LOGINNayla Prameswari terancam dikeluarkan dari kampus setelah beasiswanya dicabut dan tunggakan kuliah menumpuk. Tanpa keluarga yang peduli dan pekerjaan yang cukup, ia berada di titik terendah hidupnya. Rafael Aditya Santoso, pengusaha muda dengan pernikahan hambar, muncul tepat saat Nayla hampir menyerah. Ia menawarkan jalan keluar yang tidak pernah Nayla bayangkan: > “Aku bayar semua kuliahmu… kalau kamu bersedia menjadi istriku—secara diam-diam.” Desakan hidup membuat Nayla menerima perjanjian itu. Sejak hari itu ia menjalani dua kehidupan: mahasiswi biasa di kampus, dan istri simpanan di balik pintu apartemen rahasia. Namun ketika Larissa—istri sah Rafael—mulai curiga, hubungan terlarang itu berubah menjadi badai besar yang mengancam menghancurkan mereka semua.
View MoreNama Nayla Prameswari dipanggil melalui pengeras suara kampus, tapi di telinganya terdengar seperti pengumuman hukuman. Suara itu menggema di lorong, menusuk lamunannya yang belum benar-benar pulih dari lembur malam tadi. Ia berdiri di tengah kerumunan mahasiswa lain yang lalu-lalang, memeluk tas selempang murahan yang talinya mulai mengelupas.
Hari itu harusnya berjalan biasa saja—kelas, kerja, tidur sebentar, ulangi lagi. Tetapi nada suara bagian administrasi tadi membawa firasat buruk yang membuat perutnya menegang sejak pagi. Ia menarik napas dalam, lalu melangkah menuju gedung akademik. Setiap langkah terasa berat tapi juga tidak bisa ditunda. Ia sudah tahu apa yang akan dibicarakan, tapi tetap saja hatinya tidak siap. Ruang akademik selalu dingin, tapi hari ini dinginnya seperti masuk ke tulang. Meja resepsionis panjang berdiri di tengah ruangan, dengan deretan map warna-warni yang menumpuk tinggi. Di belakang meja itu, seorang staf perempuan berblazer biru sudah menunggunya. Wajahnya datar, profesional, tapi mata itu memandang Nayla seakan ia baru membawa masalah. “Nayla Prameswari?” tanyanya tanpa senyum. “Iya, Bu.” Suara Nayla keluar terlalu pelan. Staf itu membuka map merah, mengeluarkan selembar kertas putih, dan meletakkannya di atas meja tanpa banyak bicara. “Ini hasil evaluasi beasiswa kamu.” Hanya itu. Tidak ada kalimat pengantar. Tidak ada jeda. Tidak ada kesempatan untuk mempersiapkan diri. Nayla menatap kertas itu. Tangan kirinya bergerak pelan, meraih dengan hati-hati. Begitu matanya menangkap tulisan paling atas, dadanya langsung mengencang. PEMBERITAHUAN PENCABUTAN BEASISWA — EFEKTIF HARI INI Huruf-hurufnya tidak bergerak, tapi terasa seolah bergoyang karena jantung Nayla berdetak terlalu kencang. Ia membaca ulang, berharap ada salah ketik, tapi tulisan itu tetap sama. “IPK kamu turun,” jelas staf itu dengan nada formal, seolah sedang membaca pengumuman cuaca. “Absen kamu juga banyak. Jadi beasiswanya otomatis dicabut.” Nayla menelan ludah yang terasa kering. “Tapi Bu, saya… saya kerja part-time. Kadang shift saya bentrok, tapi nilai saya—” “Kampus tidak mempertimbangkan urusan pekerjaan,” potong staf itu tanpa menatap wajahnya. “Jika mendaftar beasiswa, kamu harus mengikuti standar.” Nayla terdiam. Ia tahu itu. Ia tahu aturan. Tapi mengetahui dan menghadapi kenyataannya adalah dua hal berbeda. “Mulai semester ini kamu harus membayar penuh. Dan ada tunggakan semester lalu yang belum lunas.” Staf itu menunjuk baris bawah. “Silakan dicek.” Nayla menurunkan pandangan. Angka itu seperti tamparan. Rp18.700.000 Tidak mungkin. Itu… tidak mungkin. Tangannya refleks menggenggam kertas lebih kuat. “Kalau tidak sanggup bayar, kamu punya waktu tujuh hari.” Suara staf itu kembali terdengar datar. “Kalau lewat dari itu, status mahasiswamu dinonaktifkan sementara.” Hening jatuh di antara mereka. Nayla ingin menanyakan banyak hal—apakah ada cara lain, apakah bisa dicicil, apakah ia bisa berusaha memperbaiki nilai di semester berikutnya—tapi kata-kata itu menabrak tenggorokannya. Akhirnya ia hanya berkata pelan, “Baik, Bu. Terima kasih.” Ia keluar sebelum suaranya pecah. Lorong kampus yang biasanya ramai hari ini terasa seperti gema kosong. Semua orang terlihat sibuk, tertawa, mengeluh soal tugas, atau membahas acara akhir pekan. Tidak ada yang melihat Nayla berjalan sambil menunduk, memegang map merah seperti memegang surat kematian. Ia menuju taman kecil di samping gedung, tempat di mana biasanya ia duduk untuk menenangkan diri antara kelas dan kerja. Bangku kayu itu dingin tetapi jauh lebih ramah daripada ruangan akademik. Nayla menatap surat beasiswa itu lagi. Setiap kata seperti menekan dadanya. “Kenapa harus sekarang…” bisiknya, tanpa sadar. Beasiswa adalah satu-satunya alasan ia bisa bertahan. Ia tinggal di kos sederhana—kamar sempit berukuran tiga kali tiga meter yang cukup untuk kasur tipis, meja kecil, dan rak plastik. Uang kerja part-time di kafe hanya cukup untuk makan dan bayar kos. Tidak lebih. Tanpa beasiswa, semuanya runtuh. Ia menengadah sebentar, menahan air mata yang mulai panas. Ia tidak boleh menangis di kampus. Tidak di tempat terbuka. Tidak ketika semua orang masih bisa melihatnya. Tapi tubuhnya terasa lelah. Sangat lelah. Lembur tadi malam menghabiskan tenaganya. Sarapan tadi hanya roti sisa dari kafe. Ia menutup mata, memijat pelipis. Pandangan tiba-tiba berkunang. “Nggak sekarang…” Nayla berbisik, memegangi bangku. Dunia terasa goyah. Nafasnya pendek. Ia berdiri, ingin kembali ke kos. Tapi kakinya tidak kuat. Lututnya bergetar. Dan sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, seseorang menangkap pergelangan tangannya. “Hey, pelan-pelan.” Suara itu dalam, tegas, tapi tidak kasar. Nayla mengangkat kepala pelan. Matanya buram, tapi ia bisa melihat seorang pria berdiri di hadapannya—kemeja putih rapi, jam tangan mahal, wajah yang terlalu sempurna untuk tempat sesederhana taman kampus. Rafael Aditya Santoso. Ia pernah melihat pria itu beberapa kali di berita kampus—salah satu donatur terbesar universitas, pengusaha muda yang sering diundang untuk seminar. Tapi ia tidak pernah membayangkan pria ini berdiri sejauh setengah meter darinya, memegang lengannya agar ia tidak jatuh. “Kamu kelihatan mau pingsan,” ujar Rafael, suaranya tenang. Nayla buru-buru menarik tangannya, meski tubuhnya masih limbung. “Maaf, Pak. Saya cuma… sedikit pusing.” “Duduk dulu.” Rafael menggeser posisinya sedikit, memberi ruang. Nayla duduk lagi, menunduk. Malu. Lelah. Dan terjebak di tengah-tengah semuanya. Rafael mengambil air mineral dari asistennya yang berdiri tak jauh, lalu meletakkannya di bangku. “Minum.” “Terima kasih.” Nayla menerimanya dengan tangan gemetar. Rafael memperhatikan sebentar. Tidak menghakimi. Tidak memberi komentar. Hanya memperhatikan. “Kamu tadi habis dari akademik?” tanyanya singkat. Nayla mengangguk. “Iya.” “Masalah serius?” Nayla ingin menghindari topik itu, tapi suaranya sudah terlalu jujur hari ini. “Beasiswa saya dicabut,” ucapnya datar. “Mulai hari ini.” Rafael tidak menjawab. Hening sejenak. Tapi hening yang tidak menekan—justru membuatnya sedikit bisa bernapas. Nayla berdiri setelah tenaganya agak kembali. “Saya harus pergi, Pak.Dan terimakasih” Rafael ikut berdiri. “Kamu yakin kuat jalan?” Nayla mengangguk cepat. “Iya.” Namun saat ia berbalik, sebuah kertas terjatuh tanpa ia sadari. Rafael mengambilnya lebih cepat daripada reaksi Nayla. Map merah beasiswa. Rafael membaca nama di bagian atas. “Nayla?” Ia mengucapkannya halus, seolah nama itu tidak asing baginya. Nayla menoleh. “Iya?” Rafael menyerahkan map itu. “Hati-hati. Jangan jatuh lagi.” Nayla menerimanya. “Terima kasih.” Ia berjalan pergi dengan langkah perlahan, tidak menoleh lagi. Rafael mengawasinya sampai menghilang dari tikungan gedung. Ia tidak tahu apa yang membuatnya memperhatikan gadis itu lebih lama daripada seharusnya.Pesawat mendarat mulus di Bandara Soekarno-Hatta saat langit Jakarta mulai meredup. Lampu-lampu landasan menyala berurutan, seperti penanda bahwa perjalanan telah selesai.Rafael menghela napas panjang ketika roda menyentuh aspal.Seolah baru saat itu tubuhnya diizinkan pulang.Jakarta.Rumah.Atau setidaknya—tempat yang selama ini ia sebut begitu.Begitu keluar dari area kedatangan, Rafael langsung mengenali dua sosok itu bahkan sebelum suara yang paling ia hafal memanggilnya.“Papa!”Angel—yang kini berusia tiga belas tahun, dengan tubuh yang mulai menjulang dan suara yang tak lagi sepenuhnya kekanak—berlari menghampirinya. Tas ransel masih menggantung di punggungnya, tapi langkahnya sudah lebih mantap, lebih yakin, seperti anak yang sedang tumbuh terlalu cepat.Rafael menunduk tepat waktu, menangkap tubuh anaknya sebelum benar-benar menabrak.“Pelan,” katanya sambil tertawa kecil.Angel langsung memeluk lehernya erat. “Papa lamaaa.”“Papa bilang pulang sore,” jawab Rafael. “Ini sud
POV NaylaPagi di Yogyakarta selalu datang dengan cara yang tenang.Tidak tergesa. Tidak memaksa.Nayla menyukai itu.Ia berdiri di dapur rumah minimalisnya, rambut tertutup jilbab polos warna krem, lengan baju digulung sedikit saat menuang kopi ke dalam cangkir. Aroma kopi hitam bercampur dengan bau telur yang mulai matang di penggorengan. Dari jendela kecil di samping kompor, cahaya matahari pagi masuk lembut, menyentuh lantai keramik yang bersih dan dingin.Rumah ini tidak besar, tapi cukup.Empat kamar. Ruang tamu sederhana. Dapur yang rapi.Dan yang terpenting—tenang.“Ibu, telurnya jangan lupa dibalik.”Suara itu datang dari meja makan.Nayla menoleh. Ravindra duduk santai di kursi, satu kaki ditekuk, tablet terbuka di depannya. Seragam SMA-nya sudah rapi, hanya dasi yang sengaja ia longgarkan sedikit. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya awas—terlalu dewasa untuk usianya.“Kalau gosong, kamu yang makan,” jawab Nayla tanpa menoleh lagi.Revania terkikik dari seberang meja. Rambut
“Papa pulang kapan?” Suara Angel terdengar ceria dari seberang telepon. Ada bunyi sendok beradu dengan piring, disusul langkah kecil yang khas—tanda ia mondar-mandir di dapur sementara Larissa menyiapkan sarapan. Rafael tersenyum tanpa sadar. “Besok pagi, sayang.” “Beneran?” suara Angel terdengar lebih dekat ke ponsel. “Bukan janji bohong lagi?” Rafael tertawa kecil. “Papa janji. Hari ini terakhir di Jogja.” “Yeay!” Angel berseru. “Papa beliin oleh-oleh, ya.” “Pasti.” “Yang buat Mama juga,” tambah Angel cepat, seolah takut terlupakan. “Iya. Buat Mama juga.” Ada jeda singkat sebelum suara Larissa menyusup ke percakapan. Lebih tenang. Lebih dewasa. “Kamu sudah sarapan?” “Belum,” jawab Rafael jujur. “Baru mau berangkat meeting terakhir.” “Jangan telat makan,” Larissa mengingatkan, seperti biasa. “Kamu gampang maag.” “Iya.” “Angel nanti les piano jam empat.” “Oke.” Percakapan itu sederhana. Hampir datar. Tapi justru di sanalah Rafael merasa kakinya kembali
Larissa terbangun sebelum alarm berbunyi.Jam di nakas menunjukkan pukul lima lewat sedikit. Jakarta masih gelap, lampu jalan memantul samar di balik tirai tipis kamar. Dari kamar sebelah terdengar napas kecil yang teratur—Angel masih tidur, memeluk guling kesayangannya.Biasanya Larissa akan memejamkan mata lagi. Menunggu alarm kedua. Mengulur lima menit terakhir sebelum hari benar-benar menuntutnya kembali menjadi istri, ibu, dan perempuan yang selalu terlihat baik-baik saja.Pagi ini tidak.Dadanya terasa aneh. Bukan sakit. Bukan sesak. Lebih seperti ada sesuatu yang bergeser pelan, tanpa bunyi, tanpa sebab yang bisa ia sebutkan.Larissa duduk di tepi ranjang.“Kamu kenapa?” gumamnya pelan. Entah bertanya pada tubuhnya, atau pada perasaan yang mendadak tidak patuh.Ia menarik napas panjang, mencoba berpikir logis. Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada kabar buruk. Semuanya normal.Seharusnya.Tangannya meraih ponsel di meja samping. Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan tak terjawab












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews