LOGINNaina baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuhnya sudah rapi dengan piyama tidur yang dikenakannya. Kedua tangannya sibuk menggosok-gosok rambut yang masih sedikit basah.
Setelah itu, Naina membereskan tempat tidur dan merapikannya agar nyaman saat akan merebahkan tubuhnya di sana.Akan tetapi, baru saja Naina melempar handuk bekas rambut ke keranjang cucian yang ada di samping lemari, tiba-tiba kamarnya dibuka dan ia terperanjat duduk dengan punggung yang menyudut ke kepala ranjang.“Arka! K-kau mau apa?” Naina bertanya terkejut. Meremas selimut dan menutupi dadanya dengan rapat. Ia meneguk ludah, mengira Arka akan berbuat macam-macam padanya.Dengan santai Arka menutup pintu, melangkah menuju ranjang dimana Naina semakin gugup dan menatapnya waspada.“Kau jangan macam-macam. Aku mau tidur!” sentak Naina, menatap Arka tajam. Tubuhnya mengkeret makin tersudut ke ujung tempat tidur saat langkah Arka makin mendekat.&nbsNaina terkekeh lagi. Arka sengaja menggesek-gesekan janggut tipisnya di pipi Naina. Hingga Naina kegelian dan mendorong dada Arka.“Arka, tapi malam ini kita tidak bisa melakukan itu,” ucap Naina tiba-tiba yang lantas membuat kening Arka berkerut dalam.“ Kenapa?” tanya Arka.“ Karena … aku sedang datang bulan,” jawab Naina, menggigit bibir bawahnya.“Are you sure?” pekik Arka. Naina mengangguk. Membulatkan matanya. Arka menarik napas panjang setelah tahu bahwa istri yang baru ia nikahi itu ternyata sedang didatangi tamu bulanan.Tentu saja mereka tidak akan bisa melakukannya di malam pertama yang seharusnya berkesan bagi mereka. “Apa kau kecewa?” tanya Naina. Menangkupkan kedua tangannya di pipi Arka.Namun Arka menggelengkan kepala, tersenyum dan mengecup kening Naina.“Tidak. Aku tidak kecewa, sayang. Tidak apa-apa. Meskipun kau sedang datang bulan, tapi bagian atasmu masih bisa kucicipi kan?” kata Arka sambil menyeringai senang. Kemudian segera melakukan aksinya.Naina hanya terse
Naina pun mengangguk dan berterima kasih. Ia dirangkul oleh Raffan yang berdiri di sampingnya.Naina menatap pada Maurin yang kini dibawa oleh polisi untuk kembali ke dalam sel wanita. Naina menatap nanar pada punggung Maurin.“Dia benar-benar sudah menjadi Maurin yang berbeda. Bahkan aku seperti tidak mengenalnya,” gumam Naina, dengan lirih.Raffan mengusap lengan Naina dengan erat. “Sudahlah, Kak. Sekarang Maurin sudah ditangkap. Dia tidak akan bisa menggangu dan mencelakai kakak lagi,” ucap Raffan.Naina tak menjawab.Naina hanya terdiam. Di dalam hatinya, Naina merasa kasihan terhadap Maurin. Karena bagaimana pun, ia juga menyayangi Maurin yang dulu sangat dekat dengannya. Bahkan Naina selalu menjadikan Maurin sebagai teman bertukar pikiran.Tapi sekarang, semuanya sudah berubah.Arka dan Liana pun sudah tahu tentang Maurin yang sudah masuk penjara. Arka sempat marah dan ingin menyewa pengacara agar Maurin bisa mendapatkan hukuman yang sangat berat karena wanita itu telah berencan
Naina mendengar suara rintihan, ia mengubah posisinya menjadi duduk di trotoar dan menoleh ke arah sumber suara.Selanjutnya Naina membela kan matanya lebar-lebar.Rasanya detak jantungnya seperti berhenti saat itu juga ketika melihat siapa yang sudah tergeletak dengan penuh darah di atas jalanan itu.“Arkaaaa!!!”Naina berteriak, segera menghampiri Arka dan menaruh kepala Arka di atas pangkuan, lantas memeluknya sambil menangis.“Arka!” Naina kembali berteriak. Memeluk Arka makin erat. Ternyata tadi Naina hampir saja ditabrak oleh mobil merah itu, namun Arka lebih dulu mendorongnya hingga malah lelaki itu yang tertabrak.Naina meminta tolong agar seseorang segera membawa Arka ke rumah sakit. Untungnya ada beberapa orang baik yang mengangkat tubuh Arka dan memasukkannya ke dalam mobil mereka. Naina pun ikut ke dalam mobil itu. Ia duduk di kursi belakang dan meletakkan kepala Arka di atas pangkuannya.Naina terus menangis tanpa henti. Perasaannya panik bercampur takut.“Arka, bertahanl
“Ini ruangan barumu. Kau akan bekerja di sini,” ucap Arka sambil membuka pintu ruang wakil direktur yang sebelumnya adalah ruangan milik Rustam.Karena Rustam sudah dipenjara dan dipastikan Arka tidak akan pernah memberikan kesempatan bagi Rustam untuk menjejakkan kaki di perusahaannya lagi, maka Arka mantap untuk memberikan tanggung jawab sebagai wakil direktur ini pada Raffan.“Terima kasih, Arka. Sebenarnya kau tidak perlu sampai mengantarku segala ke sini.” Raffan merasa tidak enak. Setelah mengumumkan jabatannya dan kedatangannya di hadapan para karyawan, Arka malah mengantar Raffan ke ruang wakil direktur.Mereka sudah berada di dalam ruangan itu dan Arka mempersilakan Raffan untuk duduk di kursinya.“Bukan masalah. Aku senang melakukannya,” jawab Arka, tersenyum tipis.“Oh ya, Raffan.”Raffan kembali menoleh ke arah Arka ketika Arka kembali memanggilnya. “Iya?”“Jika masih ada barang-barang Rustam yang tersisa di ruangan ini, buang saja!”Mendengar itu, Raffan pun menganggukkan
Mendengar itu, sontak Arka menghentikan gerakannya membuka tali sepatu. Ia pun tercenung dan baru sadar kalau Naina memang sudah pergi dari rumah ini. Bagaimana Arka bisa lupa akan hal itu? “Pindah?” ulang Arka, ucapannya amat pelan. Namun Bik Atin masih bisa mendengarnya. “Benar, Tuan. Tadi Tuan Arka minta diambilkan air minum? Biar saya yang ambilkan, Tuan.” Bik Atin kemudian menarik diri dari hadapan Arka untuk mengambilkan air minum di dapur. Sementara Arka baru saja melepaskan kedua sepatu mahalnya dan membiarkannya teronggok di atas karpet tebal.Arka menepikan punggung kekarnya pada sandaran kursi. Kedua bola matanya menatap nanar ke depan sana. Kemudian ia menarik napas dalam, dan menghembuskannya dengan kasar. “Hhh… kenapa aku bisa lupa kalau Naina sudah pergi dari rumah ini? Jadi… dia benar-benar meninggalkanku? Naina.” Arka menggeleng-gelengkan kepala.Raut wajahnya menyiratkan rasa kecewa yang amat dalam. Kemudian tanpa menunggu minuman yang sedang diambilkan oleh Bik Atin
berarti, hari-harinya ke depan akan berlangsung tanpa kehadiran wanita itu."Apa kalian tak bisa mempertimbangkannya lagi?" Arka bertanya. Matanya sempurna menatap ke arah wajah Naina. Arka berharap Naina akan menjawab bahwa ia berubah pikiran dan tidak akan jadi pindah dari rumah ini.Namun tampaknya harapan Arka itu sangat keliru. Karena kenyataannya Naina malah menggelengkan kepala dengan sangat tegas."Kami sudah matang memikirkan hal ini. Mungkin lusa kami akan pindah ke rumah sewa yang letaknya cukup jauh dari sini. Aku yakin, tabunganku akan cukup untuk membiayai sewa rumah dan biaya hidup kami sementara waktu sampai aku dapat pekerjaan," ucap Naina.Arka menyunggingkan senyum miris mendengar itu. Ternyata keputusan Naina memang benar-benar sudah bulat. Dan sepertinya sudah tak bisa diganggu gugat lagi. Dan yang paling membuat hati Arka sakit adalah ketika mendengar ucapan Raffan yang menyinggung soal pasangan hidup.Katanya suatu saat nanti Naina juga akan menemukan pasangan h







