LOGINNabila harus menanggung konsekuensi fatal dari ketidak sadaran Dewa, Ayah sahabatnya karena pengaruh Alkohol. Pria yang ia hormati itu merebut paksa kesuciannya. Demi tanggung jawab dan cinta yang terpendam, Dewa bersikeras menikahi Nabila. Nabila merasa dilema karena ia berfikir dengan menerima Dewa berarti menghancurkan persahabatannya dengan Diana, putri Dewa. Diawal pernikahan mereka Diana sangat menentang pernikahan Ayah dan Sahabatnya. Perjuangan Dewa dimulai. Ia harus meyakinkan Anaknya berulang kali untuk bersikap baik pada istrinya dan menaklukkan hati Nabila yang terluka dan mengubah status pernikahan di atas kertas menjadi ikatan cinta sejati. Akankah Dewa berhasil membatalkan perjanjian itu, atau Nabila akan meminta Dewa untuk menceraikan nya?
View More"Ahhh... Om, jangan..." desis Nabila dengan napas yang memburu. Tangannya berusaha mendorong dada bidang Dewa yang menghimpitnya. Di balik aroma alkohol yang tercium dari tubuh pria berusia 41 tahun itu, ada intensitas yang membuat pertahanan Nabila goyah.
Dewa menatapnya dengan pandangan yang dalam tatapan pria matang yang penuh gairah, tak terpengaruh oleh penolakan sang gadis. "Kamu gak bisa membohongi dirimu sendiri, Nabila," bisik Dewa serak, suaranya seperti mantra yang membuat bulu kuduk Nabila meremang. Saat tangan Dewa mulai menelusuri lekuk tubuhnya dengan sentuhan yang menuntut namun penuh kendali, jantung Nabila berdegup kencang, bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena lonjakan gairah yang tak terduga. Nabila yang tadinya berniat terus menolak, jemarinya justru tanpa sadar mencengkeram kemeja Dewa, menarik pria itu lebih dekat. Logika Nabila perlahan mengabur, terkalahkan oleh sensasi asing yang memabukkan dari sentuhan pria yang merupakan ayah dari sahabatnya itu. Rasa bersalah yang sempat hinggap di kepalanya seketika lenyap, tertelan oleh rasa haus akan keintiman yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Nabila memejamkan mata, membiarkan pertahanannya luruh sepenuhnya. Tidak ada lagi kata 'stop'. Yang ada hanyalah pasrah yang berubah menjadi balasan, saat Nabila akhirnya membiarkan dirinya tenggelam dalam hasrat yang Dewa tawarkan di malam itu. ─── Pagi itu, sinar matahari yang menerobos celah tirai terasa begitu menyengat bagi Nabila. Ia terjaga dengan napas yang memburu dan tubuh yang terasa asing. Keheningan kamar itu hanya diisi oleh suara detak jantungnya sendiri yang berpacu. Ia menoleh ke samping, mendapati Dewa—ayah dari sahabatnya, Diana—masih terlelap. Nabila memejamkan mata erat-erat, mencoba menghapus memori semalam. Namun, saat ia memunguti pakaiannya dengan tangan gemetar, ada sebuah tarikan aneh di hatinya. Ingatan tentang kelembutan sentuhan Dewa, meski diawali dengan paksaan, kini bercampur dengan rasa sesak yang tidak bisa dijelaskan. Ia tidak hanya marah ia merasa terjebak. Sesampainya di depan kamar Diana, ia merasa seperti pengecut. Saat pintu terbuka dan Dewa tiba-tiba muncul di belakangnya, Nabila merasakan debaran yang bukan lagi sekadar ketakutan. Ada ketegangan yang membuat lututnya lemas. "Nabila..." bisik Dewa. Suara berat itu membelai pendengarannya. Nabila menoleh, menepis tangan Dewa, namun matanya tidak bisa berbohong. Ada bias emosi yang sulit ia jelaskan. "Jangan sentuh saya, Om," desisnya, meski pertahanan dirinya terasa retak. Dewa membawa Nabila ke ruang tengah. Suasana di rumah itu terasa mencekam, hanya ada deru napas mereka yang tertahan. Ketika Dewa menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan, Nabila merasakan pertahanannya goyah, namun egonya menolak untuk luruh. "Saya akan bertanggung jawab, Nabila. Saya tahu kejadian tadi malam—" ucap Dewa, namun kalimatnya terputus saat melihat tatapan tajam nan terluka dari gadis di depannya. "Cukup, Om," sela Nabila dengan suara bergetar. "Anggap itu tidak pernah terjadi. Lupakan." Dewa tertegun. "Lupakan? Bagaimana mungkin? Saya tidak bisa membiarkan kamu menanggung beban itu sendirian. Saya akan bicarakan ini dengan Diana, kita—" "Jangan berani-berani, Om!" sentak Nabila, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Kalau Om bicara sama Diana, Om bukan cuma menghancurkan hidup saya, tapi juga persahabatan saya dengan anak Om sendiri. Apa Om mau lihat Diana benci sama ayahnya dan kehilangan sahabatnya di hari yang sama?" Dewa terdiam, cengkeramannya pada jemari Nabila mengendur. Ia tampak terpukul oleh realitas yang diucapkan gadis itu. "Saya tidak akan menerima tanggung jawab dalam bentuk apapun dari Om," lanjut Nabila, suaranya kini merendah, nyaris berbisik namun penuh penekanan. "Tanggung jawab yang Om tawarkan justru akan menghancurkan segalanya. Kita harus mengubur kejadian semalam dalam-dalam. Anggap kita tidak pernah melakukan apa pun. Anggap saya tidak pernah datang ke rumah ini semalam." Dewa menatap Nabila lekat-lekat, mencoba mencari celah keraguan di mata gadis itu. Namun, yang ia temukan hanyalah ketakutan mendalam akan konsekuensi yang akan menimpa mereka. "Kamu benar-benar ingin kita berpura-pura tidak terjadi apa-apa?" tanya Dewa parau. Nabila menarik tangannya dari genggaman Dewa, menyeka sisa air matanya dengan kasar. "Itu satu-satunya cara. Diana tidak boleh tahu, sedikit pun. Kalau sampai dia tahu, saya tidak akan pernah memaafkan Om. Kita orang asing. Paham?" Dewa bungkam. Ia mengangguk pelan, meski ada kilatan kesedihan di matanya. Pria itu sadar, menuruti kemauan Nabila adalah cara satu-satunya untuk menjaga gadis itu tetap di dekatnya, meski dalam bayang-bayang kebohongan. Nabila pun beranjak pergi meninggalkan Dewa yang masih terpaku di ruang tengah. Ia melangkah keluar rumah dengan dada yang sesak. Ia berhasil memaksa Dewa untuk bungkam, namun ia sadar, rahasia ini kini telah menjadi duri dalam daging bagi hubungan mereka.Tadi malam Nabila melahirkan putri cantik yang di beri nama Kanaya Zenika Wiralesmana. Suasana di ruang rawat inap Nabila siang ini sangat ramai. Nevan yang sejak datang terus mengocehi adeknya."Adik kecil banget ya Opa," ucap Nevan yang di gendongan Papa Wira."Dulu, Abang juga kecil ya Opa. Abang lihat di foto." Tambah Nevan.Papa Wira tertawa terkeke-kekeh sambil mengecup pipi gembul cucu lakinya itu."Sekarang Abang Nevan udah gede, udah pinter, siap jadi pelindung buat adek,""Iya, nanti Abang yang jagain adek biar nggak digigit nyamuk!" seru Nevan polos, tangannya terulur-ulur ingin menyentuh pipi mungil adiknya yang sedang tertidur lelap di dalam boks bayi."Aduh, pinter banget si Abang," sahut Mama Saras yang sedang duduk di samping ranjang Nabila sambil mengelus lembut jemari menantunya."Gimana kondisinya sekarang, Nabila? Masih kerasa nyeri bekas jahitan?"Nabila tersenyum tipis, merapikan selimutnya."Udah agak mendingan kok, Ma. Tadi udah dibawa jalan pelan-pelan ke kama
Dewa perlahan memutar gagang pintu kamar utama. Di atas ranjang, Nabila sedang berbaring miring, membelakanginya dengan napas yang tidak teratur."Sayang... masih tidur?" bisik Dewa lembut sambil menduduki tepi ranjang dan mengelus bahu istrinya.Nabila membalikkan badan dengan cepat. Bukannya tersenyum, wajahnya justru ditekuk masam. Matanya yang sembap menatap Dewa penuh kekesalan."Mas Dewa tuh ya! Bener-bener nakal!" semprot Nabila tiba-tiba, membuat Dewa mengernyit bingung."Loh... kok Mas baru pulang langsung dimarahi? Salah Mas apa, Sayang?" tanya Dewa heran.Nabila melempar sebuah testpack ke pangkuan Dewa."Lihat tuh! Kan aku udah pernah bilang, kalau gituan itu inget waktu! Mas selalu telat cabut, sekarang lihat hasilnya, Nevan masih kecil, Mas!" cerocos Nabila meluapkan rasa kesalnya yang dipendam sejak pagi.Dewa terpaku menatap dua garis merah di tangannya. Senyum lebar perlahan terbit di wajah tampannya, meski ia sadar sang istri sedang mengomel habis-habisan."Sayang...
Beberapa bulan kemudian, Nabila mulai merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia jadi sangat mudah lelah dan hampir setiap pagi selalu mual dan pusingPagi ini, begitu Dewa berangkat ke kantor, Nabila merapikan sisa sarapan dan menghampiri pengasuh anaknya."Mbak Yanti, tolong pegang Nevan sebentar ya. Saya mau ke kamar dulu, agak pusing," pamit Nabila sembari menyerahkan Nevan."Oh, iya, Bu Nabila. Mari sama Mbak Yanti dulu ya, Nevan," jawab Mbak Yanti ramah.Dengan perasaan campur aduk takut, cemas, sekaligus penasaran Nabila melangkah cepat menuju kamar mandi di dalam kamarnya untuk melakukan tes kehamilan.Tiga menit terasa sangat lama. Nabila meletakkan testpack itu di pinggiran wastafel, lalu langsung membalikkan badan karena tak sanggup menatapnya secara langsung. Tangannya bertaut rapat di depan dada, sementara jantungnya berdegup kencang."Ya Allah... Apapun hasilnya, hamba pasrah... Tapi kalau boleh minta, Nevan masih kecil banget..." gumamnya lirih.Perlahan, Nabila memutar t
Setelah menyelesaikan hidangan fine dining mereka yang disajikan penuh estetika, Dewa langsung menuntun Nabila menuju lift khusus yang membawanya menuju lantai area kamar Presidential Suite hotel.Nabila yang berdiri di samping Dewa di dalam lift terus memperhatikan angka lantai yang merambat naik."Mas, beneran cuma sebentar kan?" Tanya Nabila memecah keheningan lift, jari-jarinya meremas pelan ujung pakaiannya."Iya, Sayangku. Kamu udah tanya itu lima kali sepanjang jalan tadi," jawab Dewa lembut sembari menarik jemari Nabila, menyatukan sela-sela jari mereka dengan erat."Ya aku kepikiran Nevan, Mas. Aku takut dia rewel terus Mama kesusahan.""Nevan itu udah biasa sama Oma dan Opa-nya. Lagian tadi Mama sendiri kan yang nyuruh kita puas-puasin? Kamu percayain aja sama Mama, ya?"Ting.Pintu lift terbuka. Dewa membawa Nabila melangkah menyusuri koridor berkarpet tebal yang senyap, berhenti tepat di depan sebuah pintu suite berukiran elegan. Begitu kartunya ditempelkan dan pintu terbu
Pintu kamar rawat inap VVIP itu tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang begitu mencekam di antara mereka berdua. Begitu perawat selesai memasang infus dan meninggalkan ruangan, Nabila langsung menatap Dewa dengan tatapan seolah ingin membunuhnya.Matanya yang sembap menyalang merah, menahan amara
Jam digital menunjukkan pukul 21:00 saat Nabila terpaksa masuk ke mobil sedan mewah milik Dewa demi menghindari sorotan rekan kerjanya di lobi hotel.Suasana kabin terasa mencekam. Dewa membawa mobilnya menepi di area parkir sepi sebuah apotek 24 jam, lalu menyodorkan kantong berisi tiga merek test
Dua Minggu berlalu sejak malam itu. Nabila selalu mencoba menjalani hari-harinya seperti biasa kuliah lalu di lanjut bekerja, namun tubuhnya seolah berkhianat.Setiap pagi, Nabila selalu di sambut mual yang hebat. Aroma kopi, parfum menyengat, Bahkan aroma kantin kampus yang biasanya ia sukai kini
"Ahhh... Om, jangan..." desis Nabila dengan napas yang memburu. Tangannya berusaha mendorong dada bidang Dewa yang menghimpitnya. Di balik aroma alkohol yang tercium dari tubuh pria berusia 41 tahun itu, ada intensitas yang membuat pertahanan Nabila goyah. Dewa menatapnya dengan pandangan yang dal












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews