Share

Bab 202

Penulis: Emily Hadid
Saat mendengar isi telepon itu, Clara sampai tersentuh luar biasa. Dia bercanda mengatakan bahwa kalau Renata itu laki-laki, dulu dia pasti sudah menikah dengannya. Renata tertawa terbahak-bahak dan berkata bahwa kalau sekarang Clara mau menikah, dia juga tidak keberatan.

Sambil memikirkan hal-hal itu, Clara pulang ke rumah. Kebetulan, Kinara baru saja keluar dari kamarnya.

Melihat Clara baru pulang selarut ini, Kinara berkata dengan nada penuh iba, "Nyonya muda, lembur terus seperti ini nggak baik. Tubuhmu bisa nggak kuat. Kamu belum makan malam, 'kan? Aku sudah menyisakan makanan, biar aku ambilkan."

Clara tersenyum dan menjawab, "Baik, terima kasih, Bi Kinara."

Saat Clara makan, Kinara bercerita bahwa Rendra sudah kembali dari perjalanan dinas, dan akhir-akhir ini tubuhnya terlihat lebih kurus. Clara hanya tersenyum tipis tanpa menanggapi.

Setelah selesai makan dan naik ke lantai atas, Clara mengira Rendra sudah beristirahat. Namun baru saja dia sampai, Rendra keluar dari kamar utam
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 204

    Tangan kanan yang terangkat di udara itu perlahan mengepal, lalu dia menurunkannya kembali. Dengan nada datar, Clara berkata, "Rendra, aku nggak menamparmu karena kamu pernah menyelamatkanku. Kita sudah saling mengenal bertahun-tahun. Aku nggak ingin ...."Ucapannya terhenti sejenak. Lalu dia mengubah arah pembicaraan, "Hubungan kedua keluarga kita masih ada. Demi para orang tua, aku harap kita bisa berpisah dengan baik."Sesaat kemudian, dia menambahkan lagi, "Dan soal layanan tindak lanjut produk yang kamu terima, aku akan serahkan ke Pak Hans untuk ditangani. Mungkin aku memang sudah membawa emosi pribadi untuk menghadapimu."Setelah mengajukan perceraian, sebenarnya dia masih beberapa kali mengalah dan menyesuaikan diri dengannya, masih beberapa kali bekerja sama dengan Rendra.Saat dia mengajukan pengunduran diri, harga saham perusahaan sempat anjlok. Rendra menanggung semuanya sendirian dan tidak menyalahkannya sedikit pun. Saat itu, hatinya sempat tergerak.Namun, belakangan dia

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 203

    "Dua tahun ini, setiap malam ketika harus tidur sendirian, setiap kali selesai membantumu mengurus semua urusan itu, aku selalu punya dorongan untuk menyerahkan perjanjian itu kepadamu. Tapi, setiap kali juga aku menahannya kembali.""Tapi Rendra, kesabaran manusia itu ada batasnya, toleransi ada batasnya, begitu juga dengan kesediaan untuk terus mengalah. Nggak akan ada siapa pun yang selamanya mau memaklumi kamu, menuruti kamu.""Kamu kira aku memang terlahir bisa menahan diri? Kamu pikir aku benar-benar nggak punya perasaan, nggak akan sedih, nggak akan peduli dengan semua yang kamu lakukan? Kamu benar-benar mengira aku nggak peduli dengan kamu dan Caroline? Benar, sekarang aku memang nggak peduli lagi, karena perasaanku padamu sudah lama terkikis dalam tiga tahun ini, terkikis oleh pengkhianatanmu yang berulang-ulang.""Kamu memang sudah mengkhianati pernikahan kita.""Rendra, kita sudah saling mengenal bertahun-tahun. Jadi kamu seharusnya tahu, sejak aku menyerahkan perjanjian per

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 202

    Saat mendengar isi telepon itu, Clara sampai tersentuh luar biasa. Dia bercanda mengatakan bahwa kalau Renata itu laki-laki, dulu dia pasti sudah menikah dengannya. Renata tertawa terbahak-bahak dan berkata bahwa kalau sekarang Clara mau menikah, dia juga tidak keberatan.Sambil memikirkan hal-hal itu, Clara pulang ke rumah. Kebetulan, Kinara baru saja keluar dari kamarnya.Melihat Clara baru pulang selarut ini, Kinara berkata dengan nada penuh iba, "Nyonya muda, lembur terus seperti ini nggak baik. Tubuhmu bisa nggak kuat. Kamu belum makan malam, 'kan? Aku sudah menyisakan makanan, biar aku ambilkan."Clara tersenyum dan menjawab, "Baik, terima kasih, Bi Kinara."Saat Clara makan, Kinara bercerita bahwa Rendra sudah kembali dari perjalanan dinas, dan akhir-akhir ini tubuhnya terlihat lebih kurus. Clara hanya tersenyum tipis tanpa menanggapi.Setelah selesai makan dan naik ke lantai atas, Clara mengira Rendra sudah beristirahat. Namun baru saja dia sampai, Rendra keluar dari kamar utam

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 201

    Setelah menerima catatan kecil yang diserahkan Alain, Clara berkata, "Baik, Pak Alain. Nanti aku bicarakan dulu dengan Pak Hans."Setelah berkata demikian, Alain masih menyampaikan beberapa hal lain. Usai semuanya selesai, Clara pun turun ke bawah untuk mencari Hans.Keduanya menelaah daftar pengguna bersama-sama. Hans membagi tugas dengan menetapkan Rendra, Pak Aidan, dan seorang nenek berusia 70 tahun sebagai tanggung jawab Clara. Sementara itu, dia sendiri menangani tiga pengguna lainnya dan dua pengguna sisanya diserahkan kepada satu penanggung jawab lain di dalam tim.Setelah membawa kembali berkas pengguna yang menjadi tanggung jawabnya ke kantor, Clara terlebih dahulu menelepon sang nenek.Nenek itu mengatakan bahwa produknya sudah diterima kemarin. Cucunya sudah membantunya mengutak-atik perangkat itu semalaman, tetapi pagi harinya dia masih lupa cara menggunakan beberapa fungsi.Mengingat usia lawan bicaranya cukup lanjut dan robot rumah tangga termasuk teknologi mutakhir, Cla

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 200

    Zafran berkata, "Nggak pernah mikirin hal itu, tapi kamu nggak menjalani hidup dengan baik, malah masih berbelit-belit dengan putri kedua Keluarga Winandy?"Mendengar ucapan sang kakek, Rendra menghela napas panjang, lalu berkata, "Aku sudah berusaha membujuknya."Sejak kecil hingga dewasa, Rendra jarang sekali mengalah. Melihat kali ini dia tampak kehilangan semangat, Zafran pun malas untuk terus memarahinya dan hanya berkata dengan nada perintah, "Kalau begitu, cepat bujuk dia dengan baik. Ke depannya jalani hidup dengan jujur dan benar."Berkata sampai di sana, Zafran menambahkan lagi, "Tapi kalau Clara memang benar-benar nggak mau melanjutkan hidup denganmu, jangan kamu paksa. Jangan buat dia menderita."Dia melanjutkan lagi, "Selama tiga tahun ini, kamulah yang berutang padanya. Nanti apa yang seharusnya menjadi haknya, jangan kurang sedikit pun. Kalau berani main licik, aku sendiri yang akan menguliti kamu."Mendengar kalimat-kalimat terakhir itu, Rendra tersenyum getir dan menja

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 199

    Saat itu, Clara malah meliriknya sekilas dengan ekspresi biasa, lalu mengingatkan dengan nada lembut, "Lift sudah sampai."Barulah Rendra tersadar. Dia perlahan menggenggam tangan kanannya yang sempat menggantung di udara, lalu dengan gerakan tenang memasukkannya kembali ke saku celana.Keduanya masuk ke dalam lift, satu demi satu. Clara lalu menoleh kepadanya dan bertanya, "Kakek di lantai berapa?"Rendra menjawab datar, "Lantai 23."Clara langsung menekan tombol lantai 23, sama sekali tidak memperhatikan perubahan emosinya. Saat ini, dia juga sudah tidak berniat memperhatikan lagi.Tak lama kemudian, lift berhenti di lantai 23. Saat mereka mengetuk pintu ruang rawat inap sang kakek, Renata juga berada di dalam. Begitu melihat Clara datang, Renata segera berdiri dan menyapanya, "Clara datang.""Renata." Setelah menyapa Renata, Clara melangkah mendekati ranjang dan menggenggam tangan sang kakek dengan lembut, lalu membungkuk sedikit dan bertanya penuh perhatian, "Kakek, gimana sekarang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status