MasukTiga tahun berlalu begitu cepat, membawa begitu banyak perubahan dalam kehidupan Alexa dan yang lainnya. Sore itu, halaman belakang rumah Devan dipenuhi tawa riang dua anak kecil yang berlarian di atas rerumputan hijau, dikejar oleh dua sosok pria yang dulu dikenal dingin dan tegas, kini berubah menjadi ayah-ayah yang begitu hangat dan penuh cinta."Ayah, kejar aku!" teriak putra Alexa dan Devan, tertawa riang sambil berlari kecil menghindari kejaran Devan yang berpura-pura kewalahan.Di sisi lain halaman, putra Mike dan Valeria menjerit riang, tertawa lepas ketika Mike menggendongnya tinggi-tinggi ke udara sebelum kembali memeluknya erat, wajah kecil itu memerah bahagia diiringi tawa yang menggema.Alexa dan Valeria duduk berdampingan di kursi teras, menyaksikan pemandangan itu dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibir mereka. Secangkir teh hangat tergenggam di tangan masing-masing, angin sore berembus lembut membawa aroma bunga dari taman yang sama tempat Devan dulu memanjakan
Pagi menjelang siang.Sinar matahari menyusup lembut melalui jendela kamar rawat inap, menyinari dua ranjang yang diletakkan berdampingan atas permintaan khusus Devan kepada pihak rumah sakit. Di ranjang pertama, Alexa berbaring dengan bayi laki-lakinya yang mungil terlelap dalam dekapan, sementara di ranjang sebelahnya, Valeria juga menggendong bayi laki-lakinya sendiri dengan wajah yang masih tampak lelah namun dipenuhi kebahagiaan yang meluap."Coba lihat, Vale," bisik Alexa pelan, menatap wajah mungil putranya yang sesekali menggeliat dalam tidurnya. "Rasanya masih seperti mimpi."Valeria mengangguk, senyum tak pernah lepas dari bibirnya sejak semalam. "Aku juga masih tidak percaya, Alex. Setelah semua yang kita lalui, sekarang kita berdua sudah jadi ibu."Pintu kamar terbuka pelan, menampilkan sosok Devan dan Mike yang masuk membawa buket bunga serta beberapa keperluan bayi. Wajah kedua pria itu dipenuhi binar kebahagiaan yang tak bisa mereka sembunyikan, jauh berbeda dari raut
Beberapa bulan berlalu dengan cepat.Malam itu, rumah terasa begitu tenang hingga tiba-tiba Alexa mengerang pelan, tangannya mencengkeram lengan kursi dengan wajah menahan sakit yang luar biasa. Devan yang tengah membaca berkas kerja di sofa seberang langsung terlonjak, buku catatan di tangannya jatuh begitu saja ke lantai."Alexa! Kamu kenapa?" Devan berlari mendekat, berlutut di hadapan istrinya dengan wajah pucat pasi."Perutku… sakit sekali, Devan," rintih Alexa, kedua tangannya memeluk perutnya yang masih tujuh bulan usia kandungannya. Keringat dingin mulai membasahi dahinya, napasnya tersengal menahan nyeri yang datang bergelombang.Devan merasakan jantungnya berdegup kencang, kepanikan yang jarang sekali dia rasakan kini menguasai penuh dirinya. "Ini belum waktunya, Alexa. Ini masih terlalu cepat!""Aku tidak tahu, Devan… tapi ini sakit sekali." Alexa kembali mengerang, wajahnya meringis menahan kontraksi yang semakin sering datang.Tanpa membuang waktu lagi, Devan segera memb
4 bulan sejak kabar kehamilan Alexa. Devan berubah menjadi sosok yang jauh berbeda dari kesan dingin dan tegas yang selama ini melekat pada dirinya. Pria yang biasa menghabiskan waktu berjam-jam di kantor, kini memutuskan mengambil cuti setiap sebulan sekali dari segala urusan pekerjaan, meninggalkan tumpukan berkas dan rapat penting demi satu alasan—memberikan waktu miliknya untuk Alexa dan buah hati yang tengah tumbuh dalam kandungannya.Sore itu, matahari bersinar hangat menembus dedaunan pohon rindang di halaman samping rumah mereka. Devan sudah menyiapkan sebuah kursi santai empuk lengkap dengan bantal-bantal kecil, diletakkan di bawah naungan pohon yang teduh, menghadap langsung ke taman bunga yang sedang bermekaran."Devan, kamu tidak perlu repot-repot begini," ucap Alexa sambil tersenyum geli, melihat suaminya sibuk merapikan bantal untuk yang ketiga kalinya."Kamu dan anak kita butuh udara segar dan suasana yang tenang," sahut Devan, mengulurkan tangan untuk membantu Alexa
Satu bulan kemudian.Dini hari itu, kamar tidur masih diselimuti kegelapan ketika Alexa tiba-tiba tersentak bangun. Perutnya bergejolak hebat, rasa mual yang menyengat membuatnya buru-buru menyingkap selimut dan berlari terhuyung menuju kamar mandi.Suara langkah tergesa itu membuat Devan yang tengah tertidur pulas ikut terjaga. Matanya masih setengah terpejam ketika telinganya menangkap suara pintu kamar mandi yang dibanting, disusul suara Alexa yang terdengar tercekat, menahan sesuatu di tenggorokannya.Devan langsung bangkit, kesadarannya seketika penuh begitu menyadari sesuatu tidak beres. Dia bergegas menyusul ke kamar mandi, mendapati Alexa berlutut di depan wastafel, tubuhnya membungkuk dengan bahu yang berguncang hebat."Alexa!" Devan berlari mendekat, berlutut di sisi istrinya, tangannya cepat menyingkirkan helai rambut yang jatuh menutupi wajah Alexa sambil mengusap punggungnya perlahan. "Kamu kenapa? Ini kenapa tiba-tiba muntah?"Alexa hanya mampu menggeleng lemah, tubuhnya
Pernikahan Mike dan Valeria berlangsung sederhana di kantor catatan sipil, jauh dari kemewahan maupun keramaian. Hanya dihadiri oleh keluarga terdekat, Alexa dan Devan turut menjadi saksi dalam momen penting itu.Usai penandatanganan surat nikah, Alexa memeluk Valeria erat, matanya berkaca-kaca penuh haru."Selamat, Vale," bisik Alexa lembut di telinga sahabatnya. "Aku tahu ini bukan awal yang kamu bayangkan, tapi aku yakin kalian bisa melewatinya."Valeria mengangguk pelan, tersenyum tipis meski masih ada kegugupan yang tersisa di wajahnya."Kalau nanti ada masalah di antara kalian," lanjut Alexa, menggenggam kedua tangan Valeria, "bicarakan baik-baik. Jangan dipendam sendiri, jangan juga langsung disimpulkan sendiri tanpa bicara dulu dengan Mike."Valeria mengangguk lagi, mendengarkan setiap kata sahabatnya dengan saksama. “Iya, aku mengerti.”"Cinta itu bisa tumbuh, Vale," ucap Alexa lagi, senyumnya melembut mengingat perjalanannya sendiri bersama Devan. "Aku dan Devan juga dulu me







