LOGINSkandal istana memaksa Lady Alize Deschanel menikah dengan musuh lama keluarganya, Duke Corentine de Mably, yang menjanjikan perceraian setelah ia membantunya membuka rahasia setengah abad lalu. Namun ketika kebenaran itu mulai terungkap dan mengancam menghancurkan salah satu keluarga mereka, Alize harus memilih—menepati janjinya untuk pergi, atau mempertaruhkan hatinya pada pria yang sejak awal tak boleh ia cintai.
View MoreAlize menatap Greta dengan tenang. “Lima menit saja.” Greta masih tampak tidak yakin. “Yang Mulia... Saya akan dimarahi Duke.” “Aku hanya ingin menghirup udara segar tanpa merasa seperti sedang menuju medan perang.” Alize mencoba bercanda, tetapi bahkan ia sendiri tahu ada sedikit kebenaran pahit di balik kalimat itu. Sejak tiba di istana, ia tidak pernah benar-benar sendirian. Dua pengawal selalu berada tidak jauh darinya. Jika ia berpindah ruangan, seseorang akan memastikan jalannya aman. Jika ia ingin berjalan-jalan, akan selalu ada yang mengawasi. Ia tahu semua itu dilakukan demi keselamatannya. Tetapi terkadang... Ia merasa seperti burung yang ditempatkan dalam sangkar emas. Sangkar itu indah dan nyaman. Namun tetap saja sebuah sangkar. Greta menghela napas panjang. Alize sudah mengenal ekspresi itu. Ekspresi seorang pelayan yang tahu dirinya akan kalah dalam perdebatan. “Baiklah,” ujar Greta akhirnya. “Tetapi hanya sebentar, Yang Mulia.” Alize terse
Ada satu hal yang Alize perhatikan sepanjang pertemuan itu. Lady Helena semakin lama semakin gelisah. Setelah ia menceritakan pengalamannya pergi berziarah, akhirnya dia berdiam diri dan tidak ikut mengomentari pengalaman ziarah yang lainnya. “Baiklah,” ujar Lady Harwick akhirnya. “Sepertinya sampai di sini dulu pertemuan kita. Saya akan mengundang Anda semua untuk pertemuan berikutnya beberapa minggu ke depan, dengan topik yang lain.” Alize merasa lega. Pertemuan itu bukan acara yang cukup menyenangkan, tapi juga tidak terlalu membosankan baginya. Para wanita mulai berdiri satu per satu sambil masih melanjutkan percakapan kecil mereka. Beberapa membahas buku yang baru saja mereka diskusikan. Beberapa lainnya masih bertukar cerita tentang pengalaman mereka di Biara Dunholm. Alize memperhatikan semuanya dengan tenang. Aneh rasanya. Sebelum datang ke pertemuan ini, ia mengira Biara Dunholm hanyalah sebuah tempat suci yang menyimpan catatan sejarah dan mungkin beberapa ra
Lady Harwick tersenyum lembut, seolah tidak menyadari nada dingin dalam ucapan Lady Helena. “Atau justru Duchess akan menjadi orang yang paling menikmati pertemuan hari ini,” ujarnya menenangkan. Beberapa wanita tertawa kecil. Suasana yang sempat menegang kembali mencair. Lady Harwick lalu merapikan beberapa lembar catatan di hadapannya sebelum membuka sebuah buku tua bersampul hijau tua. “Baiklah,” katanya. “Mari kita mulai pertemuan kita.” Seluruh perhatian tertuju kepadanya. “Seperti biasa, klub buku kita dibagi menjadi dua sesi.” Jemarinya mengetuk pelan sampul buku itu. “Sesi pertama adalah bedah bacaan. Hari ini kita membahas perjalanan para wanita bangsawan Montveraine ke tempat-tempat suci, dengan fokus pada Biara Dunholm.” Alize menerima buku yang disodorkan Greta, tetapi matanya tetap tertuju kepada Lady Harwick. “Sedangkan sesi kedua...” Lady Harwick tersenyum lebih lebar. “Adalah bagian yang paling saya sukai. Berbagi pengalaman pribadi.” Beberapa
Greta dengan cekatan merapikan lipatan terakhir gaun berwarna biru pucat yang dikenakan Alize. Jemarinya kemudian bergerak membenarkan bros kecil berbentuk bunga lili di dekat bahu sang Duchess. “Sudah selesai, Yang Mulia.” Alize menatap bayangannya di cermin. Gaun itu cukup sederhana untuk sebuah pertemuan siang, tetapi tetap pantas dikenakan oleh seorang Duchess. Rambutnya disanggul rendah dengan beberapa helai yang sengaja dibiarkan membingkai wajah. “Bagaimana menurutmu?” tanyanya pelan. Greta tersenyum. “Cantik seperti biasa.” Alize justru tertawa kecil. “Itu jawaban seorang pelayan yang terlalu setia.” Greta menunduk sopan, dan kali ini berkata dengan sungguh-sungguh. “Saya hanya mengatakan yang sebenarnya, Yang Mulia.” Dan lagi-lagi tanpa sengaja Alize membandingkannya dengan Mirelle. Mirelle terkadang sedikit lancang dan tidak segan menggodanya. Ia telah bersikap sejak mereka masih anak-anak. Senyum Alize memudar perlahan. Ia juga memikirkan keadaan
Keheningan menyelimuti ruang kerja. Alize merasa seolah udara di dalam ruangan mendadak menjadi lebih berat. “Senjata api?” ulang Corentine perlahan. Kedua pengawal itu mengangguk. “Ya, Yang Mulia.” Wajah Tyron juga tampak tertegun. Ia menoleh pada anak buahnya. Corentine berdiri tegak di
Alize menghela napas pelan. Ia sudah mengira reaksi Lady Julia akan seperti ini. “Lady Gwen ingin lebih banyak berada di rumah untuk merawat ibunya,” jawab Alize, mengulang alasan yang disampaikan Gwen. Ekspresi Lady Julia langsung berubah. “Oh.”Nada suaranya melunak. “Lady Cleremont memang sed
“Aku ingin mengundurkan diri sebagai pendampingmu, Duchess,” ujar Lady Gwen pelan. Untuk beberapa detik, Alize hanya menatap Lady Gwen. Ia mengira dirinya salah dengar. “Apa?” Alize mengerutkan kening. “Kau bercanda terlalu pagi, Lady Gwen.” Lady Gwen tersenyum kecil. “Saya tahu ini mendada
Alize terdiam dan mengerutkan kening. “Aku tidak mengerti,” ujar Alize. “Bukankah kita harus menelusuri semua yang terlihat masuk akal sebagai petunjuk?” Cedric menghela napas pelan. “Tidak. Itu tidak masuk akal.” Jawaban itu justru membuat Alize kesal. “Menurutmu seorang gadis muda yang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews