Tawanan Cantik Detektif Tampan

Tawanan Cantik Detektif Tampan

last updateLast Updated : 2026-09-09
By:  Lea AzukiUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
2 ratings. 2 reviews
9Chapters
17views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Adeline, gadis cantik yang sukses, berhasil lolos dari kegilaan mantan kekasihnya. Beruntung, di saat kritis dia berhasil bertemu dengan AKP Saga, seorang polisi muda yang tampan dan gagah dan meminta bantuannya. Hubungan keduanya, yang bermula dari hubungan profesional belaka akhirnya berubah menjadi benih-benih cinta. Akankah Adeline dan Saga bisa bersatu?

View More

Chapter 1

1. Awal Mula

"Lepasin aku, LEPASIN!!!" teriak Adeline, suaranya pecah oleh amarah dan ketakutan.

Tian berusaha menahan kedua tangan Adeline yang meronta hebat. Namun semakin kuat perempuan itu melawan, semakin keras pula cengkeramannya. Puncaknya, dengan satu sentakan brutal, dia mendorong tubuh Adeline hingga terpelanting ke arah sofa ruang tamu.

BRUKK!

Tubuh Adeline menubruk sofa dengan keras. Namun malang tak berhenti di situ, kepalanya membentur meja kayu di samping sofa dengan bunyi yang mengerikan.

"AAAKKK!!!"

Jeritan Adeline menggema di seluruh ruangan sebelum akhirnya... gelap.

***

"Ti... Tian?" Suara itu nyaris tak terdengar, hanya desahan lemah dari bibir yang sulit digerakkan.

Adeline berjuang membuka matanya. Pandangannya kabur, kepalanya terasa seperti dihantam palu godam.

Dia mencoba mengangkat tangan untuk menarik perhatian, tapi tubuhnya menolak bekerja sama. Setiap inci kulitnya terasa seperti ditusuk ribuan jarum tajam.

Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara-suara bersahut-sahutan.

"O... Oh!!! Ya Tuhan!!!" Sebuah seruan kaget memecah keheningan.

Adeline mengernyit, mencoba mengenali suara itu. Suara Amara, Istri baru ayah Tian.

"Tan... Tante? Tolong aku..." panggilnya, nyaris tanpa suara.

"Apa... Apa itu darah???!!! Sayang, apa yang Tian lakukan?!" Amara berteriak histeris. Jelas sekali dia tidak mendengar permohonan Adeline.

"Jangan ikut campur, Tante!!!" bentak Tian, suaranya penuh kemarahan yang tertahan.

"Apa yang kamu lakukan, anak bodoh?!!!"

Suara berat itu membuat jantung Adeline mencelos. Guntur Sadawijaya. Ayah Tian. Kenapa mereka tiba-tiba ada di sini?

"Pa, tolong Pa! Tian nggak mau masuk penjara! Tian baru aja mau mulai kerja, Pa!" Suara Tian berubah menjadi rengekan putus asa.

"DASAR ANAK BODOH BIANG MASALAH!!!" Guntur mengaum.

Adeline mendengar langkah berat mendekat ke arahnya. Dia memanfaatkan momen itu sebaik mungkin.

"Om... tolong saya..." Bisikannya nyaris tenggelam oleh debaran jantungnya sendiri.

Tiba-tiba, kata-kata berikutnya yang keluar dari mulut Guntur membuat darah Adeline membeku.

"Kuburkan saja dia! Cepat!!!"

"APA?!" Tian tersentak kaget. "Nggak!!! Nggak, Ayah! Apa-apaan Ayah ini?!"

Guntur menggeram rendah. "Terus apa yang harus dilakukan, anak bodoh? Bawa mayatnya ke keluarganya, gitu? Bawa ke rumah sakit? Goblok bener kamu!!!"

"Udah, nurut aja!" sentaknya tanpa ampun.

Langkah kaki Tian mendekat. Adeline berusaha sekuat tenaga membuat kontak mata dengannya.

‘Tian, lihat aku. Aku masih hidup. Aku masih bernapas!’ teriakan batinnya.

Namun tatapan Tian kosong. Matanya tidak fokus pada apa pun selain ketakutannya sendiri.

"A-aku belum mati! Tolong aku!" Adeline memaksa suaranya keluar, dan kali ini berhasil—kendati hanya bisikan parau.

Tapi ruangan itu terlalu riuh oleh kepanikan. Tak seorang pun menyadari bibir Adeline yang bergerak.

"Sialan! Brengsek!" Tian memaki, kedua tangannya mencengkeram rambutnya sendiri. "Kenapa ini semua harus terjadi, sih? Harusnya ini nggak pernah terjadi! Gara-gara Adeline, aku jadi seorang pembunuh! Kriminal!"

Adeline ingin tertawa pahit. Dia masih hidup dan Tian tidak menyadarinya.

"Sekarang kamu pindahkan mayat ini! Buang di mana saja, terserah!" perintah Guntur.

Tian menggendong tubuh Adeline dan membawanya keluar. Dengan kasar, dia memasukkannya ke bagasi mobil, lalu menutupinya dengan kain tebal hingga gelap total.

"Ti... Tian..." panggil Adeline lewat sela-sela rasa sakit yang menjalari seluruh tubuhnya.

Tian tercekat. "Kayaknya tadi aku dengar sesuatu? Ah, salah dengar kali! Aku harus segera menyelesaikan ini!"

"Sial! Kuncinya ketinggalan!" Tian tiba-tiba berseru jengkel, lalu berlari kembali ke dalam rumah.

Dengan sisa tenaga yang ada, Adeline menyingkap kain yang menutupi tubuhnya. Matanya menyapu isi bagasi dan menemukan sebuah ransel besar—tas mendaki milik Tian. Dengan susah payah, dia menarik tas itu keluar dari tumpukan barang, lalu menutupinya dengan kain yang sama persis seperti saat tubuhnya disembunyikan.

Setiap gerakan terasa seperti siksaan. Kepalanya berdenyut hebat, pandangannya berkunang-kunang. Namun satu pikiran terus menggema di benaknya. Ia harus selamat.

Dia membuka bagasi dan merosot keluar dari mobil. Kakinya gemetar, nyaris tak mampu menopang tubuhnya. Namun dia memaksa langkahnya menjauh dari rumah Tian, masuk ke dalam gelapnya malam.

Air mata mengalir deras di pipinya. Bukan karena takut, melainkan karena marah.

"Ini semua gara-gara dia..." bisiknya tersengal-sengal. "Tian... Dasar pembunuh!"

Dia berjalan tertatih-tatih tanpa arah yang jelas. Rumah sakit? Terlalu berisiko. Tian pasti akan mencarinya di sana pertama kali.

"Polisi... Aku harus menelepon polisi..."

Dengan sisa energinya yang nyaris habis, Adeline menyeret kakinya menuju pos satpam perumahan.

"Lho! Mbak Adeline! Mbak kenapa?! Saya panggil Mas Tian dulu ya!" seru Pak Wira, satpam yang berjaga malam itu. Wajahnya pucat melihat kondisi Adeline yang berlumuran darah.

Adeline buru-buru meletakkan telunjuk di depan bibirnya. "Ssst... Pak Wira! Jangan panggil Tian! Saya... saya numpang telepon polisi dulu..."

Tubuhnya lunglai jatuh di kursi panjang pos satpam. Tangannya gemetar saat mengeluarkan ponsel dari saku celana. Pandangannya semakin gelap, kepalanya terasa seperti akan meledak.

"Aku harus bertahan... Ayo Adeline, kamu pasti bisa..." bisiknya pada diri sendiri.

Namun tepat saat jarinya akan menekan tombol panggilan, sebuah suara menggelegar di keheningan malam.

"ADELINE!!!"

Adeline mendongak perlahan, jantungnya seolah berhenti berdetak.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Ellailaist
Ellailaist
Apa Saga nantinya sama Adeline ya? ayo thor ditunggu banget lanjutannya
2026-09-09 17:24:15
1
1
Weena Young
Weena Young
Bagus banget ceritanya, ga sabar akutuh buat nunggu bab selanjutnya. Semangat Author sayang...
2026-09-09 17:11:33
1
0
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status