Ceklek. Pintu terbuka. Laras berdiri di sana dengan tatapan yang kurang bersahabat. Sepertinya ia melihat Santi sebagai saingan, terlebih menyadari proporsi tubuh Santi yang tak kalah menarik darinya."Lo dipanggil ke ruangan Pak Harun," ucap Laras ketus."Ke ruangannya? Ada apa ya, Ras?" Santi bingung. Ia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun, dan soal insiden pagi tadi, ia sudah berusaha melupakannya."Gue enggak tahu. Lo cuma dipanggil!" jawab Laras makin jutek sambil melipat kedua tangannya di dada."Uhm, oke." Santi hendak melewati Laras, namun langkahnya terhenti."Eh, awas aja lo ngomong macam-macam soal yang lo lihat tadi pagi," ancam Laras sambil mencengkeram lengan Santi."Iya, Ras, gue enggak akan banyak omong, kok. Lagian itu bukan urusan gue. Masing-masing saja," jawab Santi yang memang tidak mau ambil pusing."Ya sudah, sana. Nanti gue backup kasir lo sebentar," ucap Laras kemudian."Oke, thanks ya, Ras." Santi berjalan melewati Laras menuju ruangan manajer.Di belaka
Last Updated : 2025-10-28 Read more