Share

Kedatangan Investor

Penulis: Falisha Ashia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-28 20:54:24

Perasaan aneh itu, perasaan seperti ada angin dingin yang berbeda, kembali datang. Namun, Rajendra tidak memperlihatkannya. Ia sudah mengalami ini berulang kali di masa lalu.

Ini adalah firasat yang selalu benar. Firasat yang akan memberikan peringatan kepadanya. Bukan angin dingin biasa yang menyentuh kulit, melainkan hawa dingin yang merayap langsung ke dalam sumsum, sebuah bisikan halus yang hanya ia yang bisa dengar, sebuah pertanda dari alam semesta.

Rajendra menatap Kirana dan kemudian menggelengkan kepalanya.

"Aku hanya merasakan dingin yang menusuk saja, Kirana" ucapnya, suaranya pelan. Ia memilih tidak berkata jujur, tidak ingin membuat Kirana khawatir dengan firasat anehnya.

"Sepertinya Yang Mulia tidak enak badan. Istirahat saja agar tidak tambah parah," ucap Kirana, suaranya dipenuhi kasih sayang.

Rajendra tersenyum. Ia tahu, Kirana adalah wanita yang sangat peduli. "Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."

Rajendra melanjutkan memanggang roti dengan taburan keju paneer yang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Perjalanan Waktu: Gairah Liar Para Selir!   Membagi Wilayah

    Bhaskara menatap Rajendra dengan mata penuh tanya, tubuhnya masih sedikit gemetar. Ia telah melihat banyak hal aneh, tapi kegilaan yang disertai ancaman kehancuran dari Aditya ini terasa berbeda."Yang Mulia," ucapnya, suaranya parau. "Apa yang harus kita lakukan? Jika memang diperintahkan untuk membunuh... saya akan melakukannya."Rajendra menggelengkan kepalanya dengan tegas. Tatapannya lurus, menunjukkan tidak ada keraguan sedikit pun. "Tidak perlu, Bhaskara. Jangan lakukan itu. Kita bukan pembunuh. Jangan kotori tanganmu. Apalagi saat ini desa kita baru akan bangkit, tidak perlu ada darah kotor yang mengalir dari diri orang jahat seperti Aditya.""Tapi, dia akan menjadi masalah, Yang Mulia," balas Bhaskara, kekhawatirannya terlihat jelas. "Kata-katanya... saya tidak bisa mengabaikannya.""Aku tahu," jawab Rajendra. "Aku merasakan hal yang sama. Aku percaya firasatmu."Rajendra menatap Bhaskara, lalu melanjutkan. "Untuk saat ini, amati saja perilakunya. Jika dia mulai berteriak lag

  • Perjalanan Waktu: Gairah Liar Para Selir!   Borong Roti Untuk Raja

    Rajendra menatap tajam pria di hadapannya. Rambutnya disisir rapi, dengan seragam militer yang terawat, ia adalah salah satu prajurit kerajaan Widyaloka yang kemarin beristirahat di belakang Desa Gunung Jaran.Sambil menahan gejolak di hatinya, Rajendra tetap tenang. Ia menatap pria itu, wajahnya datar. "Apa yang membuat utusan Raja Wicaksana datang kemari, Tuanku?"Prajurit itu tersenyum sombong. Ia menatap kerumunan yang cemas di sekitarnya, lalu kembali menatap Rajendra."Saya datang atas perintah Raja Wicaksana," ucap pria itu, nadanya dingin dan penuh otoritas. "Saya diperintahkan untuk membeli roti sebanyak 1000 potong dan harus dikirimkan besok."Rajendra terkejut. 1000 potong? Ini adalah pesanan yang sangat besar. Jika ia bisa membuat 1000 potong roti, ia bisa mendapatkan uang yang banyak. Dan yang lebih penting, ia bisa mendapatkan kesempatan untuk mencari tahu tentang Ayana, istri pertamanya, yang sekarang menjadi istrii Raja Wicaksana."Saya sanggup," jawab Rajendra. "Tapi.

  • Perjalanan Waktu: Gairah Liar Para Selir!   Kesepakatan Terjalin Dengan Manadipa

    Manadipa terdiam sesaat, senyum di bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi serius seorang pebisnis ulung. Ia menyadari bahwa ia tidak berhadapan dengan pangeran lugu yang mudah dimanfaatkan. Rajendra di depannya adalah seorang pemimpin yang cerdas dan penuh perhitungan. Tidak ada gunanya lagi berbasa-basi."Yang Mulia memang cerdas," ucap Manadipa akhirnya, nadanya penuh rasa hormat. "Tidak ada yang bisa lolos dari pandangan tajam Anda.""Jadi, apa yang kamu inginkan, Juragan?" tanya Rajendra, nadanya tegas dan langsung ke inti.Manadipa menarik napas dalam, lalu ia menjelaskan rencananya. "Saya ingin sebuah wilayah, Yang Mulia. Sebuah wilayah di samping komplek kerajaan yang sedang Anda bangun. Saya akan menjadikan wilayah itu sebagai komplek bisnis."Raut wajah Ranjani dan Arwan langsung berubah. Mereka terkejut. Rencana ini... ini adalah sesuatu yang belum pernah mereka dengar. Sebuah wilayah khusus untuk bisnis?Rajendra menatap Manadipa, ia mengerti. Ini adalah ide ya

  • Perjalanan Waktu: Gairah Liar Para Selir!   Kedatangan Investor

    Perasaan aneh itu, perasaan seperti ada angin dingin yang berbeda, kembali datang. Namun, Rajendra tidak memperlihatkannya. Ia sudah mengalami ini berulang kali di masa lalu.Ini adalah firasat yang selalu benar. Firasat yang akan memberikan peringatan kepadanya. Bukan angin dingin biasa yang menyentuh kulit, melainkan hawa dingin yang merayap langsung ke dalam sumsum, sebuah bisikan halus yang hanya ia yang bisa dengar, sebuah pertanda dari alam semesta.Rajendra menatap Kirana dan kemudian menggelengkan kepalanya."Aku hanya merasakan dingin yang menusuk saja, Kirana" ucapnya, suaranya pelan. Ia memilih tidak berkata jujur, tidak ingin membuat Kirana khawatir dengan firasat anehnya."Sepertinya Yang Mulia tidak enak badan. Istirahat saja agar tidak tambah parah," ucap Kirana, suaranya dipenuhi kasih sayang.Rajendra tersenyum. Ia tahu, Kirana adalah wanita yang sangat peduli. "Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."Rajendra melanjutkan memanggang roti dengan taburan keju paneer yang

  • Perjalanan Waktu: Gairah Liar Para Selir!   Roti Keju

    Rajendra tersenyum. Sebuah senyum yang penuh kebanggaan dan kepuasan. Ia tahu, rasa keju ini akan mengejutkan mereka. "Cobalah," ucapnya, suaranya dipenuhi keyakinan. Ia memberikan sepotong keju paneer kepada Ranjani dan sepotong lagi kepada Danu.Ranjani dan Danu menerima potongan keju itu. Mereka menatapnya, lalu mereka memakannya. Mata mereka langsung berbinar. Wajah mereka dipenuhi keheranan.Mereka merasakan sensasi baru yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Rasa asin yang gurih, tekstur yang lembut namun padat, benar-benar menggugah selera mereka."Yang Mulia... ini... ini sangat enak!" seru Ranjani, suaranya dipenuhi kegembiraan. "Ini... ini tidak seperti makanan apa pun yang pernah saya makan. Ini sangat... sangat lezat."Danu mengangguk, ia tidak bisa berkata-kata. "Ini... ini luar biasa, Yang Mulia. Bagaimana... bagaimana bisa?"Rajendra tersenyum. Ia merasa, ia telah berhasil. "Aku akan mencoba mencampurnya dengan roti," ucapnya. "Jika bisa, aku akan menjual varian r

  • Perjalanan Waktu: Gairah Liar Para Selir!   Amukti Muda Yang Bergerak

    Di pusat Kerajaan Angkara, fajar baru saja menyingsing ketika Amukti Muda Giriprana terbangun dengan kepala pening dan wajah merah. Aroma arak dan keringat yang menguap dari tubuhnya mengotori udara pagi.Sepanjang hari kemarin ia habiskan untuk mabuk berat, diajak oleh seorang wanita yang tidak ia kenali namanya. Pikirannya kosong, dan ia benar-benar lupa bahwa ia seharusnya pergi ke Desa Gunung Jaran untuk mengambil upeti dari Rajendra.Tiba-tiba, sebuah suara berat terdengar dari luar rumahnya. "Amukti Muda, kenapa belum juga bergerak? Bukankah seharusnya kemarin?"Giriprana menghela napas. Itu suara Juragan Suryakusuma. Pria tua licik itu berhasil masuk ke dalam istana secara diam-diam, melewati penjagaan yang lalai.Giriprana malas-malasan berjalan ke pintu. "Ya, ya… aku mau bergerak sekarang. Kemarin, aku sibuk sekali, Paman."Suryakusuma tersenyum simpul. Ia tahu "kesibukan" Amukti Muda, tetapi ia tak peduli. Yang penting, misinya akan segera terlaksana. "Baiklah, Amukti Muda,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status