แชร์

Bab 156

ผู้เขียน: Emily Hadid
Sebenarnya masih baik-baik saja jika Rendra diam. Namun, begitu dia berbicara, Zafran justru semakin murka dan kembali mengayunkan cambuk dua kali ke arahnya.

"Nggak cocok? Kalian sudah saling mengenal bertahun-tahun. Kamu melihatnya tumbuh besar, lalu baru sekarang sadar nggak cocok? Baru sadar nggak cocok setelah gadis dari Keluarga Winandy itu kembali? Kamu mau bilang, kamu nggak sengaja menyakiti Clara?"

"Aku lihat kamu benar-benar sudah kerasukan. Rendra, aku beri tahu kamu, di Keluarga Adresta nggak ada yang namanya perceraian. Hari ini kalau aku memukulmu sampai mati, semua masalah langsung selesai. Aku juga bisa memberi penjelasan pada Sutan."

Setelah berkata demikian, Zafran sama sekali tidak menahan diri.

Plaat! Plaat! Plaat! Cambuk itu jatuh seperti hujan deras ke tubuh Rendra.

Rendra menatap Zafran, sama sekali tidak menghindar. Meskipun pakaiannya sampai robek terkena cambukan, dia tetap menahannya sambil mengatupkan gigi dan berkata, "Baiklah. Kalau hari ini aku masih bis
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (2)
goodnovel comment avatar
Farisa Tansani
sebenarnya salah paham aja nih
goodnovel comment avatar
ruruyaaa yaaa
AUTHOR JANGAN LAMA" UPDATE NYAA GASBAARRRR BAB SELANJUTNYAA
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 172

    Clara memang tidak pernah berpikir bisa mengubah keputusan Rendra. Dia hanya ingin memastikan apakah Rendra akan ikut bekerja sama atau tidak.Ke depannya, dia juga tidak bisa lagi bicara dengan bebas saat bersama Rendra. Tidak bisa lagi membahas terlalu banyak hal profesional dengannya, apalagi melaporkan terlalu banyak urusan pekerjaan. Meski Rendra adalah investor proyek dan pemilik modal.Pertanyaan Clara tentang pekerjaan itu membuat Rendra meliriknya sekilas. Dengan nada tenang, dia menjawab, "Masih belum ditentukan, masih dalam tahap pertimbangan."Mendengar jawaban itu, Clara hanya menanggapi datar, "Oh."Rendra sempat mengira Clara akan melanjutkan pembicaraan, mungkin mengingatkannya soal posisinya sebagai investor StarTech. Namun, ternyata Clara tidak lagi menatapnya dan tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menunduk dan makan dengan tenang.Rendra menatapnya cukup lama. Hingga ponsel yang terletak di samping laptopnya berdering, barulah dia tersadar, lalu bangkit mengambil po

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 171

    Alain berkata, "Sudah dioperasi minggu lalu. Sekarang masuk tahap pemulihan. Setiap hari dia mengeluh bosan, nggak ada yang temani bermain."Mendengarnya, Clara tersenyum dan berkata, "Kalau aku ada waktu, boleh aku menjenguk Aliyah?"Alain menjawab, "Tentu saja boleh. Kalau kamu datang, Aliyah pasti akan lebih senang."Setelah itu, mobil berhenti di area parkir terbuka di depan gedung perkantoran. Keduanya turun dan kembali ke kantor. Alain melanjutkan menggambar desain baru, sementara Clara sibuk mengerjakan urusannya sendiri di kantor.Menjelang pukul tujuh malam, pekerjaan Clara lebih dulu selesai. Dia berpamitan pada Alain lalu pulang lebih awal. Dua kali makan hari itu hanya sekadar mengganjal perut. Sekarang dia benar-benar lapar.Di perjalanan pulang, Renata meneleponnya untuk menanyakan apakah dia sudah makan dan kapan akan kembali.Clara mengatakan dia sedang dalam perjalanan pulang. Renata berkata akan menunggunya, lalu nada bicaranya berubah dan dia menambahkan, "Oh iya, Ca

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 170

    Selanjutnya, Horace kembali berkata, "Clara, teknologi patenmu sudah aku lihat. Sangat fleksibel. Awalnya aku kira yang mengajukannya seorang laki-laki, nggak nyangka ternyata seorang perempuan. Itu membuat aku semakin kagum."Sambil menjabat tangan Horace dengan ringan, Clara tersenyum tenang dan berkata, "Pak Horace terlalu memuji."Horace berkata lagi, "Ikuti Alain bekerja dengan sungguh-sungguh. Ke depannya, usahakan benar-benar menghasilkan sesuatu yang nyata dan berprestasi, dorong kemajuan otomatisasi dan teknologi informasi negara."Mendengar pujian itu, Clara segera menjawab dengan sungguh-sungguh, "Pak Horace, aku pasti akan bekerja dengan Pak Alain sebaik mungkin dan terus belajar.""Bagus, bagus. Aku memang suka anak muda yang punya semangat," kata Horace sambil tersenyum.Setelah itu, mereka bertiga masih mengobrol sebentar di ruang tamu, lalu Horace mengajak kedua anak muda itu menuju ruang kerja di lantai satu. Di sana, Alain mengeluarkan gambar rancangan dan mulai berdi

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 169

    Karena Alain mengajaknya ikut, Clara pun pergi bersama.Di perjalanan, kedua tangan Alain menggenggam setir. Dengan nada tenang dia berkata kepada Clara, "Pak Horace adalah penasihat teknis senior StarTech. Dia punya saham teknologi di perusahaan, tapi selama ini menolak mengambil dividen. Jadi aku meminta bagian legal mengonversinya menjadi saham, sekarang Pak Horace juga menjadi pemegang saham perusahaan.""Dalam kondisi normal, selain sesekali datang ke laboratorium dan menangani pekerjaan teknis, Pak Horace tidak menemui siapa pun dan tidak ikut campur dalam manajemen perusahaan.""Beberapa waktu lalu saat kamu datang ke kantor, aku sempat menyebutkan kamu ke Pak Horace. Dia sudah lama ingin bertemu denganmu, jadi hari ini aku sekalian mengajakmu."Mendengar penjelasan itu, Clara berkata, "Pak Alain, StarTech ini benar-benar sulit ditebak."Dengan masih memegang setir, Alain tertawa kecil dan berkata, "Nggak separah itu. CUma sekelompok orang yang punya tujuan sama berkumpul bersam

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 168

    "Baik, baik, baik. Clara itu istri sahmu, aku cuma anak pungut. Aku sama sekali nggak ada hubungannya denganmu. Aku pergi. Aku pergi. Kalian satu keluarga."Setelah berkata dengan nada menyindir, Renata melotot ke arah Rendra, mengangkat tangan dan mendorongnya sedikit, lalu keluar dari kamar mereka. Sekalian, dia menutup pintu kamar untuk mereka berdua.Begitu Renata pergi, ruangan itu langsung menjadi sunyi. Sangat sunyi. Aroma asap rokok yang tipis juga telah dinetralkan oleh alat pemurni udara.Rendra memasukkan kedua tangannya kembali ke saku celana, ekspresinya datar tanpa emosi apa pun. Hanya saja, bekas cambukan di wajahnya masih jelas terlihat, begitu pula bekas cambukan di sekitar kerah bajunya.Clara menatapnya sejenak, lalu berkata dengan lembut, "Ada sedikit urusan di perusahaan, aku harus ke sana lembur. Oh ya, nanti sore Dokter akan datang untuk menyuntikmu, kamu istirahat yang baik."Mendengar Clara berkata akan ke kantor lembur, Rendra meliriknya sekilas dan berkata sa

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 167

    Renata mencibir, "Oh. Jadi, berani berbuat tapi nggak berani mengakui."Lalu dia melanjutkan, "Kak Rendra, aku nggak akan tanya macam-macam, juga nggak akan mempersulitmu. Jawab saja dengan jujur. Selama tiga tahun kamu mengabaikan dan nggak menganggap Clara. Apa kamu sengaja menunggu Clara yang duluan mengajukan perceraian?"Bagi Rendra, analisis Renata itu terdengar sangat lucu.Setelah tertawa pelan, dia berjalan ke lemari samping jendela besar, lalu mengulurkan tangan mengambil rokok dan korek api. Dia mengeluarkan sebatang rokok, menjepitnya di bibir, lalu menyalakannya dengan santai.Dia mengisap dalam-dalam dan mengembuskan asap, lalu berbalik menatap Renata sambil tersenyum tipis. "Kalau aku mau cerai, apa perlu nunggu Clara yang bicara? Apa perlu nunggu sampai tiga tahun?"Renata menatapnya dengan curiga. "Kalau begitu, dulu kamu menikah dengan Clara bukan karena dipaksa Kakek?"Rendra tersenyum lebih lebar. "Renata, kamu sudah mengenalku 23 tahun. Pernah lihat ada orang yang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status