LOGINKarena patah hati, aku iseng download aplikasi kencan online, tapi malah ketahuan teman kakakku yang terkenal dingin dan kejam! Parahnya, dia ternyata teman kencanku sendiri, padahal aku sudah menggodanya habis-habisan! “Sylvia, gimana kalau semua chat nakalmu kita praktekkan di dunia nyata?”
View More“Ahh, sempit banget!”
Tubuh Sylvia membeku mendengar racauan menjijikkan itu dari tempatnya bersembunyi.
Hari ini dia sengaja sembunyi di dalam lemari pakaian kamar Gerald, pacarnya, sambil berdandan seksi untuk memberikan kejutan ulang tahun, bahkan sampai dirinya ketiduran dalam posisi tidak nyaman.
Sylvia terbangun saat mendengar desah tidak senonoh saat kekasih bersama selingkuhannya itu mencapai puncak.
Melalui celah sempit pintu lemari, Sylvia melihat di ranjang tempat Gerald biasanya tidur, kini ada seorang wanita seksi yang tengah dinaiki pacarnya sendiri.
“Tante–”
“Gimana, Sayang? Servis Tante jauh lebih enak, kan, daripada pacar kamu yang masih bocah itu?” Suara wanita itu mengalun manja di sela napasnya yang putus-putus.
“Tante juaranya, aku sampai nggak bisa lepas gini,” sahut Gerald sambil mengecup leher wanita yang ada di bawahnya, ranjang berderit kian kencang seiring goyangan liar mereka berdua. “Tante–ahh–"
Entah akhirnya mendapatkan kekuatan dari mana, Sylvia akhirnya mendorong pintu lemari hingga menjeblak terbuka.
Brak!
Pintu lemari terlempar membentur dinding kamar. Sylvia melangkah keluar dengan bando telinga kelinci yang sedikit miring di kepalanya. Korset hitam berbahan lateks mengkilap membungkus tubuh mungilnya dengan ketat, mengekspos belahan dada dan kedua paha yang terbalut stocking jaring.
Dua sosok di atas kasur terlonjak kaget. Gerald melotot mendapati keberadaan Sylvia. Gegas, ia menarik celananya ke atas.
“Sylvia?! Kamu... kamu sejak kapan di situ–"
Plak!
Tangan mungil Sylvia mendarat telak di pipi Gerald.
“Pria rendahan,” desis Sylvia. Pandangannya terbatas karena matanya berkaca-kaca. “Kamu selingkuhi aku dengan tante-tante? Benar-benar menjijikkan!”
Bukannya merasa bersalah atau malu, Gerald justru menyeka sudut bibirnya seraya menatap Sylvia dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu mendengus kasar.
“Heh. Bicara soal jijik, lebih baik kamu berkaca dulu, Syl.”
“Kurang ajar–”
Sylvia hendak mendaratkan satu lagi tamparan di wajah pria berengsek tersebut, tapi Gerald dengan sigap menahan tangannya. Pria itu bahkan mendorong Sylvia agar menjauh dari tempat tidurnya.
“Sudahlah, mumpung kamu sudah tahu, kita sudahi saja hubungan kita sekarang.”
“Kamu mau pacaran dengan selingkuhamu!?” ucap Sylvia, nadanya meninggi. “Kamu gila? Buta? Umur wanita itu dua kali umurku, Ger!”
“Memang kenapa? Kamu tidak lihat beliau merawat tubuhnya dengan baik? Bahkan bisa memuaskanku!” Gerald balas membentak. “Sementara kamu?”
Pria itu menatap Sylvia dari atas sampai bawah. Tatapannya seakan tengah menelanjangi tubuh Sylvia, sementara bibirnya mengukir senyum penuh cemooh.
“Heh. Bahkan dengan pakaian seperti ini pun, kamu tidak membuatku bernafsu, Syl.”
Deg.
Seakan ada tangan tak kasat mata memukul ulu hati Sylvia, membuatnya kesulitan mengambil napas.
“Pria berengsek. Kamu–”
“Sudah! Keluar dari sini. Jangan ganggu kesenangan aku!"
Gerald mencengkeram pergelangan tangan Sylvia, menyeret tubuh mungil itu tanpa ampun menuju pintu keluar.
Brak!
Pintu kayu kokoh itu dibanting keras tepat di depan wajah Sylvia. Kuncinya langsung berputar dua kali dari dalam.
Sylvia terhuyung di lorong apartemen yang dingin. Kakinya gemetar di atas sepatu hak tinggi berbulu halus. Ponsel dan kartu akses apartemen miliknya sendiri menjadi satu-satunya benda yang terselamatkan di balik belahan korset; tas dan baju gantinya masih tertinggal di lemari pria laknat itu.
Dengan napas tersengal, gadis itu memaksakan dirinya melangkah turun ke lobi.
Setiap pasang mata yang berpapasan dengannya di lobi apartemen menghunjam tanpa tedeng aling-aling. Bisik-bisik geli dan tatapan lapar pria-pria hidung belang di depan lobi mengikutinya sampai ke trotoar.
Mengabaikan rasa malu yang membakar seluruh kulitnya, Sylvia buru-buru mencegat taksi pertama yang melintas.
Setibanya di rumah, Sylvia bergegas ke kamarnya dan langsung membanting pintu.
Tanpa melepas sepatu ataupun bando konyol di kepalanya, ia menyambar pengendali jarak jauh dan menyalakan pelantang suara nirkabel. Dentuman musik beraliran rock seketika meledak dengan volume maksimal, mengguncang seluruh ruangan hingga memekakkan telinga, menenggelamkan segala suara lain di sekitarnya.
Sylvia berjalan tersaruk ke depan cermin besar setinggi badan di kamar.
Ia berdiri kaku di hadapan bayangannya. Bando telinga kelinci berbulu hitam, korset satin ketat dengan potongan dada setengah terbuka, serta ekor bulat putih di bagian belakang pinggulnya.
“Bahkan dengan pakaian seperti ini pun, kamu tidak membuatku bernafsu, Syl!”
Kalimat Gerald terus bergema tajam di kepalanya, menyaingi bising musik yang menggelegar.
Perlahan, gadis itu berdiri di depan benda itu. Tangannya terangkat. Ujung jemarinya menyentuh pinggangnya sendiri, menekan kulit di balik korset, lalu merayap ke atas menuju dadanya. Ia meremasnya ragu-ragu, lalu memiringkan badan ke kiri dan ke kanan, mengamati pantulan tubuhnya sendiri dengan kernyitan di dahi.
"Apa aku memang nggak semenarik itu?"
Tangannya menelusuri lekuk paha yang berbalut jaring-jaring hitam, lalu kembali meraba dadanya yang terangkat oleh busa bra, mencoba mencari bagian mana dari dirinya yang dinilai tidak menarik dan membosankan.
Apakah bentuk tubuhnya benar-benar semengecewakan itu? Apakah dia memang sama sekali tidak menggairahkan sebagai seorang wanita?
Dia menekan dadanya dari samping, membuatnya lebih menonjol.
“Kalau begini–”
“Sedang apa?”
Sepasang mata Sylvia membelalak, kepalanya sontak berputar ke arah pintu kamar yang ternyata telah terbuka.
Di sana, berdiri sesosok pria bertubuh jangkung dengan balutan kemeja hitam dan setelan jas abu-abu gelap. Rahang tegas pria itu mengeras kaku, garis bibirnya datar tanpa ekspresi, dan sorot matanya sedingin es di puncak kutub.
Oh, sial.
Kenapa Maxwell Alexander, sahabat kakaknya itu, ada di sana!?
Friksi antara kain celana bahan santai Maxwell dengan tubuh bagian bawah Sylvia menghasilkan panas yang kian mendidih. Tekanan keras yang menumpu di area sensitifnya menghadirkan rasa ngilu yang cukup tajam, membuat Sylvia merintih tertahan. Sylvia meronta kecil, pinggulnya menggeliat tanpa kendali—setengah mencoba menghindar dari rasa sakit yang asing, setengah mencari jalan keluar dari desakan panas yang menghimpitnya—namun cengkeraman tangan Maxwell di pinggulnya bagai rantai baja yang mengunci gerakannya. "Kak... sakit... tolong..." rengek Sylvia dengan sudut mata yang mulai basah. Seluruh keberanian nakalnya tadi seketika lebur menjadi kepasrahan dan ketidakberdayaan mutlak. "Kak Max... pelan... jangan gantung aku kayak gini..." "Minta dengan benar, Sylvia," perintah Maxwell dengan suara bariton yang bergetar rendah di telinganya. Menyadari ketegangan dan getar takut pada tubuh gadis itu, sentuhannya di pinggul Sylvia sedikit melunak untuk memberi kenyamanan, namun tanganny
Perlahan, jemari lentik Sylvia terangkat dan mendarat di atas dada liat Maxwell. Kulit pria itu terasa begitu panas, seolah membakar langsung ke aliran darah Sylvia. Begitu sentuhan dingin jemarinya menyapu kulit tersebut, otot dada dan perut Maxwell seketika mengeras kaku. Sebuah desisan tajam lolos dari sela gigi pria itu, rahangnya terkatup begitu rapat hingga urat di pelipisnya berdenyut liar. Sylvia tidak berhenti. Mengikuti naluri yang menuntunnya, jemarinya perlahan meluncur turun menyusuri garis tengah perut Maxwell yang kencang bagai baja pahatan, berhenti tepat di batas celana panjang yang masih membungkus pinggang pria itu. Setiap gerakan lembut jemari Sylvia menghantarkan gelombang kejut yang membuat Maxwell mengepalkan tangannya di atas seprai hingga kain sutra itu berkerut kusut. Pria yang biasanya selalu berdiri dengan kendali mutlak dan kepalanya yang dingin kini berada di titik paling rapuh, menahan gejolak yang nyaris menghancurkan benteng pertahanannya. Tangan
"Kak Max... aku pengen jilat dan emut milikmu." Ucapan berani yang meluncur tanpa filter dari bibir Sylvia seketika membakar habis sisa kesabaran Maxwell. Rahang pria itu mengeras kaku. Urat-urat halus di lehernya menonjol tegang, dan untuk sepersekian detik, napasnya tercekat di tenggorokan. Mata elang Maxwell yang pekat menghunus lurus ke dalam manik mata Sylvia yang berkilat menantang, meski rona merah padam kini mulai merambat liar di kedua pipi gadis itu. "Sylvia..." bisik Maxwell dengan suara bariton yang luar biasa rendah, begitu parau hingga terasa menggetarkan rongga dada gadis di bawahnya. "Kamu benar-benar tidak takut bermain api denganku, hm?" Sylvia menelan ludah pelan. Keberaniannya sempat bergetar melihat tatapan sang predator yang begitu pekat, namun rasa ingin mendominasi dan memanjakan pria itu membuatnya enggan menarik kembali kata-katanya. "Aku nggak takut..." bisik Sylvia dengan suara bergetar halus, jemarinya perlahan menyusup ke tengkuk pria itu, menarik he
Di balik selimut sutra tebal yang memerangkap udara hangat, ketegangan di antara mereka seketika berubah menjadi bara api yang membakar perlahan.Maxwell tidak bergeser satu inci pun dari atas tubuh Sylvia. Bobot tubuh tegapnya menekan kasur di kedua sisi pinggang ramping gadis itu, mengurung Sylvia seutuhnya dalam sangkar otot liat dan wibawa mutlak. Kemeja putih Maxwell yang tadi basah kini sudah tanggal, menyisakan dada bidangnya yang telanjang dan berkilau halus oleh sisa peluh perjuangan semalam. Setiap kali pria itu menarik napas, otot-otot perutnya yang padat bergesekan langsung dengan kain gaun tidur sutra tipis yang membungkus tubuh Sylvia."Kak Max..." bisik Sylvia dengan suara bergetar, menatap lurus ke dalam manik mata elang yang menggelap pekat di atasnya."Masih mau mengujiku lagi, hm?" suara bariton Maxwell meluncur sangat rendah, begitu serak dan sarat akan getaran yang meremangkan bulu kuduk.Tanpa menunggu jawaban, satu tangan besar Maxwell bergerak ke atas. Jemari p


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore