MasukDahulu, mahkota ada di genggamannya. Kini, yang ada hanya belenggu besi yang menggores kulit. Lysandra, Putri Mahkota yang dibunuh oleh adik tirinya sendiri, terbangun dalam tubuh seorang budak di jantung Kerajaan musuhnya—negeri yang dihantui oleh kisah kekejaman Kaisarnya. Takdir ternyata memiliki humor yang sangat pahit. Ia justru bertemu dan dibawa oleh pria yang paling ia takuti: Kaisar Xylas, sang Tiran Barat. Untuk bertahan, Lysandra harus menyembunyikan siapa dirinya yang sebenarnya, sambil perlahan meracuni pikiran sang Kaisar dengan pengaruhnya. Ketika garis antara sandiwara dan kenyataan semakin kabur, apakah balas dendamnya masih sepadan? Ataukah kebahagiaan sejati justru menunggu di sisi pria yang seharusnya menjadi musuhnya?
Lihat lebih banyakDia mencium pipi ayahnya, lalu meronta ingin turun. “Sudah, Ayah. Evangeline mau lihat adik!”Xylas menurunkannya, menggandengnya masuk ke kamar. Frederick, Arion, Delia, dan Elise mengikuti dari belakang, berdiri di ambang pintu dengan senyum bahagia.Lysandra terbaring di tempat tidur, terlihat lelah tapi berseri-seri. Di sampingnya, bayi mungil itu terbungkus kain sutra putih, tertidur pulas.Evangeline mendekat perlahan, matanya membelalak melihat adiknya. “Dia ... kecil sekali.”Lysandra tersenyum lemah. “Dia baru lahir, Sayang. Nanti dia akan besar, seperti Evangeline.”“Boleh Evangeline gendong?”“Nanti, kalau sudah agak besar. Sekarang lihat saja dulu,” kata Lysandra.Evangeline mengangguk, lalu berbisik pada adiknya, “Halo, adik. Aku kakakmu, Evangeline. Aku akan jagain kamu, ya. Aku akan ajarin kamu main pedang sama Paman Frederick, dan memanah sama Paman Arion. Pokoknya, seru
Usai dua hari menginap, rombongan Kerajaan Barat harus kembali. Evangeline berdiri di depan gerbang istana, berhadapan dengan Rian yang juga sedih.“Kau harus sering-sering ke Barat, Rian,” pinta Evangeline. “Atau aku yang ke sini lagi nanti.”Rian mengangguk. “Aku janji. Nanti kalau sudah besar, aku akan berkuda ke kerajaanmu sendiri.”“Janji kelingking!”Mereka mengaitkan kelingking, seperti lima tahun lalu.“Janji kelingking,” ulang Rian. “Kalau ingkar jadi cacing.”Mereka tertawa bersama, lalu berpelukan sebentar—canggung. Evangeline naik ke keretanya. Kereta mulai bergerak. Evangeline melambai dari jendela sampai Rian dan istana menghilang di kejauhan.“Ibu,” katanya, bersandar di pangkuan Lysandra, “Rian baik, ya.”Lysandra mengusap rambutnya. “Iya, Sayang. Dia anak yang baik.”“Aku senang punya teman sepertinya.”“Ayah dan Ibu juga senan
Evangeline berlari keluar dari kamarnya dengan gaun biru muda pilihannya. Warna favoritnya karena sama dengan warna matanya. Rambutnya yang indah dikepang dua oleh Delia, dengan pita-pita kecil berwarna perak. Di tangannya, sebuah kotak hadiah terbungkus kertas warna-warni dengan pita besar.“Ayah! Ibu! Evangeline sudah siap!” teriaknya, berlari ke ruang makan dengan semangat membara.Xylas dan Lysandra sudah duduk di meja, sarapan pagi. Mereka tersenyum melihat putri mereka yang bersemangat.“Sudah siap, Sayang?” tanya Lysandra. “Makan dulu, supaya tidak lapar di perjalanan nnanti.”Evangeline duduk di kursinya, tapi matanya terus melirik ke arah jendela, seolah-olah bisa melihat Kerajaan Selatan dari sana. “Ibu, Rian sekarang sudah sepuluh tahun! Evangeline ingat dulu waktu Evangeline masih kecil, Rian ke sini dan kami main di taman.”Lysandra tersenyum, mengenang momen itu. “Iya, Sayang. Sekarang Rian sudah bes
Setelah memastikan Evangeline tertidur pulas dengan boneka di pelukannya, Xylas dan Lysandra kembali ke kamar mereka. Bulan purnama bersinar terang, menciptakan suasana romantis.Lysandra baru saja hendak duduk di tepi tempat tidur ketika Xylas memeluknya dari belakang. Dagu Xylas bertumpu di bahunya.“Evangeline sudah besar,” bisiknya, suaranya dalam dan hangat di telinga Lysandra. “Bagaimana kalau kita memberinya seorang adik?”Lysandra tersentak, lalu tertawa pelan. Wajahnya merona merah, bahkan setelah bertahun-tahun menikah, Xylas masih bisa membuatnya tersipu seperti gadis muda.“Kau ini!” Lysandra memukul lengannya karena gemas, tapi tidak benar-benar berusaha melepaskan diri. “Baru saja Evangeline tidur, kau sudah—”Xylas tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat. Dengan gerakan cepat, dia menggendong Lysandra. Xylas mengangkatnya seperti pasangan pengantin baru dan membawanya ke tempat tidur. Lysandra men
“Kita harus atur strategi,” bisik Eisen. “Clara bisa saja sedang mengaktifkan sihir hitamnya.”Kelompok mereka berhenti di sebuah gua kecil yang tersembunyi oleh tumbuhan merambat tebal, masih dalam jarak aman tetapi sudah masuk jauh ke wilayah Utara. Udara di dalam gua terasa lembap dan berbau tan
Lysandra menatap wajah Xylas sambil tersenyum. “Sepertinya kita harus beristirahat, Yang Mulia.”Xylas mengangguk setuju. Dia mengambil posisi untuk berjaga malam, menggantikan anggota rombongan mereka. Lysandra duduk bersila di dalam gua, jauh dari yang lain, berusaha menenangkan pikirannya.Dia f
Suara Lysandra yang telah diperkuat oleh sihir putih dan keputusasaan, menerobos kuat, mendorong kabut ilusi seperti semburan sinar matahari.Xylas tersentak. Penglihatan kamar tidur yang hangat retak seperti reta dalam sekejap. Dia melihat wajah Lysandra yang sesungguhnya, pucat da
Paginya, Lysandra terbangun dengan gaun tidur. Dia meraba tempat tidur di sisinya, dan tak menemukan Xylas di sana. Saat ingatan tentang apa yang terjadi semalam, wajahnya memerah seketika.Delia dan Elise lalu mengetuk pintu kamar dan masuk tak lama kemudian. Lysandra segera mengat






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak