Share

24. Kecurigaan Damar

Author: Alya Feliz
last update publish date: 2026-10-06 14:21:12

Sifat lempeng Bayu memang tipe yang paling berbahaya. Pria itu ibarat air tenang yang menghanyutkan; tidak banyak bicara, tidak memiliki inisiatif, tapi patuh sepenuhnya pada setiap titah ibunya tanpa memikirkan perasaan sang istri. Laki-laki seperti itu tidak akan sebodoh itu meninggalkan jejak kertas atau kain di rumah. Dia bergerak rapi karena seluruh skenarionya disetir langsung oleh tangan dingin Bu Ndari.

Namun, sepandai-pandainya Bayu menyembunyikan gelagat, dia lupa bahwa adik iparnya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   27. Takluk di Ruang Pengap

    Aroma oli, bensin, dan besi berkarat langsung menyambut indra penciuman Kesya begitu Damar menariknya masuk ke dalam bengkel. Damar tidak melepaskan tautan tangannya di pergelangan tangan Kesya sampai mereka benar-benar berada di area belakang, ruang kerja privat Damar yang dipenuhi dengan onderdil motor berserakan dan sebuah meja kayu tua.Pria itu berbalik, lalu menutup pintu kayu bengkel dengan sekali sentakan kasar. Brak!Kesya tersentak mundur hingga punggungnya menempel pada rak penyimpanan kunci-kunci pas. Jantungnya berdegup kencang. Di dalam ruang remang yang hanya diterangi oleh lampu pijar kuning, sosok Damar terasa begitu mendominasi. Jaket flanel milik Damar yang masih melekat di tubuh Kesya mendadak terasa semakin hangat, menyalurkan rasa nyaman yang aneh di tengah situasi yang menegangkan ini."Duduk," perintah Damar. Pria itu menarik sebuah kursi plastik abu-abu yang agak dekil untuk Kesya.Kesya menggeleng, melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku mau berdiri aja.

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   26. Topeng yang Retak

    Damar melangkah mendekat, mengabaikan tatapan protes dari Kesya. Alih-alih melanjutkan sindiran pedasnya yang tadi, pria itu justru berjongkok di samping Rani. Tangan kekarnya yang biasa memegang kunci pas kini terulur lembut, mengambil alih ember berisi daging sapi dari tangan kakaknya."Mbak Rani pulang aja. Biar aku yang meneruskan nyuci dagingnya. Di sini dingin, nanti asam urat Mbak kumat lagi," kata Damar. Suaranya melembut berkali-kali lipat, sangat kontras dengan nada ketusnya tadi.Rani menghapus sisa air mata di pipinya, lalu mengangguk pelan. "Ya sudah, Mbak tinggal ya. Kesya, Mbak ke dapur dulu."Kesya hanya bisa mengangguk kaku. Begitu punggung Rani menghilang di balik rumpun bambu, suasana di pinggir sungai itu mendadak berubah canggung. Hanya ada suara aliran air yang jernih dan debaran dada Kesya yang tak karuan. Dia bersiap-siap untuk menerima semprotan kalimat pedas berikutnya dari pria desa ini.Namun, Damar justru diam. Pria itu menyelesaikan cucian daging dengan c

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   25. Rahasia di Balik Gemericik Air

    Jantung Kesya berdegup dua kali lebih cepat. Bukan hanya karena aroma maskulin khas oli dan tembakau yang menguar dari tubuh tegap Damar, melainkan juga karena tatapan sepasang mata elang itu. Di bawah temaram langit senja dan rimbunnya pohon talok, cengkeraman tangan Damar di pergelangan tangannya terasa begitu kokoh, mendominasi, dan mengunci pergerakannya."Jangan pura-pura bodoh, Kesya. Aku tahu kamu tahu sesuatu," bisik Damar. "Stiker parkir Swalayan Rahayu di motor Mas Bayu itu nggak mungkin bohong. Kemarin siang kamu belanja di sana, dan kamu melihat dia, kan? Ada rahasia apa di desa sebelah?"Kesya menelan ludah. Rasa ngeri akibat trauma manipulasi Raka di Jakarta mendadak terlintas, membuatnya refleks ingin memberontak. Namun, pria di depannya ini bukanlah Raka. Damar menyebalkan, bermulut pedas, dan selalu gengsi mengakui perhatiannya. Tetapi Damar tidak pernah berniat untuk menghancurkannya."Lepas, Damar! Sakit!" desis Kesya, mencoba untuk menarik tangannya."Nggak akan ak

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   24. Kecurigaan Damar

    Sifat lempeng Bayu memang tipe yang paling berbahaya. Pria itu ibarat air tenang yang menghanyutkan; tidak banyak bicara, tidak memiliki inisiatif, tapi patuh sepenuhnya pada setiap titah ibunya tanpa memikirkan perasaan sang istri. Laki-laki seperti itu tidak akan sebodoh itu meninggalkan jejak kertas atau kain di rumah. Dia bergerak rapi karena seluruh skenarionya disetir langsung oleh tangan dingin Bu Ndari. Namun, sepandai-pandainya Bayu menyembunyikan gelagat, dia lupa bahwa adik iparnya bukanlah pria bodoh yang gampang dikelabui. Damar memiliki naluri setajam singa jika itu menyangkut ketenangan keluarganya. Siang itu, matahari di desa Karangmojo membakar ubun-ubun dengan terik yang menyengat. Damar berdiri di depan bengkelnya, menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil yang sudah dekil. Di depannya, Bayu baru saja turun dari motor bebeknya, menyerahkan sebuah karung pupuk subsidi dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi, seolah-olah obrolan di meja makan dua malam yang

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   23. Dilema Kesya

    Lidah tetangga mungkin tajam, tapi keheningan di dalam rumah sendiri terkadang jauh lebih membunuh. Pagi berikutnya, suasana di kediaman Pak Wiryo dan Bu Lastri terasa begitu pekat. Kesya yang mengantarkan mangkuk saringan santan milik tantenya ke dapur rumah joglo tersebut, langsung menangkap atmosfer yang tidak beres. Tidak ada suara denting wajan atau banyolan ketus Damar yang biasanya sudah bersiap ke bengkel. Di sudut dipan dapur, Rani duduk sendirian. Wanita berusia 35 tahun itu sedang mengupas bawang merah. Gerakan tangannya lambat dan sepasang matanya bengkak dengan lingkaran hitam yang kentara. Air matanya luruh satu demi satu, menetes lurus ke atas tumpukan kulit bawang di nampan bambu. Dia mencoba untuk menangis tanpa suara, sebuah keahlian menyakitkan yang tampaknya sudah dia pelajari selama sepuluh tahun berumah tangga dengan pria lempeng. "Mbak Rani..." panggil Kesya lirih, berjalan mendekat dengan perasaan yang mendadak remuk. Rahasia yang diketahuinya di swalayan k

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   22. Menyimpan Rahasia

    Kesya menahan napasnya di balik rak swalayan, meraba dadanya yang berdegup kencang karena syok. Logikanya langsung berputar cepat menahan emosi yang nyaris meledak. Dia sadar posisinya di desa ini hanyalah orang asing yang masih baru. Apalagi, Bu Ndari baru saja ikut menyebarkan gosip miring tentang dirinya di warung Bu Minah tadi pagi akibat kedatangan Raka. [Kalau gue langsung ngelabrak mereka sekarang, yang ada gue malah makin dituduh perempuan provokator dan nggak bener] pikir Kesya getir. Dengan tangan dingin, dia meletakkan kembali barang belanjaannya ke rak secara asal, lalu berbalik arah dan melangkah terburu-buru keluar dari swalayan. Di sepanjang jalan pulang menumpang angkutan desa sebelah, bayangan wajah lempeng Bayu yang menyetujui pernikahan kedua terus menari-nari di kepalanya, membuat perut Kesya mual karena muak. Sore harinya, kabut tipis mulai turun di Desa Karangmojo. Kesya duduk di teras rumahnya, menatap nanar ke arah bengkel Damar yang letaknya hanya beberapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status