Beranda / Romansa / Pesona Paman Seno / PPS | Tarik Ulur

Share

PPS | Tarik Ulur

Penulis: Karl Valerie
last update Tanggal publikasi: 2026-03-05 05:35:00

Rindu terbahak-bahak setelah keluar dari ruangan pamannya, Seno. Gadis itu masih ingat bagaimana raut syok Seno setelah dia sempat mencium pipinya. Jujur saja Rindu merasa terhibur dengan segala reaksi yang pamannya itu berikan.

Bersenandung kecil sembari memainkan kunci motor yang ada di tangannya, Rindu lantas berjalan melewati para karyawan yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Ada beberapa pelanggan yang kebanyakan bergender laki-laki yang melirik ke arahnya dengan tatapan tertarik. Namun Rindu berusaha mengabaikannya.

"Eh." langkah Rindu langsung terhenti saat salah satu karyawan Seno yang dia kenal bernama Surya tiba-tiba saja menghadang jalannya.

"Mau pulang, Dek?" tanya Surya dengan senyum malu-malu yang begitu kentara. Kelihatan sekali jika pemuda itu menyimpan perasaan pada gadis di depannya ini.

Rindu yang tadinya merasa kebingungan lantas mengangguk.

"Iya, Mas." jawab Rindu seadanya.

Surya tampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, membuat Rindu tanpa sadar menaikkan sebelah alisnya merasa aneh.

"Besok-"

"Woyy Surya, mana olinya?" seru salah satu karyawan mengintrupsi ucapan Surya.

Surya terlihat gelagapan dan dengan berat hati pergi meninggalkan Rindu yang menatapnya dengan raut bingung.

"Dasar aneh." cibir Rindu yang kembali melangkahkan kakinya keluar dari bengkel milik pamannya.

Gadis itu lantas menghampiri motornya yang terparkir di depan bengkel. Kemudian mulai melaju meninggalkan tempat itu dengan senyum puas karena sudah berhasil membuat Seno ketar-ketir.

Sepanjang perjalanan, Rindu tak sekalipun melunturkan senyumannya. Baginya menggoda pria dewasa seperti Seno menjadi hiburan tersendiri untuknya. Dan di sisi lain, dia juga merasa tertantang untuk menaklukan pria itu.

Bagaimana pun, Seno terlihat begitu mencintai Hanum. Rindu bisa melihatnya dengan jelas pada sorot matanya ketika menatap bibinya itu.

"Apapun caranya, aku pasti bisa menaklukan Paman Seno. Tunggu saja Bibi, sebentar lagi suami tercintamu itu akan bertekuk lutut di depanku." smirk Rindu dengan sorot penuh dendam yang tersirat di matanya.

Jarak rumah Hanum dan bengkel Seno tidaklah jauh. Hanya butuh beberapa menit saja, Rindu kini telah sampai di rumah yang telah dia tinggali selama hampir satu tahun ini.

Ketika gadis itu baru saja memarkirkan motornya di depan rumah, seorang wanita setengah baya yang masih cantik di usianya yang tidak lagi muda datang menghampiri Rindu.

"Lama sekali. Apa ada sesuatu yang terjadi di bengkel?" tanya Hanum yang telah rapi dengan pakaian bagusnya.

Rindu tak langsung menjawab pertanyaan dari bibinya. Gadis itu sibuk memperhatikan penampilan Hanum yang tidak seperti biasanya.

"Bibi mau kemana?" tanya Rindu, mengabaikan pertanyaan dari Hanum tadi.

Hanum terlihat mendengus samar karena Rindu tak menjawab pertanyaannya.

"Kamu belum menjawab pertanyaan Bibi, Rin. Apa terjadi sesuatu di bengkel?" kata wanita itu setengah kesal.

Rindu lantas menggeleng sebagai jawaban.

"Lalu kenapa kamu lama sekali di sana?" tanya Hanum penuh selidik.

Rindu tampak mengulum senyum, sorot matanya terlihat nakal.

"Sedikit bermain-main."-dengan suamimu. balas Rindu menyeringai.

Namun Hanum tak sempat melihat raut wajah Rindu barusan karena lebih sibuk memperhatikan penampilannya.

"Tumben sekali Bibi dandan secantik ini. Memangnya mau kemana?" tanya Rindu menaikkan sebelah alisnya. Iris beningnya menatap kalung emas yang bertengger manis di leher Hanum. Terlihat sangat mencolok dan menyilaukan mata.

Hanum tampak tersenyum pongah sembari sibuk merapikan tatanan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi sejak tadi.

"Bibi mau pergi arisan di rumah Bu Asih. Sekalian mau pamer kalung baru pemberian Paman kamu." kata Hanum mengulum senyum.

Rindu yang mendengar jawaban Hanum diam-diam mengelus dada. Sudah tua, sudah bau tanah, tapi masih suka pamer. Itulah yang ada di pikiran Rindu saat ini untuk Hanum.

"Jadi orang kok suka pamer." gumam Rindu yang ternyata masih bisa didengar oleh Hanum.

Wanita itu mendelik tidak suka mendengar gumaman keponakannya. Tapi biarlah, hari ini Hanum sedang tidak ingin berdebat dengan Rindu yang selalu mencari gara-gara. Suasana hatinya sedang baik karena sebentar lagi dia akan berkumpul bersama dengan teman-teman masa SMP-nya dulu. Tak lupa memamerkan kalung emas pemberian suaminya yang melingkari lehernya. Memang itulah tujuan Hanum datang ke rumah Ibu Asih.

"Terserah Bibi mau melakukan apa. Lebih baik kamu cepat pergi mandi. Jadi anak gadis kok malas sekali." cibir Hanum sembari berjalan meninggalkan Rindu yang tengah mengepalkan tangannya.

"Maki saja terus. Setelah Paman Seno bertekuk lutut di bawah Rindu, Bibi pasti tidak akan bisa bersikap sombong lagi seperti ini." sungut Rindu menghentakkan kakinya kesal dan masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu.

|•|

Seno baru saja memarkirkan motornya di depan rumah dan melihat keponakan istrinya tengah duduk di teras sembari sibuk dengan ponselnya. Gadis cantik itu sama sekali tidak melihat ke arahnya. Seakan tidak menyadari kehadirannya yang baru saja pulang dari bengkel.

Tak ingin memusingkan sikap Rindu, Seno memilih untuk segera masuk ke dalam rumahnya. Pria itu mengernyit heran kala mendapati suasana rumah yang tampak sepi. Biasanya, istrinya akan datang dan menyambut kedatangannya.

"Dimana dia?" gumam Seno mencari keberadaan Hanum di segala penjuru rumahnya.

Tak mendapatkan sosok yang dia cari, Seno akhirnya terpaksa kembali ke teras rumah untuk menanyakan keberadaan Hanum pada Rindu.

"Rin, dimana Bibimu?" tanya Seno mencoba santai. Dia masih mengingat apa yang terjadi pada mereka beberapa jam lalu di bengkel tadi. Dan entah kenapa dia merasa canggung.

Rindu yang awalnya tengah fokus membaca novel online di ponselnya lantas menoleh. Wajah gadis itu terlihat biasa saja. Bahkan seolah tidak pernah terjadi sesuatu di antara mereka.

Bukan karena Rindu tidak melanjutkan rencananya. Dia sengaja melakukan ini karena tidak ingin Seno curiga akan sikapnya. Dan dia juga ingin tahu bagaimana reaksi Seno jika dia bersikap seolah menarik ulur dirinya.

"Bibi ke rumah Bu Asih. Katanya mau pergi arisan. Sekalian pamer kalung barunya." jawab Rindu santai.

Seno menyatukan alisnya mendengar jawaban Rindu. Enak saja istrinya itu dituduh yang tidak-tidak oleh keponakannya sendiri.

"Kamu jangan asal bicara. Hanum tidak mungkin bersikap seperti itu. Paman tidak suka kamu menjelek-jelekkan istri Paman seperti itu." marah Seno dengan tatapan tajam.

Rindu yang sadar jika Seno tengah memarahinya lantas mendengus. Suasana hatinya langsung berubah buruk karena ulah pria itu. Lagipula Rindu berkata jujur sesuai dengan ucapan Hanum.

"Terserah Paman mau percaya atau tidak." kata Rindu ketus dan memilih masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Seno yang tengah menatap kepergiannya dengan pandangan yang masih sama.

"Kenapa sikap Rindu lama-lama jadi menyebalkan seperti ini." gumam Seno tak habis pikir.

Di sisi lain, Rindu memilih untuk masuk ke dalam kamarnya dengan wajah bersungut-sungut.

"Tidak istrinya, tidak suaminya.. sama-sama suka bikin emosi." cibir Rindu.

Gadis itu melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Menatap langit-langit kamar yang telah dia tinggali selama hampir setahun ini dengan pikiran menerawang.

"Pokoknya aku harus secepatnya menarik perhatian Paman Seno. Bibi Hanum harus segera dapat karmanya karena sudah membuat Ayah dan Bunda meninggal." desis Rindu dengan gigi bergemelutuk.

Setetes air mata jatuh membasahi pipi tirus Rindu. Semakin turun dan membekas di sprei ranjang yang dia tiduri. Tubuh gadis itu tampak bergetar, disusul dengan isakan kecil yang samar-samar terdengar.

Mengingat kedua orang tuanya membuat air mata Rindu tak dapat lagi terbendung. Jujur saja dia sangat merindukan mereka. Kebersamaannya bersama Ayah dan Bundanya rasanya masih kurang baginya.

Dan semua itu disebabkan oleh Hanum yang dengan tega membunuh mereka. Merenggut kebahagiannya dengan membuat Heru dan Rinda pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Untuk itulah Rindu ada di sini. Tinggal bersama Hanum, pelaku utama yang telah menyebabkan kematian orang tuanya. Dia ingin membalas sakit hatinya atas kematian Heru dan Rinda.

Tidak ada yang tahu rencana balas dendam yang Rindu lakukan. Bahkan dia juga tidak mengatakan pada Rudi, sahabat ayahnya yang membantunya mengungkap kasus kematian orang tuanya. Rindu benar-benar melakukannya sendiri. Tanpa memikirkan risiko apa yang akan terjadi ke depannya. Karena gadis itu sudah diliputi dendam yang membuatnya rela melakukan apapun untuk merealisasikan rencananya.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pesona Paman Seno   PPS | Sandiwara

    Rindu menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan menerawang. Pikirannya berkelana mengingat apa yang baru saja dia lakukan bersama Seno beberapa waktu lalu.Masih teringat jelas di benaknya ketika pria itu menyentuh setiap jengkal tubuhnya dengan sentuhan panas nan memabukkan. Membuat dirinya yang baru pertama kali ini merasakan hal tersebut menjadi tidak berdaya. Hingga akhirnya begitu pasrah diombang-ambing oleh gelora nafsu yang membara.Jantungnya kembali berdebar mengingat perlakuan manis Seno setelah kegiatan mereka selesai. Pria itu dengan penuh perhatian memperbaiki kondisinya. Yang lemas karena pelepasan dahsyat yang menjadi hal baru bagi dia rasakan.Rindu pikir setelah Seno mendapatkan apa yang dia mau, pria itu akan langsung pergi meninggalkannya. Namun nyatanya Seno tetap tinggal, dan membersihkan tubuhnya dari rasa lengket yang membuatnya tidak nyaman.Kini ketika hari semakin beranjak malam dan hanya sunyi yang menemani, Rindu masih terjaga dengan manik beningnya y

  • Pesona Paman Seno   PPS | Enak, Paman [+]

    Wajah Rindu menengadah, dengan bibir setengah terbuka merasakan sentuhan hangat yang hinggap di antara kedua kakinya. Gadis itu tak berhenti merintih, dengan sebalah tangan mungilnya yang meremas rambut seorang pria dewasa yang tengah berjongkok di depannya.Sebelah kaki jenjangnya telah berada di atas pundak Seno. Membuat posisinya terlihat sangat terbuka dan nakal. Apalagi dengan kondisi dirinya yang tak berpakaian.Emnh..Rintihan kembali keluar dari bibir Rindu saat sang paman memainkan lidahnya dengan begitu handal di pusat tubuhnya. Jilatan dan hisapan yang Seno berikan, membuatnya tak mampu lagi untuk menahan suaranya."Ahh.. kenapa rasanya seperti ini, Paman?" tanya Rindu dilanda kebingungan. Bagaimana bisa dia merasakan kenikmatan semacam ini hanya dengan permainan lidah Seno?Sulit untuk menjelaskan bagaimana rasa nikmat ini menderanya. Tak ada kata yang bisa dia ungkapkan untuk menggambarkan kenikmatan yang Seno berikan padanya.Awalnya, raga Rindu bisa menolak rasa baru ya

  • Pesona Paman Seno   PPS | Terbuai [+]

    Kedua insan berbeda usia itu saling bertukar saliva dengan mesra. Kedua netra mereka saling terpejam. Menikmati sensasi basah nan lembut yang tercipta dari sebuah ciuman yang mereka lakukan.Seno menekan punggung Rindu, merapatkan tubuh mungil itu pada tubuh jangkungnya. Membuat gesekan pada dada mereka kian terasa. Dan berhasil membakar gairah keduanya.Tangan Seno yang lain, turun menangkup sebelah bongkahan padat Rindu. Meremasnya gemas dan sesekali menamparnya.Pekikan Rindu teredam sesaat ketika dia merasakan tamparan pada pantatnya. Netranya membola, menatap Seno dengan penuh keterkejutan.Plop"Paman.." Rindu berusaha keras menahan suaranya agar tidak terdengar keras.Bukannya takut melihat Rindu yang melotot ke arahnya, Seno justru terkekeh geli tanpa rasa bersalah. Baginya melihat Rindu yang berekspresi demikian membuat dirinya merasa terhibur."Tangan Paman nakal sekali." omel Rindu dengan bibir mengerucut.Seno mencomot bibir Rindu tanpa dosa. Membuat gadis itu kembali memb

  • Pesona Paman Seno   PPS | Terlambat Pulang

    Permainan yang awalnya dikatakan sebentar ternyata berlangsung cukup lama. Ketika Seno melepaskan sang keponakan, hari sudah berubah menjadi gelap. Jam dinding yang ada di ruangannya telah menunjukkan pukul 6 lewat 20 menit."Paman benar-benar sangat puas, Sayang." kata Seno dengan wajah sumringah.Ditatapnya kedua gunung kembar Rindu yang penuh dengan jejak-jejak merah karyanya. Juga kedua puncak yang tampak lecet karena terlalu lama dia mainkan.Rindu sedikit meringis merasakan kebas pada kedua puncak dadanya. Hampir satu jam dia membiarkan Seno menyusu pada kedua gunung kembarnya. Dan berakhir dengan puncaknya yang lecet karena ulah pria itu."Maaf, Sayang. Paman terlalu kasar memainkannya. Paman benar-benar merasa gemas sampai tidak bisa menahan diri." ujar Seno yang menyadari kesakitan Rindu.Gadis itu menggeleng lirih sembari mengusap bibir Seno yang tampak mengkilap karena saliva. Walau pun dia merasa jijik dengan apa yang telah terjadi. Namun tidak dapat dipungkiri jika dia ju

  • Pesona Paman Seno   PPS | Bermain Sebentar [+]

    Dengan hati-hati Rindu membuka pintu ruangan Seno yang tertutup rapat. Kedua kaki mungilnya melangkah perlahan ketika mendapati sosok yang dia cari tengah terduduk di atas kursi kerjanya dengan mata terpejam.Tanpa disadarinya, Rindu tersenyum kecil melihat wajah Seno saat ini. Dia lantas mendekati pria itu dan berdiri di sisi kiri Seno. Lalu dengan tingkah malu-malu mendaratkan kecupannya di atas bibir pria itu.CupHanya kecupan singkat yang Rindu sematkan. Namun sepertinya gerakan kecil tersebut sudah mampu membuat Seno terusik di dalam tidurnya. Atau mungkin pria itu hanya sekedar memejamkan matanya saja?Begitu melihat kedua mata pria itu hendak terbuka, Rindu kembali menghadiahi Seno kecupan di bibir untuk yang kedua kalinya. Berbeda dengan tadi, kali ini Rindu sedikit menekan bibirnya dan mengecupnya cukup lama.Seno yang mendapatkan serangan tiba-tiba seperti itu tentu saja merasa terkejut. Dia refleks menahan kedua bahu Rindu. Membuat wajah mereka menjadi berjarak."Rindu." g

  • Pesona Paman Seno   PPS | Menjemput Seno

    Seperti biasa, sore ini Rindu tengah sibuk mempersiapkan makan malam di dapur. Tidak seperti kemarin, Hanum kali ini juga ikut membantunya."Sebenarnya Bibi ingin bersantai saja di kamar." celetuk Hanum memecah keheningan. Wanita itu tengah memotong bawang bombai dan cabai hijau.Rindu yang tengah meniriskan daging sapi yang telah dia rebus lantas menoleh ke arah wanita itu sejenak."Lalu kenapa Bibi memaksa membantu Rindu memasak? Padahal Rindu hanya ingin membuat tumis daging cabai hijau saja." timpal Rindu sembari meletakkan daging sapi ke atas talenan kayu.Gadis itu beralih memindahkan kaldu bekas rebusan daging ke dalam panci kecil untuk dia simpan. Kaldu tersebut bisa dia gunakan lagi untuk memasak sayur besok. Sayang jika dibuang karena rasanya akan nikmat jika dicampur dengan bumbu-bumbu yang lain."Bibi tidak ingin dimarahi Pamanmu seperti kemarin. Padahal Bibi juga hanya beberapa hari saja tidak memasak. Tapi sudah dimarahi seperti itu." jelas Hanum mengeluarkan unek-unekny

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status