Share

Membuat Keju

Penulis: Falisha Ashia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-27 22:23:18

Danu menelan ludah. Ia tahu, tidak ada gunanya lagi menyembunyikan kebenaran. Rajendra adalah pemimpin yang adil, tetapi juga tegas. Danu sudah datang jauh-jauh ke sini untuk mengaku, jadi ia harus menyelesaikan ini.

"Maafkan saya, Yang Mulia," ucapnya lagi, suaranya pelan. "Saya... saya lupa menyimpan susu sapi yang saya peras kemarin malam. Saya meninggalkannya begitu saja di dalam kendi, dan sekarang... sekarang susu itu sudah tidak bisa diminum lagi."

Rajendra mengerutkan dahi. "Apakah susunya bau menyengat seperti basi, atau tidak?"

Danu menggelengkan kepala. "Tidak, Yang Mulia. Susunya tidak bau. Hanya saja, sudah ada yang menggumpal. Sebagian sudah menjadi seperti air dadih."

Rajendra mengangguk, namun tidak berkata apa-apa. Pikirannya melayang. Sebagai Raka, pria dari masa depan, ia tahu persis apa yang dimaksud Danu. Susu yang menggumpal... itu adalah proses alami pembuatan keju. Sebuah ide cemerlang tiba-tiba muncul di benaknya, sebuah ide yang bisa memecahkan masalah keuang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Perjalanan Waktu: Gairah Liar Para Selir!   Kalian Akan Mati!

    Pemandangan pembangunan yang terus berpacu di depan mata Rajendra membuatnya merasa puas. Namun, ia tidak lupa bahwa setiap langkah maju harus diperhitungkan dengan matang.Surapati, yang memiliki pengalaman lebih banyak dalam urusan pemerintahan dan strategi, berjalan di sampingnya, mengamati setiap detail."Yang Mulia," ucap Surapati, nadanya serius. "Saya rasa, Anda tidak seharusnya memberikan wilayah terlalu luas kepada Manadipa. Wilayah kita ini masih sangat kecil, dan kita perlu benteng yang tebal dan kokoh, yang tentunya akan memakan banyak lahan. Jika kita terlalu bermurah hati, kita bisa menyesalinya di kemudian hari."Rajendra mengangguk, ia mengerti kekhawatiran itu. "Aku sedang menimbang dan menghitungnya, Paman. Aku akan memberikan yang terbaik untuk kedua belah pihak."Surapati menghela napas, ia menghargai jawaban Rajendra. "Sebenarnya, wilayah kita ini sangat kecil. Jadi, saya hanya mengingatkan saja, Yang Mulia. Jangan diambil hati. Saya hanya khawatir.""Tenang saja,

  • Perjalanan Waktu: Gairah Liar Para Selir!   Membagi Wilayah

    Bhaskara menatap Rajendra dengan mata penuh tanya, tubuhnya masih sedikit gemetar. Ia telah melihat banyak hal aneh, tapi kegilaan yang disertai ancaman kehancuran dari Aditya ini terasa berbeda."Yang Mulia," ucapnya, suaranya parau. "Apa yang harus kita lakukan? Jika memang diperintahkan untuk membunuh... saya akan melakukannya."Rajendra menggelengkan kepalanya dengan tegas. Tatapannya lurus, menunjukkan tidak ada keraguan sedikit pun. "Tidak perlu, Bhaskara. Jangan lakukan itu. Kita bukan pembunuh. Jangan kotori tanganmu. Apalagi saat ini desa kita baru akan bangkit, tidak perlu ada darah kotor yang mengalir dari diri orang jahat seperti Aditya.""Tapi, dia akan menjadi masalah, Yang Mulia," balas Bhaskara, kekhawatirannya terlihat jelas. "Kata-katanya... saya tidak bisa mengabaikannya.""Aku tahu," jawab Rajendra. "Aku merasakan hal yang sama. Aku percaya firasatmu."Rajendra menatap Bhaskara, lalu melanjutkan. "Untuk saat ini, amati saja perilakunya. Jika dia mulai berteriak lag

  • Perjalanan Waktu: Gairah Liar Para Selir!   Borong Roti Untuk Raja

    Rajendra menatap tajam pria di hadapannya. Rambutnya disisir rapi, dengan seragam militer yang terawat, ia adalah salah satu prajurit kerajaan Widyaloka yang kemarin beristirahat di belakang Desa Gunung Jaran.Sambil menahan gejolak di hatinya, Rajendra tetap tenang. Ia menatap pria itu, wajahnya datar. "Apa yang membuat utusan Raja Wicaksana datang kemari, Tuanku?"Prajurit itu tersenyum sombong. Ia menatap kerumunan yang cemas di sekitarnya, lalu kembali menatap Rajendra."Saya datang atas perintah Raja Wicaksana," ucap pria itu, nadanya dingin dan penuh otoritas. "Saya diperintahkan untuk membeli roti sebanyak 1000 potong dan harus dikirimkan besok."Rajendra terkejut. 1000 potong? Ini adalah pesanan yang sangat besar. Jika ia bisa membuat 1000 potong roti, ia bisa mendapatkan uang yang banyak. Dan yang lebih penting, ia bisa mendapatkan kesempatan untuk mencari tahu tentang Ayana, istri pertamanya, yang sekarang menjadi istrii Raja Wicaksana."Saya sanggup," jawab Rajendra. "Tapi.

  • Perjalanan Waktu: Gairah Liar Para Selir!   Kesepakatan Terjalin Dengan Manadipa

    Manadipa terdiam sesaat, senyum di bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi serius seorang pebisnis ulung. Ia menyadari bahwa ia tidak berhadapan dengan pangeran lugu yang mudah dimanfaatkan. Rajendra di depannya adalah seorang pemimpin yang cerdas dan penuh perhitungan. Tidak ada gunanya lagi berbasa-basi."Yang Mulia memang cerdas," ucap Manadipa akhirnya, nadanya penuh rasa hormat. "Tidak ada yang bisa lolos dari pandangan tajam Anda.""Jadi, apa yang kamu inginkan, Juragan?" tanya Rajendra, nadanya tegas dan langsung ke inti.Manadipa menarik napas dalam, lalu ia menjelaskan rencananya. "Saya ingin sebuah wilayah, Yang Mulia. Sebuah wilayah di samping komplek kerajaan yang sedang Anda bangun. Saya akan menjadikan wilayah itu sebagai komplek bisnis."Raut wajah Ranjani dan Arwan langsung berubah. Mereka terkejut. Rencana ini... ini adalah sesuatu yang belum pernah mereka dengar. Sebuah wilayah khusus untuk bisnis?Rajendra menatap Manadipa, ia mengerti. Ini adalah ide ya

  • Perjalanan Waktu: Gairah Liar Para Selir!   Kedatangan Investor

    Perasaan aneh itu, perasaan seperti ada angin dingin yang berbeda, kembali datang. Namun, Rajendra tidak memperlihatkannya. Ia sudah mengalami ini berulang kali di masa lalu.Ini adalah firasat yang selalu benar. Firasat yang akan memberikan peringatan kepadanya. Bukan angin dingin biasa yang menyentuh kulit, melainkan hawa dingin yang merayap langsung ke dalam sumsum, sebuah bisikan halus yang hanya ia yang bisa dengar, sebuah pertanda dari alam semesta.Rajendra menatap Kirana dan kemudian menggelengkan kepalanya."Aku hanya merasakan dingin yang menusuk saja, Kirana" ucapnya, suaranya pelan. Ia memilih tidak berkata jujur, tidak ingin membuat Kirana khawatir dengan firasat anehnya."Sepertinya Yang Mulia tidak enak badan. Istirahat saja agar tidak tambah parah," ucap Kirana, suaranya dipenuhi kasih sayang.Rajendra tersenyum. Ia tahu, Kirana adalah wanita yang sangat peduli. "Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."Rajendra melanjutkan memanggang roti dengan taburan keju paneer yang

  • Perjalanan Waktu: Gairah Liar Para Selir!   Roti Keju

    Rajendra tersenyum. Sebuah senyum yang penuh kebanggaan dan kepuasan. Ia tahu, rasa keju ini akan mengejutkan mereka. "Cobalah," ucapnya, suaranya dipenuhi keyakinan. Ia memberikan sepotong keju paneer kepada Ranjani dan sepotong lagi kepada Danu.Ranjani dan Danu menerima potongan keju itu. Mereka menatapnya, lalu mereka memakannya. Mata mereka langsung berbinar. Wajah mereka dipenuhi keheranan.Mereka merasakan sensasi baru yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Rasa asin yang gurih, tekstur yang lembut namun padat, benar-benar menggugah selera mereka."Yang Mulia... ini... ini sangat enak!" seru Ranjani, suaranya dipenuhi kegembiraan. "Ini... ini tidak seperti makanan apa pun yang pernah saya makan. Ini sangat... sangat lezat."Danu mengangguk, ia tidak bisa berkata-kata. "Ini... ini luar biasa, Yang Mulia. Bagaimana... bagaimana bisa?"Rajendra tersenyum. Ia merasa, ia telah berhasil. "Aku akan mencoba mencampurnya dengan roti," ucapnya. "Jika bisa, aku akan menjual varian r

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status