LOGIN77 kali, demi menunda pernikahannya dengan Lorrene Valgard, Duke Calix Luther merancang tujuh puluh tujuh kecelakaan yang mengancam nyawa Lorrene. Semua itu ia lakukan hanya untuk menyenangkan wanita yang ia cintai. Pada kali ke-78, Lorrene memilih takdirnya sendiri. Ia menukar pernikahan dengan Kaisar Tiran sang penguasa kekaisaran.
View More“Nona Lorenne.”
Suara lembut seorang pria berjas hitam terdengar saat ia membungkuk hormat di hadapan wanita cantik yang berdiri anggun dalam balutan gaun pengantin putih. Tampilanya anggun walaupun perban yang menutupi kening dan penyangga leher yang dia gunakan nampak jelas, bukti sebelumnya dia mengalami kejadian buruk yang selalu terjadi menjelang hari pernikahannya yang sudah tertunda berkali-kali.
“Ya, Sir Essel?” jawab Lorenne pelan sambil menatapnya.
“Yang Mulia Duke meminta Anda kembali. Pernikahan… sekali lagi ditunda.”
Lorenne menghela napas dan tersenyum tipis. “Ini sudah tujuh puluh tujuh kali,” gumamnya pelan dan cukup jelas untuk didengar semua orang di dalam kuil.
“Tuan Duke mengkhawatirkan kondisi Anda, Nona. Terlebih setelah kecelakaan kereta kuda yang kemarin terjadi,” ucap Essel hati-hati.
“Begitu,” kata Lorenne tenang. “Lalu, mengapa bukan dia yang datang sendiri mengatakannya padaku?”
Essel menunduk lebih dalam. “Maaf, Nona Lorenne. Nona Roseane masih tidak stabil. Yang Mulia Duke masih menemaninya dan akan menemui Anda setelah beliau tenang.”
“Baiklah, Sir Essel. Aku mengerti dan kau boleh pergi.”
Essel berlalu. Lorenne lalu menoleh pada pelayannya.
“Anna, buang ini.”
Anna mendekat dan menatap ragu buket bunga lily putih di tangannya. “Nona… Anda yakin?”
Lorenne menghela napas. “Sudah tujuh puluh tujuh kali, Anna. Apa menurutmu aku masih menginginkannya?”
Ia melepas mahkota dan veil dari kepalanya, lalu melemparkannya sembarangan. Anna memungutnya dengan tangan gemetar.
“Mulai hari ini,” ucap Lorenne sambil melangkah pergi, “aku, Lorenne Valgard, tidak lagi menginginkan Duke Calix Luther sebagai calon suamiku.”
“Nona, tunggu! Anda hendak ke mana?” tanya Anna mengejar.
“Aku akan melakukan transaksi,” jawab Lorenne dingin. Ia keluar dari kuil dan naik ke dalam kereta kuda.
“Transaksi apa, Nona?” tanya Anna lagi penasaran.
Lorenne tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah, menatap pemandangan di luar jendela.
Tujuh puluh tujuh kali.
Demi menunda pernikahan dengan Lorenne Valgard, Duke Calix Luther telah merancang tujuh puluh tujuh kecelakaan, semuanya melibatkan nyawanya.
Kemarin adalah hari ketika Lorenne akhirnya tahu kebenaran. Bahwa semua kecelakaan yang ia kira sebagai ujian sebelum pernikahan… nyatanya adalah cara pria yang ia percaya akan menjadi suaminya itu menghancurkannya, hanya demi menenangkan hati Roseane Valgard, sepupu Lorrene yang lebih ia pilih.
Lorenne tahu kebenarannya karena ia mendengarnya sendiri.
Saat baru saja sadar dari pingsan akibat kecelakaan kereta kuda, ia mendengar bisik-bisik para pelayan dan dokter di luar ruang rawatnya. Mereka membicarakan bagaimana sang duke menyewa satu lantai perawatan mewah di Rumah Sakit Kekaisaran dan bukan untuknya, melainkan untuk Roseane Valgard, yang hanya menderita demam biasa.
Dengan tubuh masih nyeri, Lorenne menyeret dirinya keluar dari ranjang. Ia ingin melihatnya sendiri.
Jika itu benar… bukankah keterlaluan? Saat ia hampir kehilangan nyawa, Calix bahkan tidak datang menemuinya malah ia memilih menemani Roseane.
Langkah Lorenne terhenti tepat di depan ruang rawat itu.
“Cal… apakah ini tidak kelewat batas?” suara manja Roseane terdengar jelas, sementara Calix menyuapinya. “Kali ini kecelakaan kereta kuda. Kau tidak kasihan pada Lorenne?”
“Rose,” jawab Calix dengan kelembutan yang tak pernah Lorenne terima, “sekarang pikirkan saja kesehatanmu. Kau sampai demam tinggi hanya karena memikirkan aku akan menikah dengan Lorenne.”
“Maafkan aku, Cal,” ujar Roseane lirih, terdengar rapuh dan takut. “Aku sangat sedih karena Kau akan menikah dengan Lorenne, sementara aku harus menjadi istri pria kejam itu.”
Calix menenangkannya tanpa ragu.
“Kau sudah tujuh puluh tujuh kali membiarkan dia menderita. Aku jadi sedih memikirkan Lorenne yang malang,” kata Roseane.
Ucapannya terdengar penuh simpati, namun sorot matanya sarat kemenangan.
“Rose,” jawab Calix dingin, “bahkan jika itu seribu kali sekalipun, akan aku lakukan yang penting pernikahannya bisa ditunda.”
Deg.
"Aku akan memberikan kompensasi yang besar untuknya nanti dan juga pernikahan, kau tidak perlu khawatir karena apapun itu perasaanmu jauh lebih penting."
Air mata jatuh membasahi pipi Lorenne. Tanpa suara, ia berbalik dan kembali ke ruang rawatnya, menyeret tubuh yang masih terluka, membawa kebenaran yang menghancurkan segalanya. Nyatanya 77 kali bahkan 1000 kali sekalipun semua kecelakaan itu adalah ulah Calix sendiri untuk menunda pernikahan.
“Nona, keretanya berhenti.”
Suara Anna membuat Lorenne membuka mata, tersadar dari ingatan pahit yang kembali menghantuinya.
Saat turun dari kereta kuda, Kastil Valgard berdiri tegak di hadapan Lorenne. Ia melangkah masuk tanpa ragu, meski tatapan para pelayan sama sekali tidak ramah.
Di ruang keluarga, ia melihat Count dan Countess Valgard duduk berdekatan, tengah memanjakan Roseane Valgard yang masih tampak pucat dan rapuh.
“Ayah, bisakah pernikahanku dibatalkan? Aku tidak mau menikah dengan pria sekejam itu,” ujar Roseane dengan suara manja kepada ayahnya.
“Rose, sayang, tidak ada yang bisa kita lakukan. Membatalkan pernikahan sama artinya dengan mati, kecuali beliau sendiri yang membatalkannya,” jawab Countess pelan.
“Ibu, aku tidak mungkin menikah dengannya. Ibu juga tahu rumor tentang wanita terakhir itu, bukan? Dia meninggal, dan itu sudah yang kesepuluh sejak wanita pertama dikirim. Aku tidak ingin berakhir seperti mereka,” kata Roseane sambil menangis.
Count menghela napas, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Tatapannya berhenti pada Lorrene yang berdiri tak jauh dari sana.
“Lorenne! Ke mana saja kau pergi seharian?” seru sang Count begitu melihatnya berdiri ditempatnya bersama ana pelayan pribadinya
Countess mengernyit tajam. “Apa kau kembali setelah memaksa Duke menikahimu lagi?” cibirnya karena melihat Lorrene menggunakan gaun putih.
Lorenne menghela napas. Ia melangkah mendekat dan duduk tepat di hadapan ketiganya, membiarkan tiga pasang mata menatapnya tanpa berkedip.
“Lorenne, bisakah kau sedikit sopan?” tegur Countess.
“Kak Lorenne,” sela Roseane lembut, seolah paling pengertian di dunia, “kau seharusnya bersikap sopan di hadapan Ayah dan Ibu. Bagaimanapun, merekalah yang membesarkanmu setelah orang tuamu meninggal.”
Lorenne tersenyum tipis,tanpa kehangatan. “Itu memang sudah menjadi tugas mereka,” ucapnya tenang. “Dan hanya karena aku tidak bisa menjadi pewaris keluarga, semuanya jatuh ke tangan Paman. Bukankah kalian seharusnya berterimakasih?”
“Lancang!” bentak sang Count. "Kau tidak tahu diri!"
“Cukup.”
Satu kata itu membuat ruangan mendadak hening. Bibir sang Count terkatup rapat.
“Aku tidak datang untuk basa-basi,” lanjut Lorenne dingin sambil menatap lurus ke arah pamannya.
“Lalu, apa yang kau inginkan?” tanya sang Count akhirnya.
Lorenne menarik napas pelan sebelum menjawab,
“Aku akan menggantikan Roseane untuk menikah dengan Kaisar.”
Sementara itu, di sisi lain Kastil Luther, suasana yang tercipta justru berbanding terbalik dengan ketenangan malam di luar sana.Ruangan itu terang oleh cahaya lampu, memantulkan kilau dari berbagai perhiasan yang tersusun rapi di atas meja. Roseane duduk di depan cermin besar, jemarinya menyentuh satu per satu perhiasan yang baru saja ia dapatkan. Kilau emas dan permata seolah menjadi satu-satunya hal yang ia perhatikan setidaknya sampai pintu terbuka tanpa peringatan.Langkah kaki terdengar.Tegas dan tidak bersahabat.Roseane belum sempat menoleh ketika sesuatu melayang ke arahnya. Sebuah sapu tangan jatuh tepat di pangkuannya.Gerakannya terhenti.Perhiasan yang ia pegang perlahan diturunkan. Ia menatap benda itu sekilas, alisnya sedikit mengernyit, sebelum akhirnya mengangkat pandangan ke arah sosok yang kini berdiri tidak jauh darinya.Calix.Wajahnya tidak menunjukkan ketenangan sedikit pun.“Apa sebenarnya yang kau lakukan sekarang?” tanya Roseane, nadanya mulai berubah, lebi
Ia mengangkat pandangannya sedikit, memastikan Duke benar-benar memperhatikan arah yang ia tunjuk.“Hulu ledak ditempatkan di sini,” ucap Hazel pelan, namun tegas. “Bekasnya masih terlihat.”Duke tidak segera menjawab. Ia berdiri diam, menatap lantai yang tergores itu dengan sorot mata yang menyempit. Garis gesekan itu tampak sederhana, nyaris tidak berarti bagi orang lain namun baginya, itu cukup untuk membangun ulang kejadian yang telah berlalu.Ia membayangkan posisi, jarak, arah ledakan dan titik di mana Lorrene berdiri saat itu.“Jadi ini bukan ledakan dari dalam struktur,” gumamnya pelan.“Bukan,” sahut Hazel tanpa ragu. “Ini dipasang… dan dipicu dengan sengaja.”Keheningan pun jatuh dan bukan keheningan kosong. Melainkan ruang yang perlahan dipenuhi oleh pemahaman yang mulai terbentuk.Duke meluruskan tubuhnya. Tangannya terlipat di belakang punggung, sikapnya kembali tenang seperti biasa. Namun matanya terus bergerak, menelusuri setiap sudut ruangan dinding yang retak, puing y
Lorrene tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali mengarah ke hamparan cahaya di bawah sana, pada kota yang bersinar seperti lautan bintang yang jatuh ke bumi. Namun kali ini, ia tidak benar-benar melihatnya. Pikirannya bergerak ke tempat lain ke sesuatu yang lebih dekat, lebih rumit, dan lebih sulit untuk disentuh.Angin malam berhembus lagi, membawa dingin yang perlahan meresap hingga ke tulang. Ia menarik mantelnya lebih rapat, jemarinya mencengkeram ujung kain itu tanpa sadar. Hangatnya masih terasa, namun tidak cukup untuk menenangkan sesuatu yang mulai terusik di dalam dirinya.Di sampingnya, Reis tetap diam.Ia tidak menatap Lorrene, tidak pula mencoba membaca reaksinya secara terang-terangan. Namun dari caranya duduk sedikit lebih tegak, napas yang nyaris tak berubah namun terasa lebih berat jelas bahwa ia menunggu.Menunggu tanpa memaksa. Keheningan itu bertahan cukup lama dan bukan canggung. Namun juga tidak sepenuhnya nyaman.“Apa kau selalu seperti ini?” tanya Reis akhir
Perjalanan yang mereka tempuh berlangsung dalam diam yang panjang. Tidak ada percakapan, tidak ada pertanyaan, seolah keduanya sama-sama memahami bahwa kata-kata tidak diperlukan untuk saat ini. Hanya suara derap kuda yang teratur dan hembusan angin malam yang perlahan menjadi semakin dingin seiring mereka menjauh dari pusat kota.Lorrene tidak bertanya ke mana mereka akan pergi.Dan Reis tidak merasa perlu menjelaskan dan ketika akhirnya mereka tiba dan kuda itu berhenti, Lorrene menyadari bahwa tempat yang dibawanya… bukanlah tempat yang biasa.Ia turun perlahan dari punggung kuda, gaunnya menyentuh tanah dengan lembut saat ia menapak dengan hati-hati. Namun begitu ia mengangkat pandangannya langkahnya terhenti.Bukit itu membentang luas di hadapannya, cukup tinggi untuk memberikan pandangan yang tidak terhalang ke seluruh ibu kota. Dan dari tempat itu, dunia yang selama ini ia kenal… terlihat berbeda.Benar-benar berbeda.Malam telah turun sepenuhnya, menyelimuti langit dengan gela
Reis terdiam beberapa saat setelah mendengar kata-kata itu.Tangannya masih berada dalam genggaman Lorrene, sementara pandangannya tertuju pada wajah wanita itu yang tampak semakin pucat di bawah cahaya lampu minyak.Untuk beberapa detik, ia seolah tidak benar-benar memahami apa yang baru saja dide
Kamar itu tiba-tiba terasa sangat sunyi. Cahaya kecil diatas meja bergetar pelan, memantulkan cahaya redup di dinding kamar.Reis menatap Sienna tanpa berkedip.“Kalau begitu,” katanya perlahan, suaranya kini jauh lebih dalam, “apa yang sebenarnya terjadi?”Sienna menarik napas panjang sebelum menj
Untuk pertama kalinya sejak percakapan mereka dimulai, Gwen tidak langsung menjawab.Tangan yang memegang kipasnya berhenti bergerak.“Ayah baik-baik saja,” katanya akhirnya. “Wilayah Kutcher stabil. Tidak ada pemberontakan, tidak ada masalah perbatasan.”Jawaban yang rapi.Terlalu rapi.Lorenne me
Beberapa tamu yang berdiri di sisi halaman saling melirik pelan.Hubungan antara Ratu dan Marchioness Rubia memang kerap menjadi bahan bisik-bisik di kalangan bangsawan. Namun hari ini tidak ada kehangatan yang bisa dijadikan bahan cerita.Yang terlihat hanyalah formalitas yang sempurna.Rubia ters






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore