共有

Satu Ranjang?

作者: Noona Aurora
last update 公開日: 2026-07-04 16:26:23

Satu sudut alis Devan tertarik ke atas, saat mendengar apa yang Alexa ucapkan. Senyum samar nyaris tak terlihat bertengger di bibirnya ketika melihat ketakutan di wajah Alexa.

“Apa yang kamu pikirkan?” Setelah bicara, Devan mengarahkan tangan yang tadi terangkat ke dasinya. Dia menarik ikatan dasi agar sedikit longgar.

Tersentak, mata Alexa membulat lebar melihat apa yang Devan lakukan. Jadi, kenapa dia salah paham kalau Devan akan melakukan sesuatu padanya?

Meneguk ludahnya kasar, kaki Alexa m
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Pernikahan Kilat: Menikah Dengan Paman Mantan Tunanganku   Kecurigaan

    Gejolak di dada Alexa tidak bisa ditahan lagi. Meskipun Devan sempat menahannya untuk memberi waktu pada Valeria, rasa khawatir sebagai sahabat dekat melenyapkan seluruh selera makannya."Aku tidak bisa diam saja, Devan," bisik Alexa seraya melepaskan genggaman tangan suaminya dengan halus. "Wajahnya tadi benar-benar buruk. Aku harus menyusulnya."Devan menghela napas pendek, lalu mengangguk paham. "Ya sudah, susul dia. Kalau kondisinya memang sangat parah, kita antar dia ke rumah sakit saja.""Iya," jawab Alexa cepat seraya beranjak dari kursi dan melangkah bergegas menyusuri koridor menuju toilet wanita di bagian belakang restoran.Di area meja makan, tersisa Devan dan Mike yang duduk berseberangan. Namun, ketenangan Mike sudah hilang sepenuhnya. Tangan pria berusia tiga puluh lima tahun itu tak berhenti meremas jemarinya sendiri di bawah meja. Pikirannya melayang jauh, menghitung mundur hari demi hari sejak malam yang tak disengaja di apartemennya dua minggu lalu.Mual mendadak...

  • Pernikahan Kilat: Menikah Dengan Paman Mantan Tunanganku   Gejala Yang Mengejutkan

    Langkah kaki Devan mendekati meja, diiringi Mike yang mengekor di belakangnya dengan gestur kaku dan formal seperti biasa. Saat mata Mike beradu pandang secara tidak sengaja dengan Valeria, pria itu sempat mengangguk tipis sebagai bentuk kesopanan yang profesional."Kalian sudah lama di sini?" Devan bicara dengan santai seraya menghampiri Alexa dan mendaratkan ciuman singkat di pelipis istrinya."Baru saja makanan kami sampai, Devan," sahut Alexa penuh senyum, lalu menggeser duduknya untuk memberi ruang bagi suaminya. "Kalian dari mana? Kenapa bisa pas sekali menyusul ke restoran ini?""Ada pertemuan singkat dengan klien di gedung sebelah," jawab Devan seraya mendudukkan diri. Dia lalu menoleh pada asisten pribadinya yang masih berdiri tegap di samping meja. "Mike, duduklah. Kita makan siang bersama sekalian di sini.""Baik, Tuan. Terima kasih," jawab Mike dengan nada suara yang sangat teratur. Mike lebih dulu mengangguk pelan ke arah Alexa dan Valeria meminta izin. Lalu dia menarik

  • Pernikahan Kilat: Menikah Dengan Paman Mantan Tunanganku   Pertemuan Tak Terduga

    Dua minggu berlalu tanpa gejolak berarti. Waktu yang berjalan lambat seolah memberi ruang bagi setiap orang untuk menata kembali kepingan kehidupan mereka yang sempat terguncang.Pagi itu, suasana di kantor pusat Ivander Group terasa lebih tenang dari biasanya. Di dalam ruang rapat utama yang megah, telah berlangsung acara serah terima jabatan yang dihadiri oleh jajaran komisaris dan direksi.Franklin berdiri tegap di samping podium kecil, mengenakan setelan jas hitam yang tampak sangat rapi. Meskipun garis-garis kelelahan dari masa pemulihannya di rumah sakit masih tersisa tipis di wajah Franklin, sorot matanya kini memancarkan tekad yang jauh lebih jernih. Di sebelahnya, Alexa berdiri anggun dengan balutan busana formal yang memancarkan aura kepemimpinan yang kuat.Melalui prosesi sederhana namun resmi tersebut, posisi tertinggi perusahaan kini dipegang sepenuhnya oleh Alexa sebagai pimpinan utama. Sementara itu, Franklin kembali menduduki kursi direktur untuk membantu menjalanka

  • Pernikahan Kilat: Menikah Dengan Paman Mantan Tunanganku   Kecemburuan Yang Tak Terduga

    Suara nada panggilan terputus terdengar dari ponsel yang dipegang Alexa. Wanita itu menghela napas lega seraya menurunkan ponsel dari telinganya, lalu menyandarkan tubuh pada kepala sofa di ruang keluarga.Devan yang sedang duduk di sampingnya seraya memeriksa berkas di atas pangkuannya melirik pelan. "Siapa yang menghubungi?""Valeria," balas Alexa singkat, sudut bibirnya terangkat tipis menyunggingkan senyuman lega. "Dia baru saja bercerita kalau dia dan Mike sudah bicara berdua secara tenang di kafe tadi sore. Valeria merasa sangat lega sekarang."Devan mengangguk pelan, menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. "Syukurlah kalau begitu. Semoga saja pikiran Mike juga sudah jernih, karena seharian ini fokus kerjanya kembali kacau. Dia bahkan salah menyortir lampiran berkas penting tadi pagi."Alexa menggepalkan jemarinya pelan di atas pangkuan. "Aku tidak tahu kenapa mereka berdua sampai merasa bersalah dan kepikiran sehebat itu. Padahal keduanya sama-sama sudah dewasa.""Mungkin

  • Pernikahan Kilat: Menikah Dengan Paman Mantan Tunanganku   Bicara Dengan Tenang

    Suasana di sekitar pintu kedai kopi itu masih diselimuti keheningan yang menekan. Beberapa pengunjung di dalam area meja mulai melirik ke arah mereka, menyadari ada ketegangan aneh dari dua orang berpakaian formal yang saling berdiri mematung tersebut.Mike menyadari perhatian kecil dari sekitar. Sebagai pria yang terbiasa berpikir praktis, dia menghembuskan napas pelan, mencoba memecah kebuntuan. Dia menunjuk ke arah sudut teras luar kedai yang sepi menggunakan cangkir kopi di tangannya."Nona Valeria... bisa kita bicara sebentar di luar?" tanya Mike dengan nada rendah dan sangat hati-hati. "Hanya sebentar. Saya berjanji tidak akan menyita waktu Anda."Valeria menatap Mike ragu-ragu. Ada dorongan di dalam dirinya untuk menolak dan segera berlari menuju mobilnya. Namun, melihat sorot mata Mike yang begitu tenang dan memohon, benteng pertahanan Valeria perlahan luluh. Dia sadar, melarikan diri terus-menerus hanya akan memelihara rasa canggung yang semakin menyiksa.Valeria mengangguk

  • Pernikahan Kilat: Menikah Dengan Paman Mantan Tunanganku   Pertemuan di Luar Dugaan

    Kata-kata Devan menghantam dada Mike bagaikan teguran keras. Mike menundukkan kepala, memegang berkas itu erat-erat."Tidak, Tuan. Ini murni kelalaian saya," sahut Mike berusaha membela profesionalitasnya. "Saya berjanji kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi."Devan menghela napas pendek, lalu mengibaskan tangannya pelan. "Ambil lampirannya. Dan nanti sore, pulanglah lebih awal dan selesaikan apa yang perlu kamu selesaikan."Mike terpaku sejenak mendengarkan perintah atasan yang sangat dihormatinya itu. Ada rasa malu yang begitu dalam menyergap dirinya karena telah membiarkan urusan pribadi merusak kinerjanya."Baik, Tuan. Terima kasih banyak," jawab Mike seraya membungkuk dalam, sebelum akhirnya melangkah keluar ruangan dengan langkah kaki yang terasa kian berat.**Sore hari.Sesuai perintah Devan, Mike meninggalkan gedung DEV Group lebih awal dari biasanya. Mike menyusuri jalanan kota yang belum terlalu padat oleh kemacetan jam pulang kerja. Pikiran yang terus berkecamuk s

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status