홈 / Romansa / Pesona Paman Seno / PPS | Mencari Perhatian

공유

PPS | Mencari Perhatian

작가: Karl Valerie
last update 게시일: 2026-03-05 05:35:54

Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Rindu rela mengubur kekesalannya pada Seno. Setelah merenung di dalam kamarnya selama hampir satu jam, gadis itu akhirnya keluar dari kamarnya. Tujuannya saat ini adalah dapur. Dia ingin menarik perhatian Seno dengan membuatkannya secangkir kopi.

Dengan raut wajah yang dibuat seceria mungkin, Rindu membawa secangkir kopi buatannya yang masih mengepul ke teras rumah. Tempat dimana Seno tengah bersantai.

Tak

Dengan hati-hati Rindu meletakkan segelas kopi buatannya di atas meja. Membuat Seno yang tadinya tengah menyandarkan kepalanya di sandaran kursi bereaksi.

"Paman pasti lelah setelah seharian bekerja di bengkel. Ini Rindu buatkan kopi hitam kesukaan Paman." kata Rindu seakan menjawab pertanyaan yang ada di benak Seno.

Seno yang tadinya menatap penuh kebingungan pada Rindu lantas mengalihkan tatapannya pada secangkir kopi hitam panas yang ada di depannya. Dia merasa aneh karena baru kali ini Rindu berperilaku seperti ini padanya.

"Tidak biasanya kamu perhatian seperti ini pada Paman. Pakai acara membuatkan Paman kopi segala." kata Seno sembari menarik alas cangkir ke arahnya. Kemudian menuangkan setengah cairan hitam itu ke dalamnya.

Seno memang memiliki kebiasaan meminum kopi menggunakan alas cangkirnya. Katanya menunggu kopinya sedikit hangat baru bisa dia nikmati. Dan racikan kopi hitam kesukaannya adalah dengan takaran 3 sendok makan bubuk kopi dicampur dengan satu sendok teh gula pasir.

"Anggap saja sebagai bentuk terimakasih Rindu karena sudah Paman pijat tadi." jawab Rindu santai tanpa menyadari efek dari ucapannya yang membuat Seno tersedak.

Rindu yang terkejut secara tidak sadar mengusap kaos Seno yang basah di bagian dada. Membuat pria itu tertegun dengan apa yang keponakan istrinya itu lakukan.

"E-Eh, maaf Paman." Rindu terlihat kikuk menyadari ulahnya sendiri. Pipinya tiba-tiba saja memanas karena mengingat apa yang baru saja dia lakukan.

Di sisi lain, Seno justru membeku setelah mendapatkan sentuhan tangan Rindu. Tubuhnya tiba-tiba terasa kaku dengan debaran jantung yang mulai bertalu.

Untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka, Seno memilih untuk pura-pura menikmati kopi yang Rindu buatkan. Tak ingin gadis itu menyadari jika dia sedang gugup.

Rindu merutuki dirinya sendiri karena bisa-bisanya bersikap demikian. Dia benar-benar harus menjaga sikap jika tidak ingin Seno curiga dan berakhir menjaga jarak darinya. Bisa saja Seno merasa tidak nyaman dengan sikapnya yang menurutnya terlalu agresif.

Rindu ingin menarik perhatian Seno dengan perlahan. Dia akan membuat pria itu nyaman dengan segala perhatian yang dia berikan. Baru setelah itu, dia akan benar-benar memulai aksinya menjerat Seno dengan pesonanya.

"Sudah petang, tapi kenapa Hanum belum juga pulang?" gumam Seno menatap jalanan desa yang ada di depannya. Dia baru mengingat jika istrinya itu masih belum kembali ke rumah.

Rindu yang menyadari jika Seno tengah mengkhawatirkan Hanum diam-diam mendengus. Pria itu tampak begitu perhatian pada bibinya. Membuat Rindu merasa iri sekaligus kesal.

"Kali ini Rindu biarkan Paman mengkhawatirkan Bibi. Tapi nanti, Rindu akan benar-benar membuat Paman lupa dengan Bibi." smirk Rindu melirik Seno secara diam-diam.

"Sepertinya Bibi terlalu asyik berkumpul bersama teman-temannya. Sampai lupa jika sudah waktunya Paman pulang dari bengkel." celetuk Rindu berusaha mengompori.

Kali ini Seno diam dan tidak berusaha membela Hanum. Apa yang gadis itu katakan ada benarnya juga. Istrinya sudah pergi sejak siang tadi. Dan seharusnya sekarang dia sudah kembali ke rumah. Menyambut kedatangannya yang seharian ini lelah bekerja.

"Kalau begitu biar Rindu siapkan makanan untuk Paman. Paman tunggu saja di sini." Rindu kembali melancarkan aksinya untuk menarik perhatian Seno.

Tanpa menunggu jawaban dari sang paman, Rindu langsung beranjak meninggalkan pria itu. Dia kembali masuk ke dapur untuk mengambil makanan. Di atas meja dapur, sudah ada sebakul nasi, lauk pauk dan sayur sop.

Dengan cekatan Rindu menarik satu piring kosong, lalu mengambil satu centong nasi, beberapa lauk dan sayur. Tak lupa dia juga menyendok sambal terasi yang dia letakkan di atas lauk.

Setelah mengambil segelas air kosong untuk Seno, Rindu lantas segera keluar menuju teras rumah dengan sepiring nasi yang dia ambil tadi di tangan kanannya.

"Sebenarnya kamu tidak perlu repot-repot seperti ini, Rin. Paman nanti bisa mengambilnya sendiri." kata Seno yang merasa tidak enak.

Selama menikah, Hanum tidak pernah memperlakukannya seperti ini. Memang benar dia menyediakan makanan untuknya setiap hari. Tapi untuk mengambilkan makanan seperti yang Rindu lakukan, Hanum tidak pernah melakukannya. Dan Seno tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Namun ketika mendapatkan perlakuan seperti ini dari Rindu, dia jadi merasa sangat diperhatikan.

"Tidak papa, Paman. Rindu tahu Paman lelah. Jadi mulai sekarang biar Rindu yang menyiapkan makanan untuk Paman setiap pulang." kata Rindu dengan senyum cantik yang menghiasi wajahnya.

Seno merasa terpesona dengan senyuman yang Rindu berikan. Membuatnya tanpa sadar ikut tersenyum walau hanya sebentar. Rindu yang melihatnya dalam hati merasa begitu senang.

"Paman merasa tersanjung jika kamu perhatikan seperti ini." kekeh Seno sembari menarik sepiring nasi yang telah Rindu siapkan untuknya.

Pria itu memakan makanannya dengan suasana hati yang menghangat. Tidak ingin munafik, Seno merasa senang karena ada seseorang yang memperhatikannya seperti ini. Walau itu tidak datang dari istrinya sendiri.

Tak membutuhkan waktu yang lama bagi Seno untuk menghabiskan makanannya. Begitu juga dengan kopi hitam dan segelas air yang memang sengaja Rindu sediakan untuknya. Membuat senyum cerah menghiasi wajah Rindu saat ini.

"Kapan-kapan kamu harus belajar memasak. Paman ingin merasakan masakan buatan kamu." celetuk Seno sembari mengibaskan topi yang tadi dia pakai ketika bekerja ke arah wajahnya. Perutnya yang terasa kenyang membuatnya mulai mengantuk.

"Dari kelas 3 smp dulu Rindu sudah pandai memasak, Paman. Bunda yang mengajarkan." balas Rindu dengan pandangan meredup. Kembali mengingat kebersamaannya bersama mendiang bundanya dulu.

Seno tentu menyadari perubahan raut wajah Rindu saat ini. Dan dia bisa merasakan kesedihan yang gadis itu rasakan. Karena dulunya kedua orang tuanya juga meninggal dalam keadaan yang cukup tragis.

Bukan karena kecelakaan mobil seperti Heru dan Rinda, melainkan dibunuh oleh para perampok yang mendatangi rumah mereka. Seno yang waktu itu berusia 17 tahun berhasil selamat dari tragedi tersebut karena kebetulan mengikuti acara perkemahan di sekolahnya.

Selama bertahun-tahun Seno tidak pernah mengungkit kematian orang tuanya. Bahkan Hanum yang sudah menjadi istrinya selama hampir 10 tahun juga tidak mengetahuinya. Itu semua Seno lakukan karena dia ingin mengubur kenangan pahit itu.

"Bagaimana jika besok kamu memasakkan sesuatu untuk Paman?" celetuk Seno berusaha mengalihkan kesedihan yang Rindu rasakan.

Gadis itu terlihat tertarik, terbukti dengan kini Rindu sepenuhnya tengah menatapnya.

"Lalu Bibi?" tanya Rindu kurang yakin.

Dia hanya tidak ingin dicecar oleh Hanum dengan berbagai pertanyaan. Karena selama tinggal di sini, Rindu tak pernah menyentuh penggorengan. Itu semua dia lakukan karena ingin memantik kekesalan Hanum.

"Biar Paman yang bicara nanti." balas Seno santai.

Senyum tulus terbit di wajah Rindu saat ini. Dia tidak menyangka jika Seno begitu peka terhadap dirinya. Dan itu artinya akan sangat mudah memanipulasi pria itu nantinya.

Namun senyuman itu berubah menjadi sebuah seringaian ketika mengingat rencana balas dendamnya. Ingatkan jika Rindu menyimpan dendam yang begitu besar pada Hanum. Dan semua yang dia lakukan saat ini dan seterusnya pada Seno hanyalah sebagai batu loncatan untuk merealisasikan dendamnya. Benarkah itu?

***

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Pesona Paman Seno   PPS | Mencuri Kesempatan [+]

    Jam dinding telah menunjukkan pukul 11 malam ketika Rindu terbangun dari tidurnya. Tenggorokannya terasa kering karena tidak sempat minum sebelum tidur.Gadis itu memutuskan untuk beranjak dari tempat berbaringnya. Lalu keluar dari kamarnya untuk mengambil minum di dapur.Selama Hesti dan Cakra tinggal di rumah ini, Rindu dan Seno memang memutuskan untuk tidak sekamar. Selain karena mereka belum menikah, keduanya juga tidak ingin menimbulkan kesan yang buruk di mata Hesti dan Cakra. Walaupun sebenarnya semuanya telah mengetahui hubungan mereka yang di luar batas.Dalam keadaan yang gelap, Rindu dengan hati-hati berjalan menyusuri lorong kamar yang sepi. Gadis itu hampir sampai di tempat tujuannya saat mendapati sepasang lengan tiba-tiba melingkar di pinggangnya.Rindu yang terkejut hampir saja memekik jika saja sosok itu tidak membungkam bibirnya dengan tangan."Paman." bisik Rindu begitu mencium aroma khas dari pria yang dia kenali."Kenapa belum tidur?" tanya pria itu dengan suara b

  • Pesona Paman Seno   PPS | Kebahagiaan Rindu

    Rindu tidak dapat menahan senyum bahagianya ketika menyambut kedatangan bibi keduanya di bandara. Sebelumnya, Rindu sempat hilang kontak dengan Hesti karena ponsel sang bibi yang hilang.Rindu memang tidak terlalu dekat dengan keluarga bibi keduanya, Hesti. Hal itu karena setelah menikah, Hesti diboyong ke luar pulau oleh suaminya.Sedari dulu, Hanum dan Hesti sering terlibat konflik. Dan puncaknya ketika Hanum yang memutuskan hubungan dengan suami Hesti yang sekarang untuk bisa menikah dengan Seno. Sehingga sejak saat itu, hubungan mereka semakin merenggang dan dingin.Hesti tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di kampung halamannya. Selain karena suaminya yang tidak memberinya ijin, dia juga merasa malas jika harus bertemu dengan Hanum, sang kakak yang selalu iri padanya.Sejak dulu, Hesti hanya dekat dengan Heru. Kakak tertuanya itu selalu menjadi tempatnya untuk berkeluh kesah. Sehingga ketika dia mendapat kabar jika kakaknya Heru beserta istrinya meninggal karena kecelakaan, He

  • Pesona Paman Seno   PPS | Benar-benar Berpisah

    Selama tiga hari Hanum di rawat di rumah sakit pengayoman. Dan selama itu dia terlihat sangat menyedihkan. Kini dia telah dimasukkan ke dalam sel. Berkumpul bersama dengan para tahanan yang lain.Hanum yang biasa bersolek dengan perhiasan yang selalu melekat di tangan dan jari manisnya, kini tampak berantakan dengan wajah kuyu yang selalu muram. Tidak ada lagi serentetan gelang yang menghiasi lengannya. Yang ada justru sepasang borgol yang melingkari pergelangan tangannya.Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat cukup jelas. Wajahnya pucat pasi tanpa sapuan bedak. Juga tatapannya yang biasa congkak, telah digantikan dengan tatapan sendu nan sayu.Setiap harinya Hanum hanya termenung dengan pandangan kosong. Tak dia hiraukan keadaan yang ada di sekelilingnya. Dia terlalu terpaku dengan problematika yang terjadi di dalam hidupnya saat ini.Beberapa kali Hanum mengacuhkan pertanyaan dari para wanita yang menjadi teman satu selnya. Dan dari reaksi yang wanita itu berikan, membuat mereka

  • Pesona Paman Seno   PPS | Ngidam

    Greb"Apa kamu sudah lega sekarang?" tanya Seno memeluk Rindu dari belakang. Pria itu menumpukan dagunya di pundak gadis itu.Rindu bergeming dan menghela napas berat. Senyum samar tampak menghiasi wajahnya saat ini."Rindu lega karena bisa membongkar kejahatan Bibi selama ini dan memberikan pelajaran berharga untuknya, Paman. Tapi Rindu juga sedih karena sekarang Rindu tidak mempunyai siapa-siapa lagi." lirih Rindu di akhir kalimatnya.Seno mengeratkan dekapannya seolah ikut merasakan kesedihan yang Rindu rasakan. Beberapa kali dia mendaratkan kecupannya pada puncak kepala gadis itu."Kamu tidak sendirian, Sayang. Ada Paman, dan calon anak kita yang akan selalu menemani kamu." bisik Seno sembari mengelus perut Rindu.Pundak Rindu bergetar disusul dengan isakan kecil yang mulai terdengar dari bibir gadis itu. Rindu lantas berbalik, membenamkan wajahnya di dada Seno yang menjadi tempat ternyaman untuknya berkeluh kesah."Terimakasih karena Paman tidak meninggalkan Rindu." lirih Rindu m

  • Pesona Paman Seno   PPS | Kehancuran Hanum

    Hanum membuka kedua matanya yang tampak berkunang-kunang. Kelopak matanya menyipit, berusaha menghalau cahaya yang masuk ke dalam retinanya."Tahanan nomor 302 sudah sadar, Dok." kata seorang wanita yang baru saja memeriksa keadaan Hanum.Hanum menatap langit-langit ruangan yang dia tempati saat ini. Terasa begitu asing dan dingin. Dia hendak memegangi kepalanya yang terasa pening dengan tangan kirinya, ketika merasakan pergerakannya terbatasi.KruncingKruncingSuara besi yang saling beradu membuat Hanum mengernyit. Dengan sisa kesadarannya dia melirik ke bawah, mendapati tangan kirinya yang tengah diborgol dengan brankar yang dia tempati.Netra bening Hanum seketika membelalak. Dadanya bergemuruh hebat dengan ledakan air mata yang membasahi pelupuk matanya.Hanum berpikir jika semua ini hanyalah sebuah mimpi. Semua yang dia alami beberapa waktu lalu, ternyata benar-benar sebuah kenyataan yang menyakitkan."Tidak. Ini semua pasti hanya mimpi hiks." Hanum terisak, masih mengelak denga

  • Pesona Paman Seno   PPS | Balasan untuk Hanum

    Hancur sudah pertahanan yang selama ini dia bangun. Raut wajah congkak dan arogan yang selama ini selalu menghiasi wajahnya, kini telah berganti dengan raut menyedihkan. "Apa Bibi masih perlu bukti?" tanya Rindu dengan senyum kecil. Gadis itu lantas menangkup wajah Seno. Lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir sang paman. Tentu saja dengan mesra Seno membalas ciuman Rindu di depan Hanum yang semakin terpuruk. Di depan matanya kini dia melihat pria yang sangat dia cintai tengah berciuman dengan keponakannya sendiri. Betapa hancurnya hidup Hanum saat ini. "Sudah, Sayang. Kita bisa lanjutkan nanti." kata Seno menghentikan gerakan Rindu yang menginginkan lebih. Bahkan Seno memperlakukan Rindu dengan begitu lembut. "Tega kamu, Mas. Bisa-bisanya kamu berbuat seperti itu dengan keponakanku. Lelaki macam apa kamu, Mas?" maki Hanum dengan mata memerah. "Dan kamu! Dasar gadis licik tidak tahu diri! Wanita j*lang." umpat Hanum menunjuk wajah Rindu. Plak Suara tamparan yang begit

  • Pesona Paman Seno   PPS | Mulai Beraksi

    Kicauan burung yang hinggap di ranting-ranting pohon mengusik tidur seorang gadis cantik yang masih setia bergelung di dalam selimut tebal. Hawa dingin yang menerpa kulit karena hujan semalam yang turun dengan deras, membuat gadis itu enggan keluar dari tempat nyamannya.Namun gedoran pintu kamar y

  • Pesona Paman Seno   PPS | Perhatian Rindu

    Pagi sekali Rindu sudah bangun dari tidurnya. Tak seperti biasanya yang dia akan dengan sengaja bangun siang, hari ini dia tampak sudah segar dengan wajahnya yang sedikit basah setelah mandi.Dengan kaos pendek berwarna sage dipadukan dengan rok mengembang sebatas lutut, Rindu keluar dari kamarnya.

  • Pesona Paman Seno   PPS | Tarik Ulur

    Rindu terbahak-bahak setelah keluar dari ruangan pamannya, Seno. Gadis itu masih ingat bagaimana raut syok Seno setelah dia sempat mencium pipinya. Jujur saja Rindu merasa terhibur dengan segala reaksi yang pamannya itu berikan.Bersenandung kecil sembari memainkan kunci motor yang ada di tangannya

  • Pesona Paman Seno   PPS | Pura-Pura Polos

    Seno dengan reflek menjatuhkan Rindu yang sejak tadi duduk di atas pangkuannya. Membuat gadis itu memekik dan mengaduh kesakitan karena bongkahan padatnya menghantam lantai dengan cukup keras."Aduhh.. Paman.." ringis Rindu.Seno yang tersadar sontak membantu Rindu untuk bangun. Lalu mendudukkan ga

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status