Share

Bab 3 [Berhutang]

Pagi hari yang sama menyambut Feli, kini ia telah siap dengan pakaian lengkapnya. Gadis itu lalu menyambar tasnya kemudian turun untuk sarapan. Rumah sederhana itu merupakan harta berharga yang paling Feli sayangi, pasalnya di sinilah kenangan orang tuanya tersimpan. Saat ini ia tinggal bersama orang tua angkatnya yang tak lain adalah bibinya sendiri.

"Makan dulu sayang," Ujar wanita paruh baya itu sambil mengeringkan tangannya setelah mencuci piring kotor.

"Wahh.. Semuanya keliatan enak-enak. Hari ini mama keliatan sangat cantik deh," Puji Feli seraya memasukkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya.

"Duhh.. Mulut anak mama manis banget ya," Ujarnya seraya mencubit pipi Feli dengan gemas.

"Heheheh.. Kan mama Fanya yang ajarin," Ujar Feli hingga Fanya memberikan kecupan sayang pada anak angkatnya itu.

"Kamu nggak terlambat nak? Ini udah hampir jam tujuh loh," Ujar Fanya.

"Loh? Kok udah jam segini aja? Bentar mah. Feli habisin ini dulu," Ujar Feli yang kemudian dengan terburu-buru melahap makanannya.

"Mama juga udah nyiapin bekal. Jangan lupa di bawa ya. Mama mau pergi kerja dulu," Ujar Fanya dan mendapatkan anggukan dari Feli.

***

Sambil berlarian ke arah halte bus, Feli akhirnya berhasil naik tepat waktu dan tidak tertinggal oleh bus menuju sekolahnya. Hari ini penumpang bus cukup banyak dan lebih di dominasi oleh siswa wanita. Pemberhentian terakhir membuat para penumpang terlihat memperbaiki penampilannya.

"Kau benar-benar tidak berbohong, Keysha? Hari ini Algeria akan naik bus ini, kan?" Ujar gadis di sebelah Keysha.

"Kau tau ini? Pemilik akun ini sedang sangat populer loh. Informasi yang dia berikan selalu benar," Jawab Keysha sambil memperlihatkan layar ponselnya yang menunjukkan sebuah akun sosial medial.

"Skyxview? Aku juga pernah mendengarnya dari anak-anak lain. Tapi, sudahlah. Hari ini aku percaya padamu," Ujar gadis berambut bergelombang itu.

Seseorang pria bertubuh tegap namun tidak begitu tinggi masuk ke dalam bus, seketika semua gadis di dalam tempat itu langsung heboh. Pria yang kini menjadi pusat perhatian sama sekali tidak merasa terganggu, ia malah memamerkan senyuman yang mana memperlihatkan gigi kelincinya. Wajahnya memang tampan menurut Feli namun sayangnya dia terlalu narsis.

Algeria Anggara Putra, pria pemilik gigi kelinci tersebut. Feli terus terdorong ke sana kemari yang membuat beberapa kali kakinya di injak oleh seseorang. Bus akhirnya berhenti tepat di depan sekolah, namun sayangnya para siswa enggan untuk turun lebih cepat di karena mereka masih ingin melihat Algeria. Feli yang hendak menerobos untuk keluar malah mendapatkan ejekan dari beberapa siswa dalam bus.

"Apa sih ni orang? Main senggol aja," Ujar gadis berambut bergelombang itu.

Feli mengabaikan ucapan tersebut kemudian kembali menerobos paksa meski banyak siswa yang terlihat kesal.  "Auuw.. Kau menginjak kakiku tau! Sepatuku jadi kotor! Kau pikir bisa menggantinya?" Kesal Keysha.

"Tapi aku tidak menginjaknya," Bela Feli karena rasanya ia tidak menginjak kaki siapapun.

"Wah, lihat bajunya. Papan namanya berwarna silver artinya dia anak jalur beasiswa," Sahut seseorang hingga semua orang memperhatikan Feli.

"Ck.. Lagi-lagi mereka menerima sampah. Pantas saja sikapnya seperti binatang!" Ketus Keysha sambil melipat tangannya di depan dada.

"Kalo tau diri, harusnya keluar saja dari sekolah ini! Jangan menambah kotoran saja! Palingan modal menggoda orang pria tua aja biar masuk ke tempat ini. Dasar J*lang!" Ujarnya Keysha hingga tawa semua orang di sana pecah seketika.

"Ayo membungkuk dan minta maaflah, aku akan memaafkan kamu yang miskin ini," Ujar Keysha penuh percaya diri.

Feli memilih mengalah kemudian membungkuk pada Keysha sambil meminta maaf. Semua orang di sana memandang rendah ke arah Feli yang terlihat pasrah dan menurut pada Keysha.

"Udahkan? Sekarang aku boleh pergi?" Ujar Feli membuat lagi-lagi Keysha semakin sombong.

"Iya, iya. Pergilah jauh-jauh," Jawab Keysha seraya mengibaskan tangannya untuk mengusir Feli pergi seorang pelayan.

Tak peduli pada seberapa banyak pasangan mata yang kini sedang merendahkannya dan meskipun telinga terus mendengar dengan jelas semua hianaan yang di tujukan padanya itu. Ia tetap memilih bungkam dan terus melanjutkan langkahnya.

"Harga dirinya sangat rendah, hahah.. Seperti ibunya," Ujar Keysha hingga Feli berhenti tepat di ambang pintu bus.

Feli kembali melangkah menuju Keysha kemudian memberikan satu tamparan keras di pipi mulus Keysha. Tatapan Feli terlihat dingin dengan aura mencekam dari tubuhnya, entah kenapa hal tersebut membuat Keysha jadi menciut.

"K-Kau! B-beraninya memukulku!" Ujar Keysha sedikit gugup seraya memegang pipinya yang masih terasa perih.

"Aku minta maaf, sepertinya aku lupa satu hal! Mulutmu harus diberi pelajaran!" Ujar Feli sambil tersenyum simpul.

Keysha menoleh ke arah Algeria yang masih saja terdiam menonton, ia tidak ingin kehilangan muka di depan Algeria. Keysha lantas memberanikan diri untuk membalas tamparan Feli dengan terburu-buru, tak ada perlawanan dari Feli. Ia hanya diam dengan tatapan yang masih saja sangat dingin.

"Lumayan, sekarang kita impaskan. Aku pergi dulu," Ujar Feli kemudian keluar dari dalam bus.

"Ada dengannya? Sepertinya dia sudah gila."

***

Lagi-lagi Feli hanya sendiri, ia juga tidak begitu berharap akan mendapatkan teman di tempat di mana semua orang memandang status. Feli berdiri di depan salah satu Vending Manchine, ia cukup lama memilih minuman yang akan di belinya.

"Hmm.. Sepertinya ini terlalu mahal. Apa aku beli air putih saja?" Desis Feli.

"Kau sudah selesai?" Suara Berat itu membuat Feli menoleh.

"Ah? Maaf, aku sudah selesai." 

"Hei, kau! Tangkap!" Ujar pria pemilik mata hitam kemerahan itu.

Feli refleks menangkap satu botol minuman yang sejak tadi ia incar. Pria tadi kini sedang meneguk minuman kalengnya hingga habis, lewat ekor matanya ia melihat Feli yang memandanginya dengan wajah bingung.

"Ini, aku kembalikan. Aku tidak ingin berhutang pada siapapun," Ujar Feli sambil menyodorkan kembali pada pria itu.

"Bukan kau yang berhutang, tapi aku." Mendengar hal itu membuat Feli mengernyitkan dahinya.

"Ini kartu siswa milikmu kan?" Ujarnya sambil menunjukkan kartu siswa.

Di sekolah ini kartu siswa juga memiliki fungsi seperti ATM untuk menyimpan sejumlah uang, namun sedikit berbeda karena jumlah uang yang ada dalam kartu siswa itu tidak terlalu banyak dan sangat di batasi oleh pihak sekolah.  

"Eh? Sejak kapan kau mengambilnya?!" Ujar Feli sambil merogoh kantong seragamnya.

"Lain kali aku akan mengembalikan uangmu," Ujarnya kemudian langsung pergi sebelum Feli sempat mencerna keadaan.

"Hampir lupa. Namaku Ray, orang yang kau temui di ujung tanggal kemarin," Ujar Ray.

Sosok Ray saat itu benar-benar berbeda dengan yang baru saja ia temui tadi. Rasanya seperti bertemu dengan dua orang yang berbeda. Setelah Ray telah menghilang dari pandangan Feli, gadis itu baru tersadar dari lamunannya. 

"Sepertinya aku bertemu kembarannya deh," Tebak Feli.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status