LOGINDemi menghindari pernikahan dengan seorang Viscount tua dengan dua istri yang membencinya, Sienna membuat keputusan gila, menyerahkan kesuciannya pada pria asing di rumah bordil. Rencananya sederhana, membuat pernikahannya tidak sah di mata kuil karena menikah dalam keadaan tidak perawan. Tanpa Sienna sadari ia telah menjual dirinya pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada sang Viscount.
View More“Penampilanmu membuat orang-orang tidak nyaman. Keluar jika kau tidak memiliki urusan.”
Sienna mengintip wanita di hadapannya melalui ujung jubah yang ia tarik untuk menutupi wajahnya. Wanita itu terlihat berbeda dari wanita lain yang berada di pub itu.
Jika wanita lain menggunakan gaun murahan dengan potongan dada yang rendah, wanita di hadapannya menggunakan gaun dan syal bulu hewan yang terlihat mahal.
Apa ia ada pemilik tempat ini? Sienna pernah mendengarnya dulu, jika Sienna ingin melakukan rencananya, ia harus mencari wanita yang merupakan pemilik tempat itu.
Sienna menelan ludah, merasakan kerongkongannya yang kering tercekat oleh rasa takut dan malu akan hal yang ingin ia katakan selanjutnya.
“Saya ingin… menjual diri saya.”
Kipas di tangan wanita itu berhenti bergerak.
Hening sejenak di antara mereka, kontras dengan kegilaan yang terjadi di sekeliling. Pub itu sedang berada di puncak keramaiannya.
Para ksatria yang baru pulang dari medan perang merayakan hidup mereka dengan cara yang paling purba, menenggak bir hingga mabuk dan mencari kehangatan dari wanita yang melemparkan diri mereka.
Gelak tawa yang mengganggu, suara gelas beradu, dan jeritan manja para pelayan wanita yang duduk di pangkuan para prajurit memenuhi ruangan.
Dan penguasa dari kekacauan ini adalah wanita di hadapan Sienna, Madam Irene.
Matanya menyipit menatap Sienna yang masih menunduk dalam balutan jubah tertutup, Irene tahu satu hal, gadis di depannya ini berbeda.
Postur dan cara bicaranya berbeda. Ia jelas bukan wanita dari kalangan biasa.
“Buka tudung jubahmu, aku ingin melihat wajahmu.”
Sienna tersentak, ia terlihat begitu ragu-ragu untuk menuruti perintah wanita di hadapannya.
“T… tapi…” ia berbicara dengan gagap.
“Bagaimana aku bisa tahu kau layak dijual atau tidak jika menunjukkan wajahmu saja kau tidak mau?”
Sienna menelan ludah, benar. Ia sudah membuat keputusan, ia harus menerima resikonya apapun itu.
Dengan tangan yang gemetar, Sienna menurunkan tudung jubahnya ke belakang, menunjukkan surai emasnya dan wajahnya yang terlihat begitu ketakutan.
Madam Irene menyentuh dagu Sienna dengan ujung kipasnya dan mengangkat wajah wanita itu untuk melihatnya dengan jelas.. “Kau… seorang bangsawan.”
Sienna mengalihkan tatapannya ke arah lantai begitu mendengar perkataan wanita itu.
Bangsawan. Apa keluarganya bahkan masih pantas menerima gelar itu? Saat ini, ayahnya hanyalah Baron miskin.
Tanpa harta, tanpa wilayah Baroni, karena semua telah hilang di meja judi. Yang tersisa hanyalah mansion mereka, nama yang tidak bisa dibuang begitu saja dan… hutang-hutang ayahnya.
Sienna menggigit bibirnya hingga berdarah. Hutang-hutang itu ada penyebab dirinya berada di sini.
“Pulanglah.” ucap Madam Irene sebelum membalikkan tubuhnya. “Kau akan menyesali ini.”
“TIDAK!” Sienna berteriak, untungnya, kebisingan ruangan itu menenggelamkan suaranya. Ia memegang tangan wanita itu dan menatapnya dengan memohon. “Tolong bantu saya…”
“Saya benar-benar harus… melakukan ini.” lanjutnya lagi.
Ayah Siena, Baron Borgia, telah menjadikan Sienna sebagai alat pelunas hutangnya.
Sejak lama, Sienna telah kehilangan kesempatan untuk menikahi pria dari kalangan bangsawan karena ketidakmampuan untuk membayar mahar. Dan menikah tanpa mahar dari keluarga wanita adalah penghinaan bagi keluarga bangsawan.
Para pria yang dulu menginginkannya perlahan-lahan menghilang, dan satu-satunya yang tersisa adalah… Viscount Rohan.
Seorang Viscount tua yang telah memiliki dua istri dan berniat menjadikan Sienna yang ketiga. Ia mungkin bisa menelan pil pahit itu jika kedua istrinya tidak terus mengirimkan ancaman dan terror. Bahkan hewan mati ke depan pintu rumahnya.
Jika ia benar-benar menikahi Viscount itu… Sienna yakin ia akan kehilangan nyawanya.
“Saya harus… kehilangan kesucian saya malam ini juga.”
Viscont Rohan, walau terkenal memiliki banyak simpanan, begitu terobsesi dengan kesucian seorang wanita.
Jadi menjadi kotor, adalah satu-satunya cara bagi Sienna untuk membatalkan pernikahan ini. Karena orang tuanya sama sekali tidak peduli pada apapun, selain uang.
Madam Irene manatap Sienna, apapun alasannya… wanita itu benar-benar terlihat putus asa. Ia melihat sekeliling. Menatap para ksatria yang diam-diam melirik ke arah mereka.
Para pria itu jelas telah melihat wajah cantik wanita bangsawan di hadapannya, dan mereka menginginkan wanita itu.
“Kau yang memintanya. Jika kau menyesalinya besok pagi, jangan salahkan aku.”
Madam Irene mengibaskan kipasnya sekali lagi, menutupnya dengan bunyi 'tak' yang tegas.
“Ikut aku.”
Tanpa menunggu jawaban, wanita itu berbalik dan berjalan membelah kerumunan. Sienna bergegas mengikutinya, menundukkan kepala dalam-dalam saat mereka melewati meja-meja yang penuh dengan pria mabuk.
Ia bisa merasakan tangan-tangan jahil mencoba meraih jubahnya dan siulan menggoda yang ditujukan padanya.
Sienna memejamkan mata, berdoa agar mereka tidak berhenti di sini.
Doanya terkabul. Madam Irene tidak berhenti di aula utama. Ia membawa Sienna menuju tangga kayu sempit di sudut ruangan yang remang-remang, naik menuju lantai dua di mana suara kebisingan di bawah mulai terdengar samar.
Di ujung lorong yang sunyi, Madam Irene berhenti di depan sebuah pintu kayu ek yang kokoh. Pintu itu terlihat terlalu mewah untuk tempat seperti ini.
“Seseorang membayarku untuk membawa wanita terbaik pada pria ini.” bisik Irene, suaranya tiba-tiba terdengar serius. “Dan sepertinya kau adalah yang paling tepat, jika aku memberimu pada pria di bawah, itu hanya pemborosan barang bagus.”
Madam Irene akhirnya membuka pintu itu. “Masuklah, dan pastikan kau melayaninya dengan baik.”
"....Apa?"Air mata Sienna berhenti sepenuhnya, kesedihannya menguap begitu saja digantikan oleh kebingungan atas perkataan Lucian.Lucian tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia menarik tubuh mungil Sienna ke dalam pelukan erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, menghirup aroma alami Sienna yang kini menjadi satu-satunya pegangan kewarasannya di tengah badai hasrat yang menyerangnya saat ini."Menurutmu..." bisik Lucian dengan suara serak. "kenapa aku membawamu kemari, Sienna? Kenapa aku membawamu ke kastilku?"Sienna terdiam dalam dekapan itu. Mencoba mencerna pertanyaan itu dengan logika yang ia yakini selama ini."Maksud... maksud saya..." Sienna tergagap. "Anda membeli saya dari ayah saya dengan sekantong penuh emas. Dan sebagai Duke, Anda diperbolehkan memiliki seorang 'selir' atau budak untuk menghangatkan tempat tidur. Saya pikir..."Lucian menundukkan kepalanya, menatap Sienna dengan tatapan terluka yang bercampur dengan kabut nafsu."Apa... hhh..." Lucian
Napas Lucian tersengal. Panas di tubuhnya semakin menjadi-jadi akibat sentuhan Alexandria. Obat itu berteriak padanya untuk menyerah, untuk memeluk tubuh wanita di hadapannya dan menuntaskan hasrat yang membakar dirinya dari dalam.Tapi wajah kecewa Sienna saat melihatnya tadi memenuhi kepala Lucian, mempertahankan kewarasannya."Diam..." geram Lucian rendah."Berhentilah melawannya Lucian." Alexandria mendekatkan wajahnya, hendak mencium bibir Lucian."KUBILANG DIAM!"Dengan sisa tenaga terakhir yang dikumpulkan dari amarahnya, Lucian mencengkram bahu Alexandria.BYUR!Lucian mendorong tubuh Alexandria sekuat tenaga. Wanita itu terlempar ke belakang, menghantam air dengan keras hingga kepalanya membentur sisi bak mandi marmer."Argh!" pekik Alexandria kesakitan.Lucian menyeret tubuhnya sendiri keluar dari bak mandi. Tangannya menarik jubah mandi dan menghampirkannya secara asal, pria itu berusaha mencari pegangan agar tetap berdiri..Ia harus mengejar Sienna. Sekarang.="Nona Sienn
Sementara itu, di balik pintu penghubung antara kamar tidur Lucian dan kamar Lucian, Sienna berdiri dengan gelisah. Di tangannya, ia menggenggam erat sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening. Itu adalah ramuan penawar standar yang baru saja ia racik ulang dengan panik.Ia begitu yakin pasti ada yang salah dengan ramuan yang diminum Lucian sebelumnya. Tidak mungkin Duke yang dingin dan berwibawa itu tiba-tiba berbicara manis dan melantur tentang kepercayaan akan nyawanya jika bukan karena efek samping ramuan yang berlebihan. Ia harus memberikan penawarnya sebelum Lucian mulai berhalusinasi lebih parah dan mengatakan hal aneh di hadapan para ksatria Duchy."Masuklah jika Anda ingin masuk, Nona." suara Marta mengejutkan Sienna.Sienna menoleh cepat dengan mata membulat. "Bagaimana kalau Tuan Duke marah padaku? Aku sudah memberinya ramuan aneh tadi...""Tidak akan." potong Marta dengan senyum yang hangat. "Tuan Duke sangat peduli pada Anda. Beliau tidak akan marah hanya karena hal ke
"Nona... apa Anda yakin?"Pelayan pribadi Alexandria bertanya dengan suara gemetar. Tangannya memegang lentera kecil, menerangi lorong sempit di balik dinding kastil yang biasanya hanya dilewati oleh tikus dan pelayan yang menuju kamar tuannya.Alexandria menatap pelayan itu dengan tajam, matanya berkilat di kegelapan. Gaun sutra tipisnya yang dibalut jubah tebal terasa tidak pada tempatnya di lorong berdebu dan berbau apek ini."Diam dan jalan terus.” desis Alexandria. "Kau kira kau punya hak untuk memberi pendapat?"Ucapan Alexandria Itu cukup untuk membuat sang pelayan bungkam. Mereka terus menyusuri lorong rahasia itu, jalur yang sang pelayan pelajari saat Lucian masih di medan perang atas izin Duchess sendiri.Jalur ini menghubungkan area pelayan langsung ke kamar pribadi Duke, jalur yang tidak dijaga oleh Ksatria Duchy.Alexandria meraba saku jubahnya. Botol parfum itu sudah ia buka sedikit, membiarkan aromanya menempel di kulit leher dan pergelangan tangannya. Wanginya manis, b






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.