LOGINPagi sekali Rindu sudah bangun dari tidurnya. Tak seperti biasanya yang dia akan dengan sengaja bangun siang, hari ini dia tampak sudah segar dengan wajahnya yang sedikit basah setelah mandi.
Dengan kaos pendek berwarna sage dipadukan dengan rok mengembang sebatas lutut, Rindu keluar dari kamarnya. Tujuannya saat ini adalah dapur yang ada di rumah bibinya. Seperti permintaan Seno kemarin, hari ini Rindu akan memasakkan sesuatu untuk pamannya itu. Sudah lama sekali rasanya Rindu tidak memasak. Dan semoga saja masakannya cocok dengan lidah Seno. Rindu berpikir jika ini adalah salah satu strategi untuk lebih dekat dengan pamannya. Dengan Seno menyukai masakan yang dia buat, semakin mudah bagi dirinya untuk mendekati pria itu. Hari masih terlalu pagi ketika Rindu sampai di dapur. Sepertinya Hanum dan suaminya masih belum bangun. Pintu kamarnya masih tertutup rapat ketika Rindu melewatinya tadi. "Sepertinya aku lebih baik memasak yang mudah-mudah saja." gumam Rindu sembari menatap sayuran yang ada di dalam lemari pendingin. Rindu mengambil satu ikat kacang panjang dan tahu dari dalam kulkas. Dia berencana ingin memasak tumis kacang dan tahu kecap saja. Tapi sebelum itu, Rindu lebih dulu memasak nasi di magic com untuk menghemat waktu. Ketika Rindu tengah sibuk berperang dengan alat penggorengan, pintu kamar milik pasangan Hanum dan Seno tampak terbuka. Lalu keluar Hanum dengan penampilan yang sudah segar. Wanita itu mengernyitkan keningnya kala mendengar suara ribut di dalam dapur. Juga aroma harum yang menguar memenuhi rumah. "Rindu?" cetus Hanum melihat keponakannya tengah sibuk di dapur rumahnya. "Eh, Bibi? Bibi sudah bangun?" sapa Rindu basa-basi. Aslinya malas sekali dia menyapa wanita itu. Hanum hanya mengangguk sekilas. Dia lantas berjalan mendekati Rindu untuk melihat apa yang sedang gadis itu masak. "Tumben sekali kamu bangun pagi dan masak." celetuk Hanum sembari mencicipi masakan Rindu yang hampir matang. Rindu tersenyum tipis melihat reaksi Hanum saat mencicipi masakannya. "Ini sudah pas. Ternyata kamu pintar memasak." puji Hanum pada keponakannya itu. "Bunda yang mengajari Rindu masak, Bik." kata Rindu kalem, sengaja ingin melihat reaksi Hanum saat dirinya membahas mendiang Rinda. "O-Oh, Mbak Rinda memang jago memasak." timpal Hanum kaku. Dan Rindu menyadarinya. Walau pun dia masih merasa sedih setiap mengingat kedua orang tuanya, namun Rindu mencoba untuk tetap tegar. "Iya, Bik. Ayah suka sekali dengan masakan Bunda. Dan ini salah satu makanan yang dia suka." Rindu kembali bersuara, kali ini juga mengungkit tentang mendiang Heru. Wajah Hanum terlihat semakin pias. Entah apa yang sedang wanita itu pikirkan. Tapi yang jelas, Rindu merasa puas dengan reaksi yang Hanum berikan. "E-Eh itu sudah bisa diangkat, Rin. Jangan terlalu lama memasak kacangnya, nanti jadi tidak enak." celetuk Hanum yang jelas sekali berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. Rindu lantas mengangguk dan mematikan kompor. Lalu dia memindahkan tumis kacang dan tahu kecap buatannya ke atas piring saji. Semua yang Rindu lakukan tak luput dari pandangan Hanum. "Kalau tahu kamu jago masak kenapa tidak pernah bantu Bibi di dapur?" tanya Hanum sambil bersidekap dada. Dipikir-pikir kan lumayan juga ada yang membantunya memasak. "Takut ganggu, Bik." -malas juga kalau lama-lama sama Bibi. balas Rindu santai, berbanding terbalik dengan apa yang ada di dalam hatinya saat ini. Hanum yang baru saja meletakkan tiga tumpukan piring kosong di atas mata hanya mencebik. Dan tidak lagi menimpali ucapan Rindu. "Mumpung kamu sudah selesai, kamu bisa tidak panggilkan Paman mu di kamar. Bibi masih harus menggoreng kerupuk." cetus Hanum tiba-tiba. Rindu tentu terkejut dengan apa yang Hanum katakan. Ini kali pertamanya wanita itu menyuruhnya melakukan hal demikian. Namun tentu saja Rindu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. "Em, baik Bik." hanya itu balasan yang tepat untuk Rindu katakan. Gadis itu lantas segera pergi ke kamar Hanum untuk membangunkan Seno. Ini pertama kalinya Rindu masuk ke dalam kamar pasangan pasutri itu selama dia tinggal di sini. Kamarnya lebih luas dari kamar yang dia tempati. Netra bening Rindu lantas berpendar menatap sekeliling kamar yang temaram. Sepertinya Hanum tak langsung membuka gorden jendela sehingga membuat kamarnya sedikit gelap. Padahal matahari kini mulai beranjak naik. Jantung Rindu tiba-tiba saja berhenti berdetak kala melihat seorang pria yang berbaring di atas ranjang. Wajahnya terlihat damai, dan entah kenapa membuat Rindu tak dapat mengalihkan tatapannya dari sosok itu. Dengan dada bergemuruh, Rindu mulai berjalan perlahan menuju tempat pria itu berada. Siapa lagi kalau bukan Seno, yang masih asik tenggelam di dalam mimpinya. "Pa-Paman.." panggil Rindu dengan suara terbata. Gadis itu mendengus, merasa kesal dengan dirinya yang berubah gugup. Tak ada tanda-tanda Seno akan bangun, membuat Rindu menghela napas berat dengan detak jantungnya yang masih abnormal. Tak ada cara lain selain menyentuh pria itu agar segera bangun. Dan Rindu benar-benar mengguncang lengan Seno untuk membangunkannya. "Paman, bangun. Ini sudah pagi." kata Rindu mencoba membangunkan Seno lagi. Kali ini apa yang gadis itu lakukan sepertinya membuahkan hasil. Seno tampak terusik dari tidurnya. Dan beberapa detik kemudian terlihat membuka kedua matanya. Seno yang baru saja bangun, sontak membelalak begitu melihat siapa yang sudah membangunkannya. Pria itu spontan terduduk dan menatap Rindu dengan wajah terkejut. "Rindu? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Seno kebingungan, ada rasa tidak nyaman melihat Rindu berada di ruangan pribadinya. "Paman jangan salah paham. Rindu masuk ke sini karena disuruh Bibi membangunkan Paman." jawab Rindu cepat tak ingin Seno merasa terganggu. Seno awalnya diam sembari menelisik raut wajah Rindu saat ini. Dan sepertinya gadis itu memang berkata jujur. Karena jika dipikir-pikir selama ini Rindu tidak pernah masuk ke dalam kamarnya sembarangan. "Lalu dimana Hanum sekarang?" tanya Seno memilih untuk turun dari ranjangnya. Membuat Rindu refleks mundur untuk menjaga jarak. Seno lalu berjalan mengambil kaos yang semula tergantung di belakang pintu untuk dia pakai. Karena sebelumnya pria itu tidur dalam keadaan bertelanjang dada. Membuat suasana di antara mereka terasa canggung. "B-Bibi ada di dapur. Em, tadi Rindu sudah masak tumis kacang dan tahu kecap untuk Paman. Paman lekas keluar ya, kita sarapan bersama." ujar Rindu yang sengaja ingin memberitahu Seno jika dirinya telah memasak sesuatu untuk pria itu. Mendengar apa yang Rindu katakan, Seno tanpa sadar menerbitkan senyumnya. Dia merasa senang karena Rindu menuruti permintaannya. "Iya, Paman bersih-bersih dulu." balas Seno mengulas senyum. Rindu tampak tersenyum dan segera keluar begitu Seno masuk ke dalam kamar mandi. Entah kenapa hatinya terasa berbunga-bunga mengingat respon Seno tadi. Di sisi lain, Seno yang kini tengah mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang mengucur dari shower tampak mengulas senyum begitu mengingat perhatian yang Rindu berikan. Dan tanpa dia sadari, itulah awal dari rasa terlarang yang dia rasakan pada keponakan istrinya, Rindu. ***"Terimakasih, Sayang." ucap Seno dengan napas berat sesaat setelah pergumulan panas mereka berakhir.Belum puas dengan permainan mereka semalam, Seno kembali mengg3mpur Rindu saat gadis itu masih terlelap dalam tidurnya. Membuat gadis itu terbangun dan dengan pasrah melayani sang paman. Pria itu benar-benar hyper.Pria itu mengecup kening Rindu yang dipenuhi dengan peluh. Lalu membaringkan dirinya di samping gadis itu. Napasnya masih tampak tersenggal, dengan netra yang menatap langit-langit kamar.Permainan panas yang berlangsung selama dua jam telah berakhir dengan Rindu yang terkapar tak berdaya di atas ranjang. Sang paman benar-benar mengg3mpurnya habis-habisan pagi ini.Seno memeluk pinggang ramping Rindu dengan posesif. Setelah menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka."Tinggal hari ini saja kita berada di sini." ujar Seno membuka suara.Rindu yang hampir terlelap karena kelelahan lantas membuka kedua matanya sayu. Lalu membalik tubuhnya agar menghadap ke arah Seno."Ap
Rindu menghela napas berat sebelum turun dari pangkuan Seno. Gadis itu mendudukkan dirinya di samping sang paman dan mulai bercerita mengenai Romi.Romi, yang merupakan putra dari Rudi sahabat ayahnya adalah teman masa kecilnya dulu. Sejak duduk di bangku kanak-kanak, mereka telah saling mengenal. Dan akhirnya menjadi sahabat sampai masa abu-abu.Awalnya persahabatan mereka berjalan dengan baik. Rindu dan Romi, keduanya saling mengasihi satu sama lain. Namun tanpa disadari, salah satu di antara mereka memiliki perasaan yang lebih dari seorang sahabat.Rindu, yang semasa itu tengah beranjak dewasa ternyata menyimpan perasaan pada Romi. Namun sebaliknya, Romi tidak merasakan getaran yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Rindu.Rindu yang tidak bisa membendung perasaannya lebih lama, akhirnya memberanikan diri untuk mengutarakannya pada Romi. Gadis itu yakin jika sahabatnya itu juga mempunyai perasaan yang sama seperti dirinya.Dengan pipi bersemu, Rindu mengajak Romi untuk bertemu di
"Kalau begitu Rindu pamit pulang, Paman." ujar Rindu sembari beranjak dari tempat duduknya. Rudi mengangguk kecil dan ikut berdiri mengantar gadis itu sampai ke pintu. Sedangkan Dika sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu. "Sebenarnya Om lebih setuju kamu menginap di sini saja, Nak. Di sana kamu pasti sendirian." kata Rudi menyuarakan kekhawatirannya. Rindu tersenyum tipis merasa terharu dengan perhatian pria itu. Dari dulu Rudi memang telah dia anggap sebagai ayah keduanya setelah Heru. "Tidak apa-apa, Paman. Lagipula Rindu di sana juga tidak sendiri." jawab Rindu yang tak ingin membuat Rudi merasa khawatir. Pria itu mengernyitkan dahinya dan hendak kembali bersuara, saat tiba-tiba saja terdengar suara deru motor yang mendekat ke arah mereka. Seorang pemuda berparas tampan dengan jaket jeans yang melekat di tubuhnya baru saja menghentikan motor sportnya di depan teras rumah Rudi. Rindu yang mengetahui siapa gerangan itu mulai merasa tidak nyaman. "Sudah pulang, Rom?" sap
"Masih ada satu lagi bukti kunci yang Om dapatkan, Nak." seloroh Rudi begitu Rindu bertanya."Apa itu, Om?" tanya Rindu penasaran.Lagi-lagi Rudi tak langsung menjawab pertanyaan Rindu. Pria itu kembali memanggil Inah dan menyuruh wanita paruh baya itu untuk mengambil ponselnya.Dengan sedikit tergopoh Inah kembali ke ruang tamu dengan ponsel genggam yang ada di tangannya. Lalu menyingkir sendiri tanpa Rudi pinta.Rudi tampak menghubungi seseorang yang Rindu yakini sebagai seorang detektif yang pria itu sewa untuk menangani kasus kematian orang tuanya. Dari percakapan yang Rindu tangkap, Rudi menyuruh orang itu untuk datang ke sini."Kamu tunggu sebentar, Nak. Detektif yang menangani kasus ini akan datang ke sini sebentar lagi." kata Rudi tersenyum tipis.Rindu hanya membalasnya dengan anggukan ringan. Dan selama menunggu kedatangan sang detektif, Rindu memilih untuk bertukar pesan dengan Seno, sang kekasih.Tak sampai setengah jam, orang yang Rindu tunggu akhirnya datang juga. Dan ya
Rindu menatap bangunan rumah megah yang ada di depannya dalam diam. Beberapa menit yang lalu dia baru saja sampai di pelataran rumah Rudi, sahabat mendiang ayahnya dan orang yang selama ini membantunya.Setelah memantapkan hatinya, gadis itu akhirnya melangkah menuju teras rumah Rudi. Dan memencet bel yang terdapat di sisi pintu utama.Tak sampai menunggu lama, pintu bercat putih dengan tinggi lebih dari tiga meter itu akhirnya terbuka. Menampilkan sosok wanita paruh baya dengan pakaian sederhana. Jangan lupakan kain lap yang tersampir di pundaknya."Cari siap-eh, Non Rindu. Benar ini Non Rindu putri Tuan Heru kan?" seru wanita paruh baya itu heboh.Rindu mengulas senyum kecil melihat reaksi dari salah satu asisten rumah tangga Rudi yang sudah dia kenal sejak lama."Mbok Inah apa kabar?" sapa Rindu ramah.Inah, wanita paruh baya yang sudah lama mengabdi di rumah Rudi itu tampak tersenyum haru. Dia sudah mengetahui bagaimana kehidupan gadis di depannya saat ini."Simbok baik, Non. Non
Saat ini Rindu telah rapi dengan pakaiannya yang serba hitam. Pagi ini, dia dan Seno berencana untuk berziarah ke makam mendiang ayah dan ibu Rindu.CeklekBunyi knop pintu yang diputar menarik atensi Rindu yang tengah duduk di depan meja rias. Gadis itu mendapati sosok Seno baru saja keluar dari kamar mandi yang ada di kamarnya.Pipi Rindu tampak bersemu begitu melihat Seno hanya keluar dengan sehelai handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Sedangkan tubuh atasnya dibiarkan polos. Memperlihatkan jejak-jejak merah bekas gigitannya tadi. Keduanya memang sempat memadu kasih di dalam kamar mandi. Dan Rindu baru menyadari jika dirinya benar-benar liar.Netra jelaga Seno melirik ke arah Rindu yang ternyata tengah menatapnya sedari tadi. Mengulum senyum di bibir, pria itu lantas berjalan mendekati sang kekasih. Lalu merengkuhnya dengan mesra."Paman.. baju Rindu nanti jadi basah." seru Rindu mencoba melepaskan diri.Namun bukannya menurut, Seno justru dengan sengaja mengeratkan pelukann
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Rindu rela mengubur kekesalannya pada Seno. Setelah merenung di dalam kamarnya selama hampir satu jam, gadis itu akhirnya keluar dari kamarnya. Tujuannya saat ini adalah dapur. Dia ingin menarik perhatian Seno dengan membuatkannya secangkir kopi.Dengan raut w
Rindu terbahak-bahak setelah keluar dari ruangan pamannya, Seno. Gadis itu masih ingat bagaimana raut syok Seno setelah dia sempat mencium pipinya. Jujur saja Rindu merasa terhibur dengan segala reaksi yang pamannya itu berikan.Bersenandung kecil sembari memainkan kunci motor yang ada di tangannya
Seno dengan reflek menjatuhkan Rindu yang sejak tadi duduk di atas pangkuannya. Membuat gadis itu memekik dan mengaduh kesakitan karena bongkahan padatnya menghantam lantai dengan cukup keras."Aduhh.. Paman.." ringis Rindu.Seno yang tersadar sontak membantu Rindu untuk bangun. Lalu mendudukkan ga
Kicauan burung yang hinggap di ranting-ranting pohon mengusik tidur seorang gadis cantik yang masih setia bergelung di dalam selimut tebal. Hawa dingin yang menerpa kulit karena hujan semalam yang turun dengan deras, membuat gadis itu enggan keluar dari tempat nyamannya.Namun gedoran pintu kamar y







