Home / Romansa / Pesona Paman Seno / PPS | Mulai Beraksi

Share

PPS | Mulai Beraksi

Author: Karl Valerie
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-05 05:30:38

Kicauan burung yang hinggap di ranting-ranting pohon mengusik tidur seorang gadis cantik yang masih setia bergelung di dalam selimut tebal. Hawa dingin yang menerpa kulit karena hujan semalam yang turun dengan deras, membuat gadis itu enggan keluar dari tempat nyamannya.

Namun gedoran pintu kamar yang dia tempati, membuat sang gadis mau tidak mau akhirnya terbangun. Berdecak sebal karena tidurnya terganggu, sebelum kemudian menendang kasar selimut yang semula menutupi tubuhnya hingga terjatuh di atas lantai.

Ceklek

"Ada apa, Bibi?" tanya gadis bernama Rindu itu pada wanita yang telah mengganggu tidurnya.

Decakan samar dari wanita paruh baya di depannya ini membuat mata Rindu yang semula terasa lengket perlahan terlepas. Menyisakan benang-benang tipis yang mengganjal matanya.

"Ya Tuhan, Rindu.. ini sudah jam berapa? Kenapa kamu baru bangun tidur?" omel wanita bernama Hanum itu pada keponakannya.

Gadis muda berparas cantik itu diam-diam memutar bola matanya malas. Selalu saja setiap pagi dia akan mendengar ocehan dari bibinya ini. Membuat kepalanya pening dengan telinga berdengung karena harus mendengar lengkingan dari Hanum.

"Iya-iya, Rindu bangun kesiangan. Ada perlu apa Bibi mencari Rindu?" tak ada yang lebih benar dilakukan oleh Rindu selain mengalah, agar Hanum tak lagi merecoki paginya.

"Antar bekal ini untuk pamanmu di bengkel. Dia pasti sudah kelaparan karena menunggu masakan Bibi matang." perintah Hanum pada keponakan cantiknya.

Menghela napas berat, Rindu lantas menyambar rantang berisi sarapan untuk pamannya, Seno. Tanpa mengganti pakaian tidurnya yang berupa celana pendek sebatas paha dan kaos sebahu, Rindu langsung keluar dari rumah bibinya dengan kunci motor yang ada di genggaman tangannya.

Hal seperti ini memang sudah biasa terjadi. Setiap paginya, Hanum akan menyuruh Rindu mengantarkan bekal makan siang untuk Seno yang bekerja di bengkel. Usaha bengkel yang digeluti pria berusia 45 tahun itu cukup ramai. Kini sudah ada 5 karyawan yang bekerja di bengkelnya.

Kembali pada Rindu, gadis cantik bersurai gelap panjang itu menghentikan motornya ketika sudah sampai di bengkel. Beberapa karyawan yang masih lajang tampak menyapanya dengan ramah dan menatapnya penuh minat. Wajar saja, di desa ini memang jarang sekali melihat gadis bening seperti Rindu.

Sebelumnya, Rindu adalah putri tunggal dari Heru Budiman, pemilik pabrik tebu yang cukup terkenal di wilayahnya. Karena sebuah kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuanya, membuat Rindu yang waktu itu masih berada di bangku akhir SMA sangat terpuruk.

Kehilangan orang tuanya membuat Rindu menutup diri dari dunia luar selama berminggu-minggu. Hal itu juga yang membuat dirinya enggan bersekolah. Untung saja ada teman ayahnya yang mengurus semuanya hingga Rindu bisa tetap bersekolah walau homeschooling.

Lalu beberapa bulan setelahnya, bibinya yang tinggal di desa datang menemuinya. Mengatakan jika dia bersedia merawat Rindu. Hal itu tentu saja disambut baik oleh Rindu. Namun tidak dengan sahabat ayahnya yang bernama Rudi.

Rudi yang selama ini bungkam, akhirnya mulai menceritakan permasalah yang terjadi antara Heru dan Hanum semasa masih hidup dulu. Rudi juga mengatakan jika bibinya diduga ikut andil dalam peristiwa kecelakaan yang terjadi pada kedua orang tuanya.

Mendengar cerita Rudi, Rindu awalnya tidak percaya. Tidak mungkin bibinya, Hanum tega melakukan itu pada kakaknya sendiri. Namun semua bukti yang Rudi dapatkan, membuat Rindu akhirnya percaya. Dan sejak saat itu dia mulai menyimpan dendam pada Hanum.

Rindu memutuskan untuk menerima tawaran Hanum dengan tinggal bersamanya di desa. Keputusan itu tidak Rindu pilih tanpa pertimbangan. Rindu yang memang ingin membalaskan dendamnya merasa terbantu dengan tawaran tersebut. Walau dia tahu jika Hanum pasti memiliki maksud lain dengan mau merawatnya secara cuma-cuma.

Setelah menyapa beberapa karyawan yang kedapatan menatapnya dengan pandangan nakal, Rindu bergegas menuju ruangan kerja pamannya, Seno. Tanpa mengetuk pintu, Rindu langsung masuk ke dalam ruangan Seno dan mendapati pria itu tengah berkutat dengan pekerjaannya.

"Siang, Paman." sapa Rindu dengan riang.

Gadis cantik itu berjalan berlenggak-lenggok mendekati Seno yang menatapnya dengan senyuman kecil. Rindu meletakkan rantang berisi bekal makan siang untuknya. Lalu dengan berani duduk di atas meja kerja Seno.

"Kenapa duduk di sini? Sana, duduk di sofa." kata Seno melihat keponakan istrinya yang duduk di sampingnya. Bedanya gadis itu duduk di atas meja.

Rindu hanya menganggap ucapan Seno angin lalu. Saat ini dia lebih tertarik menatap pria itu dengan seksama. Jika dilihat-lihat, Seno memang memiliki paras yang menawan. Kulitnya yang sawo matang dengan tubuhnya yang kekar menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap wanita yang melihatnya. Tak terkecuali Rindu yang memang memiliki maksud lain.

"Paman.." panggil Rindu dengan suara lembutnya.

Seno yang tengah berkutat dengan laporan keuangan bulan ini tampak menaikkan sebelah alisnya ketika mendengar suara Rindu yang tidak biasanya memanggilnya dengan nada seperti itu.

"Ada apa, Rin? Kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Seno sembari meletakkan pulpennya dan menarik lepas kacamata yang sejak tadi membingkai wajahnya.

Pria itu menatap keponakan istrinya yang terlihat berwajah murung. Menghadirkan tanda tanya besar di pikiran Seno. Apa yang sedang dipikirkan oleh gadis cantik itu sekarang?

"Rindu merindukan Ayah dan Bunda." ujar gadis itu dengan suara lirih.

Seno yang merasa kebingungan harus bereaksi apa hanya bisa terdiam. Kehilangan kedua orang tua apalagi dengan cara yang sangat tragis pasti membuat setiap orang merasa terpukul. Dan saat ini Rindu sepertinya kembali bersedih ketika mengingat Heru dan Rinda.

"Rin.." lirih Seno yang membuat Rindu mendongakkan wajahnya yang sejak tadi menunduk. Menampilkan raut sedih yang membuat Seno bersimpati.

Tap

Tap

Bruk

Deg

Seno sontak berjengit saat tiba-tiba Rindu menjatuhkan tubuhnya di atas pangkuannya. Belum sampai Seno menyuarakan protesnya, Rindu sudah lebih dulu menubrukkan tubuhnya di dada Seno. Memeluk pria setengah baya itu dengan sesenggukan.

"Hiks.. kenapa Ayah dan Bunda harus pergi secepat ini, Paman?" isak Rindu yang terdengar jelas di telinga Seno karena jarak mereka yang begitu dekat. Bahkan posisi keduanya saat ini terlihat sangat intim.

Didorong oleh rasa simpati, Seno yang semula merasa tidak nyaman dengan kondisi mereka lantas mulai mendaratkan tangannya di punggung ringkih Rindu. Saat ini dia hanya ingin membuat Rindu kembali tenang dan tidak bersedih lagi.

"Sudah, jangan menangis lagi. Ada Paman dan Bibi Hanum yang akan selalu menemani kamu. Doakan saja semoga Ayah dan Bunda kamu tenang di surga." kata Seno tulus.

Rindu yang mendengarnya diam-diam tersenyum tipis. Sejak tadi dia sebenarnya pura-pura bersedih untuk menarik simpati pamannya. Namun ketika mengingat kedua orang tuanya, Rindu kembali merasa sedih. Sehingga dia benar-benar menangis untuk meluapkan perasaan rindunya pada Heru dan Rinda.

"Terimakasih, Paman sudah mau merawat Rindu. Sebagai ungkapan terimakasih, Rindu akan selalu menuruti semua permintaan Paman. Rindu akan jadi keponakan yang penurut dan membuat Paman senang." kata Rindu dengan semangat, tanpa sadar mengalungkan kedua lengan kecilnya di leher kokoh Seno.

Seno yang awalnya merasa senang karena Rindu tak lagi bersedih dibuat terkejut dengan apa yang gadis itu lakukan. Apalagi saat Rindu terus bergerak di atas pangkuannya seperti ini. Membuat sesuatu yang berada di bawah sana tiba-tiba saja mengeras dengan sempurna.

"R-Ri.."

"Paman, ini apa yang keras di bawah sini?" tanya Rindu dengan polos, yang membuat Seno seketika kehilangan kata-katanya.

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pesona Paman Seno   PPS | Bertemu Om Rudi

    Rindu menatap bangunan rumah megah yang ada di depannya dalam diam. Beberapa menit yang lalu dia baru saja sampai di pelataran rumah Rudi, sahabat mendiang ayahnya dan orang yang selama ini membantunya.Setelah memantapkan hatinya, gadis itu akhirnya melangkah menuju teras rumah Rudi. Dan memencet bel yang terdapat di sisi pintu utama.Tak sampai menunggu lama, pintu bercat putih dengan tinggi lebih dari tiga meter itu akhirnya terbuka. Menampilkan sosok wanita paruh baya dengan pakaian sederhana. Jangan lupakan kain lap yang tersampir di pundaknya."Cari siap-eh, Non Rindu. Benar ini Non Rindu putri Tuan Heru kan?" seru wanita paruh baya itu heboh.Rindu mengulas senyum kecil melihat reaksi dari salah satu asisten rumah tangga Rudi yang sudah dia kenal sejak lama."Mbok Inah apa kabar?" sapa Rindu ramah.Inah, wanita paruh baya yang sudah lama mengabdi di rumah Rudi itu tampak tersenyum haru. Dia sudah mengetahui bagaimana kehidupan gadis di depannya saat ini."Simbok baik, Non. Non

  • Pesona Paman Seno   PPS | Kesedihan Rindu

    Saat ini Rindu telah rapi dengan pakaiannya yang serba hitam. Pagi ini, dia dan Seno berencana untuk berziarah ke makam mendiang ayah dan ibu Rindu.CeklekBunyi knop pintu yang diputar menarik atensi Rindu yang tengah duduk di depan meja rias. Gadis itu mendapati sosok Seno baru saja keluar dari kamar mandi yang ada di kamarnya.Pipi Rindu tampak bersemu begitu melihat Seno hanya keluar dengan sehelai handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Sedangkan tubuh atasnya dibiarkan polos. Memperlihatkan jejak-jejak merah bekas gigitannya tadi. Keduanya memang sempat memadu kasih di dalam kamar mandi. Dan Rindu baru menyadari jika dirinya benar-benar liar.Netra jelaga Seno melirik ke arah Rindu yang ternyata tengah menatapnya sedari tadi. Mengulum senyum di bibir, pria itu lantas berjalan mendekati sang kekasih. Lalu merengkuhnya dengan mesra."Paman.. baju Rindu nanti jadi basah." seru Rindu mencoba melepaskan diri.Namun bukannya menurut, Seno justru dengan sengaja mengeratkan pelukann

  • Pesona Paman Seno   PPS | Masuk Angin

    Pagi ini untuk pertama kalinya Rindu terbangun di dalam pelukan Seno. Bukannya segera turun untuk menyiapkan sarapan, gadis itu justru memilih untuk memandangi wajah sang paman yang terlelap. Diam-diam Rindu mengagumi paras Seno yang masih terlihat rupawan dalam keadaan tertidur."Bisa-bisanya aku berakhir jatuh cinta pada pria ini." gumam Rindu terkekeh sembari mengelus ujung hidung Seno yang mancung.Jari-jemari Rindu asik bermain-main di wajah tampan Seno. Membuat tidur pria itu menjadi terganggu karena sentuhan-sentuhan di wajahnya.Perlahan, Seno mulai membuka kedua matanya yang terasa berat. Raut wajahnya yang semula terlihat lelah kini berganti cerah ketika mendapati sosok gadis pujaannya tengah menyambut paginya dengan hangat."Pagi, Paman." sapa Rindu dengan sebuah senyuman. Tak lupa mendaratkan kecupan kecil di bibir pria itu.Seno mengulas senyum manisnya sembari mengelus pipi Rindu dengan lembut."Pagi, Sayang." balasnya dengan suara parau khas bangun tidur.Keduanya salin

  • Pesona Paman Seno   PPS | Berdua Saja [+]

    Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam, Rindu dan Seno akhirnya sampai di rumah mendiang Heru dengan menaiki taksi dari terminal bus. Saat mereka sampai di rumah, langit sudah benar-benar gelap. Jarum jam juga telah menunjukkan pukul 9 malam.Hal pertama yang Rindu dan Seno lihat adalah kegelapan. Rumah sebesar ini terasa begitu sepi dan sunyi. Namun ketika lampu telah dinyalakan, rumah mendiang Heru menjadi terlihat sangat indah dan hangat. Bahkan tidak ada debu yang tertinggal sama sekali. Rindu memang mempekerjakan beberapa orang untuk mengurus rumahnya seminggu tiga kali. Itupun atas usulan dari Om Rudi."Barang-barangnya taruh di sini saja dulu, Paman." kata Rindu sembari mendudukkan dirinya di sofa panjang yang ada di ruang tamu.Gadis itu menyandarkan punggungnya mencari posisi nyaman. Lalu matanya tampak terpejam dengan wajah mendongak. Padahal sudah setahun lebih, tapi rasa sesak itu masih ada saat dirinya berada di dalam rumah ini.Seno yang melihat sang kekasih terl

  • Pesona Paman Seno   PPS | Sendirian

    Hanum tidak dapat menyembunyikan kekesalannya kala dirinya bertemu dengan Aryo, pria yang sempat bertemu dengannya di persimpangan jalan tempo hari.Bagaimana tidak kesal, pria itu memberikan kabar yang sangat tidak ingin dia dengar. Aryo gagal menjalankan misinya untuk melenyapkan saksi kunci pada pemb*nuhan kedua orang tua Rindu."B*doh kamu, Mas. Kenapa menjalankan misi itu saja kamu tidak becus." Hanum tak henti mencemooh Aryo, pria yang hanya bisa menekuk wajahnya sedari tadi.Sebenarnya Aryo tidak ingin kembali berurusan dengan Hanum. Mengingat sampai sekarang dia masih merasa bersalah setelah melakukan perbuatan keji itu pada dua orang yang menurutnya tidak melakukan hal yang buruk terhadap Hanum.Tapi dia akhirnya mau menerima tawaran Hanum karena terdesak. Sudah dua minggu lamanya dia dikejar-kejar debt collector. Menagih pembayaran motornya yang belum lunas."Aku juga tidak ingin seperti ini. Tapi ada orang yang membantu wanita itu untuk kabur sebelum aku berhasil mengekseku

  • Pesona Paman Seno   PPS | Mengikuti Rindu

    Hari mulai berubah menjadi gelap ketika Rindu membuka kedua matanya. Gadis itu berusaha mengumpulkan nyawanya dan menggeliat di atas ranjangnya yang empuk. Netranya melirik ke arah jam weker yang ada di atas nakas. Sedikit terkejut saat mendapati jarum pendek menunjukkan angka 5 petang.Rasa malas yang tadi menderanya seketika hilang. Digantikan dengan rasa panik karena sudah lewat jam pulang Seno dari bengkel. Gadis itu buru-buru membasuh wajahnya di kamar mandi. Lalu keluar dari kamarnya yang masih belum dinyalakan.Netra beningnya mengedar ke segala penjuru rumah yang tampak sepi. Lampu ruang tamu dan ruang tengah masih belum menyala. Tapi ada satu ruangan yang tampak terang benderang. Dan samar-samar Rindu bisa mendengar suara dari tempat itu.Dengan langkah pelan Rindu berjalan menuju dapur. Wajahnya yang tadinya sedikit was-was seketika berubah cerah saat mendapati sosok Seno yang tengah berdiri di depan kompor. Posisi pria itu sedang memunggunginya.Mengulum senyum, Rindu lanta

  • Pesona Paman Seno   PPS | Perhatian Rindu

    Pagi sekali Rindu sudah bangun dari tidurnya. Tak seperti biasanya yang dia akan dengan sengaja bangun siang, hari ini dia tampak sudah segar dengan wajahnya yang sedikit basah setelah mandi.Dengan kaos pendek berwarna sage dipadukan dengan rok mengembang sebatas lutut, Rindu keluar dari kamarnya.

  • Pesona Paman Seno   PPS | Mencari Perhatian

    Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Rindu rela mengubur kekesalannya pada Seno. Setelah merenung di dalam kamarnya selama hampir satu jam, gadis itu akhirnya keluar dari kamarnya. Tujuannya saat ini adalah dapur. Dia ingin menarik perhatian Seno dengan membuatkannya secangkir kopi.Dengan raut w

  • Pesona Paman Seno   PPS | Tarik Ulur

    Rindu terbahak-bahak setelah keluar dari ruangan pamannya, Seno. Gadis itu masih ingat bagaimana raut syok Seno setelah dia sempat mencium pipinya. Jujur saja Rindu merasa terhibur dengan segala reaksi yang pamannya itu berikan.Bersenandung kecil sembari memainkan kunci motor yang ada di tangannya

  • Pesona Paman Seno   PPS | Prolog

    Rindu tersenyum sinis saat melihat seorang wanita paruh baya yang tampak tersenyum bahagia saat mendapatkan sebuah kalung emas dari pria paruh baya yang ada di depannya.Dadanya bergemuruh dengan mulutnya yang terkatup rapat untuk meredam amarah yang ada di dalam dirinya. Ketika melihat orang yang

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status