LOGINPernikahan yang terbuat dari kebohongan meremukkan hati Gilsha, melemparkannya kembali ke pelukan Ethan yakni pria masa lalu yang pernah menolaknya, namun kini hadir dengan godaan intim yang tak sanggup ia tepis. Di bawah buaian sentuhan memabukkan dan ikatan pernikahan impulsif, Gilsha menyerahkan dirinya pada gairah Ethan, tanpa menyadari ada rahasia kelam berniat mengakhiri hidup yang siap menghancurkan pria itu. Namun, ketika kebenaran terbongkar dan Ethan memilih bersikap dingin, sebuah keajaiban tak terduga hadir di rahim Gilsha dan memaksa mereka mempertanyakan, akankah gairah yang terlanjur menjerat ini menjadi penyelamat atau justru kehancuran akhir cinta mereka?
View More"Dihh.. si Ethan gegayaan banget pake godain Gilsha segala. Padahal tipe dia juga bukan."
Kedua lelaki itu memandangi sohib mereka yakni Ethan tengah makan berdua dengan seorang gadis yang tampilannya bisa dibilang nerd. Naveen dan Kavi tahu betul jika Gilsha bukanlah tipe Ethan. "Ck, bisa gagal nih pendekatan gue sama ayang Memeg kalau Ethan nyakitin Gilsha. Secara 'kan mereka sahabatan," decak Naveen khawatir jika sang pujaan hati yakni Meghan menjauhinya nanti. "Dahlah, mungkin aja Ethan udah berubah haluan." *** "Lo nggak malu jalan bareng gue," tanya Gilsha gugup saat semua orang menatapnya tengah berjalan berdampingan dengan salah satu siswa tertampan di angkatan mereka. "Enggak, kenapa harus malu?" tanya balik Ethan bingung. "Yah karena lo bisa liat sendiri penampilan gue, nerd banget. Nggak ada bagus-bagusnya," pungkas Gilsha yang merasa insecure. Tidak seperti ketiga sahabatnya yakni Anna, Elsa, dan Meghan yang memiliki kecantikan mereka masing-masing. Gilsha selalu merasa paling berada diurutan bawah. "Itu kan menurut lo bukan gue." Gilsha menatap ke arah Ethan yang berjalan disampingnya. Meskipun mereka masih di bangku SMP namun ketampanan Ethan tidak dapat diabaikan. Banyak siswi-siswi lain yang mengidolakannya termasuk dirinya. Dan entah keajaiban apa yang terjadi sehingga dirinya bisa dikatakan dekat dengan Ethan. Cinta pertama yang menyenangkan. "Eh, nanti gue ada laga persahabatan basket sama yang sekolah lain. Mau dateng nggak? Si Naveen kebelet banget ditonton sama Ayang Memegnya," tukas Ethan yang membuat Gilsha tergelak. "Kalau lo sendiri mau gue dateng nggak?" tanya Gilsha malu-malu. "Mau, dateng aja." Gilsha bersemu dan mengangguk dengan malu-malu. Wajahnya semakin memerah tatkala Ethan menepuk-nepuk lembut puncak kepalanya. Rasanya seperti ribuan kupu-kupu beterbangan diatas perutnya. *** Dan seperti janjinya tadi, Gilsha benar-benar menghadiri liga uji coba team Ethan dengan sekolah lain. Ia duduk bersama ketiga sahabatnya di bangku penonton paling depan. Sedaritadi Gilsha tidak berhenti bersorak keras untuk menyemangati Ethan membuat ketiga sahabatnya hanya menatapnya dengan jengah. "Nih, Gils. Minum dulu, sayangi tenggorokan lo. Cinta boleh, goblok jangan," kata Meghan menyodorkan sebotol air mineral kearah Gilsha yang jingkrak-jingkrak di sampingnya. Gadis itu terkekeh pelan dan meneguk air mineral tersebut. Ia sangat excited sehingga tidak merasakan haus atau apapun itu. Baginya melihat Ethan yang bermain dengan keren di lapangan sudah lebih cukup untuk memuaskan dahaganya. Gilsha memegangi dada kirinya yang dimana jantungnya berdebar kencang di dalam sana. Sensasinya sangat memabukkan dan membuat Gilsha menggila. Apalagi saat Ethan tersenyum kearahnya setelah berhasil mencetak poin lagi. "Gue rasa Gilsha udah kasmaran tingkat akut deh," bisik Anna. Meghan dan Elsa mengangguk. "Dahlah, biarin aja. Nanti ngamok kalau dibilangin," pungkas Elsa. Ketiganya pun menatap Gilsha yang masih setia dengan aksinya menyemangati Ethan. Yang bisa dibilang mengalahkan team cheerleaders. *** "Kayaknya gue mau nyatain perasaan gue deh sama Ethan," ungkap Gilsha pada ketiga teman-temannya. Mereka tengah menginap dirumah Gilsha setelah mengerjakan tugas kelompok tadi sore. Perkataan Gilsha tadi sontak membuat ketiga gadis yang sedang sibuk menonton drakor menoleh kearahnya. "Hah? Apa?" tanya Meghan menjeda pemutaran drakor di laptopnya. Gilsha memperbaiki posisi duduknya dan menghadap kearah para sahabatnya. "Gue. mau. nembak. Ethan," tekan Gilsha membuat semua orang membulatkan matanya. "Lo bercanda kan?" tanya Elsa tidak percaya yang dibalas gelengan oleh Gilsha. "Enggak, gue serius. Gue udah yakin banget sama perasaan gue." Anna mendekati Gilsha dan memeluknya. "Gil, gue tau lo cinta sama Ethan. Tapi nggak gini caranya. Oke kalau lo suka sama Ethan, kita semua tau kalau itu real. Tapi gimana soal perasaan Ethan sama lo?" tanyanya. Gilsha terdiam sejenak dan menatap ke arah Elsa dan Meghan yang seolah setuju dengan pernyataan Anna barusan. Ia juga mengerti kekhawatiran sahabat-sahabatnya. Namun, dirinya sudah tidak bisa memendam perasaan cintanya yang semakin hari semakin bertumbuh liar di hatinya. Apa ini karena pengaruh hormon remaja yang membuatnya sangat menggebu-gebu. "Gue tau tapi gue yakin kalau Ethan juga ngerasain hal yang sama. Kalian liat sendiri kan cara dia nge-treat gue. Meskipun penampilan gue cupu dan nggak menarik tapi dia tetep mau deketin gue. Apa namanya kalau dia nggak cinta sama gue? Ethan bahkan terus maju walaupun kalian selalu sinis sama dia," jelas Gilsha berusaha meyakinkan ketiga sahabatnya. Meghan menghela napas panjang. "Lo ini yah, bener-bener nekat. Tapi ya udah, kalau lo udah bulat tekadnya, kita dukung." Elsa menambahkan dengan nada serius, "Tapi janji ya, kalau nanti hasilnya nggak sesuai harapan, lo jangan ngilang atau nutup diri dari kita." Gilsha mengangguk mantap. "Janji." "Tapi kalian bantuin gue yah. Gue udah nulis apa-apa yang bakal gue kasih ke Ethan pas nanti gue nembak dia," sambung Gilsha yang membuat ketiga gadis itu mengangguk pasrah. Cinta memang buta. Malam itu, meski mereka akhirnya melanjutkan menonton drama Korea, pikiran Gilsha terus berputar-putar pada satu hal: Bagaimana caranya nembak Ethan? Membayangkan wajah tampan Ethan dengan senyum manisnya sudah membuat Gilsha tersenyum tanpa henti. Ia yakin akan diterima.Gilsha mematut penampilannya didepan meja rias. Seperti rencana Kai dan Ethan tadi bahwasanya mereka akan jalan-jalan di sekitar desa menggunakan kereta api sore ini. Karena kata Ethan, udara mungkin akan agak sedikit dingin maka Gilsha memutuskan untuk memakai coat dan scraf hari ini. Setelah memastikan penampilannya sempurna, Gilsha meraih tasnya dan segera bergabung dengan kedua pria itu. Karena cuacanya sedang sangat bagus sekarang. Dan benar saja, Ethan dan Kai sudah siap di ruang tamu. Keduanya bercakap-cakap ringan seolah perdebatan tadi siang tidak pernah ada. "Udah siap?" tanya Ethan sambil berdiri. Gilsha mengangguk pelan. "Siap." Kai langsung berlari kecil menghampirinya. "Kita naik kereta, kan?" "Tentu," jawab Ethan seraya mengacak rambut bocah itu. Tak lama kemudian, mereka berangkat menuju stasiun. Sinar matahari menyelimuti lembah, membuat padang rumput di sepanjang jalan tampak lebih hijau dari biasanya. Sesampainya di peron, Ethan membiarkan Kai menggeng
Ethan mendengus kesal. Kalau seperti ini, ia rasanya tengah berbicara dengan Kavi. Bedanya kalau Kavi beneran pasti akan ia gas tapi karena ini versi mininya jadi ia sabar aja."Yaudah, nanti Uncle pikirin. Kamu bobo siang gih nanti kamu ngantuk trus nggak nikmatin jalan-jalannya." Kai mencebikkan bibirnya. "Aku itu bukan anak-anak lagi yah. Aku udah 5 tahun." "Ya sama aja, 5 tahun itu masih anak-anak. Dan anak-anak itu harus banyak tidur supaya nggak suka rewel." "Aku nggak rewel," bela Kai. "Masa?" goda Ethan. Kai mendongakkan kepalanya menatap Ethan dengan ekspresi serius. "Iya, aku nggak rewel trus nggak manja juga. Aku ini cowok pemberani" Ethan terus melemparkan tatapan menggoda dan senyuman jahil membuat Kai kesal. Dan berakhir bibirnya bergetar pelan dan matanya mulai berkaca-kaca dan saat itulah suasananya berubah menjadi gawat. Dan raut wajah Ethan berubah menjadi panik. Jangan sampai Kai menangis beneran trus Gilsha dengar dan mengomelinya. "Eh, iya, ampun de
"Lo kenapa sih?" Gilsha melemparkan tatapan bertanya kepada Ethan yang sedang berdiri di sampingnya. Ia sedang menanam bunga geranium yang ternyata benar-benar dimasukkan oleh istri pemilik toko kemarin di dalam pesanan Ethan. "Nggak apa-apa, emangnya kenapa?" tanya Gilsha mengambil pot. "Dari kemarin lo kalau ditanya jawabnya 'Nggak' mulu, kayak burung gagak." Gilsha mendelik kesal dan mengabaikan Ethan. Enak aja dirinya dibilang mirip burung gagak, secantik ini juga. "Oh karena ciu-" "Diem.. diem.." sela Gilsha cepat sambil membekap mulut Ethan. Ia bahkan melemparkan pot yang tadi dipegangnya. Ethan mengerjapkan matanya berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Tak lama kemudian ia akhirnya mengerti, jadi Gilsha malu karena kejadian itu. "Diem.. nggak usah dibilang," ujar Gilsha lagi melepas bekapan tangannya. "Kenapa? Kan emang itu kejadiannya gitu?" tanya Ethan polos. Gilsha mendengus pelan. "Pokoknya nggak boleh, anggap aja kita lagi khilaf." "
Ethan tidak menjawab segera. Hanya membisu sambil menatap wajah Gilsha yang terlihat menghindari kontak mata dengannya. Bahkan tidak menatapnya sama sekali. Baru saja Ethan ingin membuka mulutnya. Suara Kai sudah lebih dulu memanggilnya membuat Ethan mau tidak mau harus menghampirinya segera. Gilsha akhirnya bisa bernafas dengan normal saat Ethan sudah meninggalkan dapur. Kai memang penyelamatnya. Jika tidak ia pasti sudah bisa mati kutu dibawah tatapan tajam Ethan. Setelah mendapatkan kembali kewarasannya, Gilsha melanjutkan kegiatannya untuk membuat selai stroberi untuk Kai. ***"Kai mana, Gils?" tanya Anna pada layar ipad Gilsha. Wanita itu sedang bersantai di balkon kamarnya setelah membuat selai tadi. Tidak ada kegiatan berarti yang harus ia lakukan, mau nemenin Kai pasti ada Ethan. Mau jalan-jalan sendiri nanti kalau dia tersesat gimana. Jadi mending chills di balkon aja bareng teh dan camilan ditemani pemandangan indah Swiss. "Lagi di kandang sapi bareng Ethan. Ka












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews