LOGIN“Mengapa kau jarang sekali tersenyum?”
Lagi. Moreau kembali mengajukan pertanyaan. Yakin akan ada hal yang sangat disayangkan jika tak berusaha mengambil keputusan penuh tekad sekadar menggali bagian paling tersembunyi tentang ayah sambungnya. Abihirt tidak terlihat memiliki minat menjabarkan jawaban. Diam seperti patung yang sedang bekerja—membuka sarung tangan hitam setelah menegakkan tubuh dan menatap penuh pengamatan di wajahnya. “Sudah selesai.” Alih – alih meMereka sedang berjalan menuju altar. Itu hal yang sama sekali tidak pernah Moreau pikirkan akan berjalan lancar. Dia sesekali melirik Juan, dan bagian paling penting ... adalah Abihirt yang sedang menunggu dengan wajah tampan.Saat jarak sudah semakin dekat; Moreau sedikit menyadari bahwa sang mempelai pria berusaha untuk tidak menunjukkan sikap emosional, walau sepertinya Abihirt nyaris tak bisa melakukan itu. Harus dengan Roger menyerahkan selembar tisue dan pemandangan tersebut membuat Moreau benar – benar seperti baru saja diledakan oleh sesuatu yang dipikir ... terlalu mustahil. Seharusnya, terhadap segala bentuk usaha yang pernah dilakukan. Dia tidak perlu meragukan hubungan mereka. Bukankah Abihirt baru saja menunjukkan sikap bahwa pria itu memang sangat ingin menikahinya?Ya, ini hari penting—yang seharusnya tak perlu melibatkan masa – masa kelam seperti dulu. Moreau tidak ingin mengacaukan apa pun. Sudut bibirnya melekuk lebar ketika sudah begitu dekat. Juan pe
“Damn! Aku tidak menyangka kalau ternyata tiga bayi di perutmu tidak membuatmu terlihat buruk dalam balutan gaun pernikahan.”Moreau tersenyum ketika mendengar suara Juan berkomentar dengan antusias. Pria itu sudah menyusul di sini, yang artinya ... pernikahannya akan segera dimulaiAtau mungkin tidak. Dia mengernyit sesaat ketika jam digital di atas nakas membuktikan keberadaan Juan 30 menit lebih awal dari seharusnya. Pria itu perlahan berjalan lebih dekat. Secara naluriah pula Moreau beranjak bangun sekadar membuat mereka berhadapan.“Apa upacara pernikahan akan dimulai lebih awal?” tanya Moreau sedikit dengan nada gugup. Tidak tahu mengapa momen penting terasa seperti gencatan senjata yang justru akan dengan mudah meremuk-redamkan jantungnya. Dia berdebar keras setiap kali mengingat bahwa nanti—di atas altar—bersama Abihirt ... mereka akan mengucapkan janji pernikahan. Takut ada kesalahan bicara. Padahal, dia sudah melakukan latihan serius selama beberapa h
Abihirt benar – benar membuktikan kata – katanya untuk meminta pendapat. Sekarang, Moreau sendiri hampir terlalu bingung memilih dekorasi seperti apa, yang tidak berlebihan, tetapi anak – anak juga harus menyukai setiap detil acara. Iris biru terang Moreau masih terlalu serius memperhatikan ide visual dari setiap lembar buku yang dia singkirkan. Harus diakui ... nyaris belum ada yang sanggup menarik seleranya; sampai di beberapa halaman terakhir; perhatian Moreau tertahan. Ujung jemarinya secara naluriah menyentuh bunga dalam tampilan dua dimensi di sana.Putih menggambarkan sesuatu yang murni. Akan sesuai dengan keinginan mereka. Dia segera tersenyum dan menatap Abihirt di sampingnya.“Bagaimana dengan yang ini? Sedikit bunga, tapi Lore dan Arias akan melihatnya sebagai hiasan yang indah. Mereka pasti akan sangat suka.”Tidak ada yang salah dari pernyataan tersebut. Moreau hanya tidak mengerti mengapa Abihirt memperlihatkan ekspresi diam—cenderung menyimpulkan sesu
Moreau sedikit tersentak saat cairan Abihirt menyebur ke permukaan perutnya. Mereka saling menatap dengan embusan napas yang saling bertaut ke udara. Dia curiga Abihirt akan mengambil kesempatan untuk kembali memasukinya. Pria itu tidak akan pernah puas.Dan cara yang tepat untuk mengalihkn perhatian Abihirt adalah memulai percakapan.“Aku lupa memberitahumu kalau Juan ingin menjadi ayah baptis untuk anak – anak kita,” dia berkata dengan hati – hati setelah Abihirt menjatuhkan tubuh ke samping dan mengambil kesempatan mendekapnya erat.Jelas tidak ada tanggapan langsung. Moreau mengerti jika Abihirt butuh waktu sekadar menenangkan diri. Meski mulut pria itu terasa benar – benar dekat di bahunya ketika memberi tanggapan.“Bukankah aku sudah bilang kalau Roger yang akan menjadi ayah baptis untuk anak – anak kita?”Moreau sedikit meringis sebagai isyarat bahwa dia masih sangat mengingatnya. “Ya, aku tahu. Tapi, kita akan punya tiga bayi kembar. Juan bisa memili
Lengan Moreau terulur, diliputi ujung jemari yang mengangkat dagu Abihirt supaya menengadah. Sebenarnya, dia sudah kehabisan ide untuk melakukan sesuatu yang lain, tetapi tidak ingin jika mereka terlalu cepat masuk pada hidangan utama. Perlu sedikit bermain – main, meski Abihirt tampaknya sudah begitu tidak sabar.“Aku tidak tahu berapa lama lagi kau akan berdiam diri di sana, Mommy,” pria itu berkomentar dengan serius.Persis seperti apa yang sedari tadi Moreau lakukan. Tidak ada yang bermaksud menggantung suasana di antara mereka lebih lama. Setidaknya, dorongan dari Abihirt segera membuat dia bersimpuh sambil menggeser lebih dekat untuk berada di hadapan pria itu.“Kau ingin aku melucuti celanamu dan melakukan sesuatu dengan milikmu yang sudah berontak ini?” tanya Moreau. Sengaja meletakkan telapak tangan sekadar merasakan kejantanan Abihirt yang sudah membengkak.“Ya, persis seperti itu.”Suara serak dan dalam Abihirt tidak dimungkiri sudah terdengar parau. M
Warna merah menyerupai darah masih meninggalkan sensasi merinding. Semua peralatan seks liar—nyaris mengisi seluruh sudut tempat, terlihat sangat terawat seperti terakhir kali saat dia secara tak terduga menemukan Abihirt ada di sini, meski tidak terlalu memperhatikan situasi pada momen tersebut. Namun, nyatanya Moreau tidak bisa menolak satu gambaran di mana pria itu sangat menghargai suatu ironis. Ntahlah, dia merasa getir ketika harus mengingat bahwa ada sesuatu yang berbeda dari Abihirt, karena seseorang telah melakukan hal buruk kepadanya masa lalu ... bahkan masih terasa seperti bencana besar.“Aku tidak akan melakukan apa pun. Jadi, apa rencanamu, Mommy?”Moreau sedikit tersentak. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk melamun. Dia langsung berbalik badan; persis membuat mata mereka menggapai kontak serius.“Kulihat ada kursi di sana. Kau mungkin bisa duduk.”Lupakan beberapa hal yang pernah begitu menyakitkan. Moreau punya rencana sendiri ketika meminta A
“Apa yang tidak perlu kukatakan memangnya?” Moreau berbalik tanya. Dia tahu persis tujuan pria itu, memilih tidak menunjukkan di hadapan Abihirt. Masalahnya, ini seharusnya tidak perlu dibesarkan. Moreau hanya berniat memperbaiki isi pemikiran Roki, supaya tidak terus – terusan mengira hal – hal
Otot kaki Moreau mendadak lemah mendapati tangan Abihirt meluncur di bawah sana. Jari cekatan itu menemukan jalan masuk di balik celana tipis. Dia tersentak, segera mencengkeram di bahu Abihirt saat pria tersebut bernapas nikmat di ceruk lehernya. Lidah hangat Abihirt begitu konsentrasi mencermin
Napas Moreau berembus dan mulai menyerah untuk melanjutkan sisa langkah di lorong lantai dua. Dia terbangun sedikit siang karena peristiwa semalam. Ada yang perlu ditanyakan kepada Barbara tentang jaket yang sempat wanita itu pinjam, tetapi keberadaan ibunya tak kunjung ditemukan. Moreau tidak ta
[Kau ke mana saja, Moreau? Ponsel ayahmu juga tidak bisa dihubungi. Kenapa kalian kompak sekali tidak memberiku kabar?] Moreau menjauhkan seluler genggam beberapa saat sebelum mengatur napasnya agar lebih tenang. Dia menatap wajah Abihirt sebentar dan segera memutuskan kontak mata setelah menemukan







