu curiga.

Feli menengadah seraya menatap pria yang lebih tinggi darinya, ia kemudian meraih seragam yang digunakan pria sombong itu lalu menariknya sambil menjegal kaki pria itu hingga mendorongnya ke tanah dan akhirnya jatuh. Feli berdiri dengan wajah puas setelah membanting pria sombong itu, yang kini sedang meringis kesakitan.

"K-Kau! Akan ku balas kau cewek sialan!" Ujarnya mencoba berdiri setelah di banting cukup keras oleh Feli.

"Baiklah," Ujar Feli seraya memakai tas punggungnya.

"Ohhiya. Jangan lupa bersihkan daun-daun kering ini," Ujar Feli kemudian pergi.

Beberapa saat setelah Feli pergi, seseorang menghampiri pria itu dengan penuh tanda tanya melihat keadaan temannya itu. Bukannya menolong, ia malah tertawa sangat lebar sambil memegangi perutnya.

"Hahahaha.. Siapa yang baru saja menghajar seorang Arlan Vyns Aldebaran?" Ujar pria bergigi kelinci itu.

"Diam, kau Algeria!" Ujar Arlan dengan wajah kesal.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status