登入Lima tahun melenyap dalam sekejap.Nginggg!Suara deru mesin pesawat yang baru mendarat melengking samar di kejuahan, tersapu riuh rendah ribuan orang di terminal kedatangan internasional.Bu Ella berdiri antusias, meremas papan nama dengan senyum yang tak pudar sedikit pun. Putra tunggalnya akhirnya pulang.Namun, di sampingnya, Mas Eza berdiri kaku bagai patung. Buku-buku jarinya memutih, meremas kuat jemarinya sendiri hingga memerah. Dadanya bergemuruh oleh cemas yang membakar.Bagaimana kalau Yudo menemukan Widi? Bagaimana kalau Yudo tahu tentang Deza? Bagaimana kalau luka Widi yang baru sembuh dihancurkan lagi?"Yudo! Sini, Nak!" teriak Bu Ella gembira, melambaikan tangan tinggi-tinggi.Sesosok pria bertubuh tegap dengan balutan coat hitam melangkah mendekat, menderek koper besar. Mas Eza tertunduk dalam-dalam, menarik napas panjang untuk menguasai gemetar di lututnya."Mami..." Yudo merengkuh tubuh ibunya erat-erat, melepas rindu yang tertahan setengah dekade.Bu Ella melepaskan
Bulan-bulan berlalu tanpa jeritan teror atau tangis kesendirian. Kehadiran Mas Eza yang tenang perlahan mengikis benteng tinggi yang pernah didirikan Widi. Tidak ada lagi helaan napas canggung atau jarak sengaja yang ia ciptakan; Widi mulai terbiasa dengan perhatian-perhatian kecil pria itu yang datang tanpa dipinta.Aroma sang Surya masih tertinggal pada tumpukan pakaian bayi yang baru diangkat dari jemuran. Widi memeluk baskom plastik itu rapat-rapat di atas perutnya, menyusuri pintu kontrakan tiga petaknya.Brak!Baskom plastik itu terlepas dari dekapan, meluncur bebas menumpahkan isinya ke lantai.Widi membungkuk tajam. Sebelah tangannya mencengkeram erat kusen pintu kayu yang kasar, hingga ujung jarinya memutih. Satu tangannya yang lain menahan bagian terbawah perutnya yang mendadak melilit hebat, seolah diremas dari dalam."Nghh...!" Widi meringis, giginya mengatup rapat menahan sakit yang menjalar cepat ke tulang punggungnya.Napasnya memburu tegang. Belum sempat ia menata kesa
Matahari sore mulai condong ke barat ketika Widi mengunci pintu kamar kosnya.Cklek.Ia mengusap pelan perutnya yang kian membuncit, bersiap melangkah sendirian menuju klinik.Namun, baru tiga langkah menginjak halaman, sebuah mobil silver mendadak berhenti tepat di depan deretan kontrakannya. Kaca jendela bergulir turun, menampilkan sosok Mas Eza."Lho, Mas Eza?" Widi tertegun, matanya membelalak heran.Mas Eza bergegas turun dan membukakan pintu penumpang. "Yuk, jalan sekarang. Biar tidak keburu ramai antreannya.""Mas Eza kok di sini?" gumam Widi masih kebingungan."Sudah, masuk dulu. Nanti pegal berdirinya," bujuk Mas Eza lembut.Di dalam mobil yang sejuk, Widi sesekali melirik pria di sampingnya yang fokus menembus kemacetan sore."Mas Eza hari ini tidak kerja?" tanya Widi penasaran.Mas Eza tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya. "Kerja, kok. Tapi tadi aku izin pulang lebih cepat.""Izin?""Iya. Kemarin kan kamu bilang jadwal kontrol bayimu sore ini," jaw
Di Bandara Soekarno-Hatta, Yudo berdiri kaku di depan pintu keberangkatan internasional.Ponsel barunya terasa asing di genggaman. Matanya terus menyapu kerumunan orang, berharap menemukan sosok Widi di antara lalu lalang penumpang."Yudo, masuklah. Pesawatmu sebentar lagi boarding," tegur Bu Ella dingin di sampingnya.Yudo mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia menatap ibunya dengan sorot mata yang sarat akan rasa sakit dan kekecewaan mendalam."Mami berhasil memisahkan kami sekarang," bisik Yudo, suaranya bergetar menahan amarah."Tapi ingat janji Yudo, Mi... Yudo akan pulang sebagai pria yang tak bisa Mami atur lagi. Dan Yudo akan cari Widi sampai ketemu."Tanpa mengucap salam berpisah, Yudo memutar badan dan melangkah tegap menembus pintu pemeriksaan, meninggalkan ibunya yang mematung.Enam bulan berlalu bagai angin lalu.Tak ada kabar sedikit pun dari Yudo. Seluruh akun media sosialnya melenyap tanpa jejak, seolah ia hilang ditelan bumi—seiring meredanya teror-teror dari Melani.Di
Yudo mondar-mandir di kamar yang pekat.Ponsel di genggamannya terus menyala, menampilkan nomor yang sama berulang kali. Tak ada jawaban.Sementata di kosan berdinding setipis kertas, Widi meringkuk di atas kasur kosnya, memeluk bantal erat-erat. Air matanya terus mengalir membasahi kain seprai.Setiap kali layar ponselnya berkedip menampilkan nama Yudo, jemarinya membeku, enggan menggeser tombol hijau.Isaknya perlahan mereda, berganti lelap karena kelelahan hebat.Tok! Tok! Tok!Gedoran di pintu kayu mengejutkannya. Widi tersentak, mengerjapkan mata yang terasa sembab dan berat. Jam dinding menunjukkan pukul 06.30.Dengan jemari bergetar, ia memutar kunci. Cklek."Hai, Wid," sapa tetangga kosnya canggung. "Maaf banget mengganggu pagi-pagi... boleh pinjam pembalut? Aku lupa beli ke minimarket."
Melani dan Yudo duduk berseberangan. Senyum lebar tak sedikit pun luntur dari wajah Melani sejak kedatangan pria itu. Ia mengangguk anggun pada staf restoran yang permisi mundur."Apa maksudnya ini, Melani? Mana Mami dan yang lainnya?" cecar Yudo, keningnya berkerut dalam.Melani menyesap anggur merahnya pelan. "Makan malam keluarganya kan di rumahmu, Yudo. Di sini... cuma ada kita berdua."Amarah memuncak di dada Yudo. Ia merasa dipermainkan. "Aku sama sekali tidak tertarik," tegas Yudo dingin seraya menyandar untuk bangkit dari kursinya."Yakin? Bahkan kalau kita membahas Widi?" potong Melani seraya menyeringai tipis.Langkah Yudo terhenti. Tubuhnya menegang kaku, jemarinya mengepal erat di balik saku."Sayang sekali dia tidak bisa ikut merayakan hari bahagiamu," kekeh Melani dengan tatapan miring."Semua teror yang dialami Widi... berasal darimu, kan?" desis Yudo, matanya menghujam tajam.Melani tertawa kecil. "Yah... aku ketahuan.""Apa maumu, Melani!""Awalnya tidak ada," ucap Me







