MasukIstriku tidak pernah memberiku jatah, tapi bagaimana jika Ibu Mertua dan Kakak Ipar yang menawariku jatah? Awalnya aku menolak, demi istriku. Tapi tiba-tiba, belasan pesan masuk yang ternyata berisi video perselingkuhan istriku dengan mantannya, tanpa busana, dengan mantan kekasihnya dulu. Aku yang menceritakan semua keluh kesahku tiga tahun ini kepada mereka, ternyata disambut baik dan mereka merasa bersalah. Namun, sambutan itu perlahan berubah, terutama ketika mereka terpesona dengan keperkasaanku!
Lihat lebih banyak"Masih mikirin dia, Wa?" suara Dion rendah, memecah kesunyian kamar.
Wawa tersentak. Ia segera mematikan ponsel dan berbalik dengan wajah pucat. "Dion? Kamu... kok sudah pulang? Katanya rapat sampai malam?"
Dari pantulan cermin, Dion melihat mata istrinya berkaca-kaca, apalagi di foto itu nampak sekali ada foto seorang pria yang sangat Dion kenal. Dion merasa hampa, padahal selama tiga tahun menikah, tatapan kerinduan Wawa itu, tak pernah lagi diberikan untuknya selama setahun terakhir.
Dion berjalan masuk, langkahnya terasa berat di atas karpet bulu. Ia meletakkan kotak hadiah itu di meja dengan bunyi klak yang tajam.
"Rapatnya bubar cepat," jawab Dion pendek. "Tapi sepertinya, aku pulang di waktu yang salah. Atau mungkin, selama ini aku memang tinggal di rumah yang salah?"
Wawa berdiri, mencoba menyentuh lengan Dion. "Yon, kamu salah paham. Ini nggak kayak yang kamu pikir."
"Salah paham gimana lagi?" potong Dion dingin.
Wawa menunduk, suaranya bergetar. "Satria balik, Yon. Dia menduda. Dia... dia hubungin aku lagi."
Dion terkekeh sinis. Tawa yang lebih terdengar seperti rintihan. "Dia menduda, terus dia hubungin kamu, dan tiba-tiba tiga tahun pernikahan kita nggak ada artinya?"
Dion menatap istrinya dalam-dalam. "Aku kasih segalanya, Wa. Kesetiaan, harga diri, kerja keras biar kamu nggak kurang apa pun. Tapi ternyata, cuma butuh satu chat dari masa lalu buat ngeruntuhin semuanya?"
"Ini bukan soal materi, Dion! Kamu nggak ngerti!" Wawa mulai berteriak, air matanya tumpah. "Aku udah coba sayang sama kamu, beneran. Tapi pas tahu Satria hancur setelah cerainya... aku ngerasa dia butuh aku!"
Dion tertegun. Kalimat itu seperti tamparan fisik. Dia butuh aku. "Dia butuh kamu?" ulang Dion dengan nada yang tiba-tiba menjadi sangat dingin. "Terus aku apa, Wa? Cuma pajangan buat pamer ke orang-orang kalau kamu punya suami sukses?"
Dion melepas jam tangan Rolex-nya dengan gerakan pelan, menunjukkan otot lengannya yang kencang. Ia tampak begitu berkarisma bahkan saat dunianya sedang runtuh.
"Prinsipku simpel, Wa. Kalau hati kamu udah kebagi, berarti emang nggak ada lagi tempat buat aku. Aku nggak sudi berbagi ranjang sama bayangan orang lain."
"Dion, tunggu! Jangan mutusin sepihak begini!"
"Kita selesai," potong Dion mutlak. "Aku bakal urus semuanya ke pengacara. Kamu pergi aja ke dia, ke masa lalu kamu itu."
"Oh, yaudah kalau gitu, aku pergi dulu. Dasar emang kamu ga pernah cinta sama aku!" Wawa langsung berdiri dari cermin, mengambil parfum, dan berjalan meninggalkan Dion seorang diri di kamar.
Kejadian itu membuat Dion teringat malam sebelumnya.
Di ranjang yang sama, Dion mencoba menyalakan kembali api yang mulai redup. Ia mengecup tengkuk Wawa, menghirup aroma tubuh istrinya yang selalu ia puja. Tangannya membelai lembut pinggang Wawa, menariknya merapat. Ia ingin membuktikan bahwa ia adalah satu-satunya pria di sana.
Wawa sempat membalas. Jemarinya meremas sprei dengan napas memburu saat Dion menjelajahi titik-titik sensitifnya. Dion tahu persis cara memanjakan wanita itu.
Namun, saat gairah mencapai puncaknya, ia merasakan sesuatu yang janggal. Tubuh Wawa perlahan menjadi kaku.
Dion menatap mata Wawa, mencari percikan gairah, namun yang ia temukan hanyalah kekosongan. Wawa menerawang jauh ke langit-langit, seolah sedang membayangkan pria lain yang berada di posisi Dion.
Karena lelah dengan perilaku Wawa, Dion memutuskan pergi meringankan beban pikirannya sejenak di teras depan rumah.
Tiba-tiba, sebuah pesan dari Santi, kakak iparnya.
[“Yon, kata Ibu, Wawa mulai aneh lagi ya? Kamu nggak apa-apa? Kalau butuh temen ngobrol, mampir ke rumah ya. Aku masak makanan kesukaan kamu malam ini.”]
Dion menatap layar itu cukup lama. Ia teringat sosok Santi—kakak kandung Wawa yang selalu menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Santi yang lebih dewasa, lebih tenang, dan selalu tampak lebih menghargainya dibanding istrinya sendiri.
"Oke, Wa. Kalau kamu milih masa lalu, aku bakal milih masa depan yang nggak akan pernah kamu duga," gumamnya.
Dion menyalakan mesin, lalu berharap siang ini bisa mencari solusi problematika Wawa dan Satrio di hadapan Santi. Dion tahu kalau kakak kandung Wawa itu betul-betul memahami istrinya, apalagi sedari kecil Wawa sangat akrab dengan Santi.
Saat mobil berjalan, pikiran Dion masih kacau—terjebak pada penolakan dingin Wawa dan tatapan kosong istrinya itu.
Dion memarkirkan mobilnya di depan rumah minimalis modern yang asri.
Sejak gagal menikah beberapa tahun lalu karena diselingkuhi, Santi memilih menutup diri. Begitulah setidaknya kata orang-orang.
Dion mengetuk pintu. Tak butuh waktu lama sampai pintu itu terbuka.
"Dion? Kamu basah kuyup," sapa sebuah suara lembut namun serak.
Santi berdiri di depannya mengenakan silk slip dress merah marun yang sangat tipis. Tanpa bra di baliknya, lekuk tubuh wanita itu tercetak jelas setiap kali ia bernapas. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai berantakan, menciptakan kesan sensual yang terang-terangan.
"Maaf, San... aku mendadak ke sini. Aku cuma nggak tahu harus ke mana lagi," ujar Dion.
"Masuk, Yon. Kamu kelihatan hancur banget," Santi menarik lengan Dion, menutup pintu, dan langsung memutar kunci.
Klik.
Di ruang tamu yang remang dengan aroma lilin terapi, Santi tidak menjaga jarak. Ia berdiri sangat dekat, membantu Dion melepas jasnya yang lembap. Jemari Santi sengaja menyentuh kulit leher Dion, membuat pria itu sedikit bergidik.
"Aku udah dengar dari Ibu, Dion, Wawa emang bener-bener keterlaluan sama kamu," bisik Santi sambil menatap bibir Dion. "Gimana bisa dia nyia-nyiain pria kayak kamu cuma demi bayangan masa lalu yang belum tentu peduli sama dia?"
Santi melingkarkan lengannya di leher Dion. Tubuhnya yang hangat menempel rapat pada dada Dion.
Bagi Santi, Dion adalah segalanya yang tidak ia dapatkan dari mantan tunangannya yang brengsek dulu. Ia haus akan sosok pria yang bisa ia hormati, dan pria itu ada di pelukannya sekarang.
"San, jangan peluk aku kayak gini, aku nggak mau nyakitin Wawa, dia masih istri sahku!" Gairah Dion mulai tersulut, tapi bayangan Wawa masih membekas, membuat perasaannya terasa tumpul.
Santi yang tidak menyerah, mengecup rahang Dion, lalu berbisik tepat di telinganya. "Aku udah nahan ini bertahun-tahun, Yon. Sejak kamu pertama kali dibawa Wawa ke rumah, aku selalu penasaran... gimana rasanya disentuh pria kayak kamu. Tunanganku dulu cuma pengecut. Tapi kamu... aku tahu kamu beda."
Tangan Santi turun, meraba perut Dion yang keras di balik kemeja. Keinginan yang terpendam bertahun-tahun itu meluap malam ini.
Dion mencengkeram pergelangan tangan Santi, menghentikan gerakannya sebelum turun lebih jauh. Ia menatap mata Santi yang penuh kabut nafsu dan luka yang serupa dengannya.
"Kamu cantik, San. Jujur, aku selalu kagum sama kamu," ucap Dion dengan suara berat. "Tapi kalau kita lakuin sekarang, aku bener-bener nggak bisa. Aku emang dihianatin Wawa, tapi aku ga bisa ngehianatin dia, apalagi aku masih berstatus jadi suaminya!"
Cahaya matahari pagi menyelinap lembut melalui sela-sela gorden di rumah Limo, memberikan kehangatan yang berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi deru jantung yang berpacu karena ketakutan akan penyadapan, tidak ada lagi bisik-bisik manipulasi dari psikolog gadungan, dan tidak ada lagi bayang-bayah selir yang mengganggu kedamaian. Setelah pesta kemenangan besar semalam, Dion Pradana Kusuma terbangun dengan perasaan yang paling merdeka dalam hidupnya.Dion menoleh ke samping, melihat Maya yang masih tertidur pulas dengan sisa senyum kedamaian di wajahnya. Ia beranjak pelan dari tempat tidur, mengenakan kaos santai, dan melangkah menuju balkon kamar. Dari sana, ia melihat Bintang yang sedang asyik bermain di taman bawah bersama Bu Diana. Seluruh aset keluarga Wijaya Kusuma dan D-Next kini telah kembali ke pelukannya secara utuh dan sah.***Beberapa saat kemudian, Dion turun ke lantai bawah. Aroma nasi goreng dan kopi segar memenuhi ruangan. Maya sudah berada di sana, nampak segar dengan d
Malam itu, Ballroom Hotel Grand Hyatt Jakarta disulap menjadi sebuah istana cahaya yang megah. Karpet merah membentang luas, menyambut para tokoh bisnis, pejabat pemerintahan, hingga relasi internasional yang hadir untuk menyaksikan peristiwa bersejarah: pengukuhan resmi Dion Pradana Kusuma sebagai pemimpin tertinggi D-Next dan pewaris tunggal kekayaan Wijaya Kusuma. Sesuai dengan rencana Arka Final, pesta kemenangan ini adalah momen pengakuan publik atas status baru Dion setelah berhasil menyapu bersih musuh-musuhnya.Dion berdiri di depan cermin besar ruang VIP, menyesuaikan dasi kupu-kupunya. Tuksedo hitam yang dipesan khusus oleh Maya nampak melekat sempurna di tubuh tegapnya. Di belakangnya, Doni dan Anto berdiri dengan setelan formal, namun tetap dengan kewaspadaan yang terjaga."Semua tamu sudah hadir, Bos. Termasuk tim hukum dari Singapura dan rekan-rekan media," lapor Doni sambil memeriksa arlojinya. "Wartawan sudah gatal ingin mendapatkan pernyataan resmi per
Matahari sore merambat perlahan melalui celah gorden sutra di ruang tengah rumah Limo, menciptakan garis-garis emas yang hangat di atas lantai marmer. Setelah rangkaian badai yang nyaris menghancurkan pondasi keluarga mereka, suasana rumah ini kini terasa jauh lebih lapang, seolah-olah oksigen yang mereka hirup telah dimurnikan dari racun-racun manipulasi masa lalu. Fokus Dion kini bukan lagi pada strategi menjatuhkan musuh, melainkan pada pembangunan kembali kepercayaan Maya yang sempat hancur akibat hasutan Santi."May, kamu sudah siap? Bram dan tim keamanan sudah berjaga di butik untuk fitting terakhir sore ini," teriak Dion dari lantai atas sembari merapikan kancing kemeja kasualnya.Maya muncul dari arah dapur, membawa botol susu Bintang. Wajahnya yang dulu sering nampak tegang dan penuh kecurigaan kini telah kembali memancarkan ketenangan yang murni. "Sebentar, Yon. Bintang baru saja tertidur pulas. Aku titipkan sebentar ke Mama Diana dulu ya."Di
Pagi itu, suasana di kediaman Limo terasa jauh lebih ringan. Setelah pembersihan sisa-sisa duri seperti Santi dan Lisa berhasil diselesaikan secara permanen di bab sebelumnya, Dion Pradana merasa seolah-olah separuh beban di pundaknya telah luruh. Namun, ada satu hal lagi yang mengganjal di hatinya—sebuah utang rasa kepada pria yang telah menjadi mata dan telinganya selama masa-masa tersulit: Bram.Dion berdiri di beranda samping, memperhatikan Bintang yang sedang berlari kecil mengejar kupu-kupu di bawah pengawasan Bu Diana. Di tangannya terdapat dua gelas kopi hitam pekat yang uapnya masih mengepul. Tak lama kemudian, sebuah mobil SUV hitam berhenti di depan pagar. Sosok pria dengan jaket kulit hitam yang selalu nampak waspada keluar dari sana. Itu adalah Bram.***Bram melangkah mendekat dengan langkah santai, meskipun sorot matanya tetap tajam memindai sekitar—kebiasaan lama sebagai ahli intelijen yang sulit dihilangkan."Ngopi pagi-pagi b
Malam di kediaman Limo, terasa begitu hening, seolah alam semesta sedang menahan napas untuk memberikan ruang bagi dua jiwa yang terluka agar bisa saling menemukan jalan pulang. Setelah kunjungan yang sangat menguras emosi ke penjara untuk menemui Satria, Dion Pradana melangkah masuk ke dalam kam
Lobi lantai eksekutif menara D-Next nampak seperti medan perang yang membeku. Kehadiran Bu Diana yang tiba-tiba, didampingi Dion dan Maya, menciptakan kegemparan sunyi di antara para staf senior. Namun, pemandangan paling mencolok adalah sosok Wina yang berdiri angkuh di depan pi
Lantai kayu jati di ruang kerja privat dek teratas The Grand Sovereign terasa begitu dingin di bawah pijakan kaki Dion. Ruangan itu kedap suara, hanya menyisakan dengung halus dari mesin kapal pesiar mewah yang sedang membelah samudra Teluk Jakarta yang gelap. Di balik meja mahoni besar yang dipenuh
Sinar matahari pagi yang pucat menembus celah-celah jeruji besi di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, menciptakan garis-garis bayangan yang kaku di lantai koridor yang dingin. Dion Pradana melangkah dengan tegap, meskipun derap langkah sepatunya menggema dengan nada yang berat. Di sampingnya, seora
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan