MasukDemi melunasi utang nyawa ayahnya, seorang perawat bernama Renata Ayudia terpaksa menikahi putra tunggal pemimpin rumah sakit yang menolak menyentuhnya. Namun, di tengah siksaan tuntutan kehamilan dari mertuanya yang kejam, ia justru menemukan kehangatan terlarang dari sepupu suaminya bernama Daniel Gideon, pria dingin yang juga diabaikan oleh istrinya!
Lihat lebih banyak"Dua bulan menikah dan belum ada tanda-tanda? Kamu ini perawat, Renata. Harusnya kamu lebih tahu cara mengurus kesuburan, bukan cuma tahu cara mengurus orang sakit."
Suara bernada rendah namun tajam itu berasal dari Helena. Wanita paruh baya dengan pakaian elegan itu duduk tenang di kursi makan sambil menyesap teh kamomilnya seolah sedang membicarakan cuaca.
Namun, bagi Renata, ketenangan mertuanya justru jauh lebih mengintimidasi daripada bentakan.
Renata yang kini berusia 28 tahun hanya bisa meremas jemarinya yang masih basah di depan wastafel dapur. Pernikahan ini adalah transaksi.
Demi melunasi utang biaya operasi jantung ayahnya yang mencapai ratusan juta di Rumah Sakit Theodore milik keluarga suaminya, Renata terpaksa setuju masuk ke lingkaran keluarga terpandang ini.
Sebagai perawat di rumah sakit yang sama, gaji bulanan Renata sebenarnya cukup untuk biaya hidup sehari-hari.
Namun, untuk cicilan utang medis sebesar itu, ditambah biaya obat-obatan pasca-operasi yang tidak di-cover asuransi, penghasilannya jelas tidak akan pernah cukup.
Menikah dengan Adrian adalah satu-satunya jalan pintas agar ayahnya tetap mendapatkan perawatan intensif.
Setelah mendengar ucapan dingin mertuanya itu, Renata kemudian menarik napas perlahan. "Kami masih berusaha, Ma. Adrian juga sangat sibuk di rumah sakit belakangan ini."
"Jangan gunakan kesibukan Adrian sebagai alasan. Rumah sakit ini mengeluarkan dana besar untuk menyelamatkan jantung ayahmu yang hampir mati itu bukan untuk mendapatkan menantu yang tidak bisa memberikan apa-apa,” jawab Helena yang tak mau tahu dengan alasan Renata.
Helena kemudian bangkit dan melangkah mendekati Renata.
"Kamu pikir dengan berpakaian seragam perawat setiap hari dan membantu mencuci piring di sini sudah cukup? Tugas utamamu di rumah ini adalah memberikan cucu untuk keluarga Theodore. Kamu utang budi pada kami, Renata. Dan rahimmu itu adalah jaminannya."
Kalimat itu telak menghantam harga diri Renata. Namun, yang bisa ia lakukan hanyalah mengepalkan tangan di balik tubuhnya. Ada desakan kuat di dadanya untuk berteriak, untuk mengatakan yang sebenarnya bahwa Adrian bahkan tidak pernah sudi menyentuhnya.
Sejak malam pertama, suaminya selalu tidur di kamar terpisah dan kerap pulang larut dengan aroma parfum wanita lain. Namun, kontrak perjanjian yang mengikatnya membuat Renata terpaksa menelan kembali kata-katanya.
"Saya tahu kewajiban saya, Ma, dan saya akan berusaha," jawab Renata sembari berusaha menatap mata Helena dengan sisa-sisa martabat yang ia miliki, meski matanya mulai berkaca-kaca.
"Bagus kalau kamu sadar diri,” ucap Helena lagi.
"Bukan seperti itu cara berbicara dengan anggota keluarga, Bibi."
Sebuah suara bariton yang tenang membuat Renata dan Helena menoleh bersamaan. Di ambang pintu dapur, berdiri Daniel—sepupu Adrian.
Pria tinggi tegap itu masih mengenakan kemeja rapi dengan jas dokter yang tersampir di lengannya. Ia baru saja menyelesaikan shift malamnya.
Helena mendengus pelan dengan raut wajahnya berubah sinis. "Jangan ikut campur, Daniel. Urus saja urusanmu sendiri. Lagipula, bagaimana kabar pernikahanmu? Kudengar masih sedingin biasanya."
Mendengar sindiran itu, tampaknya Daniel tidak terpancing. Wajahnya tetap datar, tipikal dokter spesialis bedah yang terkenal dingin dan minim ekspresi, baik di rumah sakit maupun di rumah besar ini.
Ia hanya mengalihkan pandangannya pada Renata sambil melirik jam tangan Rolex di pergelangan tangannya.
"Renata, bukankah besok kamu masuk shift pagi jam enam? Ini sudah jam sebelas malam. Sebaiknya kamu segera istirahat. Kurang tidur bisa menurunkan performamu di ruang rawat," ucap Daniel datar.
Renata agak tertegun. Selama dua bulan tinggal di sini, Daniel adalah orang yang paling jarang berinteraksi dengannya. Mereka hanya sesekali berpapasan di koridor rumah sakit tanpa bertegur sapa.
Mendengar pria itu membelanya atau setidaknya memberi alasan untuk menyudahi obrolan ini, membuat Renata sedikit lega.
"Daniel, aku belum selesai bicara dengannya," potong Helena dengan nada memperingatkan.
Daniel mengedikkan bahu sekilas. "Aku hanya mengingatkan aturan rumah sakit, Bibi. Pekerjaan Renata menyangkut nyawa pasien. Aku permisi ke kamar dulu."
Pria itu berbalik dan melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Helena yang bahkan tampak kesal mendengar ucapan keponakan iparnya itu.
Setelah punggung Daniel menghilang, Helena kembali memfokuskan tatapannya pada Renata. Langkahnya maju satu tapak dan memangkas jarak di antara mereka hingga Renata bisa mencium aroma parfum mahal mertuanya yang mendominasi udara.
"Dengar baik-baik, Renata," bisik Helena dengan suara yang begitu mengerikan. "Gaji perawatmu itu tidak akan pernah bisa menebus harga obat-obatan kronis ayahmu jika keluarga ini lepas tangan. Jika dalam bulan ini kamu belum juga hamil..."
Helena menjeda kalimatnya, tengah memberikan penekanan yang sarat ancaman psikologis.
"Aku pribadi yang akan meminta pihak administrasi mencoret nama ayahmu dari daftar pasien prioritas. Kita lihat seberapa lama ayahmu bisa bertahan tanpa pasokan obat dari rumah sakit ini."
Malam harinya, Renata baru saja selesai membersihkan diri dan hendak merebahkan tubuhnya yang lelah ketika pintu kamar diketuk kasar.Begitu dibuka, Adrian sudah berdiri di sana dengan kemeja yang sudah berantakan dan aroma alkohol yang menguar tipis dari napasnya. Pria itu melangkah masuk tanpa izin, menutup pintu di belakangnya dengan hentakan pelan."Bagaimana? Sudah kamu pikirkan baik-baik?" tanya Adrian tanpa basa-basi sambil melipat tangan di dada sambil menatap Renata dengan pandangan menuntut."Mama terus-terusan mengoceh soal cucu, dan aku tidak punya waktu untuk mendengarkan drama itu setiap hari. Mulailah cari pria yang mau menghamilimu. Kontrak kita harus selesai secepatnya."Namun, Renata hanya diam, mematung di dekat tempat tidur. Sementara tangannya meremas ujung piyama katunnya, menolak untuk menatap mata suaminya sendiri yang terasa begitu asing dan dingin.Melihat reaksi bisu Renata, Adrian mendengus kasar. Langkahnya maju, memperkecil jarak dengan kilat tidak sabar
"Bu-bukan... bukan seperti itu maksudku, Dokter Daniel," gagap Renata dengan suara yang gemetar hebat. Ia kemudian menggelengkan kepalanya berkali-kali, berusaha mati-matian menarik kembali kata-kata yang telah telanjur lolos.Renata langsung memundurkan langkahnya hingga punggungnya membentur tepian lemari dokumen yang dingin.Napasnya memburu, wajahnya yang semula pucat kini memerah karena kombinasi antara rasa malu dan ketakutan yang teramat sangat."Maksudku... kami hanya sedang menundanya. Ya, kami menundanya karena sama-sama sibuk. Apa yang kukatakan tadi salah, aku hanya... aku hanya asal bicara karena sedang stres!"Daniel tidak melepaskan pandangannya sepeser pun. Alih-alih marah atau bingung, seulas seringai tipis yang sarat akan dominasi dan kecerdasan muncul di sudut bibir pria itu.Seringai yang justru membuat nyali Renata semakin menciut."Kamu sedang berbohong padaku sekarang, Renata," ucap Daniel, suaranya terdengar begitu tenang namun mematikan spekulasi apa pun.Ia p
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Dokter Daniel.”Keesokan paginya, Renata mendatangi ruang kerja Direktur Medis. Ia harus membahas keputusan sepihak Daniel semalam sebelum rumor di rumah sakit ini menggelinding semakin liar.Semalam, setelah makan malam yang menegangkan itu selesai, Daniel langsung pergi, tak memberi Renata celah untuk memprotes.“Ada apa, Renata?” tanya Daniel tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen tebal di hadapannya. Jemarinya yang kokoh memegang pulpen, menorehkan tanda tangan dengan gerakan tegas dan efisien.Renata menghela napas, mengumpulkan keberanian sebelum melangkah mendekati meja besar dari kayu jati tersebut. "Keputusanmu semalam... itu terlalu gegabah, Dokter.”Mendengar kalimat itu, gerakan tangan Daniel terhenti. Ia meletakkan pulpennya tanpa suara, lalu bersandar pada kursi kebesarannya.Sepasang mata elangnya menatap Renata, menciptakan tekanan tak kasatmata yang seketika membuat atmosfer ruangan terasa menyempit."Terlalu gegabah untuk apa
"Sampai kapan kalian akan membuatku menunggu?"Pertanyaan bernada berat dan berwibawa dari Rommy Gideon langsung menghentikan denting sendok di atas piring. Sesi makan malam formal di kediaman utama keluarga Gideon mendadak hening. Sebagai tetua sekaligus pendiri jaringan Rumah Sakit Gideon, titah Rommy adalah hukum.Pandangan tajam Rommy tertuju lurus pada Daniel. "Daniel. kamu sudah satu tahun menikah dengan Giselle. Kenapa belum ada tanda-tanda? Apa kamu terlalu sibuk di ruang operasi sampai lupa kewajibanmu di rumah?"Giselle yang duduk di samping Daniel segera meletakkan sendoknya. Wajah anggunnya siang tadi mendadak berubah drastis. Dengan rapi, ia memasang raut wajah murung, matanya berkaca-kaca menatap Rommy."Maafkan kami, Kakek," ucap Giselle dengan suara bergetar yang dibuat-buat, jemarinya bergerak menyentuh lengan Daniel. "Kami sudah berkonsultasi ke dokter spesialis. Hasilnya... kesuburan Daniel yang agak kurang. Jadi, kami harus berusaha lebih ekstra dan membutuhkan w












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.