Home / Romansa / Pesona Paman Seno / PPS | Perhatian Rindu

Share

PPS | Perhatian Rindu

Author: Karl Valerie
last update publish date: 2026-03-05 05:36:46

Pagi sekali Rindu sudah bangun dari tidurnya. Tak seperti biasanya yang dia akan dengan sengaja bangun siang, hari ini dia tampak sudah segar dengan wajahnya yang sedikit basah setelah mandi.

Dengan kaos pendek berwarna sage dipadukan dengan rok mengembang sebatas lutut, Rindu keluar dari kamarnya. Tujuannya saat ini adalah dapur yang ada di rumah bibinya.

Seperti permintaan Seno kemarin, hari ini Rindu akan memasakkan sesuatu untuk pamannya itu. Sudah lama sekali rasanya Rindu tidak memasak. Dan semoga saja masakannya cocok dengan lidah Seno. Rindu berpikir jika ini adalah salah satu strategi untuk lebih dekat dengan pamannya. Dengan Seno menyukai masakan yang dia buat, semakin mudah bagi dirinya untuk mendekati pria itu.

Hari masih terlalu pagi ketika Rindu sampai di dapur. Sepertinya Hanum dan suaminya masih belum bangun. Pintu kamarnya masih tertutup rapat ketika Rindu melewatinya tadi.

"Sepertinya aku lebih baik memasak yang mudah-mudah saja." gumam Rindu sembari menatap sayuran yang ada di dalam lemari pendingin.

Rindu mengambil satu ikat kacang panjang dan tahu dari dalam kulkas. Dia berencana ingin memasak tumis kacang dan tahu kecap saja. Tapi sebelum itu, Rindu lebih dulu memasak nasi di magic com untuk menghemat waktu.

Ketika Rindu tengah sibuk berperang dengan alat penggorengan, pintu kamar milik pasangan Hanum dan Seno tampak terbuka. Lalu keluar Hanum dengan penampilan yang sudah segar.

Wanita itu mengernyitkan keningnya kala mendengar suara ribut di dalam dapur. Juga aroma harum yang menguar memenuhi rumah.

"Rindu?" cetus Hanum melihat keponakannya tengah sibuk di dapur rumahnya.

"Eh, Bibi? Bibi sudah bangun?" sapa Rindu basa-basi. Aslinya malas sekali dia menyapa wanita itu.

Hanum hanya mengangguk sekilas. Dia lantas berjalan mendekati Rindu untuk melihat apa yang sedang gadis itu masak.

"Tumben sekali kamu bangun pagi dan masak." celetuk Hanum sembari mencicipi masakan Rindu yang hampir matang.

Rindu tersenyum tipis melihat reaksi Hanum saat mencicipi masakannya.

"Ini sudah pas. Ternyata kamu pintar memasak." puji Hanum pada keponakannya itu.

"Bunda yang mengajari Rindu masak, Bik." kata Rindu kalem, sengaja ingin melihat reaksi Hanum saat dirinya membahas mendiang Rinda.

"O-Oh, Mbak Rinda memang jago memasak." timpal Hanum kaku. Dan Rindu menyadarinya.

Walau pun dia masih merasa sedih setiap mengingat kedua orang tuanya, namun Rindu mencoba untuk tetap tegar.

"Iya, Bik. Ayah suka sekali dengan masakan Bunda. Dan ini salah satu makanan yang dia suka." Rindu kembali bersuara, kali ini juga mengungkit tentang mendiang Heru.

Wajah Hanum terlihat semakin pias. Entah apa yang sedang wanita itu pikirkan. Tapi yang jelas, Rindu merasa puas dengan reaksi yang Hanum berikan.

"E-Eh itu sudah bisa diangkat, Rin. Jangan terlalu lama memasak kacangnya, nanti jadi tidak enak." celetuk Hanum yang jelas sekali berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.

Rindu lantas mengangguk dan mematikan kompor. Lalu dia memindahkan tumis kacang dan tahu kecap buatannya ke atas piring saji. Semua yang Rindu lakukan tak luput dari pandangan Hanum.

"Kalau tahu kamu jago masak kenapa tidak pernah bantu Bibi di dapur?" tanya Hanum sambil bersidekap dada. Dipikir-pikir kan lumayan juga ada yang membantunya memasak.

"Takut ganggu, Bik." -malas juga kalau lama-lama sama Bibi. balas Rindu santai, berbanding terbalik dengan apa yang ada di dalam hatinya saat ini.

Hanum yang baru saja meletakkan tiga tumpukan piring kosong di atas mata hanya mencebik. Dan tidak lagi menimpali ucapan Rindu.

"Mumpung kamu sudah selesai, kamu bisa tidak panggilkan Paman mu di kamar. Bibi masih harus menggoreng kerupuk." cetus Hanum tiba-tiba.

Rindu tentu terkejut dengan apa yang Hanum katakan. Ini kali pertamanya wanita itu menyuruhnya melakukan hal demikian. Namun tentu saja Rindu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.

"Em, baik Bik." hanya itu balasan yang tepat untuk Rindu katakan.

Gadis itu lantas segera pergi ke kamar Hanum untuk membangunkan Seno. Ini pertama kalinya Rindu masuk ke dalam kamar pasangan pasutri itu selama dia tinggal di sini. Kamarnya lebih luas dari kamar yang dia tempati.

Netra bening Rindu lantas berpendar menatap sekeliling kamar yang temaram. Sepertinya Hanum tak langsung membuka gorden jendela sehingga membuat kamarnya sedikit gelap. Padahal matahari kini mulai beranjak naik.

Jantung Rindu tiba-tiba saja berhenti berdetak kala melihat seorang pria yang berbaring di atas ranjang. Wajahnya terlihat damai, dan entah kenapa membuat Rindu tak dapat mengalihkan tatapannya dari sosok itu.

Dengan dada bergemuruh, Rindu mulai berjalan perlahan menuju tempat pria itu berada. Siapa lagi kalau bukan Seno, yang masih asik tenggelam di dalam mimpinya.

"Pa-Paman.." panggil Rindu dengan suara terbata. Gadis itu mendengus, merasa kesal dengan dirinya yang berubah gugup.

Tak ada tanda-tanda Seno akan bangun, membuat Rindu menghela napas berat dengan detak jantungnya yang masih abnormal. Tak ada cara lain selain menyentuh pria itu agar segera bangun. Dan Rindu benar-benar mengguncang lengan Seno untuk membangunkannya.

"Paman, bangun. Ini sudah pagi." kata Rindu mencoba membangunkan Seno lagi.

Kali ini apa yang gadis itu lakukan sepertinya membuahkan hasil. Seno tampak terusik dari tidurnya. Dan beberapa detik kemudian terlihat membuka kedua matanya.

Seno yang baru saja bangun, sontak membelalak begitu melihat siapa yang sudah membangunkannya. Pria itu spontan terduduk dan menatap Rindu dengan wajah terkejut.

"Rindu? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Seno kebingungan, ada rasa tidak nyaman melihat Rindu berada di ruangan pribadinya.

"Paman jangan salah paham. Rindu masuk ke sini karena disuruh Bibi membangunkan Paman." jawab Rindu cepat tak ingin Seno merasa terganggu.

Seno awalnya diam sembari menelisik raut wajah Rindu saat ini. Dan sepertinya gadis itu memang berkata jujur. Karena jika dipikir-pikir selama ini Rindu tidak pernah masuk ke dalam kamarnya sembarangan.

"Lalu dimana Hanum sekarang?" tanya Seno memilih untuk turun dari ranjangnya. Membuat Rindu refleks mundur untuk menjaga jarak.

Seno lalu berjalan mengambil kaos yang semula tergantung di belakang pintu untuk dia pakai. Karena sebelumnya pria itu tidur dalam keadaan bertelanjang dada. Membuat suasana di antara mereka terasa canggung.

"B-Bibi ada di dapur. Em, tadi Rindu sudah masak tumis kacang dan tahu kecap untuk Paman. Paman lekas keluar ya, kita sarapan bersama." ujar Rindu yang sengaja ingin memberitahu Seno jika dirinya telah memasak sesuatu untuk pria itu.

Mendengar apa yang Rindu katakan, Seno tanpa sadar menerbitkan senyumnya. Dia merasa senang karena Rindu menuruti permintaannya.

"Iya, Paman bersih-bersih dulu." balas Seno mengulas senyum.

Rindu tampak tersenyum dan segera keluar begitu Seno masuk ke dalam kamar mandi. Entah kenapa hatinya terasa berbunga-bunga mengingat respon Seno tadi.

Di sisi lain, Seno yang kini tengah mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang mengucur dari shower tampak mengulas senyum begitu mengingat perhatian yang Rindu berikan. Dan tanpa dia sadari, itulah awal dari rasa terlarang yang dia rasakan pada keponakan istrinya, Rindu.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Paman Seno   PPS | Perhatian Rindu

    Pagi sekali Rindu sudah bangun dari tidurnya. Tak seperti biasanya yang dia akan dengan sengaja bangun siang, hari ini dia tampak sudah segar dengan wajahnya yang sedikit basah setelah mandi.Dengan kaos pendek berwarna sage dipadukan dengan rok mengembang sebatas lutut, Rindu keluar dari kamarnya. Tujuannya saat ini adalah dapur yang ada di rumah bibinya.Seperti permintaan Seno kemarin, hari ini Rindu akan memasakkan sesuatu untuk pamannya itu. Sudah lama sekali rasanya Rindu tidak memasak. Dan semoga saja masakannya cocok dengan lidah Seno. Rindu berpikir jika ini adalah salah satu strategi untuk lebih dekat dengan pamannya. Dengan Seno menyukai masakan yang dia buat, semakin mudah bagi dirinya untuk mendekati pria itu.Hari masih terlalu pagi ketika Rindu sampai di dapur. Sepertinya Hanum dan suaminya masih belum bangun. Pintu kamarnya masih tertutup rapat ketika Rindu melewatinya tadi."Sepertinya aku lebih baik memasak yang mudah-mudah saja." gumam Rindu sembari menatap sayuran

  • Pesona Paman Seno   PPS | Mencari Perhatian

    Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Rindu rela mengubur kekesalannya pada Seno. Setelah merenung di dalam kamarnya selama hampir satu jam, gadis itu akhirnya keluar dari kamarnya. Tujuannya saat ini adalah dapur. Dia ingin menarik perhatian Seno dengan membuatkannya secangkir kopi.Dengan raut wajah yang dibuat seceria mungkin, Rindu membawa secangkir kopi buatannya yang masih mengepul ke teras rumah. Tempat dimana Seno tengah bersantai.TakDengan hati-hati Rindu meletakkan segelas kopi buatannya di atas meja. Membuat Seno yang tadinya tengah menyandarkan kepalanya di sandaran kursi bereaksi."Paman pasti lelah setelah seharian bekerja di bengkel. Ini Rindu buatkan kopi hitam kesukaan Paman." kata Rindu seakan menjawab pertanyaan yang ada di benak Seno.Seno yang tadinya menatap penuh kebingungan pada Rindu lantas mengalihkan tatapannya pada secangkir kopi hitam panas yang ada di depannya. Dia merasa aneh karena baru kali ini Rindu berperilaku seperti ini padanya."Tidak biasanya

  • Pesona Paman Seno   PPS | Tarik Ulur

    Rindu terbahak-bahak setelah keluar dari ruangan pamannya, Seno. Gadis itu masih ingat bagaimana raut syok Seno setelah dia sempat mencium pipinya. Jujur saja Rindu merasa terhibur dengan segala reaksi yang pamannya itu berikan.Bersenandung kecil sembari memainkan kunci motor yang ada di tangannya, Rindu lantas berjalan melewati para karyawan yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Ada beberapa pelanggan yang kebanyakan bergender laki-laki yang melirik ke arahnya dengan tatapan tertarik. Namun Rindu berusaha mengabaikannya."Eh." langkah Rindu langsung terhenti saat salah satu karyawan Seno yang dia kenal bernama Surya tiba-tiba saja menghadang jalannya."Mau pulang, Dek?" tanya Surya dengan senyum malu-malu yang begitu kentara. Kelihatan sekali jika pemuda itu menyimpan perasaan pada gadis di depannya ini.Rindu yang tadinya merasa kebingungan lantas mengangguk."Iya, Mas." jawab Rindu seadanya.Surya tampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, membuat Rindu tanpa sadar menaikkan s

  • Pesona Paman Seno   PPS | Pura-Pura Polos

    Seno dengan reflek menjatuhkan Rindu yang sejak tadi duduk di atas pangkuannya. Membuat gadis itu memekik dan mengaduh kesakitan karena bongkahan padatnya menghantam lantai dengan cukup keras."Aduhh.. Paman.." ringis Rindu.Seno yang tersadar sontak membantu Rindu untuk bangun. Lalu mendudukkan gadis itu di atas sofa panjang yang ada di ruangannya."Paman kenapa berdiri tiba-tiba sih? Aduhh.. sshh.." Rindu kembali meringis karena merasakan sakit pada bongkahan padatnya yang baru saja mencium lantai."Ma-Maaf, Rin. Paman benar-benar tidak sengaja." kata Seno dengan raut bersalah.Rindu hanya melengos dan kembali merintih kesakitan sembari memegangi pantatnya. Niat hati ingin memulai aksinya menggoda Seno, justru berakhir dengan dirinya yang jatuh terjengkang karena pria itu. Benar-benar sial sekali Rindu hari ini."Sakit ya, Rin? Haduh.. Paman benar-benar tidak sengaja tadi." Seno kembali bersuara setelah tidak mendapatkan balasan dari keponakan istrinya itu. Pasti Rindu sedang merasa

  • Pesona Paman Seno   PPS | Mulai Beraksi

    Kicauan burung yang hinggap di ranting-ranting pohon mengusik tidur seorang gadis cantik yang masih setia bergelung di dalam selimut tebal. Hawa dingin yang menerpa kulit karena hujan semalam yang turun dengan deras, membuat gadis itu enggan keluar dari tempat nyamannya.Namun gedoran pintu kamar yang dia tempati, membuat sang gadis mau tidak mau akhirnya terbangun. Berdecak sebal karena tidurnya terganggu, sebelum kemudian menendang kasar selimut yang semula menutupi tubuhnya hingga terjatuh di atas lantai.Ceklek"Ada apa, Bibi?" tanya gadis bernama Rindu itu pada wanita yang telah mengganggu tidurnya.Decakan samar dari wanita paruh baya di depannya ini membuat mata Rindu yang semula terasa lengket perlahan terlepas. Menyisakan benang-benang tipis yang mengganjal matanya."Ya Tuhan, Rindu.. ini sudah jam berapa? Kenapa kamu baru bangun tidur?" omel wanita bernama Hanum itu pada keponakannya.Gadis muda berparas cantik itu diam-diam memutar bola matanya malas. Selalu saja setiap pag

  • Pesona Paman Seno   PPS | Prolog

    Rindu tersenyum sinis saat melihat seorang wanita paruh baya yang tampak tersenyum bahagia saat mendapatkan sebuah kalung emas dari pria paruh baya yang ada di depannya.Dadanya bergemuruh dengan mulutnya yang terkatup rapat untuk meredam amarah yang ada di dalam dirinya. Ketika melihat orang yang telah menjadi penyebab kedua orang tuanya meninggal tampak berbahagia saat ini."Terimakasih ya, Mas. Aku suka sekali dengan hadiah ini." kata wanita itu.Sang pria yang melihat istrinya tampak senang tentu saja merasa bahagia."Sama-sama, Hanum. Saya ikut senang karena kamu menyukai kalung pemberian saya." balasnya sembari mengelus pipi tirus wanita itu.Hanum tersenyum malu-malu ketika mendapat perlakuan manis itu dari suaminya. Tak menyadari jika sedari tadi seseorang tengah menatapnya dengan pandangan tajam penuh dendam. Siapa lagi jika bukan Rindu, keponakannya sendiri.Gadis cantik bernama lengkap Rindu Sarasvati Budiman itu begitu membenci bibinya sendiri. Kebencian itu tidak datang b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status