LOGIN"Walau maut menyeretmu ke neraka, kau tetap milikku, Keira. Aku tidak akan pernah melepaskanmu." ㅤ Keira Celestine mati tragis di dasar jurang akibat pengkhianatan mantan kekasih dan adik angkatnya. Namun di detik terakhir, Arsen Alastair, suami CEO yang selalu ia benci justru rela melompat demi memeluknya. ㅤ Terbangun di masa lalu, Keira tersadar dari kebodohannya. Membawa dendam membara, ia siap memanfaatkan status "Istri Sempurna" untuk menyusun taktik skakmat dan menghancurkan para pengkhianat. ㅤ Kini, sanggupkah Keira meluluhkan kembali hati Arsen yang dingin dan posesif, di tengah aksinya membalas dendam?
View More"Kau pikir cinta dan kesetiaan bisa menyelamatkan nyawamu malam ini, Keira?" Suara dingin Melia menyentak kesadaran Keira Celestine.
Sebelum ia sempat membalas, jemari adik angkatnya itu sudah mencengkeram rambut panjang Keira dengan sangat kasar hingga kepalanya terdongak paksa. Di sebelah kanan berdiri Leon, pria yang selama dua tahun belakangan ini dipujanya sebagai belahan jiwa sekaligus pelarian dari pernikahan paksanya dengan Arsen Alastair. Sementara di sebelah kiri Leon, berdiri Melia, anak angkat yang dulu diselamatkan oleh orang tua Keira dari panti asuhan terkumal karena belas kasihan Keira yang memohon agar Melia diadopsi. Namun malam ini, kedua orang yang paling disayanginya itu justru menatapnya dengan pandangan yang begitu asing, dingin, dan dipenuhi oleh kilat kepuasan yang mengerikan. "Mengapa kalian melakukan ini kepadaku?" tanya Keira dengan suara yang gemetar menahan perih di tenggorokannya yang mengering akibat terus berteriak minta tolong. "Leon, aku sudah memberikan semua yang kau minta, bahkan aku rela mencuri dokumen strategi tender rahasia milik suamiku sendiri demi membantu perusahaanmu bangkit!" "Dan kau, Melia, aku selalu membagikan semua fasilitas kemewahanku bersamamu, bahkan aku yang memohon kepada Ayah dan Ibu agar mereka memberikan kasih sayang yang sama besarnya kepadamu seperti mereka menyayangiku!" "Kenapa kau tega menusukku dari belakang seperti ini?" Melia tertawa melengking, suara tawa yang begitu nyaring dan penuh kemenangan, memecah kesunyian malam yang bising oleh suara gemuruh guntur di langit. "Kau benar-benar wanita paling bodoh yang pernah aku temui di dunia ini, Keira," ucap Melia dengan nada suara yang berbisik namun sarat akan racun kebencian yang mendalam. "Kau pikir aku sudi menjadi bayanganmu seumur hidup? Kamu pikir aku tulus berterima kasih atas semua barang bekas dan sisa kemewahan yang kamu pamerkan atas nama belas kasihan?" "Aku membencimu sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di rumah mewah keluargamu!" "Aku benci melihat bagaimana semua orang memperlakukanmu seperti putri raja, sementara aku hanya dianggap sebagai anak pungut yang beruntung!" "Mulai malam ini, setelah kau lenyap dari dunia ini, akulah yang akan menjadi putri tunggal keluarga Corven, dan semua harta serta kasih sayang orang tuamu akan menjadi milikku sepenuhnya tanpa perlu berbagi denganmu lagi." Keira membelalakkan matanya, merasakan penyesalan yang begitu pekat menghujam jantungnya hingga ia nyaris kesulitan untuk bernapas. Ia teringat bagaimana dulu ia selalu membela Melia di depan kedua orang tuanya, bagaimana ia selalu mengalah demi kebahagiaan adik angkatnya itu, dan bagaimana ia telah membutakan mata serta telinganya dari segala peringatan Arsen bahwa Melia adalah ular berbisa yang sedang ia pelihara di dalam rumah. Kenaifannya telah menghancurkan dirinya sendiri, dan yang lebih mengerikan, ia telah membawa bahaya besar bagi orang-orang yang tulus mencintainya. Leon melangkah mendekat, lalu dengan santai menggunakan ujung sepatu pantofel kulitnya yang mahal untuk menginjak punggung tangan Keira yang terluka di atas tanah. Leon terkekeh rendah, menatap Keira dengan pandangan meremehkan yang sama sekali belum pernah Keira lihat selama mereka menjalin hubungan rahasia di belakang Arsen. "Jangan menyalahkannya, Keira, karena aku juga harus berterima kasih atas kebodohanmu yang luar biasa itu," kata Leon sembari mengeluarkan sebuah surat perjanjian pengalihan aset dan flashdisk hitam dari dalam saku mantelnya yang tebal. "Tanpa bantuan tanganmu yang mencuri dokumen internal Alastair Group, aku tidak akan pernah bisa menjatuhkan Arsen Alastair dari takhtanya. Perusahaan suamimu itu sedang menuju kebangkrutan massal karena semua rahasia dagangnya sudah berada di tanganku sekarang." "Kau sudah melakukan tugasmu dengan sangat baik sebagai pion gratisan yang penurut, jadi sekarang, waktu bermainmu sudah habis karena aku tidak memerlukan wanita pemberontak dan cacat reputasi sepertimu untuk mendampingiku di puncak kesuksesan nanti." Air mata Keira luruh berbaur dengan hujan yang semakin menderas. Pipinya pucat pasi. Seluruh hidupnya ternyata hanyalah kebohongan besar yang dirancang rapi oleh dua iblis di depannya. Pria yang ia kira penyelamat ternyata memanfaatkannya untuk menghancurkan Arsen, suami yang selalu melindunginya meski terus ia balaskan dengan makian dan tuntutan cerai. Melia kembali berdiri di samping Leon. Keduanya melempar senyum kelicikan sebelum Leon memberikan isyarat tegas lewat anggukan kepala. "Habisi dia," gumam Leon dingin. BRAK! Tanpa peringatan, Leon menendang perut Keira sekuat tenaga. "ARGHH!" Keira menjerit kesakitan, tubuh tak berdayanya berguling di atas lumpur hingga terhenti tepat di tepi jurang. Belum sempat Keira menguasai rasa sakitnya, Melia melangkah maju. Matanya menyipit penuh dendam. "Selamat tinggal, Kakakku sayang!" Dengan kedua tangannya, Melia mendorong bahu Keira sekuat tenaga. Tubuh Keira terlempar, dihempaskan langsung ke dalam kegelapan jurang yang penuh batu tajam. Hujan badai semakin menggila menyambut tubuh Keira yang terjun bebas melewati bibir tebing. BRUMMM! Sebelum tubuh ringkih itu lenyap ditelan kegelapan, raungan mesin mobil memecah gemuruh badai. Tiga SUV hitam mewah menerobos paksa semak belukar dan berhenti mendadak dengan ban yang mencicit keras di tepi tebing. Sret! Pintu-pintu mobil terbuka serentak. Belasan pria berbadan tegap berpakaian serba hitam melompat keluar, bergerak taktis mengamankan area. Dari mobil paling depan, Arsen Alastair melompat keluar bahkan sebelum pintunya terbuka sempurna. Pria yang biasanya selalu tampil tenang dan tak tersentuh itu kini berantakan dengan rambut basah kuyup. Wajahnya yang biasa sedingin es dipenuhi kepanikan yang luar biasa hebat—ekspresi yang tak pernah Keira lihat selama dua tahun pernikahan mereka. "Keira!" teriak Arsen dengan suara parau yang memekakkan telinga, memecah deru angin malam. Melihat tubuh istrinya melayang di bibir jurang, Arsen melompati pembatas tebing tanpa ragu sedikit pun. Di udara yang hampa dan dingin, lengan kekar Arsen berhasil merengkuh tubuh Keira yang bersimbah darah, menarik wanita itu ke dalam dekapan hangat yang protektif. Sret! Dengan kecepatan luar biasa, tangan kekar Arsen mencengkeram pergelangan tangan Keira. Urat-urat di lengannya menonjol tegang menahan beban tubuh istrinya yang tergantung di udara. "Arsen..." bisik Keira lirih di antara deru hujan. "Kenapa kau datang? Kenapa kau masih peduli pada wanita jahat sepertiku?" "Bertahanlah! Pegang tanganku dengan tanganmu yang satu lagi!" raung Arsen dengan suara bergetar hebat. "Aku memerintahkanmu untuk tidak melepaskan genggaman ini, Keira Celestine!" Keira menggelengkan kepalanya perlahan. Air matanya luruh berbaur air hujan. "Aku minta maaf, Arsen... Aku sangat menyesal telah mengkhianatimu dan menyia-nyiakan pria sebaik dirimu demi iblis seperti mereka." Isak Keira semakin pilu. "Tenagaku sudah habis. Tolong lepaskan aku... dan hiduplah dengan baik." "Tidak! Aku tidak akan pernah melepaskanmu!" Sret... Jemari Keira yang lemas menyelinap lepas dari cengkeraman Arsen. Tubuhnya meluncur bebas ke dalam kegelapan jurang yang curam. Namun, Arsen Alastair tidak membiarkan istrinya pergi sendirian. Tanpa ragu sedikit pun, pria itu melompat dari tepi tebing, ikut terjun bebas demi mengejar Keira. Di tengah keheningan jurang yang mencekam, Arsen berhasil meraih dan merengkuh tubuh Keira ke dalam dekapan hangatnya yang protektif. Arsen mengecup kening Keira di detik-detik terakhir sebelum pandangan mereka memudar. "Walau maut menyeretmu ke neraka, aku akan tetap menemanimu di sana, Keira." BRUK! Benturan hebat menghantam tubuh mereka saat mendarat di dasar jurang yang berbatu keras, lalu segalanya berubah menjadi kegelapan total.Derap napas memburu dan lenguhan hangat yang sempat memenuhi udara kamar utama perlahan-lahan surut total. Hanya tersisa deru napas teratur dan halus dari Arsen serta Keira yang kini terlelap dalam dekapan amat erat. Keheningan malam merayap naik, membalut seluruh ruangan dalam ketenangan yang begitu pekat dan mencekam.Dari balik kegelapan juntai sprei yang kotor oleh debu lantai, gerakan perlahan mulai terlihat. Nadine merayap keluar dengan sangat kaku, merangkak bagaikan serangga yang baru saja lolos dari sangkar besi. Seluruh persendian tubuhnya terasa gemetar hebat, menyebarkan rasa nyeri yang menjalar hebat dari pinggang, punggung, hingga ke ujung jemari kakinya."Aduh, pinggangku sakit sekali," ringis Nadine berbisik pelan, memegangi lututnya yang kaku dan terasa seolah mau copot dari engselnya. "Sialan, badanku pegal semua. Lantai dingin ini benar-benar membuatku masuk angin."Nadine meremas perutnya yang mual dan merinding akibat terlalu lama menempel di atas lantai marmer
Arsen tidak memberikan jeda. Ia memacu kecepatannya, keluar masuk dengan tenaga penuh. Suara becek yang dihasilkan dari penyatuan mereka terdengar semakin intens. Cairan pelumas alami Keira membuat setiap gesekan terasa licin dan panas. "Kau... sangat... sempit... Keira!" Arsen mengerang, keringat mengucur deras dari keningnya, jatuh menetes di atas aset kembar Keira yang memantul-mantul hebat mengikuti irama guncangan. "Sshhh... ahh... lebih dalam... Arsen, lebih dalam lagi! Ya! Di situ! Ohhh, kau menghantam rahimku!" Keira mendesah manja, suaranya melengking tinggi, sengaja mempertegas setiap rasa nikmat yang ia rasakan. Arsen membalikkan tubuh Keira. Ia memintanya untuk merangkak, menunggingkan bokongnya yang sintal di hadapannya. Arsen mencengkeram pinggul Keira dengan kuat, meninggalkan bekas kemerahan di kulit putih wanita itu, lalu kembali menghujam dari belakang dengan posisi yang lebih dalam. Udara terdorong keluar dari lubang yang sempit setiap kali Arsen menarik se
Arsen tidak memberikan ruang bagi Keira untuk bernapas. Ciumannya menghujam, mengunci bibir wanita itu dengan tuntutan yang nyaris mencekik. Lidahnya menyusup kasar, menjelajahi setiap sudut rongga mulut Keira, menghisap dan memutar dengan intensitas yang membuat Keira mengerang rendah. "Mmhh... Arsen... tunggu..." Keira tidak benar-benar ingin Arsen berhenti. Ia justru menarik rambut pria itu, memaksa kepala Arsen semakin menempel pada wajahnya. Sementara itu, matanya melirik tajam ke arah celah sprei yang menjuntai. Ia tahu Nadine ada di sana, meringkuk ketakutan dan jijik. "Kau terlalu lama di kantor, Sayang. Aku sudah sangat lapar," bisik Keira di sela-sela ciuman mereka, suaranya dibuat serak dan sangat manja. Arsen melepaskan tautan bibir mereka hanya untuk berpindah ke leher jenjang Keira. Ia menghirup aroma parfum mawar yang bercampur dengan aroma alami kulit istrinya. Gigitan kecil Arsen di pangkal leher membuat Keira tersentak, punggungnya melengkung tajam. "Lapar
Keira berdiri menatap pintu yang kini terkunci rapat, lalu memutar tumitnya dengan gerakan anggun. Sebuah senyuman licik terukir begitu sempurna di wajah cantiknya. Dari sudut matanya, ia melirik ke celah bawah ranjang.'Rasakan itu, Nadine. Mari kita lihat sejauh mana kau sanggup bertahan di lantai dingin itu,' batin Keira puas.Keira meraih ponselnya di atas meja, menekan panggilan cepat untuk Arsen. Hanya butuh dua kali nada panggil sebelum suara berat nan hangat milik suaminya menyapa dari ujung sambungan."Halo, Keira? Ada apa, Sayang?" tanya Arsen di seberang telepon."Kau masih lama di kantor, Arsen?" tanya Keira dengan nada suara yang dibuat sangat manja dan lembut."Aku baru saja masuk ke dalam mobil, ini jalan menuju rumah," jawab Arsen, terdengar antusias mendapat perhatian dari istrinya. "Ada apa? Kau merindukanku?""Sangat," bisik Keira menahan tawa kecil. "Cepatlah pulang. Aku dan Kieran sudah menunggumu di kamar.""Baiklah, lima belas menit lagi aku sampai," balas Ars






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore