Mag-log inSore itu, rumah terasa hangat oleh tawa kecil Josh. Bocah itu duduk di atas karpet ruang tengah, sibuk menyusun balok warna-warni yang membentuk menara tinggi. Althea duduk di sampingnya, sambil sesekali membenarkan bentuk yang miring.
“Hati-hati, sayang, nanti jatuh,” katanya lembut.
Josh terkekeh. “Aku mau bikin lebih tinggi dari Papa Chase!”
“Wah, itu berarti harus membuat dasarnya kuat agar tak mudah ambruk,” jawab Althea, menatap a
“Pelan-pelan, Lydia. Kau tidak sedang ikut lomba maraton,” suara Cale terdengar dari belakang, setengah menahan tawa saat melihat Lydia melangkah dengan tongkatnya.“Aku tidak butuh pelatih pribadi yang terus mengomentari setiap langkahku.”“Aku tidak mengomentari, aku hanya mengingatkan.”“Bedanya apa?”“Kalimatku lebih sopan.”Lydia menoleh dengan ekspresi setengah jengkel. “Kau tahu tidak, Cale? Kadang aku berpikir kau datang hanya untuk membuatku kesal.”“Itu bonus,” balasnya santai. “Tapi alasan utamaku datang karena aku ingin memastikan kau tidak jatuh.”“Aku sudah bisa menjaga keseimbanganku sendiri.”“Ya, setelah dua bulan aku menahanmu setiap kali kau hampir tersungkur.”Lydia mendengus kecil, tapi ujung bibirnya terangkat samar. “Kau terlalu suka membanggakan diri.”“A
“Cale… kau tidak perlu di sini,” suara Lydia terdengar serak dari balik selimut. “Aku hanya demam ringan.”“Demam ringan tidak membuatmu gemetar seperti itu,” jawab Cale, menatapnya dengan dahi berkerut. “Suhu tubuhmu hampir empat puluh derajat.”“Itu bukan urusanmu.”“Sekarang urusanku.”Lydia menatapnya lemah. “Aku tidak minta kau datang.”“Dan aku tidak minta izin untuk datang.”“Cale…”“Lydia,” potongnya, suaranya tenang tapi tegas. “Berhenti berdebat. Kau tidak dalam kondisi untuk menang.”Lydia menarik napas panjang, menatapnya dengan mata setengah tertutup. “Kau suka sekali mengatur orang.”“Hanya orang yang keras kepala sepertimu.”“Dan kau pikir itu lucu?”“Tidak. Tapi aku menikmatinya.”Lydia memejam
“Cale, kau tidak perlu datang setiap kali aku terapi,” kata Lydia tanpa menoleh, suaranya terdengar datar tapi matanya berkilat kesal di cermin depan treadmill.“Aku tidak datang untukmu,” jawab Cale santai, menyilangkan tangan di dada. “Aku hanya kebetulan punya waktu luang.”“Waktu luangmu sepertinya terlalu banyak.”“Tidak juga. Aku hanya tidak suka meninggalkan seseorang berjalan sendiri dengan kaki pincang.”Lydia menghentikan langkahnya, menatapnya tajam. “Kau baru saja menyebutku pincang?”Cale mengangkat bahu. “Aku hanya mengatakan fakta.”“Fakta bahwa kau tidak punya sopan santun?”“Tidak. Fakta bahwa aku jujur.”Lydia mendengus kesal, lalu melanjutkan jalan pelan di treadmill. “Kau seharusnya menjaga mulutmu, Tuan Callister. Aku bisa saja menendangmu keluar.”“Dengan kaki itu?” god
“Apakah kau siap?” suara lembut itu datang dari balik pintu, disertai ketukan pelan.Althea tersenyum kecil. “Masuklah, Lydia.”Lydia membuka pintu dan mendekat, menatap sahabatnya yang berdiri di depan cermin dengan gaun sederhana berwarna gading. “Aku masih tidak percaya hari ini benar-benar terjadi,” katanya, suaranya bergetar antara haru dan bahagia.“Begitu juga aku,” Althea menjawab pelan, menatap bayangannya sendiri. “Aku tidak menyangka akan menikah lagi… apalagi dengan Daven.”“Dia mencintaimu, Thea. Aku melihatnya setiap kali dia menatapmu.”Althea tertawa kecil. “Kau tahu, dulu aku tak pernah melihat tatapan itu. Tapi sekarang… aku mengerti apa artinya cinta yang tumbuh setelah luka.”Lydia meraih tangannya. “Kau pantas mendapatkannya.”Pintu terbuka lagi. Kate muncul di ambang pintu bersama Riana Miller. “Say
“Jadi… kau benar-benar serius kali ini?” suara Kate Callister terdengar pelan tapi sarat emosi.Daven mengangguk. “Aku tidak pernah seyakini ini sebelumnya, Mom.”Felicia menatapnya tak percaya. “Lamaran? Kau mau melamar Althea? Sekarang?”“Dua hari lagi,” jawab Daven mantap. “Aku ingin melakukannya dengan cara yang sederhana, tapi bermakna.”Kalina menepuk pundaknya dengan senyum kecil. “Kau sadar, ini pertama kalinya kau bicara soal perasaan tanpa keraguan?”Daven tersenyum tipis. “Mungkin karena kali ini bukan tentang aku. Ini tentang dia—dan dua anak kecil yang memanggilku Papa setiap pagi.”Kate terdiam sejenak. “Daven, aku tahu aku bukan orang yang sering menyanjung, tapi aku bangga. Althea wanita baik. Dan anak-anak itu… mereka sudah jadi bagian darimu.”“Terima kasih, Mom,” jawab Daven lembut. “
“Mereka tidur cepat malam ini,” gumam Althea sambil menutup pintu kamar anak-anak pelan.Daven yang duduk di sofa ruang tamu mengangguk. “Josh tadi bilang dia mau kasih gambar bunga ke Daddy Chase besok. Aku bantu warnain.”Althea tersenyum kecil. “Kau sekarang ahli mewarnai juga rupanya.”“Kalau bersaing dengan anak lima tahun, aku masih bisa menang tipis,” jawabnya sambil terkekeh.“Tapi Grace lebih jago,” balas Althea. “Dia suka pakai semua warna dalam satu gambar.”“Itu kreatif namanya,” sahut Daven ringan. “Kau juga begitu dulu waktu pertama kali masak. Semua bumbu masuk.”Althea menatapnya dengan tawa tertahan. “Kau masih ingat itu?”“Bagaimana mungkin aku lupa? Aku makan ayam panggang rasa kecap manis, cabai, dan madu sekaligus. Tapi aku tetap habiskan.”“Karena kau takut aku marah,” tuduh A
“Sebaiknya kau tidur. Ini sudah sangat larut,” kata Kate pada Daven yang tampak lelah. Bukan hanya dirinya, kedua putrinya juga tampak lelah. Sudah terlalu larut obrolan mereka tapi tak mungkin dihentikan begitu saja.Setidaknya Kate tahu apa yang akan Daven lakukan dan kenapa Daven melaku
“Kenapa kau menahanku?” tanya Vanessa penuh amarah. Ia menyentak tangan James yang sejak tadi memeganginya begitu sampai di mobil. “Apa kau sengaja agar aku tak bisa bicara dengan Daven?”“Saya tak pernah punya niat seperti itu, Miss Vanessa,” sahut James dengan sabar. “Mari, silakan masuk dulu. Le
“Apa maksudmu?” tanya Vanessa, suaranya meninggi dan matanya menyorot tajam. “Kau bicara seolah aku melakukan sesuatu yang buruk?”Daven tak langsung menjawab. Ia hanya menoleh sedikit, lalu menyunggingkan senyum tipis yang lebih mirip ejekan. Tanpa berkata apa pun, ia berdiri dan berjalan ke sisi
“Sejak tadi, aku perhatikan kau tak meminum tehmu?” tanya Ruth dengan nada santai. Ia menyesap teh yang baru saja dituang ke cangkir porselen berukiran bunga kecil yang indah. “Sayang sekali jika kau tak bisa menikmati teh seenak ini.”Althea tersenyum kikuk, tangannya meraih cangkir yang sejak tad