LOGIN77 kali, demi menunda pernikahannya dengan Lorrene Valgard, Duke Calix Luther merancang tujuh puluh tujuh kecelakaan yang mengancam nyawa Lorrene. Semua itu ia lakukan hanya untuk menyenangkan wanita yang ia cintai. Pada kali ke-78, Lorrene memilih takdirnya sendiri. Ia menukar pernikahan dengan Kaisar Tiran sang penguasa kekaisaran.
View More"Jangan bunuh saya!" jerit Anggini. Gadis cantik berusia 18 tahun itu tampak gemetar ketakutan saat melihat sosok pria di hadapannya berubah wujud menjadi sosok yang begitu mengerikan.
"Jangan takut,gadis manis. Sebentar lagi, aku akan membuat dirimu berguna untuk menjadi persembahanku."
"Tidak! Aku tidak mau!Lepaskan aku, aku mau pulang!" teriak Anggini.Namun pria di hadapannya itu hanya tertawa terbahak-bahak.
"Berteriaklah sekencang-kencangnya. Tidak akan ada yang mendengarkan tangisan dan jeritanmu. Tempat ini sudah terlindung oleh ajian halimunan milikku. Sehingga orang lain tidak akan dapat melihat kita sekalipun dia berdiri di depan mulut gua itu!"Anggini menangis tersedu,ia mengutuki kebodohannya sendiri. Mengapa ia begitu mudahnya tergoda bujuk rayu lelaki yang baru saja ia kenal.
"Aku mohon, lepaskanlah aku."
"Kau adalah gadis ke sembilan puluh delapan yang aku jadikan tumbal. Selama ini aku mencari 100 orang gadis yang lahir malam jumat legi dan yang masih perawan untuk aku jadikan tumbal sehingga aku akan memperoleh kehidupan yang abadi."
Anggini tersentak kaget, ia benar-benar merasa putus asa sekarang. Dan ia juga tidak melihat kemungkinan untuknya bisa kabur atau pergi dari tempat itu. Kalaupun ia bisa pergi, ia pasti akan kembali tertangkap.
Suasana hening, pria itu berjalan perlahan keluar ke mulut gua dan mendongak menatap ke langit. Selama beberapa saat pria itu tampak menunggu sesuatu. Hingga akhirnya ia menyeringai dan langsung berjalan menghampiri Anggini.
Ia mengulurkan tangannya dan menotok jalan darah Anggini sehingga gadis itu sama sekali tidak bisa bergerak bahkan bicara.
"Tenanglah sayang, sebentar lagi kau akan menjerit merasakan indahnya bercinta di bawah sinar bulan purnama sebelum kau menemui kematianmu."
Anggini hanya dapat menjeri dalam hati ketika tubuhnya dibawa keluar gua itu lalu di letakkan di atas sebuah batu besat yang ada di luar gua.
Perlahan, lelaki itu membaringkan tubuh Anggini di atas batu itu lalu mengikat kedua tangannya ke pohon yang ada di kanan dan kirinya. Kemudian, dengan kasar pria itu merobek pakaian Anggini sehingga dalam sekali sentak gadis itu sudah dalam keadaan tubuh polos tidak mengenakan apapun lagi.
Lalu pria itu kembali mengulurkan tangan dan melepaskan totokan di tubuh Anggini. Anggini menjerit seketika meminta pertolongan sekalipun ia merasa bahwa apa yang ia lakukan itu sia-sia,namun ia tidak peduli. Sementara pria itu duduk bersila di samping tubuh Anggini. Dengan mata terpejam pria itu mulai merapal mantra.
Dan tepat saat cahaya bulan purnama bersinar penuh,pria itu membuka matanya. Tanpa ragu ia langsung membuka pakaiannya dan menyetubuhi Anggini. Gadis itu memekik kesakitan dan terus menjerit, namun semakin lama jeritannya semakin tak terdengar. Dan setelah selesai menuntaskan hasratnya pria itu menggigit leher Anggini dan mengisap darah Anggini hinga benar-benar kering tak bersisa.
Anehnya, setelah tubuh di hadapannya itu kehabisan darah,wajah pria yang tadinya tampak menyeramkan itu berubah seketika menjadi seorang pemuda yang tampan.
"Hanya tinggal dua lagi, dan aku akan mendapatkan keabadian. Seorang Fajar Kelana tidak akan pernah mati,hahaha!"
***
"Ini adalah gadis ke delapan yang kita temukan dalam kondisi tidak bernyawa lagi,paduka yang mulia," ujar Patih Benggala kepada Prabu Bratanaya.
"Apakah telik sandi yang kalian kirim sudah kembali dari Majapahit?" tanya Prabu Bratanaya.
"Ampun,paduka yang mulia. Telik sandi yang dikirimkan oleh senopati Sangkar sudah kembali kemarin. Dan menurut keterangan yang didapat, bukan hanya di wilayah kerajaan kita saja tetapi di beberapa wilayah kerajaan-kerajaan kecil ditemukan gadis-gadis yang masih muda dalam kondisi tidak bernyawa dan darah mereka seperti diisap habis," jawab Patih Benggala.
Prabu Bratanaya menghela napas panjang. Ia tidak dapat membiarkan semua ini terjadi begitu saja di kerajaannya.
"Satu hal lagi,yang mulia. Semua gadis itu lahir di malam jumat legi dan masih perawan," tukas senopati Sangkar menambahkan informasi
Prabu Bratanaya tersentak kaget. Bagaimana tidak,Putri bungsunya Gayatri lahir di malam jumat legi. Bukan tidak mungkin jika putrinya yang akan menjadi korban selanjutnya.
"Periksa apakah ada penduduk di kerajaan kita yang lahir di malam jumat legi. Jika ada, lindungi gadis itu dan keluarganya. Bawa ke istana supaya dapat kita lindungi!" titah Prabu Bratanaya.
"Baik,paduka yang mulia. Kami akan melaksanakan titah paduka."
"Perketat penjagaan di kaputren tempat tinggal putri Gayatri. Dan kirim utusan ke padepokan segara geni untuk meminta raden Kamandraka menghadapku!"
Di tempat lain, seorang pemuda berwajah tampan bertubuh tinggi dengan rambut sedikit ikal tengah bersemedi di sebuah gua di kaki gunung Ciremai. Anehnya,pemuda itu duduk tidak menyentuh tanah. Berkat ilmu kanuragan dan tenaga dalam yang tinggi pemuda itu melayang setengah depa di atas tanah.
Tiba-tiba seorang lelaki tua dengan jenggot putih memasuki gua dan menatap pemuda itu.
"Raden Kamandraka, bangunlah. Ada sesuatu yang harus kau kerjakan untuk menghentikan angkara murka," ujarnya. Seketika mata pemuda itu terbuka dan tubuhnya pun turun ke atas tanah. Pemuda itu langsung bangkit berdiri dan memberi hormat.
"Ampun guru, apakah yang harus murid lakukan? Apakah semediku telah selesai?" tanya pemuda yang bernama Kamandraka itu.
"Utusan dari kerajaan Kahuripan sedang menuju ke padepokan. Kau harus segera kembali dan melindungi kerajaan khususnya calon istrimu Gayatri dari marabahaya."
Kamandraka mengerutkan dahinya dan menatap gurunya itu dengan penuh tanda tanya. Namun, pemuda itu sungkan untuk bertanya lebih lanjut.Ia sangat percaya pada perkataan gurunya itu.
Mereka berdua pun segera kembali ke padepokan untuk menyambut utusan kerajaan.
Tepat saat keduanya tiba di padepokan seorang prajurit kerajaan Kahuripan baru saja turun dari kudanya dan ia langsung bergegas memberikan salam.
"Ampun yang mulia Raden Kamandraka, Raden dipanggil menghadap oleh paduka Baginda Prabu Bratanaya."
"Ada apakah gerangan sehingga yang mulia Prabu Bratanaya memanggilku?" tanya Kamandraka dengan tenang.
"Gusti Prabu hanya mengatakan bahwa ini berkaitan dengan keselamatan gusti ayu yang mulia putri Gayatri."
Empu Supa Mandrageni menatap Kamandraka.
"Musuh yang akan kau hadapi bukanlah musuh sembarangan. Ia adalah titisan iblis yang berusaha untuk hidup abadi. Kau harus mencegahnya untuk mendapatkan tumbal gadis perawan yang ke seratus. Dan gadis itu adalah calon istrimu Gayatri."
Sontak Kamandraka tercengang,"Guru, apa yang harus aku lakukan untuk mengalahkannya? Mohon berikan petunjukmu,guru," kata Kamandraka. Empu Supa tersenyum, "Ajian braja musti dan waringin sungsang milikmu sudah lebih dari cukup untuk mengalahkannya. Ingat satu hal yang ia cari adalah tumbal gadis perawan yang lahir di malam jumat legi. Jika ia gagal untuk mendapatkan tumbal yang terakhir maka ia akan dapat kau kalahkan dengan mudah."
Musik iring-iringan masih mengalun, lembut namun menekan, seperti jantung yang dipaksa berdetak tenang di tengah kegelisahan. Biola dan lonceng kecil berpadu, namun tak satu pun mampu menutupi keheningan aneh yang menggantung di antara dua sosok di tengah halaman kastil itu.Semua mata tertuju pada mereka.Lorenne berdiri diam, veil putih menutupi wajahnya, sementara Kaisar Reis Czar de Zoltan berdiri di hadapannya dengan tangan terulur tetap, tegas, dan tak tergoyahkan. Tatapannya terkunci pada Lorenne, seolah dunia di sekeliling mereka lenyap begitu saja.Bisik-bisik mulai muncul di antara para bangsawan. Tidak ada yang berani berbicara keras, namun rasa ingin tahu mereka berdenyut liar. Mereka tahu ada sesuatu yang baru saja terjadi. Sesuatu yang tidak tercantum dalam tata upacara.Di balik veil, Lorenne menarik napas dalam-dalam.Dadanya terasa sesak, bukan karena ragu, melainkan karena kesadaran yang akhirnya utuh. Tidak ada lagi jalan mundur. Tidak ada lagi tempat untuk berharap
Tanpa terasa, hari yang selama ini terasa jauh akhirnya tiba juga.Hari pernikahan.Pagi itu, langit cerah tanpa awan terlalu cerah, seolah mengejek segala luka yang tersembunyi di balik senyum dan gaun putih. Di sebuah ruangan besar Kastil Valgard, Lorenne dan Roseane berdiri berdampingan, sama-sama mengenakan gaun pengantin.Gaun Roseane adalah pilihan Lorenne. Lembut, anggun, penuh detail yang menonjolkan kecantikan adiknya. Sedangkan gaun Lorenne gaun yang kini membungkus tubuhnya dipilih oleh Roseane. Indah, sempurna, namun terasa asing di kulitnya, seolah bukan miliknya.Di tangan mereka, buket bunga yang berbeda. Buket Roseane cerah dan lembut. Sementara buket milik Lorenne ditentukan oleh istana: mawar merah tua. Merah pekat, hampir kehitaman. Merah seperti darah yang mengering.Mereka saling menatap.Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.“Kau benar-benar bodoh,” kata Roseane akhirnya, suaranya rendah namun jelas. “Melepaskan Duke dan memilih menikah dengan tiran.”Lorenne m
Hari-hari berlalu tanpa suara.Lorenne menghabiskannya di kamar peninggalan ibunya, ruang yang selalu ia anggap sebagai satu-satunya tempat aman. Ia membuka peti kayu tua, mengeluarkan perhiasan lama, surat-surat yang mulai menguning, dan beberapa dokumen penting yang selama ini tersimpan rapi. Jarinya bergerak pelan, nyaris penuh kehati-hatian, seolah benda-benda itu bisa hancur bila disentuh terlalu kasar.Ia menata semuanya kembali, satu per satu. Bukan karena rapi, melainkan karena ia ingin menunda waktu. Menunda kenyataan bahwa hidupnya telah diputuskan orang lain.Setelah selesai, Lorenne merasa dadanya semakin sempit. Ia membutuhkan udara. Ia perlu keluar, berjalan tanpa tujuan, sekadar menjauh dari dinding-dinding yang kini terasa asing.Ia menuruni tangga batu kastil dengan langkah perlahan.“Kak Lorenne.”Langkahnya terhenti.Roseane berdiri di halaman, mengenakan mantel putih tebal. Wajahnya pucat, seperti seseorang yang menahan kegelisahan terlalu lama. Sebuah kereta kuda
“Dibatalkan?” ulangnya pelan. Nada suaranya turun, tak percaya. “Apa kau bercanda?”Calix tertawa kecil, suara yang dipaksakan, seperti seseorang yang berusaha menertawakan mimpi buruk agar terasa tidak nyata.“Lorenne, jangan berkata hal seperti itu. Kita sudah sejauh ini.”Sejauh ini? Lorenne menelan pahit. Sejauh Lorrene hampir mati tujuh puluh tujuh kali.Keheningan kembali jatuh. Count, Countess, dan Roseane saling bertukar pandang dengan canggung karena jelas ini bukan percakapan yang seharusnya mereka dengar.“Kurasa,” ujar Count Valgard akhirnya, suaranya berat, “lebih baik urusan ini kalian bicarakan berdua. Kami akan masuk lebih dulu.”Countess mengangguk cepat, seolah ingin segera menghilang dari ketegangan itu.Roseane melangkah mendekat, senyumnya terukir rapi namun kosong. “Jangan bertengkar,” katanya lembut. “Tidak baik. Kalian kan pasangan.” Ia lalu berbalik pergi, senyuman itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya. Bukan senyum tulus.Begitu mereka pergi, halaman t






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.