Dikhianati Saat Malam Pernikahan

Dikhianati Saat Malam Pernikahan

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-07-23
Oleh:  Gafa author Baru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
9Bab
1Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Pada hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya, Deviana ditinggalkan di pelaminan. Tunangannya, Adrian, memilih pergi demi seorang wanita dari masa lalunya, Leviana, yang tiba-tiba jatuh sakit dan memanggilnya. Di hadapan para tamu undangan dan kilatan kamera yang tak terhitung jumlahnya, Deviana dipaksa menelan kenyataan pahit: ditinggalkan, dipermalukan, dan menjadi bahan ejekan. Namun dari puing-puing harga dirinya dan hati yang hancur, Deviana bersumpah untuk bangkit kembali. Ia tidak akan membiarkan Leviana merebut semuanya—cinta, reputasi, maupun kekuasaan.

Lihat lebih banyak

Bab 1

bab 1

“Adrian, apa kau benar-benar akan pergi?” Suara Deviana bergetar di dalam ruangan megah yang mendadak sunyi.

Tangannya masih menggenggam tangan Adrian, tetapi kini terasa dingin dan kaku. Di sekeliling mereka, puluhan pasang mata menatap tanpa berkedip, sementara kilatan kamera terus menyala tanpa henti. Musik pernikahan yang sebelumnya mengalun indah telah berhenti, digantikan oleh keheningan yang dipenuhi ketegangan.

Adrian menoleh perlahan. Tatapannya tampak jauh dan kosong. Wajahnya pucat setelah menerima sebuah panggilan telepon. Sebuah nama meluncur lirih dari bibirnya.

“Leviana…”

Ia menarik tangannya dari genggaman Deviana hingga membuat wanita itu tersentak.

“Aku harus pergi. Leviana sakit. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian.” Suaranya tegas, tanpa sedikit pun keraguan.

Napas Deviana tercekat. Wajahnya memucat.

“Adrian… ini hari pernikahan kita. Apa kau benar-benar akan meninggalkanku di altar demi wanita lain?”

“Dia bukan ‘wanita lain’. Dia adalah seseorang yang pernah kucintai.”

Tanpa ragu, Adrian membalikkan badan, bersiap meninggalkan altar.

Deviana buru-buru mencengkeram lengannya.

“Adrian! Kau bisa menyuruh orang lain memeriksanya. Bukankah kau pernah bilang aku adalah masa depanmu? Jangan hancurkan semuanya hanya demi masa lalu!”

Langkah Adrian terhenti. Ia menoleh dengan tatapan tajam yang dipenuhi amarah.

“Jangan pernah mengatur siapa yang harus kupedulikan. Ini bukan sekadar masa lalu! Dia adalah orang yang pernah menyelamatkan hidupku, dan sekarang dia sedang menderita.”

Bisik-bisik mulai terdengar di antara para tamu. Beberapa orang bahkan mengangkat ponsel mereka, merekam pemandangan langka itu—seorang pengantin pria yang hendak meninggalkan mempelainya di altar demi wanita lain.

Deviana menggertakkan gigi. Suaranya meninggi saat berusaha mempertahankan sisa harga dirinya.

“Kalau kau pergi sekarang, Adrian, maka hubungan kita berakhir! Aku tidak akan menerima penghinaan seperti ini!”

Adrian menatapnya cukup lama. Ada rasa sakit di matanya, tetapi bukan karena Deviana. Itu adalah rasa sakit atas pilihan yang telah ia putuskan.

“Baik. Kita selesai. Jangan pernah mencariku lagi.”

Suaranya pelan, tetapi setiap katanya menghujam hati Deviana seperti pisau.

Dengan satu hentakan, Adrian melepaskan lengannya dari genggaman Deviana, lalu menuruni altar dengan langkah mantap. Ia meninggalkan Deviana yang membeku, hanya mampu menatap punggung pria yang seharusnya menjadi suaminya hari itu.

Kekacauan pun pecah.

Tawa terdengar dari seorang tamu pria di barisan depan. Bisik-bisik berubah menjadi gumaman sinis dan ejekan yang semakin keras.

“Itu dia, Deviana, pengantin yang katanya sempurna! Ternyata ditinggal di altar!”

“Bukannya dia yang selama ini mati-matian mengejar Adrian? Tetap saja ditinggalkan!”

“Harusnya dia sadar kalau Adrian masih mencintai Leviana. Sayangnya dia terlalu buta untuk melihat kenyataan.”

Deviana menggenggam erat gaun pengantinnya. Dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas. Wajahnya memerah karena marah sekaligus dipermalukan.

Air mata mengalir di pipinya, tetapi segera dihapusnya.

Tidak.

Ia tidak akan terlihat lemah.

Tidak di hadapan orang-orang yang sedang menikmati kejatuhannya.

Ibunya yang duduk di deretan tamu VIP berdiri dan hendak menghampirinya, tetapi Deviana mengangkat tangan, menghentikannya.

Ia harus menghadapi semua ini sendirian.

Sementara itu, di luar gereja, Adrian masuk ke dalam mobilnya dengan napas yang masih memburu. Bahkan sebelum sopir sempat berbicara, ia berkata tegas,

“Ke rumah sakit. Sekarang.”

Pikirannya dipenuhi kekacauan, tetapi tekadnya tetap bulat. Ia tidak akan membiarkan Leviana menghadapi semua ini sendirian—terutama di saat seperti sekarang.

Kembali di dalam gereja, Deviana masih berdiri mematung. Beberapa pengiring pengantin menghampirinya dengan hati-hati. Namun sebelum mereka sempat berbicara, suara seorang wanita memecah keheningan.

“Deviana, kau yakin mau putus dengan Adrian? Bukankah selama ini justru kau yang terus mengejarnya?”

Nada suaranya tajam, penuh ejekan.

Gelak tawa kembali meledak.

“Kau memang terlalu ambisius! Berani-beraninya menikahi pria yang hatinya tak pernah menjadi milikmu. Lihat sekarang akibatnya!”

Setiap ejekan itu menggema di telinga Deviana, lebih keras daripada suara petir.

Perlahan ia mengangkat dagunya dan menatap satu per satu wajah mereka.

Tatapan mereka dipenuhi rasa kasihan.

Namun lebih dari itu...

Ada kepuasan.

Kepuasan karena melihatnya jatuh.

Tetapi Deviana bukan wanita yang akan selamanya terpuruk.

Ia mengangkat sedikit ujung gaun pengantinnya, lalu berjalan dengan kepala tegak menyusuri lorong gereja yang seharusnya membawanya menuju kebahagiaan. Saat melewati para tamu, sorot matanya penuh perlawanan.

“Tertawalah sepuas kalian hari ini. Suatu saat nanti, kalian akan melihatku bangkit kembali—lebih tinggi, lebih kuat, dan jauh lebih berkuasa daripada sebelumnya.”

Ia mengucapkannya lirih, seperti sebuah sumpah yang terukir di dalam jiwanya.

Sesampainya di pintu gereja, ia berhenti sejenak dan menoleh untuk terakhir kalinya ke arah altar yang kini telah kosong.

Lalu, dengan suara dingin dan tegas, ia berkata,

“Adrian, aku pernah mencintaimu dengan segenap hatiku. Tapi aku bersumpah, cinta itu berakhir hari ini.”

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
9 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status