Share

Perhaps Love: Jadi Pacarku!
Perhaps Love: Jadi Pacarku!
Author: Tirfaledina

Bab 1 [Awal dari Pertemuan]

Mewah, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan sekolah elit tersebut. Dengan satu bangunan utama yang memiliki lima lantai mampu membuat semua orang melongo ketika melihatnya. Bangun yang di atur dengan desain yang mewah, suasana nyaman dengan pekarangan sekolah yang cukup luas dan bersih. Beberapa pohon rindang seolah-olah menyambut setiap siswa yang melewati jalan aspal menuju bangun utama sekolah. 

SMA para keturunan emas, itulah yang sering kali di ucapkan orang-orang tentang SMA Lentera Bangsa ini. Salah satu jajaran sekolah populer hanya untuk para anak konglomerat dan anak-anak berotak jenius.  Aruna Feliciana Xaviela adalah salah satu jajaran dari garis jenius beruntung yang terpilih. 

Sekolah ini telah banyak meluluskan para siswa-siswi hebat yang terus mengharumkan nama sekolah atas semua pencapaian mereka, karena hal itulah para investor juga sangat tertarik untuk menginvestasikan uang mereka ke sekolah tersebut. Bukan hanya sekolahnya saja yang menarik perhatian tetapi pemilik sekolah tersebut juga ikut di soroti, sebab orang itu adalah salah satu politikus handal yang sangat berpengaruh pada pemerintahan.

"Jadi ini sekolah itu ya?" Ujar gadis berambut sebahu itu.

Helaan nafas keluar dari bibir mungil gadis itu. Netra hitam keunguan itu melihat sekitarnya dengan tatapan malas dan lelah secara bersamaan. "Hidup di sini sepertinya tidak mudah." 

Baru saja gadis itu hendak melanjutkan langkahnya, sebuah suara menginstruksikannya agar berhenti. Netranya menatap aneh pada gadis di depannya itu.

"Ternyata memang benar, Feli. Apa kabar? Kau tau? Aku urutan kesepuluh nilai tertinggi ujian masuk sekolah ini loh," Ujar gadis dengan lesung pipi itu dengan wajah sombongnya.

"Ohhiya? Aku pikir otakku berfungsi dengan baik, tidak seperti seseorang yang menggunakan orang dalam," Balas Feli seraya tersenyum lebar melihat perubahan mimik wajah Salsa yang berubah masam.

"Ck.. Jangan sombong! Aku yakin kau hanya berada di urutan ketiga puluh kebawah. Tidak perlu malu," Ujar Salsa penuh percaya diri.

Feli memperlihatkan layar ponselnya yang sedang menampilkan hasil ujian seorang siswa dengan urutan tiga besar. "Sepertinya  kau lupa mengecek siapa yang menduduki urutan tiga besar," Ujar Feli.

Keduanya saling beradu tatapan perselisihan, hubungan yang ada di antara keduanya adalah musuh. Entah sejak kapan hubungan permusuhan keduanya terbentuk, mereka juga sudah tidak ingat. Sebuah teriakan membuat Feli dan Salsa mengalihkan perhatian mereka.

"Ahh.. Cepat minggir bodoh!!" Ujar seorang pria bermata hitam kebiruan yang mengendarai sepeda cukup cepat di antara gerombolan siswa.

Tidak jauh di belakang sepeda pria pemilik mata hitam kebiruan itu, ada seorang pria berambut coklat di belakang sana sedang mengayuh sepedanya untuk mengejar. Sesekali ada beberapa siswa yang terjatuh karena ulah kedua pria itu. Sebuah ide terbesit di kepala Salsa lengkap dengan senyum penuh maknanya saat menatap Feli, tanpa ragu langsung saja Salsa mendorong Feli menuju sepeda yang melaju kencang itu.

Feli mengadu sakit pada kedua telapak tangan dan lututnya yang tergores oleh permukaan aspal kasar. Benar saja sepeda itu melaju tepat menuju Feli, suara ban sepeda yang bergesekan dengan aspal terdengar cukup nyaring.

Bruakk...

"Arghh.. Sial!" Pria pemilik mata hitam kebiruan itu meringis kesakitan saat mencoba menghentikan sepedanya yang sedang melaju cukup kencang hingga berakhir jatuh dari sepedanya.

"Hahahaha.. Arlan kau kalah!!" Pria berambut cokelat itu bersorak gembira seraya melewati pemilik nama Arlan.

Pria bernama Arlan itu hanya berdecak kesal seraya berdiri dengan kaki yang terlihat tergores akibat terjatuh dari sepeda tadi. Arlan menoleh sejenak menuju Feli yang kini sedang membersihkan pakaiannya dari debu. 

"Dasar gadis gila!" 

Arlan pergi begitu saja meninggalkan Feli yang tampak kesal atas ucapannya tadi, menghela nafas adalah cara Feli untuk mengalihkan perasaan kesalnya itu. Dari kejauhan Salsa tampak terkekeh atas apa yang menimpa Feli. Tak ada raut bersalah di wajahnya, yang ada hanya kegembiraan atas kelakuannya tadi.

Feli kemudian berjalan pelan menuju gerbang sekolah, sepeda yang di kendarai Arlan telah di urus oleh satpam sekolah. Tak ada satu pun guru yang memarahi Arlan dan pria berambut coklat itu, kejadian tadi seolah-olah tidak pernah terjadi.

"Pergilah ke ruang UKS dulu, nak. Juga maafkan kesalahan Arlan dan Algeria tadi ya," Ujar sang satpam pada Feli.

"Nggak papa kok pak. Hanya sedikit tergores, nanti juga sembuh kok," Ujar Feli.

"Mereka anak orang kaya, bapak yang hanya seorang satpam tidak mampu berbuat apa-apa," Ujar sang satpam.

Feli menganggukkan kepalanya dan memberikan senyuman ramah pada satpam itu. Ia paham betul dengan sistem di tempat ini, si kaya bisa melakukan apapun tanpa peduli dengan pendapat si miskin yang kerepotan karena ulah si kaya. Jika boleh jujur sebenarnya Feli membenci sekolah ini dan tidak pernah berharap di terima di tempat tersebut.

Alasan satu-satunya Feli yang sekarang ini memakai seragam siswa sekolah ini adalah karena keinginan dari mendiang kakeknya yang berharap ia bersekolah di tempat itu. Keluarga Feli tidak begitu kaya namun ia memiliki seorang kakek yang berprofesi sebagai peneliti terkenal dengan jasanya pada negara. Profesor Moza adalah nama yang di gunakan mendiang kakek Feli.

"Sebenarnya apa alasan kakek bersikeras agar aku bisa bersekolah di tempat yang memuakkan ini?" Ujar Feli.

***

Koridor sekolah terlihat sangat ramai, banyak siswa yang berlalu lalang mencari kelasnya masing-masing. Sama halnya dengan Feli, ia sedang mencari keberadaan kelasnya dengan sesekali menghela nafas saat ada beberapa yang mengomentari cara berpakaiannya yang terlihat sangat biasa-biasa saja padahal seragam sekolah ini saja sudah sangat mencolok menurut Feli.

Meskipun merasa risih akan semua tatapan meremehkan itu, Feli tetap diam dan bersikap acuh. Tak ada satupun aksesoris yang melekat di pakai sekolahnya, berbeda dengan para siswa lainnya yang menggunakan aksesoris merek terkenal. Feli tiba-tiba terjatuh saat seseorang mencekal kakinya, ini keduanya kalinya ia terjatuh hingga sensasi perih ia rasakan saat luka di lututnya berbenturan dengan lantai. 

Seseorang juga ikut jatuh, wajah tanpa ekspresi itu menyapanya. Feli mengenali pria di depannya itu, sudah beberapa kali ia melihat fotonya di mading sekolah. Dia adalah Dean Atlanta, ketua tim basket sekolah ini sekaligus anak dari jaksa yang sangat di segani. 

"Ck.. Dasar wanita murahan. Dia pasti sengaja menjatuhkan tubuhnya saat melihat Dean," Ujar salah satu siswa yang mencekal kaki Feli.

Feli tau betul siapa yang membuatnya terjatuh tadi, ia tentu marah dan kesal mendengar penuturan gadis tadi. Namun ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak berurusan dengan siapapun di sekolah ini. Ia hanya ingin bersekolah dengan damai di tempat ini dan cepat-cepat lulus. Feli beralih pada Dean, ia mengambil satu permen rasa mint kemudian memberikannya pada Dean.

"Aku minta maaf, lain kali aku akan minta maaf dengan benar. Tapi sekarang aku tidak bisa," Ujar Feli ragu kemudian buru-buru pergi meninggalkan Dean bersama beberapa permen rasa mint.

Dean terus melihat punggung kecil Feli semakin menjauh hingga akhirnya hilang dari jangkauan pandangannya. Ia menatap cukup lama beberapa permen di tangannya, seseorang kemudian berdiri di sebelah Dean seraya memamerkan gigi kelincinya.

"Wahh.. Bukannya gadis itu baru saja menyogok kak Dean dengan permen? Menarik juga," Ujar pria dengan name tag Algeria Anggara Putra.

"Dia cukup berani juga," Ujar Algeria dengan kotak susu coklat di tangannya.

Bel masuk kemudian berbunyi membuat para siswa segera menuju kelasnya masing-masing. Dean melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Algeria yang sejak tadi berceloteh tentang kemenangannya dalam taruhan dari Arlan.

  

Algeria menggerutu melihat Dean pergi begitu saja, ponselnya berdering membuat  senyum simpul terukir di wajah tampannya itu.

"Jadi Aruna Feliciana Xaviela, ya?" 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status