Se connecterKicauan burung yang hinggap di ranting-ranting pohon mengusik tidur seorang gadis cantik yang masih setia bergelung di dalam selimut tebal. Hawa dingin yang menerpa kulit karena hujan semalam yang turun dengan deras, membuat gadis itu enggan keluar dari tempat nyamannya.
Namun gedoran pintu kamar yang dia tempati, membuat sang gadis mau tidak mau akhirnya terbangun. Berdecak sebal karena tidurnya terganggu, sebelum kemudian menendang kasar selimut yang semula menutupi tubuhnya hingga terjatuh di atas lantai. Ceklek "Ada apa, Bibi?" tanya gadis bernama Rindu itu pada wanita yang telah mengganggu tidurnya. Decakan samar dari wanita paruh baya di depannya ini membuat mata Rindu yang semula terasa lengket perlahan terlepas. Menyisakan benang-benang tipis yang mengganjal matanya. "Ya Tuhan, Rindu.. ini sudah jam berapa? Kenapa kamu baru bangun tidur?" omel wanita bernama Hanum itu pada keponakannya. Gadis muda berparas cantik itu diam-diam memutar bola matanya malas. Selalu saja setiap pagi dia akan mendengar ocehan dari bibinya ini. Membuat kepalanya pening dengan telinga berdengung karena harus mendengar lengkingan dari Hanum. "Iya-iya, Rindu bangun kesiangan. Ada perlu apa Bibi mencari Rindu?" tak ada yang lebih benar dilakukan oleh Rindu selain mengalah, agar Hanum tak lagi merecoki paginya. "Antar bekal ini untuk pamanmu di bengkel. Dia pasti sudah kelaparan karena menunggu masakan Bibi matang." perintah Hanum pada keponakan cantiknya. Menghela napas berat, Rindu lantas menyambar rantang berisi sarapan untuk pamannya, Seno. Tanpa mengganti pakaian tidurnya yang berupa celana pendek sebatas paha dan kaos sebahu, Rindu langsung keluar dari rumah bibinya dengan kunci motor yang ada di genggaman tangannya. Hal seperti ini memang sudah biasa terjadi. Setiap paginya, Hanum akan menyuruh Rindu mengantarkan bekal makan siang untuk Seno yang bekerja di bengkel. Usaha bengkel yang digeluti pria berusia 45 tahun itu cukup ramai. Kini sudah ada 5 karyawan yang bekerja di bengkelnya. Kembali pada Rindu, gadis cantik bersurai gelap panjang itu menghentikan motornya ketika sudah sampai di bengkel. Beberapa karyawan yang masih lajang tampak menyapanya dengan ramah dan menatapnya penuh minat. Wajar saja, di desa ini memang jarang sekali melihat gadis bening seperti Rindu. Sebelumnya, Rindu adalah putri tunggal dari Heru Budiman, pemilik pabrik tebu yang cukup terkenal di wilayahnya. Karena sebuah kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuanya, membuat Rindu yang waktu itu masih berada di bangku akhir SMA sangat terpuruk. Kehilangan orang tuanya membuat Rindu menutup diri dari dunia luar selama berminggu-minggu. Hal itu juga yang membuat dirinya enggan bersekolah. Untung saja ada teman ayahnya yang mengurus semuanya hingga Rindu bisa tetap bersekolah walau homeschooling. Lalu beberapa bulan setelahnya, bibinya yang tinggal di desa datang menemuinya. Mengatakan jika dia bersedia merawat Rindu. Hal itu tentu saja disambut baik oleh Rindu. Namun tidak dengan sahabat ayahnya yang bernama Rudi. Rudi yang selama ini bungkam, akhirnya mulai menceritakan permasalah yang terjadi antara Heru dan Hanum semasa masih hidup dulu. Rudi juga mengatakan jika bibinya diduga ikut andil dalam peristiwa kecelakaan yang terjadi pada kedua orang tuanya. Mendengar cerita Rudi, Rindu awalnya tidak percaya. Tidak mungkin bibinya, Hanum tega melakukan itu pada kakaknya sendiri. Namun semua bukti yang Rudi dapatkan, membuat Rindu akhirnya percaya. Dan sejak saat itu dia mulai menyimpan dendam pada Hanum. Rindu memutuskan untuk menerima tawaran Hanum dengan tinggal bersamanya di desa. Keputusan itu tidak Rindu pilih tanpa pertimbangan. Rindu yang memang ingin membalaskan dendamnya merasa terbantu dengan tawaran tersebut. Walau dia tahu jika Hanum pasti memiliki maksud lain dengan mau merawatnya secara cuma-cuma. Setelah menyapa beberapa karyawan yang kedapatan menatapnya dengan pandangan nakal, Rindu bergegas menuju ruangan kerja pamannya, Seno. Tanpa mengetuk pintu, Rindu langsung masuk ke dalam ruangan Seno dan mendapati pria itu tengah berkutat dengan pekerjaannya. "Siang, Paman." sapa Rindu dengan riang. Gadis cantik itu berjalan berlenggak-lenggok mendekati Seno yang menatapnya dengan senyuman kecil. Rindu meletakkan rantang berisi bekal makan siang untuknya. Lalu dengan berani duduk di atas meja kerja Seno. "Kenapa duduk di sini? Sana, duduk di sofa." kata Seno melihat keponakan istrinya yang duduk di sampingnya. Bedanya gadis itu duduk di atas meja. Rindu hanya menganggap ucapan Seno angin lalu. Saat ini dia lebih tertarik menatap pria itu dengan seksama. Jika dilihat-lihat, Seno memang memiliki paras yang menawan. Kulitnya yang sawo matang dengan tubuhnya yang kekar menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap wanita yang melihatnya. Tak terkecuali Rindu yang memang memiliki maksud lain. "Paman.." panggil Rindu dengan suara lembutnya. Seno yang tengah berkutat dengan laporan keuangan bulan ini tampak menaikkan sebelah alisnya ketika mendengar suara Rindu yang tidak biasanya memanggilnya dengan nada seperti itu. "Ada apa, Rin? Kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Seno sembari meletakkan pulpennya dan menarik lepas kacamata yang sejak tadi membingkai wajahnya. Pria itu menatap keponakan istrinya yang terlihat berwajah murung. Menghadirkan tanda tanya besar di pikiran Seno. Apa yang sedang dipikirkan oleh gadis cantik itu sekarang? "Rindu merindukan Ayah dan Bunda." ujar gadis itu dengan suara lirih. Seno yang merasa kebingungan harus bereaksi apa hanya bisa terdiam. Kehilangan kedua orang tua apalagi dengan cara yang sangat tragis pasti membuat setiap orang merasa terpukul. Dan saat ini Rindu sepertinya kembali bersedih ketika mengingat Heru dan Rinda. "Rin.." lirih Seno yang membuat Rindu mendongakkan wajahnya yang sejak tadi menunduk. Menampilkan raut sedih yang membuat Seno bersimpati. Tap Tap Bruk Deg Seno sontak berjengit saat tiba-tiba Rindu menjatuhkan tubuhnya di atas pangkuannya. Belum sampai Seno menyuarakan protesnya, Rindu sudah lebih dulu menubrukkan tubuhnya di dada Seno. Memeluk pria setengah baya itu dengan sesenggukan. "Hiks.. kenapa Ayah dan Bunda harus pergi secepat ini, Paman?" isak Rindu yang terdengar jelas di telinga Seno karena jarak mereka yang begitu dekat. Bahkan posisi keduanya saat ini terlihat sangat intim. Didorong oleh rasa simpati, Seno yang semula merasa tidak nyaman dengan kondisi mereka lantas mulai mendaratkan tangannya di punggung ringkih Rindu. Saat ini dia hanya ingin membuat Rindu kembali tenang dan tidak bersedih lagi. "Sudah, jangan menangis lagi. Ada Paman dan Bibi Hanum yang akan selalu menemani kamu. Doakan saja semoga Ayah dan Bunda kamu tenang di surga." kata Seno tulus. Rindu yang mendengarnya diam-diam tersenyum tipis. Sejak tadi dia sebenarnya pura-pura bersedih untuk menarik simpati pamannya. Namun ketika mengingat kedua orang tuanya, Rindu kembali merasa sedih. Sehingga dia benar-benar menangis untuk meluapkan perasaan rindunya pada Heru dan Rinda. "Terimakasih, Paman sudah mau merawat Rindu. Sebagai ungkapan terimakasih, Rindu akan selalu menuruti semua permintaan Paman. Rindu akan jadi keponakan yang penurut dan membuat Paman senang." kata Rindu dengan semangat, tanpa sadar mengalungkan kedua lengan kecilnya di leher kokoh Seno. Seno yang awalnya merasa senang karena Rindu tak lagi bersedih dibuat terkejut dengan apa yang gadis itu lakukan. Apalagi saat Rindu terus bergerak di atas pangkuannya seperti ini. Membuat sesuatu yang berada di bawah sana tiba-tiba saja mengeras dengan sempurna. "R-Ri.." "Paman, ini apa yang keras di bawah sini?" tanya Rindu dengan polos, yang membuat Seno seketika kehilangan kata-katanya. ***Hanum membuka kedua matanya yang tampak berkunang-kunang. Kelopak matanya menyipit, berusaha menghalau cahaya yang masuk ke dalam retinanya."Tahanan nomor 302 sudah sadar, Dok." kata seorang wanita yang baru saja memeriksa keadaan Hanum.Hanum menatap langit-langit ruangan yang dia tempati saat ini. Terasa begitu asing dan dingin. Dia hendak memegangi kepalanya yang terasa pening dengan tangan kirinya, ketika merasakan pergerakannya terbatasi.KruncingKruncingSuara besi yang saling beradu membuat Hanum mengernyit. Dengan sisa kesadarannya dia melirik ke bawah, mendapati tangan kirinya yang tengah diborgol dengan brankar yang dia tempati.Netra bening Hanum seketika membelalak. Dadanya bergemuruh hebat dengan ledakan air mata yang membasahi pelupuk matanya.Hanum berpikir jika semua ini hanyalah sebuah mimpi. Semua yang dia alami beberapa waktu lalu, ternyata benar-benar sebuah kenyataan yang menyakitkan."Tidak. Ini semua pasti hanya mimpi hiks." Hanum terisak, masih mengelak denga
Hancur sudah pertahanan yang selama ini dia bangun. Raut wajah congkak dan arogan yang selama ini selalu menghiasi wajahnya, kini telah berganti dengan raut menyedihkan. "Apa Bibi masih perlu bukti?" tanya Rindu dengan senyum kecil. Gadis itu lantas menangkup wajah Seno. Lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir sang paman. Tentu saja dengan mesra Seno membalas ciuman Rindu di depan Hanum yang semakin terpuruk. Di depan matanya kini dia melihat pria yang sangat dia cintai tengah berciuman dengan keponakannya sendiri. Betapa hancurnya hidup Hanum saat ini. "Sudah, Sayang. Kita bisa lanjutkan nanti." kata Seno menghentikan gerakan Rindu yang menginginkan lebih. Bahkan Seno memperlakukan Rindu dengan begitu lembut. "Tega kamu, Mas. Bisa-bisanya kamu berbuat seperti itu dengan keponakanku. Lelaki macam apa kamu, Mas?" maki Hanum dengan mata memerah. "Dan kamu! Dasar gadis licik tidak tahu diri! Wanita j*lang." umpat Hanum menunjuk wajah Rindu. Plak Suara tamparan yang begit
Perjalanan yang seharusnya menghabiskan waktu 4 jam, hanya ditempuh selama 2 jam setengah oleh Seno. Selain karena mengendarai mobil sendiri bersama Rindu, mereka juga tidak sampai terjebak macet."Paman, Rindu lapar." rengek Rindu sembari mengusap perutnya yang keroncongan.Seno melempar senyum kecil mendengar rengekan gadis di sampingnya."Ya sudah, kalau begitu nanti kita berhenti di warung pecel yang ada di depan gang, ya." balas Seno menyebutkan warung pecel langganannya yang tempatnya berada di depan gang masuk desa mereka. Jaraknya tidak terlalu jauh dari posisi mereka sekarang. Rindu mengangguk setuju dan kembali menyamankan duduknya. Sedari tadi gadis itu tak memejamkan matanya sama sekali. Dia benar-benar menemani Seno berkendara sampai tujuan.Beberapa menit kemudian, Seno menghentikan kendaraannya di depan warung pecel sederhana yang tak begitu ramai. Keduanya lantas segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam warung milik wanita tua yang menjadi langganan Seno karena mas
"Kenapa tidak tidur lagi, hm?" tanya Seno lembut ketika melihat Rindu masih terjaga.Gadis itu menggeleng kecil sembari menyamankan punggungnya. Melirik Seno dengan tatapan teduh."Rindu sudah tidak mengantuk lagi, Paman." jawab Rindu.Sebenarnya kepalanya masih terasa berat karena kurang tidur. Rasa lelahnya juga masih belum hilang karena permainan panas mereka beberapa jam lalu. Tapi dia tidak ingin membiarkan Seno berkendara sendirian jika dirinya tertidur."Kamu pasti masih lelah, Sayang. Tidak apa jika kamu ingin tidur lagi. Paman akan mengemudi dengan hati-hati." ujar Seno yang seakan tahu apa yang tengah Rindu khawatirkan.Rindu mencebik karena Seno terlalu baik pada dirinya. Tapi bohong jika dia tidak merasa senang dengan perhatian yang pria itu berikan."Rindu tidak apa-apa, Paman Sayang. Rindu ingin menemani Paman. Sudah, lebih baik Paman fokus saja mengemudi." timpal Rindu menyudahi percakapan mereka.Seno mengangguk sembari tersenyum kecil. Netra jelaganya fokus pada jalan
PrangBunyi gelas pecah yang sengaja dilempar terdengar begitu nyaring memenuhi sebuah rumah yang terlihat sepi dan sunyi. Seorang wanita dewasa tampak terduduk di depan meja makan dengan dada naik turun menahan letupan emosi yang memenuhi hatinya saat ini."Kenapa kamu bersikap seenaknya seperti ini padaku, Seno." seru Hanum meluapkan kekesalannya. Netranya memicing menatap pecahan gelas kaca yang baru saja dia lempar ke lantai.Hanum merasa begitu frustasi karena sampai detik ini dia sama sekali tidak mendapat kabar dimana keberadaan Seno, suaminya. Pria itu juga tidak memberinya kabar apapun. Sudah ratusan kali Hanum mencoba menghubungi nomor pria itu, namun panggilannya selalu tidak tersambung. Bisa kalian bayangkan bagaimana kalutnya Hanum selama beberapa hari ini karena Seno.Setiap hari Hanum selalu datang ke bengkel Seno, berharap dapat melihat suaminya. Tapi sampai detik ini dia tidak kunjung menemukan batang hidungnya. Hanum juga mendesak Surya untuk mengatakan dimana kebera
Seno membawa Rindu menuju kamar gadis itu yang terletak di lantai dua. Sesekali keduanya terlibat aksi saling cium dengan begitu liar. Baik Rindu maupun Seno tak ingin mengalah satu sama lain. Membuat suasana di antara mereka semakin memanas. Pelukan Rindu di leher kokoh Seno terlepas kala pria itu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Netra mereka saling bertemu dengan gairah yang sama-sama menggebu. Wajah Seno menunduk, menempelkan keningnya dengan kening Rindu. Lalu bibirnya bergerak menyesap bibir bawah gadis itu dengan lembut. Dan Rindu dengan senang hati menyambut ciuman tersebut. Tangan Seno dengan terampil melepaskan pakaian yang melekat di tubuh Rindu. Menyisakan gadis itu dalam keadaan yang benar-benar polos. Rindu yang tidak ingin kalah, lantas ikut membantu Seno melepaskan pakaiannya. Membuat keadaan pria itu kini sama dengan dirinya. Seno menyeringai lebar memindai tubuh Rindu dari puncak kepala hingga ujung kaki dengan tatapan penuh minat. Visualnya masih sama sepe
Pagi sekali Rindu sudah bangun dari tidurnya. Tak seperti biasanya yang dia akan dengan sengaja bangun siang, hari ini dia tampak sudah segar dengan wajahnya yang sedikit basah setelah mandi.Dengan kaos pendek berwarna sage dipadukan dengan rok mengembang sebatas lutut, Rindu keluar dari kamarnya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Rindu rela mengubur kekesalannya pada Seno. Setelah merenung di dalam kamarnya selama hampir satu jam, gadis itu akhirnya keluar dari kamarnya. Tujuannya saat ini adalah dapur. Dia ingin menarik perhatian Seno dengan membuatkannya secangkir kopi.Dengan raut w
Rindu terbahak-bahak setelah keluar dari ruangan pamannya, Seno. Gadis itu masih ingat bagaimana raut syok Seno setelah dia sempat mencium pipinya. Jujur saja Rindu merasa terhibur dengan segala reaksi yang pamannya itu berikan.Bersenandung kecil sembari memainkan kunci motor yang ada di tangannya
Seno dengan reflek menjatuhkan Rindu yang sejak tadi duduk di atas pangkuannya. Membuat gadis itu memekik dan mengaduh kesakitan karena bongkahan padatnya menghantam lantai dengan cukup keras."Aduhh.. Paman.." ringis Rindu.Seno yang tersadar sontak membantu Rindu untuk bangun. Lalu mendudukkan ga







