Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku

Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku

By:  Xiao LINUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
Not enough ratings
50Chapters
9views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aveline Winata terlahir dalam keluarga terpelajar. Kedua orang tuanya adalah profesor ternama. Di mata orang tua dan kerabatnya, dia adalah anak yang patuh. Sejak kecil hingga dewasa, dia hampir tidak pernah menentang keinginan orang tuanya. Ketika orang tuanya menjodohkannya, dia pun menerimanya dengan patuh. Sampai suatu hari, saat dia mabuk, dia tidak sengaja dibawa ke ranjang kakak sahabatnya oleh sahabatnya sendiri, dan hidupnya pun berubah drastis .... Setelah malam yang gila itu, Aveline terbangun dan mendapati dirinya berbaring satu ranjang bersama kakak sahabatnya. Dia benar-benar tercengang. Takut diminta bertanggung jawab, dia segera melarikan diri. Namun tak disangka, pria itu bukan hanya kakak sahabatnya, melainkan juga bos di kantornya. Keesokan hari, dia dipanggil ke kantor bosnya. Dengan wajah tampannya yang membuat terlena, pria itu tersenyum padanya. "Nona Aveline, naik ke ranjangku lalu kabur begitu saja. Nyalimu besar juga." Dia hanya ingin menganggap kejadian ini sebagai kecelakaan belaka, tanpa perlu ada yang bertanggung jawab, tanpa perlu diperpanjang lagi. Namun, pria itu tidak mengizinkannya. Pada suatu malam yang larut di dalam kamar, pria itu menekan tubuhnya, bibir tipis menyapu dan menggigit telinganya. "Sekali lagi, ya?" "Tenang saja, aku nggak akan memberi tahu tunanganmu." Dari terbuai sesaat, dia berulang kali membiarkan pria itu mendapatkan keinginannya, hingga akhirnya tidak bisa lagi melepaskan diri darinya .... Marcell Hadinata, putra mahkota dari keluarga terkaya, yang terkenal berlidah tajam tanpa kenal ampun. Dulunya, dia bersih dari segala hasrat. Namun, insiden tak terduga membawanya ke dalam malam yang panas bersama sahabat adiknya, dan sejak saat itu tidak bisa berhenti. Adiknya mengatakan bahwa wanita itu sudah punya tunangan, dan mengingatkannya agar jangan berkhayal. Dia mencibir, "Memangnya kenapa kalau sudah punya tunangan? Biar kurebut dia."

View More

Chapter 1

Bab 1

Larut malam.

Di dalam kamar yang luas.

Di atas tempat tidur, selimut berantakan dan dua tubuh saling berpelukan dengan gairah liar.

Aveline Winata terisak, tangannya tanpa sadar mencengkeram tubuh pria itu. Seluruh tubuhnya lemas dan benar-benar tidak bisa dikendalikan.

Pria yang berada di atasnya itu begitu kekar dan bertenaga.

Otot-ototnya menegang, dengan kekuatan yang meledak-ledak.

Dia benar-benar tidak berdaya mengimbanginya.

"Kumohon, jangan ..."

Permohonan gadis itu lembut dengan nada isak tangis, seperti anak kucing yang mengulurkan cakar kecil, menggetarkan hati pria itu.

Jari-jari panjang dan kuat pria itu menekan pinggang rampingnya, mengendalikannya dengan erat.

Dia membungkuk, bibir tipisnya menempel pada wajah yang merah merona. Suaranya serak rendah, membawa keintiman dengan nuansa rasa puas.

"Jangan apa?"

Bulu mata Aveline basah, matanya berkilau, memancarkan permohonannya.

"Jangan begini, berhenti ...."

Pria itu tertawa pelan. "Baru menyesal sekarang? Apa nggak terlambat?"

"Ssst, sebentar lagi, kamu pasti menikmatinya ...."

Tanpa menunggu jawaban Aveline, pria itu mendesak pertahanannya dan meraih puncak kenikmatan tertinggi.

Pada akhirnya, Aveline terdorong mundur dan kalah tak berdaya.

Awalnya, dia mengira ini hanya mimpi.

Dia baru menyadari itu nyata ketika semua hal yang seharusnya tidak terjadi benar-benar terjadi.

Saat dia dibawa mencapai puncak, matanya menjadi sayu, dan dia samar-samar mengingat apa yang terjadi sebelumnya.

Malam ini hari ulang tahun sahabatnya, Cecilia Hadinata.

Dia diundang ke pesta ulang tahun Cecilia.

Di pesta, dia minum beberapa gelas alkohol hingga mabuk.

Cecilia tidak tenang membiarkannya pulang sendirian, jadi dia bermaksud menyuruhnya menginap di kamar tamu rumahnya.

Namun, Cecilia juga mabuk. Siapa sangka, niat baik berujung kacau. Dia keliru mengantar Aveline ke kamar kakak laki-lakinya.

Akibatnya, terjadilah hal yang tidak seharusnya terjadi.

...

Fajar mulai menyingsing.

Aveline terbangun dari tempat tidur dengan kepala masih setengah sadar. Seluruh tubuhnya pegal dan lemas tanpa daya.

Ada sesuatu yang berat menekan pinggangnya.

Saat menunduk, barulah dia menyadari bahwa itu lengan seorang pria.

Aveline terkejut dan sontak menoleh. Seketika itu juga, wajah yang tampan menakjubkan terpampang dalam pandangannya.

Pria itu memiliki wajah dengan garis-garis dan lekuk yang tajam.

Tulang matanya dalam, hidungnya mancung, dan garis rahangnya tegas.

Penampilannya saat terlelap bagaikan sesosok malaikat yang mulia dan sulit dijangkau, tanpa hawa mengancam sama sekali.

Namun, mengingat tingkah keterlaluan pria itu tadi malam, dia tak ubahnya sesosok iblis.

Napas Aveline sedikit tersentak.

Dia mengenali pria ini.

Bahkan, dia pernah bertemu dengannya beberapa kali.

Karena pria ini adalah Marcell Hadinata, kakak dari Cecilia sahabatnya, sekaligus bos perusahaan tempat dia bekerja saat ini!

Meski begitu, dia hampir tidak pernah berinteraksi jarak dekat dengan pria ini.

Dia sungguh tidak menyangka akan ada hari dia berbaring satu ranjang dengannya ....

Bukankah Cecilia tadi malam mengantarkannya ke kamar tamu?

Kenapa ... dia bisa di tempat tidur kakaknya?

Mungkinkah, dia terbangun di tengah malam dan tidak sengaja masuk ke kamar Marcell?

Pikiran Aveline kacau berantakan. Mengingat situasi yang telah terjadi, dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain lagi. Dia hanya ingin cepat-cepat melarikan diri.

Jika ketahuan Cecilia bahwa dia entah bagaimana tidur dengan kakaknya, betapa canggung pertemuan mereka di masa depan.

Dengan hati-hati, dia menggeser lengan Marcell yang melingkari pinggangnya, lalu turun perlahan dari tempat tidur.

Begitu menjejak lantai, kakinya lemas dan hampir terjatuh.

Sakit!

Semalam, entah berapa lama dia dibombardir pria itu. Kakinya serasa akan remuk.

Sambil menggertakkan gigi, dia melirik sekeliling.

Tidak jauh dari situ, pakaian miliknya dan pria itu berserakan di lantai.

Terutama pakaian dalamnya, yang bersanding dengan celana boxer abu-abu pria itu ....

Aveline merasa pipinya membara. Dia buru-buru memungut pakaiannya yang berserakan dan mengenakannya satu per satu.

Kemudian, dia menoleh dengan hati-hati pada pria di tempat tidur.

Belum bangun.

Dia sedikit lega, lalu pergi dengan langkah berjingkat.

...

Marcell tidur sangat nyenyak.

Alasan utamanya karena tadi malam telah menghabiskan terlalu banyak tenaga.

Saat terbangun, matahari sudah tinggi di langit.

Bangun dari tidurnya, dia secara naluriah mengulurkan tangan dengan gerakan memeluk.

Namun, tidak ada siapa-siapa.

Dia perlahan membuka mata. Sekilas pandang, wanita bertubuh lembut yang tadi berada dalam pelukannya itu sudah lenyap tak berjejak.

Wanita itu melemparkan diri padanya, menguras tenaganya, lalu kabur begitu saja?

Dia perlahan bangkit. Di atas tempat tidur, selimut berantakan. Pakaian miliknya berserakan di lantai, sedangkan barang-barang milik wanita itu tidak tampak di mana pun.

Andai saja tidak ada aroma kacau setelah bercinta yang menguar di udara, dia hampir mengira bahwa semua yang terjadi tadi malam hanyalah mimpi belaka.

Marcell mengusap pelipisnya, dan semua kenangan semalam kembali membanjiri pikirannya.

Sekitar pukul sepuluh tadi malam, dia pulang ke rumah setelah menghadiri acara makan malam bisnis dan langsung masuk ke kamar tidur.

Setelah mandi sebentar, dia berbaring di tempat tidur dan tertidur.

Tak disangka, setelah beberapa saat tertidur, dia mendapati ada seorang wanita di tempat tidurnya.

Wanita itu melingkarkan kedua tangan dan kaki padanya, meraba dan meremas tubuhnya.

Tubuh wanita itu sangat lembut dan lentur, memeluknya sangat erat, menggoda nafsunya.

Dia baru minum anggur, apalagi dengan gelora darah mudanya, dia tidak bisa mengendalikan diri dan tidur dengan wanita itu.

Akan tetapi, setelah dipikir-pikir lagi, kenapa bisa ada wanita di tempat tidurnya?

Tepat pada saat itu, pintu kamarnya diketuk dengan keras.

"Kak?!"

"Kakak, kamu sudah bangun?"

Dari suaranya, itu adalah adik perempuannya yang bertampang "diam-diam menghanyutkan", Cecilia.

Suara Marcell terdengar lebih serak dan berat, layaknya suara pria yang baru melakukan sesuatu.

"Ada apa?"

Cecilia di luar pintu bertanya, "Kak, temanku kuajak menginap di sini tadi malam. Tapi, barusan kucari nggak ada. Kamu lihat dia nggak?"

Setelah mendengar itu, Marcell segera bangun dan mencari pakaian bersih untuk dikenakan, lalu berjalan ke pintu dan membukanya.

Cecilia berdiri di depan pintu, menatapnya dengan mata penuh harap.

Mata Marcell menatapnya lekat, suaranya terdengar sedikit berat. "Kamu tadi malam mengajak temanmu menginap di sini?"

Cecilia mengangguk. "Ya."

"Kemarin kan ulang tahunku, aku ketemuan dengan teman-teman. Ada satu teman yang mabuk. Dia biasanya suka sendirian, aku khawatir dia kena apa-apa kalau pulang sendirian, jadi kuajak menginap saja di salah satu kamar."

Mata gelap Marcell memicing tajam penuh bahaya. "Kamar mana?"

Cecilia menjawab, "Kamar tamu sebelah kamarmu!"

"Tapi aneh. Tadi aku cek, selimut dan bantal di kamar itu masih dilipat rapi. Nggak ada bau apa-apa, seperti nggak pernah ditiduri."

Marcell mengerutkan kening. "Kamu yakin ... kamu bawa dia ke kamar tamu sebelah kamarku?"

Cecilia mengangguk. "Iya."

"Aku juga agak mabuk, tapi kan nggak mungkin sampai nggak tahu kamar tamu rumahku sendiri ada di mana?"

"..."

Mendengar nada Cecilia yang begitu percaya diri, Marcell tiba-tiba teringat. Pernah suatu kali adiknya mabuk, dia menganggap kandang anjing sebagai kamarnya, dan semalaman tidur di kandang itu bersama anjingnya ....

Dia menggertakkan giginya dengan gemas, melotot kepada Cecilia. "Lain kali kurangi minumnya!"

Cecilia tercengang.

Apaan sih dia?

Kemarin kan hari ulang tahunnya, apa salahnya dia minum agak banyak?

Lagi pula, ayah dan ibunya tidak peduli. Kakaknya saja yang suka mengatur orang lain.

Tiba-tiba, dia mengendus-endus udara. "Kak, ada bau apa di kamarmu? Kok menyengat begitu?"

Sambil berkomentar, dia ingin masuk ke kamar Marcell untuk melihat.

Marcell pun menghalangi di depannya.

Kamarnya masih berantakan, tidak pantas dilihat siapa pun.

Dia bertanya dengan dingin, "Temanmu itu namanya siapa?"

Pandangan Cecilia terhalang, tidak bisa melihat jelas keadaan di dalam kamar.

Mendengar pertanyaannya, dia menatap curiga. "Ada apa tanya-tanya?"

"Tinggal jawab saja, nggak usah bawel," kata Marcell.

Cecilia cemberut. "Namanya Aveline."

Aveline?

Namanya terdengar cantik.

Marcell melirik Cecilia. "Dia sudah nggak ada di rumah?"

Cecilia mengangguk. "Iya, sejak pagi tadi sudah nggak ada."

"Tadinya mau kubangunkan buat sarapan. Tapi kucari-cari ke mana-mana, dia nggak ada. Aku sudah tanya semua orang di rumah, katanya nggak lihat juga."

Marcell mengerutkan kening. "Kalau nggak ada, kenapa nggak telepon dia?"

Cecilia tiba-tiba tersadar dan menepuk dahinya. "Oh, benar juga!"

"Aku hampir lupa, kan bisa telepon dia!"

"Aduh, kalau sedang panik memang gampang lupa!"

Marcell berdiri diam.

Dengan IQ yang seperti ini, rasanya berat mengakui anak ini sebagai adiknya.

Cecilia segera mengeluarkan ponselnya dan memanggil nomor Aveline.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
50 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status