LOGIN:-)
Malam itu, aula hotel bintang lima di pusat Jakarta bermandikan cahaya kristal yang megah.Luis Hartadi melangkah masuk dengan wibawa yang tak tertandingi, namun kali ini sorot matanya tidak tertuju pada jajaran kolega bisnis yang menantinya. Karena seluruh atensinya terpusat pada wanita yang melingkarkan tangan di lengannya.Shakira, istrinya.Shakira tampil memukau dalam balutan dress satin berwarna emerald yang jatuh sempurna membungkus tubuhnya. Rambutnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya yang kini tampak jauh lebih segar dan bercahaya.Kehadiran mereka berdua seketika menjadi magnet perhatian. Luis, sang penguasa Hartadi Group yang kini lebih hangat, bersanding dengan Shakira yang keanggunannya kian matang setelah kelahiran putri kedua mereka."Kamu cantik malam ini, Ra," bisik Luis, mengabaikan beberapa pasang mata yang mulai berbisik di sekitar mereka.Shakira tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan kebahagiaan."Makasih, Den Mas
Luis berdiri terpaku di depan jendela besar ruang kerjanya, menatap lurus ke arah taman belakang tanpa benar-benar melihat apa pun.Pikirannya masih tertinggal pada percakapan singkat namun padat dengan David. Baru saja mereka turun dari pesawat setelah perjalanan bisnis dari Singapura.Penolakan David satu bulan lalu masih teringat di pikirannya jika ia lebih mementingkan istrinya. Tapi keputusannya baru saja cukup mengejutkan.Luis tidak pernah ikut campur dalam urusan David. Tapi sebagai tangan kanan yang sangat setia, Luis tidak mau David kekurangan satu kebutuhan apapun agar tetap berdiri tegak di sampingnya. Selama bertahun-tahun, David adalah bayangan yang tak pernah mengeluh. Namun kali ini, nada bicaranya di telfon menyimpan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keengganan untuk bertugas.Keputusasaan dan ... kehancuran.Pintu ruang kerja terbuka pelan. Shakira melangkah masuk dengan langkah anggun, membawa secangkir teh hangat yang aromanya segera mengisi ruangan. Ia melihat
Sore itu, sinar matahari keemasan menerobos masuk melalui jendela besar ruang keluarga, menyinari karpet bulu tempat Luis sedang berlutut. Di hadapannya, Laura yang kini sudah menginjak usia satu tahun lebih, sedang berusaha payah menegakkan kaki mungilnya sambil berpegangan pada jemari telunjuk Luis."Ayo, Sayang ... dikit lagi. Anak Ayah pasti bisa," bisik Luis dengan suara lembut yang dulu mustahil terdengar dari mulutnya.Setahun ini, Luis benar-benar bertransformasi. Tajamnya insting bisnis Hartadi Group tetap ia genggam, namun hatinya sepenuhnya milik Shakira dan anak-anak.Kerajaan bisnisnya berjalan sebagaimana mestinya, sementara ia sendiri lebih memilih pulang sebelum matahari terbenam demi melihat perkembangan motorik putri kecilnya.Tepat saat Laura berhasil berdiri tegak selama beberapa detik sebelum kembali terduduk sambil tertawa, seorang asisten rumah tangga muncul di ambang pintu."Permisi, Den Mas. Ada Pak Akhtara Ubaid ada di ruang tamu. Beliau ingin bertemu Den Mas
Pagi itu menjadi hari yang paling mendebarkan untuk Luis. Hampir satu tahun lamanya, dia tidak menginjakkan kaki di gedung tempat ia dulu memberi makan ambisinya hingga ke akar-akar.Dia belum berangkat. Udara di dalam kamar masih tenang, namun ada sesuatu yang membuatnya kikuk untuk kembali.Luis berdiri tegap di depan cermin, mengenakan setelan jas formal yang sudah lama tidak ia pakai. Tergantung rapi sejak satu tahun lalu dan kini, jas itu kembali melekat sempurna di tubuhnya, seolah kemarin Luis hanya sedang liburan.Pantulan tatapannya ketika menatap sesuatu tetap tajam, namun sekarang lebih tenang dan terarah. Kilat ambisi di matanya tidak lagi sesombong dulu.Kemudian Shakira mendekat sambil membawa dasi hitam di tangan. Lalu berdiri tepat di hadapan Luis."Nunduk dikit, Den Mas," ucapnya lembut.Luis menurut sambil tersenyum tipis. Ini pertama kalinya, sebagai istri, Shakira menjalankan fungsinya sebagai pemasang dasi untuk suaminya.Jemari Shakira dengan telaten merapikan ker
Shakira tidak langsung menjawab.Ia hanya menatap Luis beberapa detik, membaca keseriusan di mata pria itu. Bukan lagi sekadar ambisi … tapi juga ketakutan andai Luis kehilangan keseimbangan yang baru saja mereka bangun.Dia baru saja menemukan ritme membagi kehidupan untuk keluarga dan pekerjaan, ternyata bukan hal yang mudah. Membuatnya teringat akan Belliza, putri pertama Shakira dengan Devano, yang telah tiada karena Luis dulu kerap memaksa Shakira bekerja hingga lembur berhari-hari demi mengalahkan Ben Danardjanto.Nama yang sudah lama tak pernah diucapkan… tapi selalu ada. Kemudian Luis meraih tangan Shakira dan digenggam erat.“Ra, aku, Luis Hartadi, ingin meminta maaf secara pribadi … tentang Belliza.”Shakira terkejut ketika Luis mendadak membicarakan hal itu. Membuat memori sedihnya kembali terbuka."Kamu tahu kenapa aku nggak pernah bahas Belliza lagi, Den Mas?"Luis tetap menunduk sambil menggenggam tangan Shakira. Sedang Shakira tersenyum tipis, namun matanya mulai berkaca
Luis tersenyum melihat ranjang baru di kamar mereka yang kini diperlebar. Bukan lagi hanya untuk tiga orang, melainkan cukup untuk empat orang. Lengkap dengan pembatas lembut di sisi bayi.Setelah kelahiran Laura, Luis menghubungi kepala asisten di rumah agar mengganti kasur yang ada di kamar Luis. Sesuai dengan keinginannya.Dan tanpa persetujuan Shakira, karena Luis yang terbiasa dominan, langsung mengubahnya tanpa persetujuan."Aku mau kita tidurnya barengan," jawab Luis santai.Shakira mengerjapkan mata."Jadi …""Kita tidur berempat, Sayang."Shakira tidak bisa menahan senyumnya."Ruis juga?"“Iya. Nanti kalau Ruis sama Laura udah tidur, kita bisa pindah ke kamar sebelah. Bikin adik lagi buat Ruis.”Shakira segera mencubit perut Luis hingga suaminya itu sedikit mengaduh dan terkekeh.“Aku habis operasi kecelakaan loh, Yang.”“Habisnya usil. Nifas aja belom kelar. Udah mikir anak lagi.”Lalu suara langkah kecil terdengar dari belakang."Bunda, adik nangis. Kata nenek minta minum su
Siang itu, ruang keluarga di kediaman Paralio terasa tenang.Ruis yang kini kian aktif dengan langkah-langkah kecilnya yang mantap, sedang asyik bermain dengan balok kayu di atas karpet. Layar televisi besar yang baru saja menampilkan kartun, kini berubah sedang menyiarkan headline berita bisnis sia
Di ruangan kantor yang bernuansa maskulin dengan aroma kayu cendana yang menenangkan, Paralio Kian Mahardika, Ayah Shakira, duduk di balik meja kerja jati besarnya.Di hadapannya, sebuah undangan mewah dengan lapisan kertas bertekstur mahal dan tulisan tinta emas berkilauan baru saja diletakkan oleh
Halaman luas kediaman Luis Hartadi yang biasanya sunyi kini berubah menjadi pameran mobil mewah.Deretan SUV kelas atas terparkir rapi. Lampu-lampu taman dinyalakan semua, membuat rumah megah itu tampak seperti istana yang sedang merayakan kemenangan.Shakira tidak bodoh. Ia tahu jika ia masuk lewat
"Mempermalukanmu?" Shakira tertawa getir, suaranya parau namun tajam. “Kamu bilang kamu berusaha adil? Kamu bilang ini strategi? Tapi kamu membohongiku!”Telunjuk Shakira mengarah tepat ke dada Luis dengan sedikit sentakan hingga terasa seperti ditusuk benda tumpul.“Kamu nyuruh aku berlama-lama di







