Masuk“Apa kalian akan terus ribut seperti ini?” Santi menatap mereka satu persatu. Tatapan yang juga penuh dengan kegelisahan.Dia juga tidak bisa mengingkari kalau masih ada perasaan takut dan campur aduk yang tidak bisa dijelaskan.“Apa aku benar-benar bisa mengakhiri semua?” batin Santi sedikit ragu apalagi dia habis merasakan serangan dadakan Arka yang mungkin saja akan menghilangkan nyawanya.“Kami bukan ribut sayang, ini hanya masukan kecil dari kami,” Bimo bukan sedang mencari pembelaan, dia hanya tidak ingin suasana kembali tegang setelah serangan baku senjata barusan. Dia yakin istrinya masih sangat syok.Tekad Bimo mengejar kembali cinta Santi sudah semakin bulat. Dia akan melakukan segala cara untuk memenangkan hati istrinya kembali. Bimo bertekad berkumpul kembali membina hubungannya yang sudah retak.Santi menghela napasnya sejenak, dia memang tidak pernah menyangka Arka akan melakukan penyerangan seperti tadi. Dunia Santi terasa seperti berada dalam sebuah acara realita tele
Mobil berhenti di sebuah rumah yang lebih tertutup dari sebelumnya. Rumah aman milik Baga. Begitu masuk, suasana langsung terasa berbeda. Lebih ketat. Lebih dijaga.Santi mengamati sekitar, dia benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan seprotektif itu. Baga memang benar-benar memperlakukan seperti barang yang sangat berharga.Bimo hanya bisa mendengus, “Apa-apaan ini? Dia sedang pamer?” hatinya tidak bisa mengumpat hal seperti itu.“Mulai malam ini, kamu nggak akan sendirian ke mana pun,” kata Baga. Santi mengangguk. Dia yakin Baga bisa melindunginya dengan sangat baik.Namun, belum sempat mereka melangkah lebih jauh ponsel Santi bergetar. Nomor tak dikenal masuk lagi. Meski ada sedikit terkejut, tapi Santi menatap layar beberapa detik kemudian mengangkat.“Halo?” tidak ada jawaban dari ujung telepon.Kemudian suara itu muncul, “Aku suka pilihanmu tadi.” Tubuh Santi langsung menegang. Dia tahu suara itu. Dia sudah m
Seperti suasana berubah menjadi tegang. Arka seolah tidak bisa menerima keputusan Santi. Tiba-tiba saja anak buah Arka muncul dari bayangan. Perubahan yang terbilang drastis. Tatapannya kembali menggelap dan dingin.Tentu saja Baga langsung sigap. Bimo juga bersiap. Namun, Arka mengangkat tangan.“Tidak sekarang,” katanya dingin. Semua menuruti ucapan Arka. Berhenti. Dia menatap Santi sekali lagi. Lebih lama.Lebih dalam. Tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Siapapun yang menatap pasti tahu kalau itu seperti ancaman yang tidak bisa diungkapkan.“Kalau kamu bukan milikku,” suaranya pelan, tapi benar-benar mengerikan, “maka tidak akan ada yang bisa memiliki kamu.” Santi tidak mundur. Tidak takut.Dia sudah bulat dengan keputusannya. Meski kali ini mungkin saja dia tidak akan selamat Santi sudah bersiap dan pasrah.“Aku bukan milik siapapun,” ketegangan semakin kuat. Suasana kembali hening. Beberapa detik terasa sangat panjang. Kemudian Arka tersenyum lagi, tapi kali ini bukan hangat.
Ingin rasanya detik itu juga Santi melarikan diri, namun lagi-lagi dia harus dibuka dengan keadaan yang membuatmu tidak berdaya. Tidak berdaya bukan karena dia tidak bisa melakukan apapun, semua yang terjadi seperti sesuatu yang sudah terencana tapi dia sendiri tidak bisa menebak Apa yang akan terjadi di depannya. Ada bagian yang hilang dari ingatan Santi, dan saat ini ingatan itu sedang menuntut apa yang seharusnya.“Aku ingat,” ucap Santi lirih. Senyum Arka melebar sedikit.“Aku tahu.” Santi menatapnya dalam.“Semua ini, kamu yang atur?” Arka berjalan mendekat. Perlahan. Tanpa rasa takut.“Sebagian,” jawabnya santai. Ada rasa dalam diri Santi yang tidak bisa digambarkan. Jawaban ringan itu membuat hatinya bergetar. Bukan getaran cinta, itu adalah bentuk dari suatu pertanggungjawaban yang terlupakan.“Kenapa?” suara Santi mulai bergetar, “kenapa harus sejauh ini?” Arka berhenti tepat beberapa langkah di depannya.Tatapan itu seolah menusuk ke jantung Santi. Tidak dapat menghindar
Arka duduk dalam ruangan gelap. Di tangannya, dia memegangi foto yang sama. Foto lama. Santi dan dirinya. Jarinya menyentuh wajah Santi di foto itu dengan lembut.“Santi …” gumamnya pelan. Terdengar masih memiliki perasaan namun, matanya tidak lagi hanya dingin. Ada luka di sana.Luka yang dalam.“Kamu bahkan lupa kalau kamu pernah mencintaiku.” Senyumnya muncul. Tapi, kali ini penuh kepahitan.“Aku sudah mati untuk dunia, tapi tidak untukmu.” Matanya perlahan berubah tajam, “apapun caranya aku akan buat kamu mengingat semuanya.” Dia berdiri perlahan. Aura membunuh kembali terasa.“Tapi, sebelum itu,” suaranya merendah, “Aku akan hancurkan semua yang mengambil tempatku.” tangannya terkepal dengan erat. Seolah ingin meremukkan semua hingga menjadi debu.Santi terduduk lemas. Air matanya terus jatuh. Semua mulai masuk akal. Obsesi.Cara Arka berbicara. Kenapa targetnya selalu dia.“Aku, alasan semua ini.” Bimo ter
Tidak ada yang tahu semuanya terjadi begitu saja. Santi dan hidupnya, dia juga tidak bisa memilih. Dalam kondisi saat ini dia benar-benar hanya ingin bebas dari rasa tertekan dan ketakutan.Langit malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Santi masih berdiri di balkon. Angin yang berhembus tidak lagi terasa dingin justru membuat dadanya sesak. Perasaan itu datang tiba-tiba. Aneh. Menekan. Seolah benar-benar ada sesuatu yang mencoba keluar dari dalam ingatannya.Di belakangnya, Baga berdiri memperhatikan. Tatapannya tajam, tapi juga penuh kehati-hatian.“Ada yang mengganggu pikiranmu?” tanyanya pelan. Santi tidak langsung menjawab.“Aku merasa pernah mendengar nama itu sebelumnya,” bisiknya akhirnya.Baga langsung menegang, “Arka?” Santi mengangguk pelan, “Bukan cuma sekadar dengar, tapi sepertinya aku pernah mengenalnya.” ujar Santi.“Tapi, aku benar-benar nggak mengingat apapun. Aku nggak tahu dia dan tidak ada bayangan samar sebagai petunjuk,” kembali Santi menambahkan.Kalimat itu m
Karena Bimo sudah melakukan pengkhianatan pada Santi dan sekarang Danira pun melakukan pengkhianatan padanya. Dengan mengandung anak yang tidak diinginkan, Itu juga salah satu hukuman yang harus Bimo jalani. Dia tidak mungkin tidak bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya. Dia pasti aka
“Ahh sshh! Ada apa? Kenapa mengganggu?” Regio menyalahkan pengeras suara saat telepon tersambung dan suara dari si penerima telepon tentu saja bukan Santi. Bimo tersenyum karena yakin istrinya tidak ada di situ dan dia jelas mendengar suaranya tertahan. “Dasar laki-laki kurang ajar. Ternyata sian
“Kenapa kau menuduhku berbohong? Aku mengatakan yang sebenarnya. Bagiku, Mas Bimo bukan lagi sesuatu hal yang aku perjuangkan. Dia sampah yang sudah aku buang!” “Aku nggak peduli Sudah aku bilang aku nggak peduli. Sebaiknya kamu nggak perlu mencari masalah denganku. Ini peringatan. Kalau kamu seka
Tidak mengira dia malah dihadapkan dengan Danira dan wanita-wanita yang terpengaruh oleh ucapannya. Membuat dia terhalang oleh beberapa orang tadi yang harus dibeli dan dibawa ke kantor Aga.“Aku mau menelepon dulu!” Santi berbicara sebelum mereka benar-benar menariknya keluar. “Kenapa? Kau mau me







