로그인Azka Raditya Charles adalah seorang aktor yang sangat terkenal. Perjalanan seorang Azka untuk menjadi aktor yang terkenal tidaklah mudah, karena dari awal sang Ayah yang bernama Dhiran Charles tidak menyetujui jika anaknya yang akan mewarisi seluruh perusahaannya itu berkecimpung di dunia entertainment. Azka bersikeras untuk menjadi seorang aktor, pada akhirnya sang Ayah mengusirnya dari rumah. Azka pun pergi tanpa menyandang nama Charles di belakangnya. Selama menjadi seorang aktor, Ayahnya selalu melakukan berbagai hal yang bisa membuat image anaknya itu buruk di dunia entertainment. Tetapi Azka masih bisa mengatasi hal-hal buruk yang dilakukan oleh Ayahnya. Hingga akhirnya, Ayahnya menjebak dirinya dan membuat berita tentang dirinya yang tidur bersama wanita. Mau tidak mau, Azka pun berbohong dan mengatakan pada media bahwa wanita yang ada di berita itu adalah calon istrinya. Dan akan segera menikahinya. "Sial! Aku bahkan tidak kenal siapa wanita itu. Dan kini aku harus pura-pura menikah dengannya?!"
더 보기Azka duduk menyenderkan tubuhnya di sofa. Lelaki itu tampak begitu lelah, usai melakukan pemotretan untuk cover sebuah majalah.
Azka memijit kepalanya pelan, "setelah ini aku tidak ada jadwal apapun kan?" Rivi, yang merupakan manajer dari Azka itu mencek tablet di tangannya, kemudian menggeleng. "Tidak ada. Setelah ini jadwal mu kosong." "Baiklah," Azka berdiri. Dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruangan. "Azka, kau mau kemana?" Tanya Rivi sedikit berteriak. Azka berbalik, kemudian menjawab. "Aku lelah, dan aku butuh hiburan sekarang. Aku akan pergi ke club hill." "Yasudah, tapi tolong berhati-hati. Okay? Jangan sampai terlibat masalah apapun selama di sana. Awas saja, jika besok pagi aku melihat nama mu dimuat dalam sebuah berita." Rivi mengingatkan. "Ya, ya, ya. Kau tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri." Setelah berucap begitu pada Rivi. Azka pun melenggang pergi. ••• Mengendarai mobil mewah berwarna hitam, Azka pun mulai melajukan mobilnya. Membawa mobil hitamnya itu menuju pusat kota di mana club hill berada. Setelah memakan waktu beberapa puluh menit di perjalanan, Azka pun akhirnya tiba di tempat tujuan. Azka melangkah masuk ke dalam club hill, beberapa pegawai di sana menyapanya sambil tersenyum. Selain karena dia seorang idol yang wajahnya sering muncul di televisi ataupun di socialmedia, ia juga merupakan pelanggan tetap di club ini. Sehingga para pegawai dan orang-orang sudah tidak asing lagi dengan wajahnya. Azka berjalan menuju meja bar dan memesan minum pada seorang bartender. "Seperti biasa," ucapnya. Bertender itu mengangguk, "siap bos." Selang beberapa menit, bartender itu meletakkan minuman yang telah Azka pesan di atas meja bar. "Kau sendirian? Di mana manajer mu?" "Dia tidak ikut." Azka menyahut dan mulai menyesap minumannya. "Ahh, begitu." Bartender itu mengangguk-angguk. "Selagi kau di sini, bersenang-senang lah. Aku tidak bisa menemanimu, aku harus melayani pelanggan lain." "Baiklah. Baiklah. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu." Beberapa saat setelah menenggak habis minumannya, Azka merasa jika kepalanya begitu berat dan pusing. Apa yang ia lihat tampak berputar-putar. Ia pun berdiri dari duduknya, dan berjalan menjauh dari keramaian sambil terhuyung-huyung. Ia berjalan dengan sebelah tangannya memegang kepala dan sebelah tangan yang lain berpegangan pada dinding, untuk membantu keseimbangan langkahnya agar tidak jatuh ke lantai. Tidak mampu lagi menahan rasa pusing di kepalanya, Azka pun tidak dapat melangkahkan kakinya lagi. Lalu, dalam hitungan detik seluruh penglihatannya pun menjadi gelap. ••• "Nay, lo mau kemana habis ini?" Naya, gadis dengan rambut sepunggung dan berparas cantik itu memasukkan laptopnya ke dalam tas. "Kayaknya gue langsung pulang deh." "Lo gak mau ikut kita-kita ke club?" Tanya salah seorang temannya. Naya menggeleng. "Ngga. Gue gak punya waktu buat senang-senang di club." "Kalian ini. Udah tau Naya paling anti diajakin pergi ke club, masih aja ngajakin dia kesana." Teman dekatnya yang bernama Lara menyahuti. "Iya ya, lupa gue. Tapi, lo ikut kita kan Ra?" "Ikutlah. Tapi, lo gak papa pulang sendirian Nay?" "Gak papa. Santai aja, lagian juga biasanya gue pulang sendiri kan?" "Yaudah, udah tengah malam nih. Kalau gitu gue pulang duluan ya. Byee." Naya pamit, dan keluar dari dalam cafe lebih dulu. Meninggalkan teman-temannya di sana. Berhubung jarak cafe dan rumahnya tidak terlalu jauh, Naya pun memilih untuk pulang berjalan kaki. Hanya memakan waktu 10 menit berjalan kaki, maka Naya pun akan sampai di rumahnya. Naya berjalan santai sambil memainkan ponselnya. Sampai akhirnya, ada dua lelaki asing bertubuh besar yang tiba-tiba saja datang entah dari mana menghampirinya. Naya panik melihat dua lelaki itu. Ia pun memutuskan untuk langsung berlari secepat mungkin menghindari kedua orang itu. Tidak cukup hanya dengan menghampirinya, ternyata dua lelaki asing tadi juga turut mengejarnya, membuat Naya semakin panik dan ketakutan. Naya pun berteriak meminta tolong, sayangnya keadaan di sekitar begitu sunyi hingga tidak ada satu pun orang yang lewat untuk bisa ia minta tolongi. Dua lelaki bertubuh besar itu semakin dekat dengannya dan dalam hitungan detik mereka berdua dapat dengan mudah menangkap Naya. Salah satu dari lelaki itu memegang tubuh Naya yang memberontak, dan salah satu yang lain membekap mulut Naya yang berteriak dengan sapu tangan. Naya tidak tahu ada obat apa di sapu tangan itu. Yang jelas ketika mulutnya dibekap dan hidungnya menghirup bau dari sapu tangan itu, matanya langsung memberat. Yang tak lama kemudian, kedua matanya pun tertutup erat. ••• Sinar mentari pagi yang masuk melalui celah jendela itu membuat Azka mengerucutkan mata. Merasa terganggu dengan sinar matahari yang menerpa wajahnya, terpaksa Azka membuka matanya yang berat itu dengan perlahan. Azka membuka mata, dan ia pun menyadari bahwa ia tidak sedang berada di apartmentnya. Melainkan di sebuah hotel mewah. Lelaki itu kemudian bangun dan membawa tubuhnya bersandar sebentar pada headboard ranjang, sebab rasa pusing yang luar biasa itu kembali menghantam kepalanya. Mau tak mau, ia pun memijit kepalanya dengan pelan. Azka tak tahu apa yang salah dari minuman yang ia minum semalam hingga membuatnya pusing dan hilang kesadaran. Tetapi satu hal yang Azka tahu, seseorang dengan sengaja memasukkan sesuatu ke dalam minumannya. Lantas, apa tujuannya? Sibuk bergumul dengan pikirannya sendiri, menebak-nebak apa tujuan dari orang itu memberikan obat pada minumanya. Azka sampai tidak sadar, jika pintu di depannya itu tiba-tiba dibuka oleh orang asing. Ia baru menyadarinya, ketika suara jepretan yang berasal dari kamera yang orang asing itu bawa terdengar di telinganya. Azka mengerutkan dahi kebingungan dengan kedatangan orang asing itu ke dalam kamarnya secara tiba-tiba. Kerutan di dahinya semakin dalam saat menyadari jika orang itu terus memotretnya sedari tadi. Hingga akhirnya ia tersadar, jika ia tidak seorang diri di sini. Ada seorang gadis yang tubuhnya tertutup selimut dan rambutnya yang terurai di atas bantal sedang tertidur lelap di samping dirinya yang tengah bertelanjang dada. Setelah memotret Azka dan gadis yang tertidur di sampingnya itu cukup banyak, orang asing tadi langsung menutup pintu dan berlari keluar secepatnya. Sial! Azka mengumpat. Dari banyaknya waktu, kenapa otaknya bereaksi begitu lambat hari ini? Mulai dari telat menyadari ada orang lain yang turut tertidur di ranjang yang sama dengannya, juga telat menyadari jika orang asing yang memotretnya tadi adalah seorang paparazzi. Azka menatap wajah gadis yang tengah tertidur di sampingnya itu. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan bulu matanya yang panjang dan lentik, juga hidungnya yang mancung. Azka menyentuh pipi lembut gadis itu, lalu menepuknya pelan, berniat untuk membangunkannya. Sayangnya, gadis itu tetap tidak bangun walaupun Azka sudah menepuk pipinya berkali-kali. Azka kemudian tidak melanjutkannya lagi, dan membiarkan gadis itu tidur dengan nyenyak. Ya walaupun ia bertanya-tanya siapa sebenarnya gadis ini. Dan kenapa gadis itu bisa berada di ranjang yang sama dengannya. Matahari semakin naik, Azka pun segera mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Kemudian menelpon manajernya. "Halo? Rivi? Bisa kau jemput aku di hotel sekarang?" "Apa? Kenapa? Kenapa kau tidak pergi menggunakan mobil mu saja?" "Tidak bisa. Sepertinya akan ada skandal tentang ku sebentar lagi. Pokoknya sekarang kau harus menjemputku!" "Apa? Skandal? Apa kau membuat masalah? Bukankan sudah ku bil-" Tut. Azka mematikan teleponnya secara sepihak. Kepalanya sudah cukup pening, ditambah mendengar pertanyaan beruntun Rivi melalui sambungan telepon. Bisa-bisa kepalanya akan meledak. Jadi, lebih baik ia tutup saka telepon itu secara sepihak. 45 menit, akhirnya Rivi sampai di kamar hotel tempat Azka berada. Manajernya itu membawa sebuah paper bag yang berisi baju ganti lalu melemparkannya kepada Azka. "Cepat ganti baju mu." Tanpa banyak protes, Azka pun langsung mengambil baju dari dalam paper bag itu dan segera mengganti pakaiannya. Setelah berganti pakaian, Azka pun berjalan menghampiri Rivi, ikut berdiri di samping manajernya itu. Ia melihat jika Rivi tengah sibuk menatap pada gadis yang sedang tertidur di atas kasur itu. "Kau mengenalnya?" Rivi bertanya. "Tidak," Azka menggeleng. "Aku tidak kenal siapa dia. Saat aku bangun dia sudah ada di sampingku. Lalu, tiba-tiba saja seseorang masuk ke kamarku dan langsung memotret kami." Ting! Rivi membuka ponselnya, kemudian ia membuka situs web yang memuat berita tentang Azka. Hot News! Azka Raditya ternyata sering pergi ke club dan suka tidur dengan banyak wanita? Rivi shock membaca judul berita yang termuat di halam web itu. Tidak lama setelahnya ponsel Rivi maupun Azka sama-sama berdering. "Azka! Jangan diangkat!" Azka menuruti ucapan Rivi untuk tidak mengangkat panggilan telepon yang masuk. Terlalu banyak panggilan masuk, mereka pun memilih untuk menonaktifkan ponsel mereka sementara waktu. Setengah jam berlu, barulah mereka menyalakan ponsel kembali. Rivi membaca beberapa judul berita melalui ponselnya. Harga saham ZT Entertainment anjlok? Usai skandal Azka Raditya muncul, harga saham ZT Entertainment turun drastis. Rivi berdecak membaca beberapa judul berita yang muncul. Ia pun melihat ke arah Azka yang sibuk menatap ponselnya dengan tatapan sedih. "Ada begitu banyak komentar kebencian tentang ku sekarang," Azka membaca satu persatu komentar tentang dirinya. Ada banyak orang yang menyumpahinya usai berita skandal itu muncul. "Apakah karir ku akan hancur sekarang, Rivi?" Tanya Azka sambil menatap cemas ke arah Rivi. "Tidak. Jangan cemas. Karirmu tidak mungkin hancur sekarang," Rivi menenangkan. "Lebih baik, kita pergi dulu dari tempat ini." "Lalu? Bagaimana dengan wanita ini?" Azka menunjuk pada gadis yang masih terlelap di atas ranjang itu. "Kita tinggalkan dia dulu," putus Rivi. "Yang terpenting, kita harus pergi dari sini." Sebelum mereka berdua benar-benar pergi. Ponsel Azka kembali berdering, menampilkan nama step father di layar ponselnya. Ia pun langsung mengangkat telepon itu. "Bagaimana? Kau suka hadiahnya?" Usai mendengar ucapan ayahnya barusan. Azka langsung menutup panggilan dari ayahnya secara sepihak dan langsung mengumpat. Sial! Ia sudah menduga bahwa ini semua adalah jebakan, ia dijebak agar karirnya hancur. Dan sekarang ia sudah tahu siapa orang yang dengan sengaja menjebaknya. Itu Ayahnya, Valentino Dhiran Charles.Steve duduk sambil menonton acara infotainment yang menampilkan wajah cucunya itu di televisi.Ia tertawa senang, yang lantas menarik perhatian Dhiran yang ada di belakangnya."Lagi nonton apa, ayah?" Tanya Dhiran."Itu, Azka. Cucuku." Tunjuk Steve pada layar televisi yang menampilkan wajah Azka di sana.Dhiran mendengus, lalu ia ikut duduk di samping Steve. "Dhiran heran sama Azka. Kenapa dia tetap milih jadi aktor, daripada ngurusin perusahaan Dhiran."Steve mengedikkan bahu. "Mau gimana lagi? Itu kan memang pilihannya. Ia bahkan rela meninggalkan rumah, dan memilih pergi tanpa menyandang nama Charles di belakangnya.""Ngomong-ngomong, Ayah." Dhiran menatap serius ke arah Steve. "Bagaimana Ayah punya ide untuk membuat skandal seperti itu dan berhasil? Azka bahkan sampai kembali menginjakkan kakinya ke rumah ini lagi." Dhiran tidak habis pikir."Bertahun-tahun Dhiran mencoba membuat Azka untuk kembali menginjakkan kaki di rumah ini, tapi tidak pernah berhasil." Keluh Dhiran.Steve te
Naya begitu gugup sekarang. Sebentar lagi wajahnya akan muncul di televisi. Dan pastinya wajahnya juga akan tersebar di media sosial."Kau baik-baik saja?" Rivi menghampiri Naya yang tampak terlihat gugup. "Kau gugup?""Ah? Ngga kok." Jawaban yang sama sekali tidak sinkron melihat dari wajahnya yang tampak begitu gugup.Selang beberapa menit, Azka akhirnya datang. Mereka berdua pun mulai ditanyai perihal hubungan asmara keduanya."Jadi, selama ini kalian sudah berpacaran selama 2 tahun ya? Dan ini kali pertama pacar kamu muncul di hadapan publik ya Azka?”"Iya. Kami sudah berpacaran selama 2 tahun. Azka menjawab. "Dan ini pacar saya, namanya Kanaya Sivia dia seorang mahasiswi di salah satu universitas negeri di kota ini. Dan benar, ini kali pertama saya memperkenalkan Naya ke hadapan publik.""Kanaya, bagaimana rasanya mempunyai pacar seorang aktor yang sangat terkenal?"Ha? Aktor terkenal apaan? Ujar Naya dalam hati. Mati-matian gadis itu menahan untuk tidak memutar bola matanya mend
NayaRa, izinan gue ya gamasuk kelas hari ini. PlizzzzLaraHa? Tumbenan lo gk masuk. Lo sakit apa gimana???NayaAdalah pokoknya. Ntar gue jelasin okeee???Naya mendengus. Sumpah! Dia tidak menyangka kalau dia harus menikah kontrak.Alih-alih menikah dengan sah dan bahagia dengan orang yang ia cintai, ia malah harus menikah kontrak dengan seseorang yang bahkan tidak ia kenal.Arghhh! Dunia tidak adil!!! Naya berteriak dalam hati.DrtttNaya merasakan jika ponselnya bergetar, ia mencek ponselnya dan ada pesan masuk dari Rivi.RiviNaya. Saya dan Azka sudah smpai di tempat pre wed.Read.Naya memutar bola matanya usai membaca pesan masuk yang tadi. Lalu mengusap-ngusap dadanya sendiri dengan pelan. Sambil berucap, "sabar Naya, sabar."***"Rivi, dimana dia? Belum sampai juga?"Rivi menggeleng. "Belum, tapi aku sudah memberitahunya kalau kita sudah sampai."10 menit menunggu, akhirnya Naya pun datang. Azka melirik ke arah Naya, lalu berucap. "Gak bisa on time apa lo? 10 menit gue yang
Azka tampak begitu gugup. Hari ini ia akan mengadakan konferensi pers, dan pada konferensi pers nanti dia akan berbohong kepada seluruh media, mengatakan jika wanita yang bersamanya semalam adalah calon istrinya.Padahal Azka mengenalnya saja tidak! Tetapi ia harus mengatakan pada media bahwa wanita itu adalah calon istrinya.Azka menarik napas yang dalam, mencoba mengurangi rasa gugupnya sebelum memasuki ruangan yang dipenuhi oleh para wartawan."Kau terlihat sangat gugup. Kau tidak apa-apa?" Tanya Rivi khawatir melihat wajah Azka yang tampak memucat."Tidak apa-apa. Aku akan masuk sekarang."Azka pun berjalan memasuki sebuah ruangan. Tepat setelah ia masuk ke dalam ruangan, semua wartawan pun mulai sibuk memotretnya. Lelaki itu duduk di kursi yang menghadap ke arah wartawan. Kemudian mengambil sebuah microphone yang sudah tersedia di atas meja. Azka berdehem sebentar, lalu mulai melakukan konferensi persnya."Sebelumnya, saya ingin mengucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.