로그인Sekujur tubuh sudah membasah, tetapi Moreau tidak memiliki minat untuk mematikan keran air. Si kembar masih terlalu antuasias sekadar melakukan adegan siram menyiram, sekalipun di dalam kolam karet ... genangan itu sesekali tumpah.
Asal anak – anak bahagia, Moreau tidak akan berusaha mengatakan apa pun. Bahkan sesekali tertawa saat Lore dan Arias sengaja membiarkan selang air menyemprot ke arahnya. Terkadang pula, Moreau harus menyingkirkan rembesan air yang menciprat di wajahnya,Tidak tahu alasan seperti apa yang dapat Abihirt gunakan ketika pria itu memutuskan gaun merah untuk melengkapi acara makan malam mereka. Moreau selalu ingin bertanya langsung, meski sering kali menahan diri dari hasrat tersebut.Bagaimanapun, dia juah lebih mengagumi selera Abihirt dan betapa telitinya pria itu mengenai ukuran yang tepat. Dress merah ini ... membuat Moreau merasa sangat sempurna dalam balutan begitu pas. Perutnya memang masih belum menunjukkan perubahan signifikan. Mungkin beberapa minggu ke depan. Dia tak bisa membayangkan akan sebesar apa nanti. Mengandung dua bayi sudah cukup kewalahan, apalagi kembar tiga.Moreau menelan ludah kasar sambil berusaha menyingkirkan pelbagai perasaan tak terduga yang menyeretnya sampai ke dasar jurang. Anak – anak sedang makan dengan lahap. Sebuah restoran di mana mereka hanya berempat; memungkinkan Moreau mengingat bahwa Abihirt menyewa seisi gedung.Privasi.Ya, mereka menghargai privasi. Meski bukan saat – s
“Aku bisa jalan sendiri, Abi.”Perubahan Abihirt nyaris tidak bisa dimengerti, tetapi Moreau tak berdaya sekadar menolak setiap detil tindakan yang pria itu lakukan. Tiba – tiba mengangkat tubuhnya setelah mereka sampai di halaman depan rumah, sementara anak – anak dititipkan kepada Emma.“Kau dengar aku bicara atau tidak, Abi?” tanya Moreau sedikit tidak sabar. Dia memang lelah. Namun, di balik semua itu ... merasa baik – baik saja. Tidak perlu menganggap kehamilan ini akan bermasalah dan tak harus menanggapi suasana di antara mereka secara berlebihan.“Aku mendengarmu, Mommy. Kau sangat cerewet saat sedang hamil.”Moreau memutar mata malas. Itu jelas tidak benar. Dia tidak cerewet. Hanya merasa tak nyaman karena sikap Abihirt yang cenderung membuat kebebasan terasa seperti ruang kecil yang makin menyempit. Kendati, dia masih belum memiliki kesempatan untuk sekadar melakukan perlawanan lebih besar.Mereka sedang dalam perjalanan melewati undakan tangga. Akan men
Mereka sudah berada di mobil setelah pembicaraan serius bersama dokter kandungan. Ntahlah, Moreau nyaris tak bisa menafsirkan mana berita bagus dan tidak saat ini. Semua masih begitu mengejutkan. Dia tahu bagaimana rasanya mengandung anak kembar, tetapi seakan yakin bahwa tubuhnya mungkin tak sanggup membawa tiga bayi sekaligus. Siapa yang perlu disalahkan terhadap situasi seperti ini? Sungguh, Moreau masih begitu buntu sekadar mencari jawaban. Mungkin butuh waktu lebih panjang untuk merenungi hasil akhir; bagaimana jika ternyata kehamilan ini bukan apa – apa? Situasi di antara mereka akan baik – baik saja? Dan dia bisa menjadi kuat terhadap apa pun? Moreau sempat tersentak merasakan seseorang menyentuh punggung tangannya. Dia menunduk; menemukan siapa pelaku terduga, lalu dengan cepat menepis lengan Abihirt. Napas pria itu terdengar berembus kasar. “Dokter bilang suasana hati ibu hamil memang akan berubah – ubah. Tapi kau tak menyalahkanku karena membuatmu ham
Pemandangan di depan sana ... seharusnya bukan kejutan besar. Moreau tidak tahu. Hanya terpaku, seolah butuh waktu lebih lama untuk mencerna situasi mendadak yang harus ditangani tanpa berusaha meledakkannya secara berlebihan. Dia hamil. Lagi. Kali ini dengan suasana berbeda. Si kembar meminta adik. Abihirt juga menginginkan bayi. Namun, terhadap hubungan rumit mereka ... apa yang bisa Moreau katakan?Semua seperti tiga dimensi yang begitu kabur. Dia berusaha tetap tenang dan akhirnya mengatur napas supaya tidak berdebar secara berlebihan.Kesalahan di masa lalu adalah menyembunyikan kehamilannya dari Abihirt. Moreau rasa, dia tidak punya hak untuk melakukan hal yang sama.Mereka perlu berbagi supaya Abihirt bisa lebih terbuka. Ingin pria itu tahu bahwa dia masih berusaha menaruh kepercayaan, meski sangat dibutuhkan pondasi yang kokoh mengenai prospek tersebut.Tidak terlalu buruk saat sudah mencobanya. Moreau tersenyum sambil memegang alat test pack sebagai tuj
Percikan air menjadi sumber suara paling keras di pagi hari. Moreau tidak tahu mengapa dia terbangun dan merasakan efek tidak nyaman di perutnya. Semua masih baik – baik saja semalam. Bukan seperti sekarang ini. Sensasi membakar yang juga sampai di ujung tenggorokan. Berulang kali Moreau membungkuk di depan wastafel. Berharap bisa memuntahkan sesuatu, meski itu nyaris terdengar percuma. “Ada apa denganmu?” Sebaliknya, suara serak dan dalam Abihirt meninggalkan sensasi mengejutkan. Moreau tidak akan mengatakan apa – apa, jika pria itu akhirnya menyadari sesuatu yang tidak biasa di antara mereka. Dia segera membasuh wajah dengan cepat, sambil memperhitungkan saat – saat ketika langkah Abihirt dibawa lebih dekat. Dari pantulan cermin, posisi mereka terlihat hampir tidak berjarak. Tidak ada penyangkalan. Lagi pula, Moreau kembali merasakan sesuatu yang membara panas di tubuhnya. Dia lagi – lagi membungkuk. Walau masih diliputi hasil yang sama. “Kau sakit, Moreau?” Kali ini sua
Moreau mengerang saat pinggul seksi itu terus menumbuknya. Tubuh mereka sudah licin berkeringat, tetapi Abihirt tidak akan berhenti sebelum keinginan pria tersebut benar – benar tuntas.Erangan mereka beradu bebas ke udara. Moreau menyukai saat – saat Abihirt menggeram kenikmatan, sementara kedua tangan pria itu tak tinggal diam. Terus meremas payudara dan memainkan puncaknya.Wajah Abihirt begitu sempurna dengan taburan keringat mengucur dari kening. Apa lagi, saat mata kelabu itu menatap serius ke arahnya.Moreau seperti tidak memiliki pilihan selain terjebak dengan pemandangan yang begitu menakjubkan. Kejantanan Abihirt terasa penuh dan sesak. Dia menengadah begitu mulut pria itu jatuh menyesap puting yang mengeras. Sesekali Abihirt memberi gigitan kecil. Mengirim sinyal ... betapa nikmatnya penyatuan mereka di bawah sana. Seperti membiarkan paket kombo menyerang, sedangkan dia sudah cukup kewalahan. Moreau tanpa sadar memindahkan jari – jari tangan ke bahu Abihi
Sebelah alis hitam tebal yang tumbuh dengan rapi terangkat hampir benar – benar samar. Moreau tidak tahu pemikiran seperti apa—sedang bersarang di puncak kepala ayah sambungnya, tetapi dia sungguh tidak pernah bisa mempelajari apa pun mengenai pria itu. Terlalu jauh. Terlalu penuh oleh barisan di
“Jika Abi tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menawarkan bantuan. Bukankah itu bagus? Artinya dia peduli kepada mereka.” Pernyataan ini mungkin sedikit sumbang terhadap apa yang Moreau pikirkan. Sering terlibat bersama Abihirt barangkali membuatnya belajar cara menjadi kontradiktif. Se
Belum apa – apa, dan Barbara lebih dulu memulai. Napas Moreau berembus sedikit kasar diliputi desakan untuk menatap wajah ibunya. Hasrat wanita itu masih sama rata terhadap sikap terdahulu. Sayang sekali, tetap ada keinginan untuk menolak. Moreau mengerjap sesaat, nyaris tanpa sadar mengelu
Moreau mengerjap, sesaat mengedarkan pandangan dengan gelisah, lalu kembali melakukan kontak mata bersama Barbara. “Aku—tidak. Aku mencarimu. Kupikir tadi kau bersama Abi, tapi tidak ada. Aku juga tidak berani mendatanginya.” Dia bicara setengah gugup, sedikit tersenyum, berharap Barbara ti







