ログイン“Kurasa anakmu tiba – tiba ingin makan sesuatu, Darling.”
Barbara dengan punggung bersandar nyaman di kepala ranjang mengamati setiap detil tindakan yang Abihirt lakukan. Dia memang tiba di rumah lebih dulu, baru kemudian ... tak berapa lama suaminya menyusul belakangan. Bersikap seolah tidak mengetahui apa pun adalah jalan pintas. Barbara ingin menguji sejauh mana penolakan yang mungkin akan Abihirt lakukan kepadanya. Dia juga berpura – pura memegangi perut yang seharusnya masih di“Kau yakin benar – benar akan pergi?”Ntah mengapa sesuatu dalam diri Moreau masih terlalu ragu harus membiarkan Abihirt meninggalkan rumahnya. Pelbagai keperluan sudah disiapkan dan barusan pria itu menarik resleting koper dengan pelbagai keperluan di dalam sana. “Gabriel sudah ada di sini, Mommy. Aku tidak bisa mengurungkan niatku begitu saja,” Abihirt bicara diliputi mata kelabu yang menatap serius ke arahnya.Yang tidak Moreau mengerti adalah ... dia sama sekali tidak diberi petunjuk tentang keberadaan Gabriel. Abihirt sama sekali tak membahas apa pun tentang pria itu.“Bagaimana bisa Gabriel sudah ada di sini?” tanyanya. Setiap apa pun tindakan Abihirt memang perlu diselidiki lebih serius. Tanpa hitungan yang tepat, semua terasa mengejutkan.“Aku memang sudah menghubunginya sejak semalam,” pria itu menambahkan. Membuat beberapa bagian terasa lebih masuk akal. Moreau tidak bisa menyangkal jika Abihirt telah memastikan kebutuhan pria itu lebih detil. Keberada
Begitu banyak protes ingin keluar; wajah tidak berdosa Abihirt membuat semua makin runyam. Hanya saja, Moreau masih ingat tujuan awalnya. Merasa ini adalah kesempatan sehingga dia mulai mengambil tindakan, nyaris kembali menarik ujung kaus miliki pria itu, tetapi Abihirt lebih dulu mencekal kedua pergelangan tangannya untuk disingkirkan ke atas kepala—nyaris menyentuh sandaran ranjang.“Kau merobek bajuku, tapi tidak membiarkanku membuka pakaianmu. Ini tidak adil,” ucap Moreau dengan nada protes. Dia menggeliat untuk dilepaskan, tetapi Abihirt justru mengambil tindakan menjatuhkan mulut ke permukaan dadanya, yang masih dalam balutan bra.“Abi, lepaskan aku!” ucap Moreau lagi. Kali ini benar – benar menuntut Abihirt supaya melakukan apa yang dia ingin.Ironi. Pria itu lebih tahu bagaimana membuat seseorang marah dan bergairah di waktu yang sama. Penolakan Moreau setidaknya sedikit lebih reda begitu Abihirt memberikan kecupan ringan dari payudara menuju permukaan perut, se
Memang sedikit aneh menyadari bagaimana Abihirt memutuskan untuk kembali tidur—cukup lama, hingga setelah bangun, pria itu membuat anak – anak tak ragu mengajukan pelbagai pertanyaan.“Ada apa dengan tanganmu, Daddy? Dan ini kenapa? Daddy tak suka warna kutik merah yang kupilih?”Lore sedari tadi tidak berhenti, meski mereka tahu bahwa Abihirt sudah cukup kewalahan; ntah masih terlalu mengantuk atau benar – benar kelelahan.“Warna merah yang kau pilih sangat bagus, Tuan Putri. Ada insiden kecil. Kuku di jari kelingkingku hilang. Jadi, memang harus membungkusnya seperti ini.” “Kau tak bilang kuku-mu copot!” Moreau buru – buru menambahkan. Sangat kesal karena Abihirt jelas tidak menceritakan semua secara gamblang. Di sini, mungkin pria itu keceplosan karena Lore jelas akan terus mengulik jawaban sampai gadis kecil mereka merasa yakin.“Aku baik – baik saja, Mommy.”“Aku baik – baik saja. Selalu seperti itu,” Moreau menirukan cara bicara Abihirt dengan ekspresi
Seseorang berusaha mengangkat tubuhnya; itu hal pertama yang Moreau rasakan setelah dia yakin sudah tertidur cukup lama. Hanya sesaat membuka mata untuk memperhatikan situasi di sekitar. Suasana yang bahkan masih cukup temaram jika dia berharap matahari pagi menyapa dengan caranya sendiri.“Kau baru pulang?” Selesai dengan pemikiran samar dan berulang. Perhatian Moreau teralihkan pada wajah yang terlihat berbeda. Dia memang masih mengantuk, tetapi tahu betul aroma tubuh ini. Abihirt sudah kembali dengan kegiatan yang pria itu sebut urusan pribadi?Dia bertanya – tanya sudah pukul berapa sekarang. Kenapa tubuh Abihirt terasa seperti gemetar, meski pria itu tampak berusaha keras menahan diri sambil membawa langkah mereka menuju kamar tidur.“Di mana pakaianmu? Kenapa kau pulang dengan bertelanjang dada seperti ini?” tanya Moreau setelah yakin bagaimana kulit tangannya bertemu langsung dengan permukaan dada liat Abihirt yang terasa hangat, tetapi juga seperti menyimpan
“Tidak buruk untuk menginjakkan di sini, bukan? Kenapa kau menolak dengan penuh drama?”Malam ini merupakan hal paling menjanjikan bagi Mansilo Hubber, yang menjadi awal bahwa apa pun keinginannya selalu menemukan akhir terbaik. Mungkin memang harus menunggu sampai berpuluh tahun untuk memiliki Rowan kecil, yang sekarang dalam balutan tubuh pria dewasa—tampan—menggairahkan. Dia benar – benar sudah tidak sabar saat mereka ada di sini. Secara harfiah, mempunyai pendekatan yang sama seperti ruang merah, tetapi Mansilo Hubber lebih senang menyebutnya tempat penghukuman.Semua akan berjalan pelan – pelan. Dia tidak akan langsung menargetkan Abihirt sebagai hidangan utama. Perjalanan mereka masih sangat menyenangkan jika membiarkan waktu menjadi pemburu.Surat perjanjian disahkan bersama. Mansilo Hubber tahu Abihirt tidak akan pergi ke mana pun selama Moreau dan keluarga kecil mereka menjadi ancaman terbaik. Haruskah dia memberi begitu banyak pujian kepada diri sendiri karena
“Aku akan keluar sebentar. Kau tidak apa – apa menggantikan tugasku untuk menemani anak – anak tidur? Mereka tadi meminta dibacakan dongeng, tapi ada urusan penting yang perlu kuselesaikan.”Mereka—hanya berdua, masih di dapur; mencuci sisa perangkat makan bersama setelah makan malam, dan tiba – tiba sebuah pernyataan membuat atmosfer terasa berbeda.Moreau tidak yakin tentang ini. Sedari tadi, Abihirt sudah menunjukkan sikap aneh, seakan – akan ada kekhawatiran yang tak bisa pria itu kendalikan begitu saja. Dia benar – benar ingin tahu, tetapi masih belum menemukan cara terbaik supaya Abihirt bersedia berbagi cerita.“Kau mau ke mana memangnya?”Itu yang akhirnya dia tanyakan. Ada jeda sesaat. Abihirt seperti berpikir. Ntahlah, Moreau melihat prospek terhadap hubungan mereka supaya menjadi lebih sehat sangatlah tipis. Benaknya nyaris putus asa berpikir jika dia bisa menjadi tempat di mana Abihirt mau mencurahkan semua kegersangan di balik bahu pria tersebut.“Ak
“Mommy, tadi Daddy buru – buru pergi ke kamar. Bolehkan kami menyusulnya?”Arias menjelaskan, tetapi benak Moreau mengumpulkan banyak hal yang begitu rumit. Ingatan bahwa Abihirt sangat menghindari Robby dan Mansilo Hubber menjadi petunjuk utama. Dia mungkin bisa mema
“Mommy, kenapa kita ada di sini? Apa aku akan disuntik lagi?”Arias yang malang. Selalu merasa ketakutan ketika mereka menginjakkan kaki ke rumah sakit. Terkadang, suasana seperti ini sangat meremas perasaannya, tetapi Moreau selalu ingin bocah lelaki itu tegar menghadapi situasi
“Cepat, Arias! Lari! Sebelum Daddy bisa menangkap kita!” Suara Lore paling berisik. Nyaris menggelegar di seisi ruang tamu. Tidak Moreau mungkiri bagaimana bocah kembarnya terlalu antusias bermain. Mereka harus berlari sebisa mungkin dan Abihirt akan mengejar—sebuah permainan yang sudah ser
Sudah lama sejak Abihirt membawa anak – anak masuk, tetapi pria itu tak kunjung keluar kamar. Acara tv masih menyala dan sering kali ... Moreau harus memindahkan perhatian ke kamar anak – anak. Sedikit penasaran, karena tidak ada sedikitpun petunjuk mengenai apa yang mereka lakukan.







