Share

21. Gosip Tetangga

Penulis: Alya Feliz
last update Tanggal publikasi: 2026-10-03 17:59:22

Desa Karangmojo tidak pernah sesunyi yang terlihat. Di balik rindangnya pohon jati dan ketenangan sawah, lidah para tetangga bergerak lebih cepat daripada deru mesin traktor. Hanya butuh waktu kurang dari dua puluh empat jam sejak insiden keributan di depan rumah Pak Hadi yang ditempati oleh Kesya, dan baku hantam di bengkel Damar, desas-desus liar langsung meledak di kalangan warga.

Pagi itu, suasana di warung sayur Bu Minah terasa lebih gerah dari biasanya. Begitu Kesya melangkah mendekat de
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   28. Ketukan di Pintu Kayu

    Tok! Tok! Tok!"Damar? Kamu di dalam, Le? Ditanyain Ibu itu lho, sapinya belum dikasih makan kok sudah mendekam di bengkel subuh-subuh."Suara berat khas bapak-bapak sepuh milik Pak Wiryo seketika memecah keheningan di dalam ruang pengap itu. Ketukan di pintu kayu bengkel tersebut bagaikan sengatan listrik yang membuat Kesya dan Damar menjauh secara refleks.Kesya buru-buru menghapus sisa air mata di pipinya, wajahnya mendadak memerah padam karena malu. Dia baru sadar kalau tadi dia menangis sesenggukan sambil meremas kaus oblong Damar, bahkan sempat membenamkan wajahnya di dada bidang pria desa itu.Sementara Damar langsung memalingkan muka, berdeham agak keras untuk menutupi salah tingkahnya. Sifat gengsi tingkat dewanya langsung kembali terpasang rapi, meskipun telinganya yang memerah tidak bisa berbohong. Pria itu menyugar rambutnya asal, mencoba mengontrol napasnya yang sempat tidak beraturan."Iya, Pak! Ini Damar lagi nyari obeng yang keselip!" sahut Damar setengah berteriak, su

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   27. Takluk di Ruang Pengap

    Aroma oli, bensin, dan besi berkarat langsung menyambut indra penciuman Kesya begitu Damar menariknya masuk ke dalam bengkel. Damar tidak melepaskan tautan tangannya di pergelangan tangan Kesya sampai mereka benar-benar berada di area belakang, ruang kerja privat Damar yang dipenuhi dengan onderdil motor berserakan dan sebuah meja kayu tua.Pria itu berbalik, lalu menutup pintu kayu bengkel dengan sekali sentakan kasar. Brak!Kesya tersentak mundur hingga punggungnya menempel pada rak penyimpanan kunci-kunci pas. Jantungnya berdegup kencang. Di dalam ruang remang yang hanya diterangi oleh lampu pijar kuning, sosok Damar terasa begitu mendominasi. Jaket flanel milik Damar yang masih melekat di tubuh Kesya mendadak terasa semakin hangat, menyalurkan rasa nyaman yang aneh di tengah situasi yang menegangkan ini."Duduk," perintah Damar. Pria itu menarik sebuah kursi plastik abu-abu yang agak dekil untuk Kesya.Kesya menggeleng, melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku mau berdiri aja.

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   26. Topeng yang Retak

    Damar melangkah mendekat, mengabaikan tatapan protes dari Kesya. Alih-alih melanjutkan sindiran pedasnya yang tadi, pria itu justru berjongkok di samping Rani. Tangan kekarnya yang biasa memegang kunci pas kini terulur lembut, mengambil alih ember berisi daging sapi dari tangan kakaknya."Mbak Rani pulang aja. Biar aku yang meneruskan nyuci dagingnya. Di sini dingin, nanti asam urat Mbak kumat lagi," kata Damar. Suaranya melembut berkali-kali lipat, sangat kontras dengan nada ketusnya tadi.Rani menghapus sisa air mata di pipinya, lalu mengangguk pelan. "Ya sudah, Mbak tinggal ya. Kesya, Mbak ke dapur dulu."Kesya hanya bisa mengangguk kaku. Begitu punggung Rani menghilang di balik rumpun bambu, suasana di pinggir sungai itu mendadak berubah canggung. Hanya ada suara aliran air yang jernih dan debaran dada Kesya yang tak karuan. Dia bersiap-siap untuk menerima semprotan kalimat pedas berikutnya dari pria desa ini.Namun, Damar justru diam. Pria itu menyelesaikan cucian daging dengan c

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   25. Rahasia di Balik Gemericik Air

    Jantung Kesya berdegup dua kali lebih cepat. Bukan hanya karena aroma maskulin khas oli dan tembakau yang menguar dari tubuh tegap Damar, melainkan juga karena tatapan sepasang mata elang itu. Di bawah temaram langit senja dan rimbunnya pohon talok, cengkeraman tangan Damar di pergelangan tangannya terasa begitu kokoh, mendominasi, dan mengunci pergerakannya."Jangan pura-pura bodoh, Kesya. Aku tahu kamu tahu sesuatu," bisik Damar. "Stiker parkir Swalayan Rahayu di motor Mas Bayu itu nggak mungkin bohong. Kemarin siang kamu belanja di sana, dan kamu melihat dia, kan? Ada rahasia apa di desa sebelah?"Kesya menelan ludah. Rasa ngeri akibat trauma manipulasi Raka di Jakarta mendadak terlintas, membuatnya refleks ingin memberontak. Namun, pria di depannya ini bukanlah Raka. Damar menyebalkan, bermulut pedas, dan selalu gengsi mengakui perhatiannya. Tetapi Damar tidak pernah berniat untuk menghancurkannya."Lepas, Damar! Sakit!" desis Kesya, mencoba untuk menarik tangannya."Nggak akan ak

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   24. Kecurigaan Damar

    Sifat lempeng Bayu memang tipe yang paling berbahaya. Pria itu ibarat air tenang yang menghanyutkan; tidak banyak bicara, tidak memiliki inisiatif, tapi patuh sepenuhnya pada setiap titah ibunya tanpa memikirkan perasaan sang istri. Laki-laki seperti itu tidak akan sebodoh itu meninggalkan jejak kertas atau kain di rumah. Dia bergerak rapi karena seluruh skenarionya disetir langsung oleh tangan dingin Bu Ndari. Namun, sepandai-pandainya Bayu menyembunyikan gelagat, dia lupa bahwa adik iparnya bukanlah pria bodoh yang gampang dikelabui. Damar memiliki naluri setajam singa jika itu menyangkut ketenangan keluarganya. Siang itu, matahari di desa Karangmojo membakar ubun-ubun dengan terik yang menyengat. Damar berdiri di depan bengkelnya, menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil yang sudah dekil. Di depannya, Bayu baru saja turun dari motor bebeknya, menyerahkan sebuah karung pupuk subsidi dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi, seolah-olah obrolan di meja makan dua malam yang

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   23. Dilema Kesya

    Lidah tetangga mungkin tajam, tapi keheningan di dalam rumah sendiri terkadang jauh lebih membunuh. Pagi berikutnya, suasana di kediaman Pak Wiryo dan Bu Lastri terasa begitu pekat. Kesya yang mengantarkan mangkuk saringan santan milik tantenya ke dapur rumah joglo tersebut, langsung menangkap atmosfer yang tidak beres. Tidak ada suara denting wajan atau banyolan ketus Damar yang biasanya sudah bersiap ke bengkel. Di sudut dipan dapur, Rani duduk sendirian. Wanita berusia 35 tahun itu sedang mengupas bawang merah. Gerakan tangannya lambat dan sepasang matanya bengkak dengan lingkaran hitam yang kentara. Air matanya luruh satu demi satu, menetes lurus ke atas tumpukan kulit bawang di nampan bambu. Dia mencoba untuk menangis tanpa suara, sebuah keahlian menyakitkan yang tampaknya sudah dia pelajari selama sepuluh tahun berumah tangga dengan pria lempeng. "Mbak Rani..." panggil Kesya lirih, berjalan mendekat dengan perasaan yang mendadak remuk. Rahasia yang diketahuinya di swalayan k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status