Teilen

20. Rahasia Apa?

last update Veröffentlichungsdatum: 02.10.2026 09:24:21

Baku hantam di dalam kamar berukuran tiga kali empat meter itu akhirnya selesai dengan dramatis. Raka, sang eksekutif muda necis yang selama ini hanya mengandalkan uang dan perintah, terjerembap ke lantai setelah menerima hantaman mentah tepat di rahangnya dari Damar. Kemeja mahalnya robek, sudut matanya membiru, dan seluruh kesombongannya rontok di depan kekuatan fisik perjaka desa itu.

"Keluar dari desaku sebelum aku kehilangan kesabaran," desis Damar, suaranya rendah dan sarat akan ancaman
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   29. Sandiwara di Pasar Desa Sebelah

    Dua hari kemudian, rencana yang telah disusun di ruang pengap bengkel akhirnya berjalan. Kabut fajar masih menyelimuti jalanan aspal ketika Damar memacu motor gede lawasnya membelah jalanan menuju Desa Sukomaju. Di jok belakang, Kesya mencengkeram erat jaket flanel kotak-kotak milik Damar yang kembali dipinjamnya. Hawa dingin pedesaan menusuk tulang, tapi kehangatan yang menguar dari punggung tegap Damar entah bagaimana membuat Kesya merasa aman.Hari ini adalah hari pasaran. Sesampainya di area sekitar Swalayan Rahayu, suasana sudah sangat ramai. Hilir mudik warga yang berbelanja, deru mesin kendaraan, dan riuh teriakan pedagang pasar tumpah ruah menjadi latar yang sempurna untuk bersembunyi.Damar memarkirkan motornya di bawah pohon waru yang agak rindang, agak jauh dari pintu masuk swalayan agar tidak menarik perhatian. Setelah melepas helm, pria desa itu menoleh ke arah Kesya. Matanya menatap intens ke arah wajah Kesya yang tampak tegang."Gugup, hm?" cibir Damar, sudut bibirnya t

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   28. Ketukan di Pintu Kayu

    Tok! Tok! Tok!"Damar? Kamu di dalam, Le? Ditanyain Ibu itu lho, sapinya belum dikasih makan kok sudah mendekam di bengkel subuh-subuh."Suara berat khas bapak-bapak sepuh milik Pak Wiryo seketika memecah keheningan di dalam ruang pengap itu. Ketukan di pintu kayu bengkel tersebut bagaikan sengatan listrik yang membuat Kesya dan Damar menjauh secara refleks.Kesya buru-buru menghapus sisa air mata di pipinya, wajahnya mendadak memerah padam karena malu. Dia baru sadar kalau tadi dia menangis sesenggukan sambil meremas kaus oblong Damar, bahkan sempat membenamkan wajahnya di dada bidang pria desa itu.Sementara Damar langsung memalingkan muka, berdeham agak keras untuk menutupi salah tingkahnya. Sifat gengsi tingkat dewanya langsung kembali terpasang rapi, meskipun telinganya yang memerah tidak bisa berbohong. Pria itu menyugar rambutnya asal, mencoba mengontrol napasnya yang sempat tidak beraturan."Iya, Pak! Ini Damar lagi nyari obeng yang keselip!" sahut Damar setengah berteriak, su

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   27. Takluk di Ruang Pengap

    Aroma oli, bensin, dan besi berkarat langsung menyambut indra penciuman Kesya begitu Damar menariknya masuk ke dalam bengkel. Damar tidak melepaskan tautan tangannya di pergelangan tangan Kesya sampai mereka benar-benar berada di area belakang, ruang kerja privat Damar yang dipenuhi dengan onderdil motor berserakan dan sebuah meja kayu tua.Pria itu berbalik, lalu menutup pintu kayu bengkel dengan sekali sentakan kasar. Brak!Kesya tersentak mundur hingga punggungnya menempel pada rak penyimpanan kunci-kunci pas. Jantungnya berdegup kencang. Di dalam ruang remang yang hanya diterangi oleh lampu pijar kuning, sosok Damar terasa begitu mendominasi. Jaket flanel milik Damar yang masih melekat di tubuh Kesya mendadak terasa semakin hangat, menyalurkan rasa nyaman yang aneh di tengah situasi yang menegangkan ini."Duduk," perintah Damar. Pria itu menarik sebuah kursi plastik abu-abu yang agak dekil untuk Kesya.Kesya menggeleng, melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku mau berdiri aja.

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   26. Topeng yang Retak

    Damar melangkah mendekat, mengabaikan tatapan protes dari Kesya. Alih-alih melanjutkan sindiran pedasnya yang tadi, pria itu justru berjongkok di samping Rani. Tangan kekarnya yang biasa memegang kunci pas kini terulur lembut, mengambil alih ember berisi daging sapi dari tangan kakaknya."Mbak Rani pulang aja. Biar aku yang meneruskan nyuci dagingnya. Di sini dingin, nanti asam urat Mbak kumat lagi," kata Damar. Suaranya melembut berkali-kali lipat, sangat kontras dengan nada ketusnya tadi.Rani menghapus sisa air mata di pipinya, lalu mengangguk pelan. "Ya sudah, Mbak tinggal ya. Kesya, Mbak ke dapur dulu."Kesya hanya bisa mengangguk kaku. Begitu punggung Rani menghilang di balik rumpun bambu, suasana di pinggir sungai itu mendadak berubah canggung. Hanya ada suara aliran air yang jernih dan debaran dada Kesya yang tak karuan. Dia bersiap-siap untuk menerima semprotan kalimat pedas berikutnya dari pria desa ini.Namun, Damar justru diam. Pria itu menyelesaikan cucian daging dengan c

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   25. Rahasia di Balik Gemericik Air

    Jantung Kesya berdegup dua kali lebih cepat. Bukan hanya karena aroma maskulin khas oli dan tembakau yang menguar dari tubuh tegap Damar, melainkan juga karena tatapan sepasang mata elang itu. Di bawah temaram langit senja dan rimbunnya pohon talok, cengkeraman tangan Damar di pergelangan tangannya terasa begitu kokoh, mendominasi, dan mengunci pergerakannya."Jangan pura-pura bodoh, Kesya. Aku tahu kamu tahu sesuatu," bisik Damar. "Stiker parkir Swalayan Rahayu di motor Mas Bayu itu nggak mungkin bohong. Kemarin siang kamu belanja di sana, dan kamu melihat dia, kan? Ada rahasia apa di desa sebelah?"Kesya menelan ludah. Rasa ngeri akibat trauma manipulasi Raka di Jakarta mendadak terlintas, membuatnya refleks ingin memberontak. Namun, pria di depannya ini bukanlah Raka. Damar menyebalkan, bermulut pedas, dan selalu gengsi mengakui perhatiannya. Tetapi Damar tidak pernah berniat untuk menghancurkannya."Lepas, Damar! Sakit!" desis Kesya, mencoba untuk menarik tangannya."Nggak akan ak

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   24. Kecurigaan Damar

    Sifat lempeng Bayu memang tipe yang paling berbahaya. Pria itu ibarat air tenang yang menghanyutkan; tidak banyak bicara, tidak memiliki inisiatif, tapi patuh sepenuhnya pada setiap titah ibunya tanpa memikirkan perasaan sang istri. Laki-laki seperti itu tidak akan sebodoh itu meninggalkan jejak kertas atau kain di rumah. Dia bergerak rapi karena seluruh skenarionya disetir langsung oleh tangan dingin Bu Ndari. Namun, sepandai-pandainya Bayu menyembunyikan gelagat, dia lupa bahwa adik iparnya bukanlah pria bodoh yang gampang dikelabui. Damar memiliki naluri setajam singa jika itu menyangkut ketenangan keluarganya. Siang itu, matahari di desa Karangmojo membakar ubun-ubun dengan terik yang menyengat. Damar berdiri di depan bengkelnya, menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil yang sudah dekil. Di depannya, Bayu baru saja turun dari motor bebeknya, menyerahkan sebuah karung pupuk subsidi dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi, seolah-olah obrolan di meja makan dua malam yang

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status