ВойтиDahulu, mahkota ada di genggamannya. Kini, yang ada hanya belenggu besi yang menggores kulit. Lysandra, Putri Mahkota yang dibunuh oleh adik tirinya sendiri, terbangun dalam tubuh seorang budak di jantung Kerajaan musuhnya—negeri yang dihantui oleh kisah kekejaman Kaisarnya. Takdir ternyata memiliki humor yang sangat pahit. Ia justru bertemu dan dibawa oleh pria yang paling ia takuti: Kaisar Xylas, sang Tiran Barat. Untuk bertahan, Lysandra harus menyembunyikan siapa dirinya yang sebenarnya, sambil perlahan meracuni pikiran sang Kaisar dengan pengaruhnya. Ketika garis antara sandiwara dan kenyataan semakin kabur, apakah balas dendamnya masih sepadan? Ataukah kebahagiaan sejati justru menunggu di sisi pria yang seharusnya menjadi musuhnya?
Узнайте большеLysandra terbangun dengan rasa sakit yang menusuk-nusuk seluruh tubuhnya.
Bukan sakit biasa. Rasa sakitnya seperti orang yang baru selesai dipukuli. Lysandra membuka matanya perlahan. Langit-langit yang dilihatnya bukan langit-langit kamarnya yang indah di istana. Dia melihat atap jerami yang lapuk dan penuh sarang laba-laba. Bau apa ini? Bau kotoran hewan, jerami basah, dan sesuatu yang asam. ‘Ini … di mana?’ pikirnya. Tiba-tiba, bayangan-bayangan ingatan asing memenuhi pikirannya. Itu bukan ingatannya. Namun ingatan milik gadis lain. Seorang budak perempuan muda. Rambut cokelat kusut. Setiap hari harus bekerja kerja keras, dipukuli, dan kelaparan. Masternya seorang pria kejam bernama Dorian. Semalam ... dia mati karena pukulan cambuk yang terlalu keras. Lysandra merinding. ‘Kalau begitu ... aku siapa sekarang?’ Dia meraba wajahnya, menatap tangannya yang kurus, kuku-kukunya patah dan tak terawat. Dan bekas luka gores di telapak tangannya. “Aku ... aku Lysandra. Putri Mahkota dari Kerajaan Utara. Tapi kenapa aku di sini?” bisiknya pada diri sendiri. Dia mengingat terakhir kali dia berada di istananya dan … “Rambut Cokelat! Masih pura-pura tidur?!” teriak seorang pria. Suara kasar itu membuatnya terkejut. Seorang pria gendut dengan wajah merah dan mata kecil berdiri di pintu gubuk. Dialah Dorian. Sebelum Lysandra bisa bereaksi, dia menyepak ke arah rusuknya dengan sepatu botnya. “Ahhh!” Lysandra menjerit kesakitan. “Bangun! Cepat bersihkan kandang! Kotoran kuda dan sapi sudah seperti gunung! Kalau tidak bersih sebelum siang, jangan harap ada makanan untukmu!” hardiknya. Lysandra menatap Dorian dengan napas memburu. Sebagai Putri Lysandra, tak ada yang berani memperlakukan dirinya seperti itu. Namun kini, dia hanyalah seorang budak rendahan. Dengan tangan mengepal, Lysandra mengikuti Dorian keluar. Matahari pagi menyilaukan pandangannya. Dia berhenti saat sampai di sebuah bangunan kayu panjang. Deretan kandang ternak milik Dorian. Baunya lebih menyengat di sana-sini. Kuda-kuda kurus dan sapi-sapi besar memandangnya. “Bersihkan itu dengan sekop! Pindahkan susu sapi segar ke gerobak itu! Kerjakan sekarang juga, jangan malas!” Dorian mendorongnya ke arah alat-alat tua yang hampir rusak. Lysandra mengambil sekop kayu yang kasar. Tangannya yang kecil di tubuh budak itu hampir tidak bisa menggenggamnya dengan baik. Namun dia harus bertahan. Dia harus tetap hidup. ‘Untuk membalas dendam pada adik tiriku yang membunuhku, dan untuk kembali ke istanaku,’ batinnya penuh keyakinan. Sepanjang pagi, dia bekerja keras. Mengangkat kotoran, memasukkan ember susu sapi ke gerobak, mendorong ke luar. Keringatnya bercucuran. Pakaian lusuh yang dipakainya basah dan kotor. Setiap otot di tubuhnya mulai kesakitan. Tepat saat matahari di atas kepala, Dorian kembali. “Dasar lambat. Tapi cukup untuk dapat makan siang,” katanya dengan nada mengejek. Dari sakunya, dia mengeluarkan sesuatu dan melemparkannya ke tanah dekat kaki Lysandra. Buk! Sebuah potongan roti. Kering, keras, dan berwarna gelap. Berdebu karena jatuh di tanah. Lysandra memandanginya. Roti itu bahkan tidak layak untuk anjing peliharaannya di istana dulu. “Apa? Menunggu disuapi?” Dorian tertawa jahat. “Ambil, atau aku berikan untuk babi!” Napas Lysandra memburu. Penghinaan itu sangat tidak pantas untuk seorang Putri Mahkota. Namun, dia harus tetap bertahan. Perlahan, Lysandra membungkuk. Tangannya yang kotor meraih roti itu. Dia berdiri lagi, memegangnya. Lalu, tanpa sadar, Lysandra menatap mata Dorian. Bukan tatapan takut seperti budak. Namun tatapan dingin. Tatapan seorang ratu yang akan mengingat setiap penghinaan hari itu. “Suatu saat kau akan mendapat hukuman untuk perbuatanmu,” gumam Lysandra. Dorian tersentak. Matanya berkedip. Ada sesuatu yang aneh dari budak bodohnya hari ini. “Ma... makan di luar! Lalu kerja lagi!” katanya, buru-buru pergi, seperti merasa tidak nyaman. Lysandra duduk di bangku kayu reyot di luar kandang. Dia memegang roti keras itu. Dia mengamati sekeliling. Kuda di kandang itu bisa dia jinakkan untuk melarikan diri nanti. ‘Orang itu serakah dan kejam. Mungkin nanti aku bisa memanfaatkan itu untuk keuntunganku saat ada pemeriksaan orang-orang Kerajaan ini. Tapi, apa mungkin mereka akan mengunjungi desa terpencil seperti ini?’ Dia mengangkat roti itu ke mulutnya. Giginya hampir patah saat mulai mengunyahnya. Rasanya seperti makan tanah. Namun dia tetap mengunyahnya. Lalu dia menelan roti itu. Setiap suapan roti ke mulutnya membuatnya semakin marah. ‘Tapi pertama-tama yang harus aku lakukan adalah ….’ Dia melihat ke arah Dorian yang sedang berjalan menjauh. ‘Aku harus selamat dulu di dunia kejam ini.’ Dengan gigitan pelan, Lysandra menghabiskan potongan roti terakhir itu. Dia berdiri, bersiap kembali bekerja sambil menunggu kesempatan untuk melarikan diri datang. ‘Adik tiriku, Clara. Kau kira dengan meracuniku, kau menang? Aku masih hidup. Dan aku akan kembali. Akan kuambil semua milikku, termasuk mahkota itu darimu,’ pikirnya, dengan mata menatap ke arah utara. ***Dia mencium pipi ayahnya, lalu meronta ingin turun. “Sudah, Ayah. Evangeline mau lihat adik!”Xylas menurunkannya, menggandengnya masuk ke kamar. Frederick, Arion, Delia, dan Elise mengikuti dari belakang, berdiri di ambang pintu dengan senyum bahagia.Lysandra terbaring di tempat tidur, terlihat lelah tapi berseri-seri. Di sampingnya, bayi mungil itu terbungkus kain sutra putih, tertidur pulas.Evangeline mendekat perlahan, matanya membelalak melihat adiknya. “Dia ... kecil sekali.”Lysandra tersenyum lemah. “Dia baru lahir, Sayang. Nanti dia akan besar, seperti Evangeline.”“Boleh Evangeline gendong?”“Nanti, kalau sudah agak besar. Sekarang lihat saja dulu,” kata Lysandra.Evangeline mengangguk, lalu berbisik pada adiknya, “Halo, adik. Aku kakakmu, Evangeline. Aku akan jagain kamu, ya. Aku akan ajarin kamu main pedang sama Paman Frederick, dan memanah sama Paman Arion. Pokoknya, seru
Usai dua hari menginap, rombongan Kerajaan Barat harus kembali. Evangeline berdiri di depan gerbang istana, berhadapan dengan Rian yang juga sedih.“Kau harus sering-sering ke Barat, Rian,” pinta Evangeline. “Atau aku yang ke sini lagi nanti.”Rian mengangguk. “Aku janji. Nanti kalau sudah besar, aku akan berkuda ke kerajaanmu sendiri.”“Janji kelingking!”Mereka mengaitkan kelingking, seperti lima tahun lalu.“Janji kelingking,” ulang Rian. “Kalau ingkar jadi cacing.”Mereka tertawa bersama, lalu berpelukan sebentar—canggung. Evangeline naik ke keretanya. Kereta mulai bergerak. Evangeline melambai dari jendela sampai Rian dan istana menghilang di kejauhan.“Ibu,” katanya, bersandar di pangkuan Lysandra, “Rian baik, ya.”Lysandra mengusap rambutnya. “Iya, Sayang. Dia anak yang baik.”“Aku senang punya teman sepertinya.”“Ayah dan Ibu juga senan
Evangeline berlari keluar dari kamarnya dengan gaun biru muda pilihannya. Warna favoritnya karena sama dengan warna matanya. Rambutnya yang indah dikepang dua oleh Delia, dengan pita-pita kecil berwarna perak. Di tangannya, sebuah kotak hadiah terbungkus kertas warna-warni dengan pita besar.“Ayah! Ibu! Evangeline sudah siap!” teriaknya, berlari ke ruang makan dengan semangat membara.Xylas dan Lysandra sudah duduk di meja, sarapan pagi. Mereka tersenyum melihat putri mereka yang bersemangat.“Sudah siap, Sayang?” tanya Lysandra. “Makan dulu, supaya tidak lapar di perjalanan nnanti.”Evangeline duduk di kursinya, tapi matanya terus melirik ke arah jendela, seolah-olah bisa melihat Kerajaan Selatan dari sana. “Ibu, Rian sekarang sudah sepuluh tahun! Evangeline ingat dulu waktu Evangeline masih kecil, Rian ke sini dan kami main di taman.”Lysandra tersenyum, mengenang momen itu. “Iya, Sayang. Sekarang Rian sudah bes
Setelah memastikan Evangeline tertidur pulas dengan boneka di pelukannya, Xylas dan Lysandra kembali ke kamar mereka. Bulan purnama bersinar terang, menciptakan suasana romantis.Lysandra baru saja hendak duduk di tepi tempat tidur ketika Xylas memeluknya dari belakang. Dagu Xylas bertumpu di bahunya.“Evangeline sudah besar,” bisiknya, suaranya dalam dan hangat di telinga Lysandra. “Bagaimana kalau kita memberinya seorang adik?”Lysandra tersentak, lalu tertawa pelan. Wajahnya merona merah, bahkan setelah bertahun-tahun menikah, Xylas masih bisa membuatnya tersipu seperti gadis muda.“Kau ini!” Lysandra memukul lengannya karena gemas, tapi tidak benar-benar berusaha melepaskan diri. “Baru saja Evangeline tidur, kau sudah—”Xylas tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat. Dengan gerakan cepat, dia menggendong Lysandra. Xylas mengangkatnya seperti pasangan pengantin baru dan membawanya ke tempat tidur. Lysandra men
Lysandra terkesiap. ‘Apa mungkin dia mengenalku?’ pikirnya.Namun, dia segera memutuskan untuk bersikap layaknya Lyra. Utusan Kaisar Xylas. “Saya hanya utusan Kaisar Xylas yang tertarik sejarah,” katanya, berusaha bersikap tenang.Count Ignatius menatapnya lagi. Dia me
Kata kesayanganku yang keluar dari bibir Kaisar Xylas begitu terang-terangan, membuat baik Lysandra maupun Permaisuri Seraphina terkesiap. Bukan kata yang seharusnya diucapkan seorang Kaisar pada budaknya, melainkan terdengar seperti bahasa seorang pria posesif terhadap miliknya.Pe
“Pegangan,” bisik Kaisar Xylas di telinga Lysandra.Lysandra bisa merasakan napasnya yang hangat. “Tenanglah, kau tidak akan jatuh. Aku yang memegang kendali,” katanya.Jantung Lysandra berdebar kencang, bukan hanya karena ketinggian atau gerakan kuda yang mulai berjal
Pagi itu, sinar matahari belum sepenuhnya naik saat Lysandra terbangun dari tidurnya. Samar, dia mendengar suara Kaisar Xylas berbicara dengan seseorang. Suara wanita. Lysandra membeku di sisi tirai tipis yang memisahkan kamarnya dari ruang tengah kecil tempat Kaisar biasa men






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ОтзывыБольше